
"Apa Sudah ada Kabar dari Dion?" Tanya Yudianto Pada Verry. Yang Baru saja Kembali Ke Rumah.
"Belum Pak. Saya Sudah mencari Tahu Tempat Terakhir yang di kunjungi oleh Bos Dion, Tapi saya Tidak Menemukan apa-apa disana." Jawab Verry.
"Kemana Perginya Dion. Kenapa Dia Tidak Mengabari Kamu, atau Istrinya." Ujar Yudianto
"Saya juga tidak tahu pak. karena bos Dion tidak mengabarinya saya."
"Sebaiknya Kamu Istirahat Saja dulu. Nanti Kita pikirkan Besok Pagi, Lagi Pula Ini Sudah Larut malam." Ujar Yudianto Kembali.
Lalu Verry Segera masuk ke Dalam kamarnya. Karena waktu sudah menunjukkan Pukul Dua Tengah malam.
Yudianto masih Duduk Di Sofa. Sambil memikirkan Dion yang tiba-tiba Menghilang tanpa kabar.
"Apa yang sudah terjadi padamu Dion. kenapa kamu tidak mengabari Kami, jika Sudah terjadi Sesuatu Padamu." Gumam Yudianto. Mencemaskan Dion.
Ketika melihat Situasi Sudah aman. Dion Perlahan Melepaskan Tali Ikatan yang berada di Tangannya. ia Terus berusaha agar Bisa Melepaskan Ikatan yang Berada Di tangannya agar ia Bisa kabur dari tempat Itu.
Satu Demi satu Tali sudah mulai Lepas dari tangan Dion. Lalu ia Berjalan Perlahan ke arah Pria bertubuh besar yang sedang Tertidur di Kursi Samping Meja. Dion mencari Ponsel Miliknya yang Sudah di ambil oleh Mila dan Pria Itu.
"Dimana Ponselku. Kenapa tidak ada pada pria Ini." Gumam Dion. masih mencari Ponselnya.
lalu ia Mencoba Masuk Ke dalam Kamarnya Mila. Karena ia Sangat yakin kalau Ponselnya Berada pada Mila.
Dan dugaannya Memang benar. Ternyata Ponsel Milik Dion Berada Di atas Nakas Samping Tempat tidur wanita itu. dengan Perlahan ia Terus Melangkah Agar tidak ada Yang Terbangun.
Setelah Dion berhasil meraih ponselnya Ia Kembali Keluar dari kamar wanita itu. Sambil terus Melangkah dengan berhati-hati agar Pria Bertubuh besar itu tidak Bangun.
"Ternyata pintu ini di kunci. Sebaiknya aku Cari Pintu Samping Belakang Saja. Siapa tahu Tidak di Kunci." Gumam Dion Lalu ia Pergi Ke dapur.
Kini Dion Sudah berhasil Keluar dari Dalam Rumah itu. ia Pun Segera Berlari Menuju Jalan Kecil yang Sangat Gelap. Dion Sengaja tidak menyalakan Penerang Agar Tidak Terlihat oleh mereka dari dalam Sana.
Setelah Ia tiba di Ujung jalan Dion Segera Mengaktifkan Ponselnya Dan mencari kontak Verry.
["Halo. Bos Dion, Kamu Dimana Bos!"] Suara Verry Dari sebrang sana.
"Aku Tidak tahu Sekarang aku dimana. Tapi Mila Sudah menyekap aku di rumah Kontrakan Milik Keluarganya. sekarang aku lagi berada Di Ujung jalan kecil, Karena tadi aku Kabur Dari dapur." Balas Dion.
["Tetaplah Bersembunyi di situ bos. Saya akan segera kesana,"] balas Verry kembali.
__ADS_1
"Baiklah. aku akan Menunggu kamu di Tempat yang dulu." Ucap Dion.
["Baiklah bos. Tunggu aku di sana."] Timpal Verry.
Lalu Dion Kembali mematikan Suara Ponselnya. agar Tidak Seorangpun bisa Melihatnya.
Dion Tetap Berdiam diri Di Samping jalan Kecil yang ia tidak ketahui Arahnya. pemuda itu terus menatap Ke arah Jalan yang baru saja ia lalui dari Rumahnya Mila.
Tiga puluh menit kemudian Ponsel Milik Dion Kembali Bergetar di Tangannya. Dengan cepat ia Menatap layar ponselnya itu.
("Kamu Dimana Bos? Aku berada di Depan jalan Arah ke rumah Mila. Coba bos Cari tahu posisi jalan itu dan kita bertemu di sini saja Takutnya Mereka Akan bangun jika Mendengar suara mobil Datang.") Ucap Verry.
"Baiklah. aku akan mencoba mengikuti tembusan Jalan ini. Tetaplah Berjaga-jaga di Situ. jangan sampai mereka mengetahui Kedatangan kamu." Balas Dion. Lalu ia Kembali mematikan Panggilan itu. Dan Berjalan mengikuti arah jalan Yang Sama sekali ia tidak Ketahui Arah dan tujuannya.
"Semoga saja jalan ini Sampai Ke sana." Ucapnya Dalam hati.
Setibanya Di jalan raya. Dion Kembali Menghubungi Verry. Dan Meminta Verry untuk segera Menjemputnya Di arah Jalan yang Tidak Terlalu jauh dari Posisi Rumahnya Mila.
Setelah Melihat Mobil Verry Sudah datang Dion Segera Keluar Dari Persembunyiannya.
"Cepat masuk bos." Ucap Verry.
"Kenapa Kamu tidak mengabari Aku, Bos." Ucap Verry. Menatap Wajah Dion yang Di penuhi oleh Luka Memar Bekas Pukulan.
