
Kini Verry bersama ayahnya. Duduk Sambil Berdiam Diri Tanpa Berucap kata Ataupun Menatap Caca Dan Suaminya.
Yanto Merasa Sangat malu kepada Dion Dan Juga Caca. Karena sudah merepotkan Mereka. dalam Urusan Keluarganya.
"Non, Maafkan Atas Kelalaian kami, Non. Dan Kami juga sudah merepotkan Kalian berdua." Ujar Yanto. yang merasa malu Pada Sepasang Suami-istri itu.
"Paman. Nggak usa minta maaf, Kami ngerti kok. Justru kami Yang Seharusnya minta maaf sama paman. Karena sudah merepotkan Keluarga paman dengan kedatangan kami Di sini." Ucap Caca. Sembari tersenyum menatap Yanto.
"Tapi itu tidak seberapa non, Harusnya saya sebagai Orang tua Di sini. Bisa Bekerja dengan Baik Agar bisa Mendapatkan Uang Yang banyak untuk Melunasi Hutang kami."
"Paman, Itu bukan Tugas paman lagi. Tapi itu sudah menjadi kewajiban Verry, Yang akan Mencari uang untuk paman. Lagian Paman Sudah sakit-sakitan. Pasti Verry nggak mau Kehilangan Seorang ayah lagi paman."
Dion Merasa Sangat bangga kepada Istrinya yang Rela Mengorbankan Uangnya demi Menolong orang lain. Selama ini Ia Bakan Tidak pernah melakukan kewajiban seperti yang Di lakukan oleh istrinya terhadap orang lain.
Ia lebih Suka Berfoya-foya Dengan Teman-temannya. Dan juga menghamburkan Uang dengan Kirana. Ia Bakan Tidak pernah Berbuat baik pada Siapa pun. Sekarang Ia baru Menyadari betapa berharganya Uang. Dan Juga Nilai dari Kebaikan yang Sudah istrinya Perbuat itu.
Beberapa Jam Kemudian. Lelaki dewasa itu Kembali ke rumah Yanto. Sambil membawa uang yang Baru saja Ia ambil.
"Permisi!" Ucap Pria itu. lalu ia masuk Dan Duduk Bersama mereka.
Sikap Pria itu menjadi sangat Lembut Berbeda saat pertama ia datang ke rumah itu.
"Bagaimana Pak, Apakah uangnya Sudah di ambil?" Tanya Caca.
"Iya. Ini Total uang Yang Saya ambil." memberikan Semua uang itu kepada Caca.
gadis itu merasa Bingung dengan Jumlah uang yang Masih sama telah di Berikan oleh pria itu Kepadanya.
"Kenapa uang ini Tidak Di ambil saja? kan Saya cuma minta Sisanya saja pak." Ucap Caca. menatap Serius pada Pria itu.
"Maaf. Walaupun saya Seorang penagih hutang. Akan tetapi saya juga tidak bisa mengambil hak Saya, Tanpa sepengetahuan kalian." Jawab Pria itu.
Lalu Caca pun Mengambil sisa uang Yang Seharusnya menjadi miliknya. dan Memberikan Sisa Yang lainnya pada Pria itu.
__ADS_1
"Ini pak. Jadi Mulai sekarang hutang milik keluarga pak Yanto dan juga anaknya. Sudah lunas kan?"
"Iya. Mba, Dan Saya Mohon maaf Jika Sudah Bicara kasar Kepada kalian semua." ucap Pria itu
Sembari mengulurkan tangannya untuk meminta maaf pada Keluarga Yanto.
"Sebagai manusia Kita memang harus Saling Mengerti satu dengan yang lainnya. Jika bapa Ingin Menjadi seorang yang di hormati. Maka Bapa harus bisa Menjadi seorang yang Paling mengerti dengan Kekurangan orang lain, Jangan Karena bapa sudah memiliki segalanya. Lalu bapa Bisa seenaknya merendahkan orang lain.
"Sekali lagi saya juga mohon maaf sama Bapak. Karena Sudah Melakukan Hal yang Salah. tidak seharusnya saya berbohong kepada bapak. Dan Sebenarnya saya bukanlah anak Dari pak Yanto, Saya hanya menumpang tinggal di sini." Ucap Caca. Mengakui Kesalahannya
Namun pria itu hanya Tertawa Sambil Menatap Caca Dan Dion Sili berganti.
"Saya Bangga Sama kalian. Di usia kalian yang Masih terlalu muda. Sudah bisa Menjadi orang yang Sukses dan Juga Menolong orang lain. Semoga kedepannya kalian akan menjadi panutan terhadap anak-anak Kalian." ucap Pria itu. dengan lembut
"Amin. Makasih banyak pak, Semoga bapak juga makin Sukses usahanya. Dan bisa menjadi Seorang yang berguna bagi Yang membutuhkan pertolongan dari bapak."
