
"Kamu dari mana Dion? Kenapa kamu tidak Mengajakku Jalan?" Tanya Kinan
"Apa hubungannya aku harus mengajakmu Ikut bersamaKu. Memangnya siapa kamu!" Jawab Dion Dengan Kesal.
"Aku ini Calon Istrimu Dion. Dan Sebentar lagi Aku akan menikah denganmu!" Tegas Kinan Melotot pada Dion.
"Benarkah? memangnya siapa yang Akan menikah denganmu Kinan, Kamu ini Benar-benar Tidak punya perasaan Ya, Udah jelas-jelas aku tidak pernah Menyukaimu tapi kamu masih saja Tinggal di rumah ini!"
"Saya tidak perduli kamu tidak mau menikahiku. Yang penting aku Akan Selalu tinggal di sini. sampai Anak Kita lahir!"
"Terserah Kamu Saja! Aku tidak perduli Denganmu lagi!" ucap Dion. Lalu ia segera masuk ke dalam kamarnya.
"Ahhhh. Sialan! Kenapa Sangat sulit untuk Membuat Dion jatuh cinta sama aku Si!" Geram Kinan.
"Ya iyalah. Mana mungkin Dion Menyukaimu, Dia hanya Mencintai Istrinya. Bukan wanita lain!" Timpal Siska. menatap penuh sinis pada Kinan.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan Dion pilih untuk menjadi istrinya!" Ujar Kinan.
Malam itu Stefan Makan malam bersama dengan Heru dan Caca. Stefan sangat menikmati Masakan Buatan Caca yang begitu lezat Dan enak. Membuat Pemuda itu Tidak Bosan Memakan Semua makanan Yang ada di atas meja makan.
"Sepertinya kamu sangat lapar Nak," Ucap Heru Tersenyum tipis pada pemuda itu.
"Ia om. Makanan ini sangat enak, Bahkan aku belum pernah menemukan masakan se enak Ini Di rumah makan mana pun." Jawab Stefan
"Baguslah. Kalau kamu menyukainya." Ucap Kembali Heru.
"Caca, apa aku boleh Membawah sisa makanan ini Untuk ayahku? Dia pasti sangat suka dengan masakan kamu." Menatap Caca.
"M'mm. Boleh saja Tuan, Tapi nanti aku buatin yang baru saja buat Tuan Mahendra." jawab Caca.
"Makasih ca," Singkat Stefan lalu ia bersendawa dengan sangat kuat. Membuat Caca dan ayahnya tertawa melihat Stefan yang kekenyangan itu.
Usai Makan malam bersama Heru dan Caca. Stefan Langsung duduk di ruang tamu sambil menunggu Caca Selesai masak Sayuran dan ikan untuk di bawah ke rumahnya..
"Paman, Bolehkah aku bertanya sesuatu sama paman?" Tanya Stefan dengan serius Menatap Heru.
"Ada apa nak, Apa yang ingin kamu tanyakan,"
"Apa paman mau Ikut bersamaku Tinggal di rumah Kami? maksud saya, Agar Caca bisa bekerja dengan tenang Di sana." Jawab Stefan.
__ADS_1
"Tapi apa tidak merepotkan kamu Dan Ayahmu, Jika kami Harus tinggal di sana?" Kembali bertanya.
"Tidak paman. Aku hanya ingin Mengajak paman Dan Dede tinggal di rumah kami. agar Caca bisa Bekerja denganku di kantor milik ayah."
"Baiklah, Jika memang itu untuk meringankan pekerjaan Caca. saya akan Ikut bersama kamu tinggal di sana, Agar saya juga bisa menjaga Ayahmu." Ucap Heru Tersenyum Bahagia.
"Makasih paman." Singkat Stefan Dengan penuh bahagia. Karena Caca bisa kembali ke rumahnya lagi.
"Ini Sayuran dan Ikannya untuk Tuan Mahendra sudah masak Tuan," ucap Caca Melepaskan Kantong plastik yang berisi sayuran dan ikan untuk Mahendra Di atas meja.
"Nak, Sebaikanya kamu ikut bersama Stefan ke rumahnya. Agar kamu bisa bekerja di rumahnya Nak Stefan," ujar Heru.
Caca pun Menatap wajah ayahnya penuh Kebingungan. Karena sebelumnya ayahnya tidak pernah memintanya untuk tinggal di rumah Stefan. Namun kini Ayahnya Sendiri yang memintanya untuk Tinggal di rumah pemuda itu.
"Tapi ayah. Aku tidak Bisa Tinggal di sana, Sementara kalian di sini hanya tinggal Berdua."
