Derita Istri Kontrak

Derita Istri Kontrak
Ep 112: Rencana Dion


__ADS_3

Setelah Kepergian Dion Caca Hanya Berdiam Diri Di apartemen. Ia tidak ingin kembali Ke Rumahnya Stefan. Sebelum Dion mengabarinya, Kini Rasa bersalah pada Dirinya Membuatnya semakin Takut Jika harus Kehilangan Dion.


Sementara Di dalam Rumah Kediaman Yudianto Pranata. Siska Merasa Khawatir Dengan keadaan Caca yang di tinggalkan Sendirian di Apartemen Oleh Dion.


Siska berusaha untuk menghubungi Caca, Akan tetapi Nomer Ponsel milik Menantunya itu tidak bisa di Hubungi lagi. Membuat Siska semakin bertambah Khawatir.


"Pa, Gimana Jika terjadi Sesuatu sama Menantu Kita Pa," Ucap Siska penuh Kekhawatiran


"Jangan bicara Seperti itu Ma. Kita harus bisa Percaya Kalau Caca akan baik-baik Saja di sana." sambung Yudianto.


Dion Mendengar percakapan antara kedua orangtuanya. Namun ia juga tidak bisa untuk Pergi Menjemput Caca disana. Karena ia sudah berjanji pada Dirinya sendiri akan Segera pergi dari kehidupan Istri dan anaknya.


"Selamat Malam Bro!" Sapa Dion Di balik ponselnya.


(Malam Juga, Bro. Bagimana Kerja sama kalian disana? Apa Kamu Sudah berhasil Mendekati Dia Kembali?" )Balas Stefan dari sebrang sana


Dion pun Termenung ketika Stefan menanyakan Caca.


"I--iya. kami Bekerja dengan baik." Jawab Dion kembali. tanpa memberitahu keadaan yang sebenarnya pada Stefan.


(Baguslah. Aku pikir kamu Tidak bisa merayunya Lagi, Jangan pernah Mengecewakanku Bro. Ingat Yang dia cintai hanya kamu, Dan saya Harap Kamu bisa Membuat dia Kembali Memaafkanmu.") Ujar Stefan


"Iya, Kamu tenang saja. aku tidak akan pernah Mengecewakanmu, Aku akan Melakukan apa yang sudah menjadi Perjanjian kita." Jawab Dion. Lalu ia segera Mematikan Sambungan Panggilan itu


"Berarti Caca Belum kembali ke rumahnya Stefan." Gumam Dion


Lalu ia kembali ke kamarnya dan mengambil Kunci Motornya yang Ada di meja kamar.


Setelah memakai Jaket Tebal Dion segera pergi Bersama motornya untuk Menjemput Istrinya yang Sudah Tiga hari Tinggal di apartemen.


Setelah tiba di apartemen itu. Dion Merasa Bingung harus Masuk dengan cara bagaimana ke dalam sana. Sementara Ia tidak mempunyai Kuncinya. Lalu Dion kembali ke Motor dan Berusaha Untuk Memanggil Caca Dengan Klakson dari motor itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Pintu di buka oleh Caca. Dan Dion hanya menatap Wajah Istrinya yang terlihat Lesu dan Pucat.


Melihat Suaminya yang sedang Di depannya Caca Segera Menemui Dion yang masih Duduk di atas Motor. Lalu Ia meminta maaf atas semua Keegoisannya Selama ini Pada Suaminya. Akan tetapi Dion Hanya menatap Caca Tanpa berkata apapun.


"Sebaiknya Kamu Kembali ke rumah Stefan. Aku Masih ada urusan penting yang harus aku Kerjakan," Ucap Dion


"Apa kamu Juga tidak bisa memaafkan aku mas?" Menatap Suaminya.


Dan pertanyaan itu membuat Dion Merasa Kasihan Melihat Istrinya yang Sangat pucat itu.


"Aku Sudah memaafkan Kamu Bu Clarissa, Dan Sebaiknya Bu Clarissa segera Pulang ke rumahnya Stefan. Aku ke sini Hanya Ingin Mengantarkan Surat Perceraian Kita. Dan Tolong Kamu Segera Tandatangani Ya!" Menatap Caca.


Melihat Selembar Kertas Putih yang sudah Di Depan Matanya. Caca merasa Sangat Syok Karena ternyata Dion benar-benar Ingin Menceraikannya. Sekarang ia Sudah tidak Berdaya lagi Dengan apa yang Sudah Ada di depan matanya itu.


"Bu Clarissa?" Apa kamu punya Pulpennya? Jika tidak ada Kamu bisa pakai Pulpenku saja!" Ulang kembali Dion


Dan Caca Mengangguk Dengan sangat Pelan di depan Suaminya itu.


Namun Dion Tidak Menghiraukan Air mata Istrinya.


"Ini Bu. Silakan di Tandatangani dengan cepat."


