
Yudianto Langsung keluar dari dalam kamarnya Dan Menghampiri Keributan Di luar Sana. Sementara Caca Menjadi Sangat Ketakutan Didalam Sana Karena ia tidak tau harus Mengatakan Apa pada Siska dan Yudianto.
"Ada apa ini ma. Kok Kalian Jadi Ribut Kayak Gini?" Tanya Yudianto Ketika Ia Sudah duduk Bersama Dion Dan Siska.
"Ini Loh Pa, Dion Baru saja keluar dari Dalam Kamarnya Caca." Jawab Siska yang Masih Menatap Wajah anaknya itu.
Karena Lampunya sudah Hidup Siska pergi Memanggil Caca Yang Masih di dalam Kamarnya.
"Caca. Bisakah Kamu Keluar sebentar?" Panggil Siska dari depan pintu kamarnya Caca.
Caca pun Semakin Takut Karena Siska pasti akan Memarahinya.
"Gimana ini Pasti Bu Siska Akan Marah besar Sama Aku, Pada hal aku kan Tidak salah." Gumam Caca yang masih Duduk di dalam kamarnya.
Ia berusaha untuk Menenangkan Pikirannya lalu Pergi Ke ruang tamu Untuk Menemui Siska dan Yudianto bersama Dion. Yang sudah Menunggunya.
"Duduklah Ca, Aku mau Bicara sama Kamu Dan Dion." Menatap Caca dengan serius
Gadis itu duduk Di Bersebelahan Dengan Dion. Wajahnya nampak Pucat karena Ketakutan.
"Caca, Apa benar Tadi Dion Salah masuk ke kamar Kamu? Tanya Siska
Caca Melirik Dion yang sedang duduk Di Sampingnya.
"I--iya Bu. Tadi Tuan Muda Memang salah masuk Ke kamar aku. Karena Tuan muda Tidak Memiliki Penerang Saat Mau pergi ke kamarnya." Jawab Caca Dengan Sangat jujur.
"Bukannya Tadi Dion Memiliki Ponsel Saat Keluar dari Kamar kamu Ya?"
"Itu ponsel milik saya Bu. Tolong percaya Sama Saya Bu. Tuan Muda Tidak Melakukan apa-apa Di kamarku kok Bu."
Caca Berusaha menjelaskan Semuanya pada Kedua Orang tua Dion. Akan tetapi Semua Penjelasannya Tidak di dengarkan Oleh Siska. Karena Dengan alasan itu Siska bisa menjodohkan Putranya dengan Caca.
"Aku tidak percaya Dengan Apa yang kalian Katakan lagi. Pokoknya Dion Harus Segera Menikahi kamu." Ucap Siska tanpa Bercanda
Membuat Dion dan Caca saling Bertatapan. Caca Merasa Sangat Bingung Harus Berbuat apa lagi. Sementara Dion Juga menjadi Kesal kepada Ibunya.
"Ma. Kenapa harus Dengan cara Seperti ini Si Ma! Memangnya Aku Lelaki apaan Mau di Nikahkan sama Gadis kampung Seperti Dia."
Gerutu Dion. Namun Ketika Melihat mata ibunya Yang Seakan Membuatnya Menyesal. Dion Kembali Terdiam
"Iya Bu. Aku juga belum siap Untuk Nikah Bu, Lagian Aku Tidak pernah Menyukai Tuan Muda Bu." Ucap Caca
"Sudahlah Caca, Besok Pagi kita akan Pergi ke Kampung Untuk Menemui ayahmu Agar Pernikahan Kalian bisa Segera di Laksanakan." Tegas Siska. Langsung mengajak Suaminya Kembali ke kamar
Dion Dan Caca Hanya bisa saling Menatap dengan Penuh kebencian.
Caca Menjadi Sangat marah ketika Ia harus Menikah Dengan Pemuda Egois dan Tidak punya Hati Seperti Dion.
"Tuan, Aku tidak Mau Menikah Dengan Tuan. pokoknya Tuan Harus cari Cara agar Bu siska tidak Menemui ayahku." Keluh Caca Menatap Dion dengan Penuh kemarahan
"Memangnya Kamu pikir Saya mau Nikah Sama Wanita Aneh Seperti kamu? Jangan Kamu pikir Saya bisa Tertarik Sama kamu. Dan sampai kapanpun Saya tidak akan pernah Mencintai kamu." Ujar Dion Lalu Segera Masuk ke kamarnya.
