Derita Istri Kontrak

Derita Istri Kontrak
Ep 08: Rencana pernikahan


__ADS_3

Sepulangnya Dari Rumah keluarga Bowo. Yudianto Bersama Heru Kembali Memperbincangkan Masala Pernikahan Caca Dan Dion Yang akan Segera Di Laksanakan Secepat Mungkin. Heru hanya bisa Mengikuti Kemauan Sahabat Lamanya itu. Karena ia Sendiri tidak Bisa Berbuat apa-apa Lagi Atau pun Menolak Pernikahan Antara Anaknya Dan Anak Yudianto.


karena Baginya Keluarga Yudianto Sudah Terlalu Banyak Membantunya Dan Putri semata Wayangnya


Dan Rencana Pernikahan Caca Akan Di Laksanakan Pada Dua Minggu lagi. Yudianto dan Istrinya Sangat bahagia dengan Apa yang Sudah Mereka Rencanakan itu.


Namun di Mereka Sama Sekali tidak Mengerti Dengan Perasaan Caca Yang Saat ini Sangat Terpuruk dengan Pernikahan yang Tidak pernah Ia harapkan.


"Apa mungkin Dia memang Sudah Jodohku Ya, Tapi Mana Ada Jodoh Galak Seperti Tuan Muda Itu." Gerutu Caca Sambil Membuatkan Teh Hangat Untuk Yudianto dan Istrinya.


"Sedang apa kamu?" Tanya Dion Yang tiba-tiba Muncul Dari arah belakangnya.


"Menurut tuan Muda Aku sedang apa,"Jawab Caca Dengan ekspresi wajahnya yang Sedikit Jutek.


"Mana aku tu tau, Kalau pun aku Tau Aku Tidak akan Pernah Tanya." Ujar Dion Menatap Wajah Gadis itu


Tatapan Dion Seakan membuat Caca tidak Bisa Mengedipkan Kedua matanya. Kini Tatapan Mereka Bertemu. Detik Berselang Dion Menyunggingkan Senyumannya yang begitu Indah Hingga Membuat Caca Tergoda dengan Senyuman Pemuda itu.


Namun Sesaat Ia Kembali Menyadari Bahwa Pemuda itu Hanya Berusaha Menggodanya.


"Jangan bilang Kamu Mulai Menyukaiku." Ucap Dion kembali Tersenyum


"Siapa juga yang Mau Suka sama Orang Galak Seperti kamu." Balas Caca Lalu segera Membawa Teh Hangat yang Sudah Ia Buat itu.


Dion Hanya tersenyum sambil Melirik Caca Yang Sudah Pergi Ke Depan.


"Apaan Si? memangnya Siapa Dia? Kenapa aku Mau Percaya sama Gombalannya. Aku juga Tau Dia Cuma Bercanda Dan Tidak pernah Serius," Gumam Caca


Hari Sudah Malam. Keluarga Yudianto Segera Berpamitan Pada Heru Untuk Kembali Ke kota.


"Ca, Apa kamu mau Ikut Kembali bersama Kami Atau kamu Mau Tinggal di Sini dulu." Ucap Yudianto


"Aku mau Ijin Beberapa Hari dulu Bu, untuk Tinggal Bersama Ayah." Jawab Caca


Dion Merasa Senang Mendengar Perkataan Caca Yang Tidak akan Kembali Dengan Mereka Ke kota. Namun Kesenangan Dion Itu Terlihat Oleh Ibunya.


"Dion, Karena Caca Mau Tinggal di Sini Untuk Beberapa Hari. maka Mama minta kamu Jagain Caca di sini." Pinta siska Menatap Dion Dengan tatapan yang seakan Membuat Dion Tidak Berdaya.


"Tapi kan Ma, Aku masih Ada urusan Kerjaan Dengan Papa. Iya kan Pa?" Mencoba Mencari Alasan.


Namun Mata Siska Semakin Tajam Menatap Dion. Hingga Dion Tidak bisa Membantah Lagi


"Iya-iya. Baiklah." Ujar Dion Singkat


"Ya Sudah. Pak Heru kami Permisi Dulu ya, Tolong Jagain Dion." Ucap Siska


"Iya Bu." Sahut Heru


Dion Merasa Sangat Kesal Dengan Sikap ibunya Yang Tidak pernah Menghargai Perasaannya.


