
Di dalam Kamar Kecil seorang gadis sedang merintih Kesakitan. Gadis itu Tidak Ingin pergi ke Dokter karena mereka tidak memiliki Uang untuk Membiayai Rumah sakit nanti. Ia hanya bisa Berharap Agar ia Segera sembuh dan Bisa Kembali Membantu ayahnya Di kebun.
"Nak, Apa sebaiknya kita ke Dokter saja. Ayah tidak Tahan Lagi melihat kondisimu yang Semakin Melemah." Ujar Heru.
"Jangan Ayah. Kita Tidak punya biaya Untuk Pergi Ke Dokter, Biarkan saja Aku di rumah. Nanti juga akan segera sembuh dengan obat-obatan Yang sudah ayah Cari." Caca Menolak tawaran ayahnya. karena ia tidak ingin ayahnya Bertambah cemas.
Heru hanya bisa Menarik Napas panjang Dengan semua Perkataan Putrinya.
Kondisi tubuh Caca Mulai menurun. Karena sejak Kemarin Ia Mual-mual Dan tidak bisa Memakan Apapun.
Membuat Heru semakin Khawatir dengan Keadaan Caca Yang Belum ada Perubahan Sejak Kemarin.
Di luar sana Sudah Terdengar Suara Mobil Berhenti Di depan Rumah Keluarga Heru.
Heru pun Pergi Untuk Melihat Ke depan rumahnya.
"Selamat Sore ayah!" Maaf aku sedikit Telat." Ujar Dion. Yang Baru saja Sampai di Rumah Heru
"Sore juga nak. Iya tidak Masalah nak, Ayah sangat Menghawatirkan Kondisi Istrimu. Dia masih tidak mau Di ajak Ke dokter." Ucap Heru.
"Biar nanti aku yang bujuk dia Ayah. Siapa tahu dia mau Aku bawah Ke dokter,"
"Baiklah nak, Masuklah ke dalam Dia sedang berbaring di kamarnya."
Heru dan Dion Pun Segera masuk ke dalam Kamar Caca. Betapa Sakitnya hati Dion Ketika melihat Kondisi Istrinya yang tergeletak Di Tempat tidur dalam Keadaan yang Sangat Sakit. Bakan Tubuhnya Terlihat Menurun Karena mungkin Caca Tidak pernah bisa memakan apapun.
"Sayang, Maafkan aku. Yang tidak pernah bisa Membuat kamu Bahagia. Tolong Ijinkan aku Untuk Membawah kamu Ke dokter," Ungkap Dion Yang sudah Duduk di samping Istrinya.
Melihat Dion Sedang berada di sampingnya. Caca Merasa Terkejut Bakan Ia tidak tahu kenapa Dion bisa Sampai Datang ke rumahnya.
"Sayang. Aku mohon Jangan membantah lagi. Aku Tidak tega melihat kamu dalam kondisi seperti ini, Tolong Jangan Bicara apapun dulu Sebelum Kamu Sehat." Ujar Dion Sambil Menciumi Dahi kening Istrinya.
Caca Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kali ini Ia Hanya bisa pasrah karena Dion Tidak mau Lagi Mendengar Apapun darinya.
Dengan keadaan yang Terpaksa Caca Mengangguk Hingga membuat Heru Merasa lebih Tenang lagi.
"Makasih sayang, Ya Sudah kalau begitu Biar aku Gantikan Pakaian kamu Dulu. setelah itu Kita ke Dokter ya?" Ucap Dion Dengan Penuh Semangat. Setelah Usai Berganti pakaian Pemuda itu langsung Menggendong istrinya ke luar Dan Membawahnya ke dalam Mobil untuk segera di bawah ke dokter. Sedangkan Heru Memilih untuk tinggal di rumah Saja Agar Ia bisa Beristirahat karena sudah beberapa malam ini Heru tidak pernah bisa tidur.
Kondisi tubuh Caca Sangat panas. Membuat Dion Sangat cemas Dengan keadaan Istrinya. Ia merasa bersalah karena selama ini Tidak pernah Mencari tahu keberadaan Caca.
"Sabar sayang. tidak lama Lagi kita akan Sampai." Ucap Dion, Menatap Wajah Istrinya yang Sudah Semakin lemas.