"Kenapa semua ini bisa terjadi Sama aku Si, Memangnya Aku salah apa Kenapa Bu Siska tidak Mau mendengarkan Penjelasan Aku." Gadis itu Menjadi Lemah dan Tidak berdaya Ia Bakan tidak Tau harus mengatakan apa lagi kepada Ayahnya Jika Nanti Mereka akan menemui Ayahnya di Kampung.
__ADS_1
Kerena kejadian Itu Caca Sudah Tidak bisa memejamkan Matanya untuk Tidur. Akhirnya ia Bangun dan pergi Ke Dapur untuk Memulai Pekerjaannya Karena Waktu sudah menunjukkan Pukul empat Subuh
Suara Langkah kaki seseorang Terdengar Dari arah Kamarnya Dion. Pemuda itu Juga Tidak bisa Tidur Karena Ia masih membayangkan Akan Hari Esok.
"Kenapa Ada Suara kaki Dari arah Dapur ya, Memangnya Wanita aneh Itu Sudah Bangun juga?" Ucap Dion. Karena merasa penasaran Pemuda itu Langsung Bangun Dan Mencari tau Keberadaan di Dapur sana.
Dan Ternyata Dugaannya Memang Benar. Caca Sudah Mencuci Piring Disana.
"Hei Gadis Aneh." Ngapain kamu Udah ribut-ribut Di dapur. ini kan Belum pagi Masih jamnya orang Tidur." Ucap Dion Yang Berdiri di Samping Pintu
Namun Caca sama sekali tidak mempedulikan Suara pemuda itu. Karena Ia Sudah terlanjur Kecewa dengan Apa yang Menimpanya Saat Ini.
Air matanya mulai bercucuran Kini Tangisan Gadis itu Sudah Tak Terbendung lagi. Rasanya Ia Ingin Memukuli wajah Dion yang Masih Mengomelinya Dari arah belakang.
Melihat Caca Sangat Cuek Terhadap Dirinya. Dion Pergi Mendekati Gadis itu dan Menarik Tangan Caca Yang Sedang Mencuci Beberapa Piring yang Masih kotor.
"Kamu ini...." Dion Terkejut Melihat Wajah Caca Yang Sudah Berlinang air mata. Hingga ia Tidak Melanjutkan Perkataannya lagi.
Dengan cepat Caca Kembali Menarik Tangannya Yang masih Di Pegang oleh Dion. Gadis itu Benar-benar marah Dan Tidak lagi Memperdulikan Dion yang masih Berdiri koko Di sampingnya.
"Kamu Pikir Dengan cara kamu Menangis Seperti Itu Mamaku akan Membatalkan Pernikahan Kita. Jujur ya Ca, Aku juga Tidak mau Menikah Sama Kamu. Karena kamu itu bukan Tipeku Dan Sampai Kapan pun Aku Tidak akan pernah Jatuh Cinta sama Kamu apa Lagi Berpura-pura mencintai Kamu Nggak bakalan."
Hati caca Semakin Bertambah sakit Saat mendengar Semua Perkataan Dion Yang Selalu Menjelekkan Dirinya.
Namun ia berusaha untuk tidak menanggapi Semua perkataan Pemuda itu lagi. Karena Walaupun ia Berusaha untuk menjelaskan Semuanya Pada Siska Semuanya Tidak Berguna lagi.
Sekarang ini Yang Ia Perlukan hanyalah Ketenangan Untuk mengahadapi akan Hari Esok.
Melihat sikap Caca Yang Tidak lagi Menghiraukannya pemuda itu langsung pergi Ke luar untuk Menikmati Suasana Pagi di halaman Rumahnya.
"Caca. Dion Kemana, Kenapa dia tidak Sarapan Bareng Kita." Ucap Siska yang Tiba-tiba Mengejutkan Caca yang Sedang Melamun di Meja makan.
"Mungkin tuan Muda di kamar Bu." Jawab Caca Dengan Pelan
"Kenapa kamu murung Ca, Apa kamu Sedang Tidak Enak badan?" tanya Kembali Siska
"Tidak kok Bu. Aku Baik-baik Saja, Mungkin karena Aku Terlalu Memikirkan Hal semalam yang Bu Siska katakan itu." Menatap Siska
"Sudahlah. Itu sudah Keputusanku Dan Kamu Tidak boleh Menolaknya,"
Caca kembali terdiam Karena Ia Belum siap Untuk Menikah apa lagi harus dengan Pemuda yang Tidak pernah ia cintai.
"Selesai makan Kamu cepat siap-siap Ya, Kita Akan pergi ke kampung Untuk Menemui ayahmu." Ujar Siska kembali.
Caca hanya mengangguk Sambil Menghabiskan Sisa Makanannya.
