
Pagi harinya Dion Dan Caca Bangun lebih awal Dari Sebelumnya. Mereka bangun karena Dion ingin Mengajak Caca Untuk jalan-jalan Pagi Di Sekitaran Apartemen.
Dion Membawah Caca Untuk keliling Apartemen milik Keluarganya Sendiri.
Namun gadis itu merasa Sangat Kelelahan karena Sudah Beberapa Kali Mereka Mengelilingi Jalan itu.
"Mas Aku capek. aku udah Nggak kuat lagi Untuk balik." Keluh Caca, Sambil memegang Perutnya.
"Ya udah. Kita istirahat sebentar di sini. Setelah itu kita kembali ke Dalam,"
pemuda itu Langsung Mengajak Istrinya untuk duduk di teras Depan.
"Hari ini Kamu mau makan apa?" Melirik Istrinya yang masih Duduk Sambil Mengelus-elus Punggung perutnya.
"Entahlah mas, Aku juga bingung." jawab caca. Menatap Suaminya
"Memangnya kamu Nggak pingin makan Apa-apa Gitu?" kembali menatap penuh kekeliruan. karena yang Ia tahu Caca selalu Merengek Jika Sudah pagi. Untuk Di belikan Buah-buahan ataupun makanan yang lainnya.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya Dengan Pelan. Karena ia memang tidak mau Makan Apapun.
"Tumbenan Istriku nggak Rewel kayak biasanya." Ujar dion. kembali
"Kita masuk yuk Mas," Ajak Caca, Yang Merasa sudah sedikit kuat.
Kemudian Dion membantu istrinya untuk Berjalan masuk Ke dalam Apartemen itu.
Setibanya di dalam Terdengar suara Ponsel Milik Dion Berdering. Setelah Mengantarkan Istrinya ke Kamar. Pemuda itu langsung mengambil ponselnya yang ada di atas Meja di ruang Tamu.
"Siapa ya?" Singkat dion. Setelah menerima panggilan Masuk di Ponsel miliknya
("Dion!" Bisa nggak kamu Temui aku Sekarang, Ada hal yang penting harus kita bicarakan berdua.") Jawab Wanita itu dari sebrang sana.
"Kirana? Mau ngapain lagi kamu Menghubungi aku! Maaf Aku tidak mau ketemu sama Wanita Licik Seperti kamu." balas dion. lalu pemuda itu langsung mencabut Kartu Ponselnya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Dasar Wanita Nggak waras! gumam Dion.
"Verry, Verry!" Suara Dion memanggil Asisten pribadinya itu.
"Ada apa bos?" Sahut Verry, yang baru keluar dari kamarnya.
"Tolong nanti kamu cari sarapan pagi untuk kita bertiga. Ya," pinta Dion. Sambil mengambil beberapa Lembaran uang dari saku celananya.
"Siap. Bos!" singkat verry. lalu ia langsung keluar
__ADS_1
Menuju mobil.
Dion Kembali ke kamar untuk Menemui Istrinya di dalam sana.
"Sayang?" apa kamu sedang mandi."
"Iya.mas, Memangnya kenapa?"
"Nggak apa-apa. cuma Heran saja Karena sejak tadi belum keluar dari dalam sana."
"Bentar lagi mas," singkat caca. Dari dalam sana.
\*\*\*\*
Suasana Kediaman Yudianto. Terlihat sangat Sepi Tidak ada orang yang Lalu lalang di halaman rumah mereka. Erlangga mencoba mengintip Dari Sela-sela Jeruji besi yang sangat tinggi itu. Namun sama Saja ia tetap tidak melihat Caca Sedang di dalam Sana.
"Kemana dia ya?" kenapa sejak kemarin tidak terlihat Di dalam sana." gumam Erlangga.
sebuah mobil Datang dan Berhenti di depan Erlangga yang Sedang Berdiri di depan pagar halaman itu.
Wanita itu menatap Erlangga dari dalam Mobil Dengan sedikit Bingung.
"Siapa dia? kenapa bisa Berdiri di sana. Aku juga baru melihat pemuda itu," Ucap Kirana. Yang masih memperhatikan Erlangga dari dalam Mobilnya.
Karena merasa penasaran Kirana Langsung keluar dari mobilnya. Dan Menghampiri Pemuda itu.
Erlangga merasa terkejut ketika melihat Seorang Wanita sedang berdiri di dekatnya.
"Nggak apa-apa. Aku sedang melihat Dion, Karena sejak kemarin dia Tidak Ada di rumah itu." Jawab Erlangga,
"Dion, Tidak Ada di rumahnya? Memangnya Kenapa, dan kamu ini Siapanya Dion?" lirik Kirana.
"Itu rumahku. Dan kami Berteman." Ujar pemuda itu kembali.
