
Ketika hari sudah mulai Pagi. Caca Mulai terbangun dan Ia Menatap ke sampingnya Caca Sangat Terkejut ketika melihat Dion Sedang Tertidur di Kursi Sambil memegangi tangannya. Ia baru sadar Kalau ternyata Semalam Dion Sudah Menjaganya Saat ia sedang Demam. Caca Hanya bisa menatap wajah Suaminya Yang kini Sedang tidur.
"Kamu Masih sama seperti yang dulu Mas, Cara kamu Tidur tidak pernah berubah. Aku minta Maaf karena Aku terlalu egois, Karena aku Benar-benar kecewa sama kamu mas, Tapi sejujurnya aku Masih Menyayangi Kamu. Tapi Hatiku Masih tidak bisa Memaafkan semua yang sudah kamu perbuat sama aku," Ucap Caca Dalam Hatinya Sambil Menatap Wajah Suaminya yang masih tertidur Nyenyak.
Lalu Caca Berusaha untuk melepaskan Tangannya dari Genggaman tangan Dion. Namun Ketika ia ingin menarik tangannya Dion Mala Terbangun Dan Langsung Memeluk Caca dengan sangat Erat.
"Maafkan aku sayang, Aku janji. aku tidak akan Pernah mengulanginya lagi. dan aku juga akan Menjaga kamu dan Dede," Ujar Dion dalam Posisinya yang sedang memeluk istrinya.
"Pak Dion! apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu Bersikap Sangat Tidak sopan Seperti ini!" Tegas Caca. Kembali Membuang perasaannya.
"Memangnya apa salahnya aku memeluk Istri aku sendiri? lagi pula Aku tau kamu Tidak bisa kehilangan aku. Karena kamu sendiri yang Mengatakan semua itu sama aku." Ucap Dion Yang tidak ingin melepaskan Istrinya.
"Memangnya aku bilang apa sama Kamu? Dan kapan aku bilang seperti itu sama kamu, Pak Dion?"
"Semalam. Kamu sedang demam tinggi dan kamu terus mengulangi perkataan kamu itu. kalau kamu tidak Ingin Kehilangan aku, Dan kamu juga meminta aku Untuk tidak meninggalkan Kamu,"
Caca pun Terdiam Karena Memang semalam ia Mengingat semua perkataannya itu. namun ia tidak sadar kalau Dion sedang ada di sampingnya.
"Sekarang apa aku boleh menanyakan Sesuatu sama kamu? Dan ini pertanyaan aku yang terakhir. Jika memang kamu Tidak lagi Mencintaiku, Maka Aku akan Pergi untuk selamanya dari kehidupan kamu Dan Juga Dede. Tapi jika kamu masih mencintai Aku, tolong katakan dengan jujur sama aku." Menatap Caca
__ADS_1
"Maaf Pak Dion! Aku tidak punya waktu untuk Bertanya jawab dengan anda! Karena ini sudah Jam Sembilan pagi. Jadi kita harus segera pergi ke Lahan yang akan kita belih." Ucap Caca Berusaha untuk tidak menanggapi Dion.
"Ok. Bu Clarissa Putri Suhendra. Sekali lagi aku Minta Untuk segera Menjawabnya. Agar aku bisa Segera Pergi dari tempat ini!" Ulang kembali Dion Menatap serius pada Istrinya.
"Jadi kamu mau jawaban yang pasti dariku, pak Dion Alexander pranata?? Jadi jawaban aku adalah. Aku tidak pernah mencintai kamu lagi. Apakah sekarang kamu Sudah mengerti Pak Dion? Dan soal semalam. Mungkin perkataan aku Itu karena di akibatkan aku Lagi Demam tinggi. Sehingga membuat aku Bicara yang tidak normal Seperti itu. Jadi sebaiknya Kamu dan aku, Fokus di Tujuan pekerjaan kita saja. bukan Dengan urusan Yang lainnya. Paham!" tegas Caca kembali.
Membuat Dion sadar akan kehadirannya di Tempat itu.
"Baiklah. Jika memang itu sudah menjadi Keputusan kamu, Aku bersumpah tidak akan pernah Mengganggu Kehidupan kamu lagi. Itulah janjiku Sama kamu," Menatap Caca. lalu ia segera keluar dari kamarnya Caca.