"Ayah dan Dede akan ikut kita kesana ca, Sebaiknya kamu segera Berkemas dulu. setelah itu kita Berangkat," Sambung Stefan.
"Apa itu benar ayah?" Menatap ayahnya.
Dan di anggukkan oleh Heru.
"Bagaimana ca, Apa kamu mau kembali ke rumahku lagi?" Ulang Stefan.
Dengan sangat terpaksa Caca Menganggukkan kepalanya di depan Pemuda itu. karena ia tidak ingin mengecewakan Ayahnya sendiri.
Mereka pun segera kembali ke rumah Mahendra. Walaupun Jam sudah menunjukkan pukul Sebelas Hampir Tengah malam. Namun Stefan Mengendarai mobilnya dengan sangat baik Dan Kecepatannya juga di kurangi Karena Mengingat anaknya Caca Masih terlalu kecil.
Setibanya di rumah Stefan Langsung Memarkirkan Mobilnya Dan Ia pun segera Membantu Membawah barang-barang Milik Heru dan Caca.
"Biar nanti saya saja yang membawanya paman, Paman masuk Saja bersama Caca ke dalam." Ujar Stefan.
"Tidak apa-apa Nak, saya Masih bisa Membawah Koper ini kok,"
"Sudahlah paman. Lagian Ini Sangat Berat takutnya Paman Tidak bisa Membawahnya." Ucap Stefan Sambil tertawa kecil
"Hahaha. Terserah kamu sajalah," balas Heru kembali. Lalu ia segera mengikuti Caca ke dalam.
Setelah Mengantarkan semua perlengkapan Heru dan Caca. Stefan segera menemui mereka yang sedang duduk di ruang Tamu.
__ADS_1
"Ca, Bawah Saja Dede ke kamar. agar dia bisa tidur dengan baik." Ucap Stefan.
Dan di anggukkan oleh Caca.
Sementara Heru masih duduk Sambil memperhatikan Seluru Ruangan di rumah itu.
"Apa Ayahmu sudah tidur nak?" Tanya Heru Penasaran.
"Biasanya Jam Segini ayah masih belum tidur. Apa paman Mau Bertemu Dengan ayah?" Kembali bertanya.
"Jika memang Belum tidur Saya ingin melihatnya sebentar," Jawab Heru.
Lalu Stefan pun segera mengajak Heru ke kamar ayahnya yang berada di samping kamarnya.
"Mahendra?" Ucap Heru terkejut ketika Melihat Sahabat seperjuangannya saat Masih bekerja di Perusahaan Prayoga.
"Heru!" Bagaimana bisa kamu Berada di sini?" Tanya Mahendra sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Namun dengan cepat Heru Membantu Sahabatnya itu untuk Duduk Di ranjang tempat tidurnya.
"Kenapa Kamu menjadi seperti ini Sahabatku, Apa yang sudah terjadi padamu. kalau tidak salah Terakhir kita bertemu di rumah sakit Ya?"
"Iya benar. Pada saat itu istriku lahiran Dan kamu juga Membawah istrimu yang saat itu sedang hamil Muda. Bagaimana Kabar istrimu Heru? Apa dia Sehat-sehat Saja? Pasti anakmu juga sudah Besar ya."
"Istriku Meninggal setelah Usai melahirkan putri kami. Dan Mulai saat itu Aku dan Putriku, kembali ke desa." Jawab Heru dengan Pelan.
" Saya Turut berdukacita Sedalam-dalamnya. Maafkan saya, Heru. karena sudah Membahas hal itu.
lalu di mana Putrimu? Kenapa dia tidak di ajak kesini juga," Menatap Heru.
"Dia sudah bersamamu sejak beberapa Minggu yang lalu." Sambung Heru. membuat Mahendra tercengang.
"Apa Maksudmu Caca itu adalah putrimu?"
dan kembali di anggukan oleh Heru.
"Jadi selama ini yang tinggal di rumahku, adalah Anakmu. Jika saya tahu lebih awal Mungkin aku akan memperlakukan dia Seperti putriku sendiri," Ucap Mahendra.
"Tapi kenapa kamu bisa Seperti ini Hendra, Apa yang terjadi padamu?" Mengulang pertanyaan tadi.
"Saya sendiri juga tidak mengerti dengan apa yang sudah menimpa keluargaku dan juga aku Heru, Pengobatan para medis sudah ku lakukan akan tetapi tidak ada perubahannya sedikitpun." keluh Mahendra.
__ADS_1
Stefan Masih tercengang Menatap Kedua lelaki itu. Ia bahkan tidak percaya kalau ternyata ayahnya dan juga ayahnya Caca, adalah sahabat sejak Bekerja dulu.