"Oya, Sejak kapan Kamu bisa Berteman dengan Dion. Sementara aku Sudah lama Kenal sama Dion, Bakan Aku ini Adalah tunangan Dion. tapi Aku tidak pernah melihat kamu Ada di Dekatnya ataupun di Sekitar Sini." Cetus Kirana. Menatap Erlangga
"Kamu tunangannya?" Bukannya dia Sudah punya istri ya!"
"Iya. Dia memang sudah punya istri. Tapi Wanita itu yang merebut dion, Dari aku. dan aku akan selalu Berusaha untuk Merebut Dion kembali Dari Wanita itu."
Erlangga Tercengang dengan perkataan Kirana. Bakan Pemuda itu merasa Kebingungan Dengan sikap Kirana yang Terlalu Egois itu.
"Tapi kalau menurut saya, Mereka Saling mencintai kok, Buktinya mereka selalu Happy." Ujar Erlangga.
__ADS_1
"Kebahagiaan mereka itu hanya sementara. karena aku Sendiri yang akan Membuat mereka Berpisah!" menatap Erlangga. dengan serius
"Itu hal yang paling bodoh. Masih banyak pria di luar sana. Kenapa kamu Mala mau merusak Hubungan orang Lain." ujar Erlangga. menatap Kirana.
"Memangnya kamu Siapa? Bisa mengatur hidup saya! kenal pun Tidak. Tapi sudah berani mengatur hidupku!" Jawab Kirana. Dengan Sinis
"Kamu memang wanita Kurang waras Juga ya! Pantesan saja. Dion, Tidak mau Menikahi kamu. Ternyata Kelakuan kamu sangat Buruk!" Lalu Pemuda itu langsung berjalan menuju Rumahnya.
Sementara Kirana Berdiri Menatap Punggung lelaki itu dengan wajahnya yang sangat Marah.
"Siapa dia! Kenapa dia sangat berani mengatakan itu sama aku.
"Dan Apakah benar Dion, Tidak ada di rumah itu?"
"Sebaiknya aku Masuk ke Dalam saja. Untuk mencari tahu sama wanita tua di dalam Sana." gumam Kirana.
Lalu ia langsung menekan tombol Bel Yang berada Di Sampingnya.
Tidak lama kemudian Seorang Wanita Dewasa Keluar dari dalam Rumah itu. dan berjalan mendekati Kirana yang Berdiri di luar pagar besi Halaman Rumah Yudianto.
"Maaf Non, Mau cari siapa?" Tanya Fatma Dengan Lembut pada Gadis itu.
"Mana Dion! Aku mau ketemu sama dia." jawab Kirana. Dengan Kasar.
"Den Dion bersama istrinya, Sudah Tidak berada di rumah ini Lagi. Karena mereka sudah pergi Sejak Kemarin Siang."
"Kemana Mereka pergi!"
"Maaf. Untuk hal Itu saya, Tidak Bisa mengatakannya. Karena den Dion, melarang Saya untuk mengatakan tentang tempat tinggal mereka yang Sekarang ini!"
"Jadi Pembantu kok Repot amat ya! Kamu Kan Bisa katakan Sama aku. Dimana Dion dan Wanita Kampung itu." Melotot pada Fatma.
"Saya tidak akan pernah kasih tahu keberadaan Mereka. Sama Wanita Jahat Seperti kamu! Dan Sebaiknya Kamu pergi dari sini." Ujar Fatma. Mengusir Kirana dari situ
"Hei! Kamu itu cuman Seorang Pembantu di Rumah Ini. Dan kamu Cuma seorang Sampah Yang menempel di keluarga ini. Jadi kamu Tidak berhak Mengusir saya, Dari sini. Paham!"
"Betul. Saya memang hanya Pembantu di rumah ini! Akan tetapi Saya tahu Cara Menghargai orang lain. Berbeda dengan Non, Yang Masih muda tapi Menjadi Pelakor dalam Rumah tangga orang lain." Ucap Fatma. Dengan Santai.
Hingga membuat Kirana Semakin Bertambah Marah. Ia Bakan Hampir Menarik rambut Fatma. Namun karena ia hanya berdiri di luar Pagar itu. Maka ia tidak Bisa Menggapai Kepela Wanita dewasa itu.
"Dasar kamu Pembantu Sialan! awas saja Aku pasti akan Mencabik-cabik Mulut kamu Itu!" Ujar Kirana. Mengancam Fatma.
"Silakan saja. aku tidak Keberatan jika Kamu Ingin melukai saya. dan Saya, Tidak pernah merasa Takut sama Wanita Seperti kamu."
__ADS_1
Tegas Fatma.
"Ternyata kamu Sangat berani juga ya, Kita lihat saja Nanti. Siapa yang akan Menderita!" pangkas Kirana. Lalu ia langsung masuk ke Dalam mobilnya Dan meninggalkan Tempat itu.