Kini pulpen sudah berada di tangan Caca. Rasa Berat dalam hatinya Untuk menandatangani Selembar kertas itu. Membuat Caca Hanya bisa menatap Kertas itu Sambil bergelimang Air matanya Namun ia juga tidak bisa Menolak apa yang sudah Suaminya Minta. Karena memang Sejak dulu Caca yang Memaksa Dion untuk Bercerai Kini apa yang Caca minta sudah di Penuhi oleh Dion.


"Kenapa Belum juga di Tandatangani Bu? Apa Bu Clarissa sedang menunggu Seseorang untuk Menjadi Saksi Untuk perceraian Kita? Jika memang maunya Kamu Harus punya Saksi biar Nanti saya cari!" Menatap istrinya.


"I--iya. Maafkan aku, Aku akan Segera Menandatangani Kertas ini." Jawab Caca kembali.


Lalu ia segera Memejamkan Kedua Matanya dan Segera Menandatangani Kertas yang sudah dion Berikan itu untuknya. Kini Tangisan semakin Tak Terbendung Ketika ia Selesai Membuat janji Di kertas putih itu.


"Makasih Bu, Karena kamu Sudah Melakukannya Dengan baik. Dan ini Yang Kamu mau kan? Jadi saya Sudah memenuhi apa yang kamu Minta." Ucap kembali Dion.

__ADS_1


Caca Hanya bisa mengangguk Pelan. Kini Statusnya Sudah Menjadi seorang janda Anak Satu. Entah apa yang harus ia Lakukan Jika Harus Kehilangan Dion. selama ini Ia selalu Mengancam Dion Untuk Bercerai agar Ia bisa Bebas Dari Suaminya itu. Tapi kini Ia Merasa Sedih Karena harus Kehilangan Dion untuk selamanya.


"Iya. Sekarang aku Sudah merasa Senang karena akhirnya kita resmi bercerai, Dan aku bisa bebas Melakukan apa saja yang aku mau." Jawab Caca Menahan tangisnya.


"Sekarang Kamu Boleh pergi. Aku akan Mengemasi Barang-barang Aku dulu," Ujar Caca lalu ia segera Masuk ke dalam sana Namun Dion Masih Menatap Istrinya yang Menyembunyikan Rasa kesedihan di dalam hatinya.


Setelah sampai di kamarnya Caca Pun tak Bisa menahan Tangisannya. kini ia menangis di dalam Kamar sambil tersedu-sedu. Mengingat apa yang sudah Dion perbuat padanya Ia semakin bertambah Sedih.


"Semuanya sudah Hilang. Kini aku tidak Memiliki Suami lagi, Kenapa Semua terasa nggak adil sama aku. Apa aku tidak boleh membalas Rasa sakit yang ku rasakan saat Mengetahui Suamiku selingkuh?


"Kenapa Hanya aku yang Merasakan kesedihan ini! Kenapa?? Untuk apa aku hidup Jika Semua tidak bisa ku pertahankan lagi.


"Mungkin lebih baik aku Nggak ada di Dunia ini. Agar aku bisa bebas Kemanapun aku pergi Tanpa merasakan sakit hati Dan kesedihan yang Seperti ku rasakan saat ini." Ucap Caca Tersedu-sedu Di Dalam kamarnya Dan Dion merasa Kasihan melihat Istrinya yang kini Duduk di bawah sudut meja samping tempat tidur.


Dion pun Berjalan Pelan Ke arah Istrinya. Karena ia Sudah tidak Tahan Melihat tangisan Caca yang kini Sudah Semakin Tak terbendung lagi


Dengan Cepat Dion Memeluk Istrinya dengan erat dan meminta maaf kepada istrinya. Atas Apa yang baru saja ia Perbuat


Lalu ia Menangkup Wajah sang istri hingga menatap ke arahnya.


"Hei. Aku mencintaimu, Dan Selamanya akan Selalu Mencintai Kamu. Sudah, Jangan Menangis lagi Aku masih di sini Dan akan selalu ada Di Samping kamu dan Dede, Apa kamu sudah lupa, Atas Janjiku Sama kamu Dulu? Bahwa aku Tidak akan pernah Meninggalkan kalian Berdua."


Caca Merasa Bingung dengan Suaminya itu.


"Apa maksudmu? Tadi kamu sudah menceraikan aku, Lalu Kenapa sekarang kamu bicara seperti itu lagi!" Menatap Suaminya.


"Coba kamu lihat kertas ini. Apa ini asli Atau palsu? Sayang, Perceraian itu tidak bisa kita lakukan Dengan Cara seperti tadi. Maafkan aku karena sudah Membohongi kamu. Itu semua kulakukan hanyalah untuk mengetahui Isi hati Kamu Sayang," Balas Dion Sambil Mencium Dahi kening istrinya.


"Jadi Itu semua hanyalah bohongan?" Tanya Caca.


Dan dianggukkan oleh Dion. Caca Pun. segera Meminta maaf atas Sikapnya beberapa hari pada dion. Dan Dion juga meminta Maaf pada Istrinya dan ia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya Itu.

__ADS_1


__ADS_2