"Kenapa si Mama Selalu saja Memaksaku Untuk Menikahi Gadis Aneh Itu." Gerutu Dion Dengan Kesal Ia Menendang Mobilnya Dan akhirnya Kakinya Sendiri yang kesakitan.

__ADS_1


"Ahhhh Sial!" Teriak Dion


Membuat Caca Harus pergi Melihat Apa yang Sudah Terjadi pada anak Majikannya Itu.


Namun Setibanya di Sana. Gadis itu Hanya Mengerutkan Keningnya Ketika melihat Dion Yang Sedang Kesakitan.


"Makanya Jangan Terlalu egois. Tu kan Kena Batunya Juga." Sindir Caca


"Apa kamu puas? Membuat Hidupku Hancur Seperti Ini? Semenjak Ada kamu Di Rumah Kami Semuanya Berubah Tau nggak? Ujar Dion Dengan Kesal


"Memangnya apa Salah aku Tuan? Aku kan Cuma Bekerja Di rumah kalian Bukan Cari Perhatian Dari Kamu. Dan kalau Memang Tuan Tidak Suka Tinggal Di Tempat Seperti Ini Silakan Pergi Tuan." Caca Merasa marah Dengan Sikap Dion Yang Selalu Membuat Dirinya Tidak tenang


"Oh. Jadi Sekarang kamu Sedang Mengusir ku?"


Ok. Saya Akang pergi Lagian Siapa Juga Yang Mau Tinggal Di rumah Kamu." Bentak Dion Lalu ia Segera Masuk kedalam Mobilnya Dan Segera Pergi Meninggalkan Halaman Rumah Caca.


Melihat Mobil Milik Dion Sudah pergi. Heru Segera Memanggil Putrinya


"Ada apa ayah?" Tanya Caca Sambil Menundukkan Kepalanya


"Kenapa Dion Pergi, Memangnya Ada masala Apa kamu Dengan Dion. Nak?" Lirik Heru


"Aku sama dia Tidak pernah ada Masala Apa-apa Ayah. Akan tetapi Pemuda Itu Sangat Sombong Dan Egois." Jawab Caca


"Lalu Kenapa Kamu tidak Menolak Lamaran Mereka, Jika memang kamu Belum Siap Untuk Menikah Dengannya. ayah Bisa Membicarakannya Dengan Orang Tua Dion Nak," Bujuk Heru


Caca hanya Menggelengkan kepalanya. Karena ia sendiri tidak ingin Mengecewakan Ayahnya Sendiri.


"Nak, Pernikahan itu adalah Janji kita Seumur Hidup. Dan bukan Untuk Di jadikan Percobaan Jika memang kamu Belum Siap Maka ayah Akan Menundanya."


"Jangan Ayah. Keluarga Pak Yudianto Sudah Membantu kita Melunasi Semua Pinjaman Kita sama Pak Bowo ayah."


"Tapi nak, Jika kamu harus mengorbankan Masa mudamu untuk orang yang tidak kamu Cintai Apa itu Tidak akan membuat kamu lebih Menderita?"


"Tidak ayah. Aku akan berusaha Untuk Membuat dia Bisa menerima ku Dengan baik."


"Ya sudah. Jika itu memang Sudah keputusan Mu. ayah Hanya bisa Mendoakan Kalian agar Selalu Bahagia." Ucap Heru Sambil Mengelus rambut putrinya.


Namun Pikiran Caca tidak Seperti Yang Ia Ucapkan. Ia sama sekali Tidak bisa bahagia dengan Pemuda itu.


\*\*\*\*


Keesokan harinya Ponsel Milik Caca Berbunyi Nyaring di atas Nakas Samping Tempat Tidurnya


Membuat Gadis Cantik itu harus terbangun karena Suara bunyi Dari Ponselnya itu.


"Siapa si yang Nelpon." Gerutu Caca Yang masih Berbaring Di tempat tidurnya


Lalu dengan cepat ia Bangun dan Merai Benda Tipis yang berada di atas Nakas itu


"Astaga. Bu Siska?