Setelah berbicara Cukup lama. Pria itu langsung Berpamitan Pulang.
Sementara Dion Masih Menatap Kecerdasan Istrinya yang baru saja ia Ketahui.
"Apaan si Mas, Malu dong sama Paman dan Mas Verry," Melirik Yanto dan Verry yang Hanya Tertawa Melihat Tingkah laku Dion.
Namun Pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan Kedua orang yang Masih duduk Di Samping mereka. Karena ia merasa sangat Kagum terhadap istrinya itu.
Sore Itu di dalam Rumah kecil yang sangat sederhana. Dion Dan Caca Membantu Verry untuk Membersikan rumah Dan halaman. Walaupun Caca Tidak bisa Bergerak Lebih Karena kondisi kehamilannya Sudah semakin terasa berat. Namun ia Tetap Berusaha agar tubuhnya selalu bergerak.
Dion Terlihat Bersemangat Hari ini. Karena ia Ingin belajar Lebih banyak pengalaman Dari verry.
Setelah usai Membersihkan Halaman. Mereka langsung menggantikan Beberapa Genteng rumah yang Sudah bocor. Hal yang Paling Dion Takuti adalah Naik Ke atas Rumah untuk Menggantikan Genteng di atas sana. Ia terlihat sangat Gugup Ketika mendekati tangga yang terbuat dari Kayu.
Pemuda itu hanya bisa Menatap Dari Bawah hingga atas Rumah itu. Ia Bakan Tidak tahu Cara untuk Menggantikan Genteng rumah. Karena selama ini Ia memang tidak pernah Kerja seperti itu.
Verry Merasa Lucu ketika melihat anak Majikannya yang sedang Mondar-mandir Di Dekat tangga yang Sedang Tersandar Di Depannya itu.
__ADS_1
"Ada Apa Bos?" kenapa bos Terlihat Pucat Begitu?" tanya Verry. Dengan Pelan.
"Ini Gimana caranya naik Ke atas Ver? Bakan Aku, Tidak pernah Kerja beginian." Jawab Dion.
"Oh. Biar Nanti aku Saja bos, Nanti bos Bantu Pegang tangganya Saja." Ujar verry. Tersenyum menatap Dion.
Setelah mendengar Hal Itu Dion merasa lebih Lega dan bisa bernafas dengan baik. Karena ia Memang tidak punya pengalaman Yang Cukup baik untuk hal-hal Yang Seperti itu.
"Makasih. Banyak Ver, Jujur Aku memang Sedikit Bingung karena aku nggak tau Gimana cara Menggantikan Genteng rumah."
"Iya, Bos. Saya Juga paham kok," Lalu Pemuda itu langsung Naik Ke atas sana Dengan Sangat Cepat. Sementara Dion Hanya menatap Kelincahan Pemuda itu Dari bawah sana.
"Hebat Banget kamu ver, Coba Saja aku Bisa Seperti kamu. Mungkin Caca Tidak akan Pernah Kecewa Sama aku." Gumamnya Dalam Hati. Sambil terus menahan Tangga.
Setelah hampir lima belas menit Melakukan perbaikan atap genteng rumah. Verry Langsung Turung dari atas sana. Dengan perlahan ia mulai menuruni anak Tangga satu persatu. Dion yang Masih Setia Menunggu Verry, Akhirnya Merasa lega karena Pemuda itu sudah Turun.
"Apa sudah selesai Ver?" tanya Dion.
Dan diangguki oleh Verry.
"Sudah. Bos," Singkat Verry. Lalu mereka Langsung masuk ke Dalam Rumah. Karena hari sudah mulai gelap.
Setibanya di dalam Sana. ternyata Caca sudah memasak Untuk Makan malam Mereka nanti.
Ke dua pemuda itu Merasa Kelelahan karena seharian Ini Mereka Bekerja dengan sangat Giat.
"Apa kamu Capek Mas?" Tanya Caca. Sambil Duduk di samping Suaminya.
Namun Dengan cepat Dion. Menggelengkan Kepalanya Agar istrinya tidak Merasa Khawatir.
"Tidak kok sayang, Lagian Aku kan Harus banyak Belajar. Agar aku Bisa Mendapatkan Pengalaman yang Baru dari Verry," Ucap Dion. Sembari tersenyum menatap Wajah cantik Istrinya.
"Ya sudah. Sebaiknya mas, Cepat Mandi. Biar Badannya Kembali Segar. Setelah itu kita makan." Ujar Caca.
__ADS_1
"Iya. Sayang," Singkat Dion. Lalu ia pergi ke kamar untuk mengambil Handuk. karena di tempat Verry tidak ada kamar mandi. dan Jika Mau mandi mereka harus pergi ke Sungai yang tidak Jauh dari Rumahnya Verry.