
Malam Itu Caca Merasa Kebingungan Harus Mengajak Dion Kemana. Karena Kedua orang tuanya Belum Bisa memaafkan Kesalahan Dion Yang Sudah membuat Yudianto dan Siska Kecewa.
Akhirnya Caca Mendapatkan Ide Untuk Membawah Dion Ke rumah Yudianto. Secara diam-diam.
"Tuan. Saya minta agar tuan Bersembunyi di Dalam Kamar saja Dan jangan sampai Ibu Sama bapa Tau." Ucap Caca Menatap Dion dengan Serius
Dion Merasa Ada yang Lain Dalam Hatinya Ia Bakan Tidak bisa menolak Ajakan Gadis Itu. tidak Seperti Biasanya Ia selalu Membuat Caca Kewalahan dengan Sikapnya yang Sangat Egois.
"Setelah mereka Berjalan terlalu jauh. Akhirnya Pasangan Suami-istri Itu Tiba di rumah kediaman Yudianto. Caca Memberikan Aba-aba Pada Dion Agar tidak Membuat Keributan saat Masuk Ke dalam Rumah itu. Pemuda itu Mengangguk Pelan Sambil mengikuti Gadis itu
Dengan Akal Yang Caca Buat itu akhirnya mereka Masuk ke dalam Rumah tanpa Di ketahui oleh Yudianto dan Istrinya. Jam Dinding sudah menunjukkan Pukul Dua Tengah Malam.
"Sebaiknya Tuan Tidur di sini saja, Biar saya Di Tidur di Lantai." Ucap Caca Lalu mengambil Selimutnya dan Ia Segera tidur di Lantai yang sudah beralaskan Karpet
Pemuda itu melihat Istrinya yang Sudah Tertidur Nyenyak Merasa Kasihan Dengan Apa yang Sudah ia perbuat Selama ini Pada Caca.
"Maafkan Saya Caca. Mungkin Saya Bukan Laki-laki Atau Suami yang Baik Untuk kamu, Dan Mungkin kamu Juga tidak Bisa Memaafkan Semua kesalahan-kesalahanku," Ucap Dion Sambil menatap Istrinya yang Sudah Tertidur itu
Karena Matanya Sudah terasa Berat akhirnya Dion Ikutan tidur. Dan mereka tidur dalam Posisi yang Berbeda-beda.
Pagi pun Telah tiba Namun pasangan Suami-istri Itu masih Belum juga bangun. Suara Langka kaki Seseorang Di luar sana Sudah Terdengar Oleh Dion Yang mulai Mendengar Suara Ibunya yang sedang memanggil Yudianto.
Dengan cepat Dion Bergegas Dari tempat tidurnya dan Membangunkan Caca Yang Masih Tertidur lelap itu.
"Caca, Caca. Bangun Ca!" Panggil Dion Dengan nada Suaranya pelan.
Namun gadis itu masih Terbawah dalam mimpi indahnya Hingga ia Tidak Menyadari bahwa Dion Sedang membangunkannya.
"Mas Rehan, Tolong bawah aku pergi mas." Ucap Caca Yang masih Tertidur itu.
Membuat Dion Terkejut Ketika Mendengar Istrinya Sedang Memanggil Nama Rehan Di dalam Mimpinya.
"Jadi kamu Sudah menyukainya," Gumam Dion Menjauh Dari Caca.
Pemuda itu kini Merasa Kehilangan Hati seorang gadis yang benar-benar Tulus Padanya. Selama ini Ia selalu Mengekan Caca agar Tidak Menyukainya Ataupun Memiliki Perasaan Padanya. Kini ia Baru sadar Kalau Ia memang sudah Kehilangan Caca.
Tok Tok Tok! Suara ketukan Pintu Di depan Pintu kamar Caca Dan Dion.
Dion Merasa Gugup karena Ketukan Pintu itu.
"Caca!" Apa kamu masih Tidur?" Tanya Siska dari Luar sana.
__ADS_1
Dion Hanya Menatap Caca Yang masih Tiduran Itu. Lalu ia kembali Pergi Membangunkan Caca Karena Siska sudah Memanggilnya.
"Hei gadis aneh. bangun!"
Mata Caca Melotot Ketika Melihat Dion sudah berada di sampingnya.
"Tuan."
Dengan cepat Tangan Dion Menutupi mulut Caca
Dan Memberitahu Caca Kalau Ibunya sedang Berada di Depan Pintu.
Gadis itu Ternganga ketika Melihat Jam sudah menunjukkan Pukul Tujuh pagi.
"Astaga!" Ini beneran Sudah pukul Tujuh pagi?"
Dion Mengangguk Pelan.
Dengan cepat Caca Membereskan Tempat Tidurnya dan Ia bergegas ke Kamar mandi untuk Mencuci Mukanya di dalam Sana.