Pagi itu Dion Baru saja Keluar dari dalam kamarnya. Pemuda itu terlihat Segar setelah Mandi. Dan Juga Terlihat Sangat Santai Dengan Celana Jeans pendek Hitam dan Kaos lengan pendek Berwarna Putih. Ia sama sekali tidak Merasakan apa yang sedang Caca Rasakan saat Ini.
"Kenapa kamu menatapku Seperti itu. Apa kamu mulai Tertarik dengan ketampananku?" Bisik Dion Tepat di Telinga Caca
Dengan cepat gadis itu Menjauh dari Samping Pemuda yang Sedang Berdiri di dekatnya.
"Siapa juga yang Tertarik sama Kamu Tuan. Aku Biasa-biasa Saja kok," Jawab Caca Dengan santai
__ADS_1
"Hahaha..
"Awas saja jika kamu Berani Jatuh cinta sama Aku. itu salah kamu sendiri karena Sampai kapan pun Aku tidak akan pernah Jatuh cinta Sama kamu!" Ujar Dion Lalu pergi Ke Ruang tamu
"Sombong amat. Memangnya siapa dia Bisa Buat Aku jatuh Cinta." Ucap Caca dalam hatinya
"Gimana Dion. Apa kamu Sudah siap untuk bertemu Dengan Orang Tuanya Caca? Lirik Siska Menatap Dion Yang Baru saja Duduk
"Iya siap. Memangnya Jam Berapa kita berangkat."
"Kita tinggal menunggu Caca Selesai Berganti pakaian Lalu kita akan Segera Berangkat. Karena Sebentar sore Papamu masih Ada meeting Bersama Rekan Kerja di kantor."
Dion Hanya Mengerutkan Dahinya Sambil Memandangi Layar ponselnya yang belum Mendapatkan Kabar dari Kirana.
"Kemana Kirana, Kenapa dia belum mengabari aku pagi ini," Gumam Dion Dalam hatinya.
Mentari pagi Ini Bersinar sangat Cerah. Sang Surya Masih setia menyinari bumi. Di dalam Kamar Seorang Gadis masih berdiri Koko Sambil Menatap dirinya Di dalam Cermin. Ia Bakan Tidak Tau apa yang akan Terjadi jika sampai Ayahnya Tau Kalau ia akan menikah.
"Apa aku Kabur Saja ya, Tapi Aku Juga nggak bisa Lakuin hal ini Karena aku Takut mereka akan Mencari aku Hingga ke kampung,"
Gadis Itu Merasa Sangat Kebingungan. Ia masih Menatap dirinya di Dalam cermin itu.
Tidak lama kemudian Suara ketukan pintu Membuat Caca Kembali Terkejut.
"Ca. apa kamu Sudah siap, Ini Sudah Jam Tujuh Lewat Lo," Suara Siska Dari Depan Pintu Kamarnya.
"I--iya Bu. Aku sudah siap Kok," Sahut Siska Dengan cepat.
"Ya sudah Kami tunggu di mobil Saja ya,"
"I--iya Bu."
"Aku Pasti bisa. Kamu harus Kuat Ca, Ini Demi Kebaikanmu Dan Ayah." Gumamnya Dalam hati Lalu segera keluar dari Dalam Kamar dan pergi Menyusul mereka ke mobil.
Melihat Penampilan Gadis Itu. Dion Merasa terkesima Dengan Penampilan baru Caca Yang membuat Dirinya menjadi Melongok Di depan pintu.
"Cantik." Ucap Dion tanpa sadar
"Siapa Tuan?" Tanya Caca Sambil Menatap Sekelilingnya.
"Oh. Itu Foto ibuku Sangat Cantik." Jawab Dion Lalu Segera Pergi Ke mobil
"Sama foto saja kok Aneh, Dasar Lelaki Gila."
"Kamu Tadi bilang Apa?" Tanya Dion Yang ternyata Mendengar Ucapan Caca.
"Nggak kok, Aku cuma bilang Kalau Kucing itu Sangat gila." Ucap Caca. Sambil memonyongkan Bibirnya
"Ayo cepat Masuk. Kalian masih Saja Berantem Ini Kan Udah Jam Tujuh Lewat." Ujar Siska Yang Sudah duduk Di dalam Mobil.
"Ma. Aku naik Mobilku Saja, Di sini Panas." Ucap Dion
"Baiklah. Kalau begitu Kamu satu mobil Dengan Caca Saja, biar Jalannya Enak." Usul Yudianto
__ADS_1
Dion Menatap ayahnya penuh Kesal Karena Ia harus Semobil dengan Caca.