__ADS_1


Dengan cepat Caca menjawab Panggilan telepon itu


"Halo Bu Siska. Selamat Pagi," Sapa Caca dengan Lembut


("Iya, Selamat pagi Juga Nak Caca. Gimana kabarnya Dion, Apa dia tidak Membuat Kesalahan Di Sana?") Tanya Siska Dari Sebrang sana.


Caca Pun Terkejut ketika Majikannya Menayangkan Tentang Pemuda itu.


("Halou. Caca?" Apa kamu Bisa mendengar Suara Ibu?") Kembali Bertanya


"I--iya Bu. Saya dengar kok Bu, Tapi Semalam Tuan Muda Sudah ikut sama Ibu dan Bapa Ke kota bu." Jawab Caca dengan Pelan.


("Apa? Dion Semalam Kembali Ke kota?" Tapi Dia tidak Tidur di rumah Ca,")


"S-saya. Saya juga tidak tau Bu. Jika Tuan Tidak Kembali ke rumah." Jawab Caca Berbelit-belit


("Ya sudah. Biar nanti ibu sendiri yang Mencarinya.")


Caca hanya Mengangguk Pada Layar Ponselnya itu. Ketika melihat Sambungan Teleponnya sudah Di matikan oleh Siska.


"Kemana Tuan Muda ya?" kenapa Dia selalu Bikin Aku repot si." Keluh Caca Lalu ia Segera Keluar dari dalam Kamarnya Dan pergi Keluar Untuk Menghirup Udara Di pagi hari.


Namun Setibanya di Depan Pintu Caca Sangat Terkejut ketika melihat Mobil Milik Dion Berada di Halaman Rumahnya. Gadis itu Menatap Sekeliling Halaman Rumah itu dengan teliti


"Kenapa mobil Tuan Muda Bisa kembali Ke sini Lagi ya? Memangnya Semalam dia Tidak Jadi Pulang?" Berbicara Sendiri sambil Mengintip Ke dalam mobil itu


"Apa yang kamu Lakukan Di situ? Tanya Dion.


Hingga Membuat Caca Terkejut.


"Bukannya semalam Tuan Sudah Kembali Ke kota?" Tanya Caca Menatap Tajam pada Pemuda itu


"Kamu Nanya?? Semalam aku Kemana?" Ucap Dion Membuat Caca Kesal


"Sini biar aku Kasih tau Semalam aku Ke mana." Ajak Dion


Lalu mereka Masuk ke dalam rumah dan Caca Amat Terkejut ketika melihat sudah ada banyak Makanan di atas Meja makan Mereka.


"Kenapa bisa ada banyak Makanan di Meja Ini ya? Perasaan aku Belum memasak Dari semalam?" Gumam Caca Dalam Hatinya.


"Pasti kamu Bertanya-tanya Kan, Dari mana Datangnya Makanan ini. Sini biar Aku Jelasin Dulu, Sebenarnya Semalam Aku Ke kota hanya Untuk Memesan Makanan ini Di Restoran Milik Pacarku. Biar kamu bisa Belajar Cara memasak Yang enak Seperti Kirana." Ujar Dion


Caca Semakin Marah Ketika Dion Selalu Merendahkannya.


"Jadi menurut tuan Saya Tidak bisa Masak Seperti Pacarnya Tuan Itu?


Ingat ya tuan, Saya tidak pernah berpikir untuk Menjadi siapapun Dan Tuan Juga Tidak Berhak Memerintahkan Saya. Karena Tuan Bukan Suamiku Ataupun Ayahku!" tegas Caca Lalu Segera Masuk ke dalam Kamarnya.


"Memangnya aku Salah Bicara lagi apa? Kok, Caca Selalu Marah-marah."


"Caca. Kenapa kamu jadi marah Si! Memangnya aku Salah apa? Kan Aku cuma Bilang Agar kamu bisa Masak Enak kayak Gitu bukan aku Mengejek kamu."

__ADS_1


Namun di dalam Kamar Caca Sama Sekali tidak Mempedulikan Suara pemuda itu lagi. Karena Dion Selalu Membuatnya Merasa Marah


__ADS_2