Dion Tertawa Kecil melihat Tingkah Istrinya itu.
Tidak lama kemudian Caca keluar dari dalam Kamar Mandi.
"Caca!" Apa kamu Sakit nak?" Tanya Siska mencemaskan Caca yang Sejak tadi Masih Belum keluar dari kamarnya.
"Nggak kok Ma, Aku hanya Kesiangan saja." Sahut Caca Yang masih dalam kamarnya
"Oh. Ya sudah, Papa dan mama hari ini mau Ke kantor. Nanti kamu Makan Sendiri saja ya nak, Mama Sudah Membuatkan Sarapan Di meja."
"I--iya Ma." Singkat Caca Yang Merasa Malu karena harus Majikannya yang Membuat Sarapan Untuk nya.
lalu Caca Menyuruh Dion untuk bersembunyi di Balik Pintu karena Caca Ingin menemui Siska yang Masih Berdiri di depan pintu kamarnya
Ceklek! Pintu di buka oleh Caca.
"Mama, Maafkan aku ma. Karena jadi kesiangan Bangunnya," Ucap Caca Menunduk malu Di depan Mertuanya itu
Namun Siska hanya tersenyum Menatap Gadis itu.
"Iya, tidak apa-apa. Sekarang kamu cari makan Dulu, Mama sama Papa akan segera berangkat ke kantor," Ujar Siska Menepuk pundak Caca
__ADS_1
"Iya ma," Singkat Caca Yang masih Berdiri di depan pintu kamar
Setelah melihat Siska dan Yudianto pergi. Caca Kembali masuk ke kamarnya dan Mengajak Dion untuk sarapan bersamanya.
"Tuan, Ayo kita sarapan Bareng. Ibu sama Bapa Sudah pergi." Ajak Caca
Pemuda itu kembali Mengangguk Seakan kini ia Tidak Memiliki kemapuan lagi untuk Menolak Ajakan Caca.
Pagi itu mereka berdua sarapan Bersama. Namun Di antara mereka tidak ada yang berbicara Hanya Terdengar Suara Bunyi Piring dan leper saja di meja makan itu.
Usai Sarapan Caca Langsung pergi ke dapur untuk Memulai Pekerjaannya di Dapur. Sementara Dion masih duduk Sambil Menikmati Makanannya. Pemuda itu terlihat sangat Lapar hingga ia makan Dengan Sangat Lahap.
"Tuan, Aku mau Siap-siap Ke pasar dulu. Karena Keperluan di dapur Sudah habis," Ucap Caca
"Apa kamu perginya Lama? Atau kamu Ada janji Dengan Rehan." Tanya Dion Sambil Menatap Caca.
Gadis itu merasa aneh Dengan Pertanyaan Dion. Ia hanya Tersenyum Menatap Suaminya.
"Aku hanya mau ke Pasar. Mungkin Tidak terlalu lama Di sana," Jawab Caca. Lalu ia Pergi ke dalam kamarnya Untuk Berganti pakaian.
Melihat Caca yang Sudah masuk ke kamar. Dion Dengan cepat Menerobos masuk ke kamar Untuk Melihat istrinya.
"Tuan!" Gadis itu menjadi gugup ketika melihat Suaminya yang Masuk tanpa mengetuk pintu Terlebih dahulu.
"Kenapa? Memangnya aku nggak boleh ya Masuk Ke kamar istriku?" Gumam Dion Yang berjalan mendekati Caca Yang dalam Keadaan Memakai bajunya
"Hanya istri Bohongan Tuan, Apa tuan Sudah lupa dengan perjanjian kita? kalau Kita menikah hanya untuk membahagiakan Kedua orang tua kita." Ujar Caca Sambil terus Melangkah mundur agar Tidak Bersentuhan dengan Dion.
"Sekarang aku tidak perduli lagi dengan perjanjian kita itu. karena Di mata Hukum kita memang sah Sepasang Suami-istri." Cetus Dion Yang Terus Mendekati Istrinya.
Caca terus berusaha untuk menghindari Dion namun Ia Sudah terjebak Sehingga ia tidak bisa lari lagi.
"Jangan Mendekatiku tuan, Karena aku tidak pernah Menganggap kamu sebagai Suamiku!" Tegas Caca. Berusaha Agar Dion Tidak lagi Mendekatinya
"Memangnya kenapa? apa kamu Memang sudah Tidak Peduli sama aku lagi, atau memang kamu Sudah Mencintai Orang lain?"
"I--iya. aku memang sudah jatuh cinta sama orang lain." Jawab Caca.
Membuat Dion Menghentikan langkahnya di Depan Caca.
"Apa dia Rehan? Tanya Dion. Menatap serius pada Caca.
__ADS_1
Dan Gadis itu mengangguk Dengan cepat. Hingga membuat Dion Merasa Frustasi Ketika mengetahui Istrinya sudah Mencintai pria lain.