"Apa yang aku Katakan Barusan sama Dia? kenapa aku Bisa berkata seperti itu sama dia! Gimana jika dia benar-benar Pergi dari Sini?" Gumam caca. Sambil menatap punggung Suaminya.
Lalu Caca segera Ke dapur untuk Membuat teh Hangat untuknya. Ia masih menatap Arah tangga yang menuju ke kamarnya Dion.
"Apakah dia Sudah Bersiap-siap ke Lokasi Itu ya?" Gumam Caca.
Lalu ia kembali ke dalam Kamarnya. Untuk segera bersiap Ke Tempat Yang harus mereka datangi itu.
Setelah usai berganti pakaian Caca Segera Keluar dari dalam kamarnya. Dan ia sudah Siap untuk pergi ke Tempat di mana Mereka Sudah janjian dengan Pemilik lahan Itu. Namun Ia belum melihat Dion Keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa dia belum juga keluar dari kamarnya ya? Apa dia tidak tahu ini Sudah waktunya kerja!" Ucap Caca
"Sebaiknya aku pergi sendiri saja! Dari pada Menunggu Orang yang tidak bisa Memegang Janjinya!" Ulang kembali Caca. Namun ketika ia tiba Di Luar sana Ia tidak melihat adanya mobil Dion yang terparkir di Halaman Apartemen itu.
"Kenapa dia Mala Meninggalkan aku Sendirian. Memangnya Dia pikir Aku tidak bisa tiba di sana Tanpa dia apa?" Ucap Caca Dengan sedikit Marah karena Dion sudah meninggalkannya Sendirian di apartemen itu.
Setelah tiba di lokasi. Caca segera Menemui pemilik Lahan Tanah yang ingin mereka bayar itu.
Namun setibanya di sana. Laki-laki Dewasa itu mengatakan Kalau lahannya sudah di bayar Oleh Dion Sejak Tadi. Caca pun bertambah Kesal dan marah karena Dion tidak memberitahukannya.
Lalu ia pun segera Mengambil Ponselnya dan Menghubungi Nomor Suaminya itu. akan tetapi Ponsel Dion sudah tidak bisa di Hubungi lagi.
"Ni Orang benar-benar Buat aku Kesal dan marah. Kenapa Dia tidak memberitahu aku jika ingin Bertindak duluan!" Ucap Caca Lalu ia segera kembali ke apartemen. berharap bisa menemukan Suaminya di sana.
Dengan langkah kakinya yang cepat Caca menaiki anak tangga menuju kamarnya dion.
Lalu ia segera Mengetuk Pintu kamar itu Dengan sangat kuat Hingga berulang-ulang kali.
Karena melihat Tidak ada jawaban dari dalam Sana. Caca segera masuk dan Menemukan Kamar Dion Sudah kosong bahkan semua pakaiannya Tidak ada lagi di kamar itu. Ia hanya menemukan Selembar kertas putih yang sengaja Dion Tinggalkan di Atas Meja kamarnya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Karena sudah Pergi tanpa sepengetahuanmu. Dan aku juga sudah Menjalankan Semua tugasmu dengan baik, Jika kamu Sudah Menemukan kertas Ini Maka aku sudah pergi dari Kehidupan kamu. Mungkin aku Tidak akan pernah Kembali lagi Untuk Menemuimu Jadi sebaiknya kamu Kembali ke Jakarta saja, Karena urusan kita di sini sudah ku selesaikan Semua. dan Jika kamu Sudah tiba di Jakarta, aku akan mengirimkan Surat perceraian kita, Agar kamu bisa hidup bebas tanpa aku lagi, Sekali lagi maafkan aku. Aku pamit," Dion Alexander Pranata.
Setelah membaca isi Surat itu. Caca Langsung Tersungkur lemah di dalam kamar. Ia sudah tidak tahu apa yang sudah ia perbuat Sehingga Kini Ia benar-benar kehilangan orang yang paling ia cintai. Mungkin selama ini ia terlalu egois dan hanya mementingkan Rasa sakit hatinya pada Dion Sehingga kini ia harus bisa menerima kenyataan kalau Suaminya akan Pergi untuk selamanya dari kehidupannya Dan juga Anak mereka.