Setibanya di Di Rumah sakit. Dion Langsung keluar dan Kembali Menggendong Istrinya Keluar dari dalam mobil tersebut. Dan Membawahnya Ke dalam Agar segera mendapatkan Pelayanan Dari Pihak Di Rumah sakit tersebut.
"Dimana dokter Yang Biasa Bekerja di sini. Cepat Panggilkan! Istriku sudah Sangat Sakit." Ucap Dion Yang Masih Berdiri sambil menggendong Istrinya. Lalu seorang Wanita Muda Keluar dari Salah satu Ruangan di Rumah Sakit itu. Langsung Memanggil beberapa perawat Agar segera membantu Membawah Caca Kedalam ruang Pemeriksaan.
Sementara Dion Hanya bisa menunggu di luar saja. Karena mereka tidak mengijinkan Dion Untuk masuk ke dalam Sana.
__ADS_1
Di luar sana Dion Terus Menghawatirkan Keadaan Istrinya yang Hingga saat Ini Belum juga Ada Kabarnya dari Dalam sana.
"Semoga kamu bisa segera di tangani oleh mereka sayang, Maafkan aku yang selalu Membuat kamu Seperti ini." Keluh Dion di dalam Hatinya.
Setelah beberapa menit kemudian. Dokter yang Memeriksa Keadaan Istrinya pun Keluar dari Ruangan itu. Dengan cepat Dion pergi Menghampiri Wanita Dewasa yang Berpakaian Serba putih itu.
"Bagaimana kondisi Istri saya Dok? Dan Dia Sakit apa?" tanya Dion Penuh Kecemasan.
Namun Wajah Wanita itu Terlihat Sangat Santai dan ia Hanya Tersenyum Menatap Pada Dion. membuat Dion Merasa heran dengan Tatapan Wanita dewasa itu.
"Apa kamu benar-benar Suaminya?" Tanya dokter itu
"I--iya. Saya memang Suaminya, Memangnya Ada apa Dengan Istri saya Dok?" Dion Kembali Bertanya-tanya
"Selamat ya Pak. Sebaiknya Jaga Kesehatan Istrimu. Jangan biarkan dia Stres atau pun Terlalu Banyak berpikir," Ucap Dokter itu.
Namun membuat Dion Semakin Bertambah Bingung Dengan Ucapan Wanita itu.
"Maksud dokter? Maaf Dok, saya benar-benar Tidak mengerti dengan apa yang Sedang dokter Bicarakan ini."
"Istri Bapak Sekarang lagi hamil Muda. Dan Ini Bisa terjadi pada Setiap wanita yang baru Hamil. Jadi Saya sarankan Agar bapak Bisa Menjaga Istrimu Dengan Baik. Di karenakan Kandungannya Sangat lemah." Tutur Dokter itu Sembari Tersenyum
Dion Hampir tidak percaya dengan perkataan Wanita itu. Bakan ia Tidak bisa Berkata apapun Ketika Mendengar Istrinya sedang hamil. Ia Merasa gagal sebagai Seorang Suami dan Ia tidak bisa menjaga Kandungan Istrinya yang Sekarang baru Berusia Sebulan. Dan Harusnya Ia bisa selalu ada di samping Istrinya dalam Kondisi apapun.
Dion Pun langsung masuk Ke dalam Ruangan itu. Dan Ia Menciumi Dahi kening istrinya berulang-ulang Kali. Ia merasa sangat bahagia Karena Caca Sedang mengandung anaknya.
Caca Hanya bisa tersenyum Menatap Kebahagiaan Yang Terukir Di Wajah Suaminya itu.
"Apa kamu Tidak Curiga sama aku, Karena sudah dua Minggu aku Tidak Bersama-sama Dengan Kamu?" Tanya Caca Mencoba Mencari tahu isi hati suaminya itu.
"Nggak sayang. Aku sama sekali tidak mencurigai Kamu. Karena aku sangat Tau Kalau kamu Tidak pernah Menduakan aku Sayang," Jawab Dion. Lalu ia Segera Memeluk Caca Dengan Sangat Erat.
Dan akhirnya Mereka Berdua Kembali Kumpul Bersama.
Setelah kondisi Caca mulai membaik. Dion Segera Membawah Istrinya Kembali ke rumah Heru. Karena mereka berdua akan Memberitahu Apa yang sudah Membuat Caca Sakit-sakitan Selama ini.