"Ponselku Di ambil oleh Mereka. Sehingga aku Tidak bisa mengabari Kalian, Wanita itu benar-benar Sudah gila Akan harta. Ia Sama sekali Tidak Bisa Menerima Kenyataan Hidupnya yang sudah Tidak mempunyai apa-apa."
"Apa Tidak sebaikanya Kita laporkan Mereka ke polisi Saja Bos. Lagi pula Perbuatan Mila Sudah Di luar batas. Dan Dia juga yang sudah Mengakibatkan Non Caca hampir mati saat Di buang ke laut." Ucap Verry.
"Besok aku Akan melaporkan mereka. Agar mereka bisa segera di tangkap," Balas Dion. Sambil Mengelus wajahnya yang Terasa Perih.
Sesampainya Di rumah Dion Segera Membangunkan Kedua Orang Tuanya dan Juga Istrinya. Melihat Keadaan Dion yang sangat Menghawatirkan Yudianto Menjadi Sangat Geram. Sedangkan Caca Langsung mengambil Air hangat untuk Membasuh wajah Suaminya yang Di penuhi Darah.
"Segera Laporkan Masalah ini Ke pihak Yang berwajib. Biar Wanita itu Segera di Tangkap bersama anak Buahnya." pinta Yudianto.
"Iya pa. Besok Aku Akan Melaporkan masalah ini. Semoga saja mereka bisa Secepatnya di Tangkap agar Mila bisa Segera Menjalani hukuman Yang setimpalnya Atas Segala perbuatannya yang sudah mencelakai banyak orang." Ucap Dion.
"Kenapa harus menunggu sampai Besok Dion. Kenapa tidak Sekarang saja. itu lebih baik jika Kita Segera bertindak." Sambung Siska dengan tegas
"Ma. Memangnya Ini Sudah jam berapa? kita harus menunggu hingga pagi dulu ma. Baru kita bisa Mengajukan Permohonan kita pada mereka," Ucap Dion Kembali.
__ADS_1
"Tapi kamu bisa menghubungi Anto kan, Lagi pula Anto Itu adalah sahabat baikmu Pasti dia akan Mengurus semua Masalah ini Dengan Baik. Tanpa harus menunggu Matahari Terbit!" Tegas Siska kembali.
"Jangan gegabah Ma. Jika Kita salah melangkah maka Kedua orangtuanya dalam Masala Yang besar, Kita harus pikirkan Dengan Hati yang tenang dan Dingin ma, Agar kita bisa Menangkap mereka dengan baik." menatap ibunya.
"Terserah Kamu Saja! yang penting mama Minta Wanita itu segera di tahan. karena dia sudah terlalu banyak Membuat masalah pada keluarga kita, Dia juga yang sudah menabrak Kirana. Dan Hampir mencelakai Istrimu Hingga kalian Terpisah. Apa Menurut kamu masih pantas dia di berikan Ampun?!
Dion hanya bisa menghembus napas Kasar Sesaat Menatap ibunya Yang kini Sudah benar-benar Marah.
\*\*\*\*\*
Mentari pagi Menampakkan Sinarnya. Dan Udara pagi Masih terasa Dingin. Mila Sudah bangun dari Tidurnya. Sedangkan Wanto Anak Buah Kinan Masih Keenakan tidur di atas Kursi di ruang Tamu Dengan sangat Pulas.
Mereka Masih belum menyadari kalau Di dalam Kamar sana Dion Sudah tidak ada. Mila Bergegas Ke dalam Kamar mandi untuk membersihkan Dirinya di sana. dan tak Butuh lama Perempuan itu Keluar dari kamar mandi dan ia segera Berganti Pakaiannya.
Kini Ia Keluar dari kamarnya dengan Senyuman Hangat untuk menyambut Udara pagi yang cerah Ini.
Ia sama sekali Tidak Menyadari Bahwa Dion Sudah melarikan diri Dari rumah itu.
Setelah Beberapa kali Ia berkeliling Di halaman rumah. Perempuan itu Kembali masuk ke dalam Rumah untuk Melihat Keadaan Dion di dalam Kamar Milik Bima dan Arista.
Ketika Melihat Dion yang Sudah tidak berada di Kamar itu lagi. Mila Langsung Terkejut dan Ia Segera Keluar memanggil Anak buahnya yang masih terlelap Dalam Tidurnya.
"Wanto. Bangun!"
"Wanto! Cepat bangun!" Teriak Mila Membangunkan pria bertubuh besar itu.
"Ada apa Bos!" Tatapan Wanto masih sedikit Buram. karena ia merasa Terkejut dengan teriakan Mila.
"Cepat cari Dion Sampai ketemu. Aku tidak ingin dia Kabur Dari sini!" Menatap Wanto Dengan Tajam.
"Memangnya Dion Kabur ya. Tapi bagaimana bisa Dia lepas dari ikatan itu?" Ucap Wanto penuh Kebingungan.
"Udah!! Jangan banyak bicara lagi. Segera temukan dia Dan Kembali bawah dia kesini!" bentak Mila.
"Baik Bos. Secepatnya saya akan Cari Dia.
Mila Merasa sangat marah karena Dion Bisa Kabur dari Rumahnya itu. Bahkan Wanto sudah mengikatnya dengan sangat Kuat Agar Dion tidak bisa Lepas.
"Bagaimana bisa dia Kabur dari sini. Apa Ada orang yang sudah Berani Membebaskan Dia Dari Sini?" Jika Memang Ada yang membantu Dion lari dari sini Itu Pasti Ulahnya Kedua Si tua Bangka itu!" Ujar Mila Dengan Penuh kebencian Pada kedua orangtuanya.
__ADS_1