"Ayah pasti sangat senang jika Mendengar Kamu Sedang hamil Sayang," Ucap Dion
"Iya mas. Selama ini ayah Sangat Khawatir dengan Keadaan aku."
"Semua ini Salahku Sayang, Coba saja Waktu itu aku bisa bangun lebih awal dari Kamu. Mungkin kamu tidak Akan Meninggalkan Aku,"
"Apa mas Bahagia Dengan Kehamilan aku Sekarang?"
"Aku sangat bahagia sayang. Karena sejak Dulu Aku selalu berharap Bisa Cepat punya anak Dari Kamu."
"Makasih mas." Singkat Caca
__ADS_1
"Aku juga akan Memberikan Kejutan untuk Papa Sama mama. Jika kita sudah kembali ke kota nanti."
Caca hanya mengangguk Sembari Tersenyum Menatap Suaminya.
Caca Melihat Kebahagiaan Yang terpancar di Wajah Suaminya.
Saat ini Ia Sangat Berbeda setelah mengetahui Caca Sedang Hamil. Bakan Ia relah melakukan apa saja Demi Istrinya. agar tidak terlalu Capek.
\*\*\*\*
Malam Pun Tiba. Suasana rumah kediaman Heru Terlihat sangat hening. Karena Dion dan Caca Masih berada di dalam kamar. Heru hanya duduk sendirian di Meja makan Sambil Menunggu Putrinya dan Menantunya untuk Keluar dari dalam Kamar.
"Malam Ayah." Sapa Dion Dengan Sangat Senang.
"Malam juga nak Dion, Bagaimana Kondisi Caca. Apa dia Sudah sedikit membaik?" Tanya Heru.
"Iya ayah. Bentar lagi dia Akan Keluar." Jawab Dion Sembari Tersenyum
"Terimakasih Banyak Nak Dion. berkat kamu Anakku bisa Kembali pulih."
Tidak lama kemudian Caca Pun Datang Menemui Ayahnya dan Dion. Yang sedang Menunggunya di meja makan.
Wajah gadis itu terlihat lebih Ceria Dari Biasanya. Membuat Hati Heru Merasa tenang.
"Mas Dion, ayah. Kenapa kalian belum makan? kan Makanannya Udah Hampir Dingin." ucap Caca Yang Sudah Duduk di samping Suaminya.
"Ayah tidak Mau makan. Jika kamu belum ke sini," Sambung Dion Sembari Tertawa Kecil.
Lalu mereka pun Makan Malam Bersama. Walaupun Makanan di rumah Caca Sangat berbeda Dengan Makanan Di Rumah Dion. Namun pemuda itu Sangat Menikmati Masakan Yang Sangat sederhana itu.
"Ayah. Kami ingin memberitahukan Sesuatu yang Sangat penting sama ayah." Ucap Caca Yang sudah selesai makan.
Heru Menatap wajah putrinya dengan sangat Serius.
"Apa yang ingin kalian sampaikan Sama ayah, Apa Itu kabar baik, Atau Tentang kalian sudah mau kembali ke kota."
"Bukan ayah. Tapi ayah harus janji Dulu Sama Kami, Kalau ayah Tidak akan terkejut jika nanti kami Sudah Memberitahukan hal Itu sama ayah." Ujar Dion.
Membuat Heru semakin Tidak sabaran lagi untuk Mendengarkan Kabar Bahagia dari Ke dua anaknya itu.
"Baiklah. ayah janji." Singkat Heru
"Ayah, Putri ayah Sebentar lagi akan menjadi Seorang ibu. Dan ayah akan Menjadi seorang kakek," Ucap Dion Tersenyum Bahagia di depan Ayah mertuanya.
Heru merasa sangat Senang dan bahagia mendengar kabar itu. Bakan ia Sampai meneteskan Air Matanya. Karena sudah lama ia mengharapkan Seorang Cucu. Dan sekarang Tuhan Sudah mengabulkan Semua Permohonannya.
"Ayah sangat senang Nak. Semoga kalian Semakin Bahagia dengan Kehadiran calon Anak Dan cucu, Untuk Ayah." Ucap Heru Sambil Berdiri dan memeluk Putrinya Dengan penuh rasa Bahagia.
__ADS_1