
Kini Caca Dan Dion. Sudah Berada di Rumah Kediaman Keluarga Verry. Walaupun keadaan rumah itu Tidak Senyaman dengan apartemen dan Rumah Milik Suaminya. Namun Gadis itu sangat Bahagia bisa Tinggal bersama Verry Dan ayahnya. Hari Mulai sore. Caca Dan Dion Masih duduk Berbincang dengan Pak Yanto. Ayah Dari Verry. Kini Usia Lelaki Itu sudah Lima puluh Tahun Lebih. Namun ia Masih Terlihat sangat Segar dan Lebih kuat dari ayahnya Caca.
Sedangkan Verry Sibuk Di Menyiapkan Tempat tidur untuk Anak Majikannya. Karena Kamar di Rumah itu hanya Dua. Maka Verry membersihkan Kamarnya untuk Di tempati oleh Dion dan Istrinya.
"Semoga Bos Dion Dan Non Caca, Bisa Nyaman Tidur di Kamar ini." Gumam Verry. Yang Baru Selesai Membersihkan Kamarnya.
Lalu Dion Dan Istrinya pergi Menemui Verry yang Sedang beres-beres Di kamarnya.
Melihat Dion dan Istrinya Sedang berdiri di Sampingnya. Pemuda itu langsung Menunduk Dan Merasa malu Dengan Suasana Kamar yang Tidak Terlalu besar itu. Bakan Hanya beralaskan Karpet biasa Dan Tanpa kasur.
"Maaf Bos. Non, Kamar ini Tidak Terlalu luas Dan Tidak Senyaman Kamar Milik Bos Dan Non," Ucap Verry. Yang Merasa malu dengan Kekurangannya.
"Ini Sangat Sempurna Loh mas, Aku lebih suka Tidur di kamar seperti ini. Lagian Kamar ini Sangat Bagus kok, Dan kami berdua sangat berterima kasih sama Kamu, Dan paman. Karena sudah mengijinkan Kami, Tinggal di sini Untuk beberapa hari." Ujar Caca. Sembari Tersenyum Menatap pemuda itu.
"Iya benar. Ver, Kamar kamu ini Sangat Berharga Bagi kami. Karena Tanpa kamu, Mungkin Istriku akan Mendapatkan Masalah dari Wanita Jahat itu." Sambung Dion. Sambil Menepuk Bahu Verry Dengan Pelan.
"Terimakasih. Bos, Jika Memang Kalian Menyukai Tempat ini." Ucap Kembali Verry. Lalu Ia langsung keluar dari Dalam kamar. Agar Sepasang Suami-istri itu bisa Segera beristirahat.
Karena Mengingat Istrinya Dion Sedang hamil Tua.
"Mas, Apa kamu yakin, Bisa Tidur di tempat Seperti ini?" Lirik Caca. Saat melihat Dion Yang Sedang Memperhatikan Ranjang Tempat tidur untuk mereka.
Dengan cepat Dion Mengangguk.
"Iya. Sayang, Aku harus Terbiasa tidur di Tempat Seperti ini. Agar nanti Aku juga bisa Tahu Kehidupan Orang biasa," ucap Dion. Tersenyum menatap Sang istri.
Akan tetapi Caca merasa kasihan pada Suaminya. Karena ia sangat tahu Dion Tidak terbiasa Tidur di tempat keras seperti ini. Caca mengambil Selimut tebal di dalam Koper kecil Milik mereka Dan Di alaskannya ke Tempat tidur mereka. Agar tidak Terlalu Keras
"Itu kenapa di lapisi sayang? kan Kita tidur nggak punya Selimut lain," ujar Dion.
"Ada kok Mas, Aku sengaja Membawa dua Selimut." tersenyum hangat pada suaminya.
__ADS_1
Lalu mereka langsung merebahkan tubuh mereka ke Tempat tidur. Caca Belum bisa memejamkan Matanya. Ia masih Memandangi Sang suami yang Sejak tadi Tidak pernah diam.
"Mas, Apa Kamu Kesakitan ya?"
"Tidak sayang. hanya Saja Aku Belum bisa Tidur saja." Ucap Dion. Berusaha Untuk membuat Caca Tidak menghawatirkan Dia.
"Kalau memang mas, Nggak bisa tidur Di sini. Ambil saja Selimut ini Dan Kembali Lapisi Tempat tidur kita. Agar mas Bisa Tertidur."
"Nggak apa-apa kok Sayang, Ini Juga udah ngantuk." Berusaha tetap Kuat demi membuktikan Kemampuannya Pada Caca.
"Ya udah Deh, mas. Aku juga sudah ngantuk."
Lalu Caca Langsung Tidur Karena memang ia Sudah merasa Ngantuk.
Sementara Dion. Hanya Bisa Menatap Istrinya yang Sudah Tertidur di sampingnya.
"Kamu Sangat hebat sayang. Walaupun Tempat tidur ini Tidak memiliki kasur, Akan Tetapi kamu Masih bisa Tidur Dengan baik. aku janji sayang, Akan Membiasakan Diri aku di Tempat Seperti ini." Ujar Dion. Dalam hatinya Lalu ia mencoba untuk Memejamkan matanya. agar bisa Tertidur
Suara Ketukan Pintu Di luar sana. Membuat Dion Dan Istrinya Langsung bangun. Sepasang Suami-istri itu merasa Terkejut Dengan Ketukan Pintu Dari Luar sana. Yang Terdengar Sangat kuat.
"Itu siapa Ya, Sayang?" Kok Pagi-pagi Sudah mengetuk Pintu Rumah Verry." Ujar Dion. Yang Merasa Khawatir Kalau Itu adalah Kirana.
"Aku juga Tidak tahu mas. Mungkin Itu Tamunya Pak Yanto, Mas." Sahut caca. Sambil Berusaha untuk Bangun.
Akan tetapi Dion Masih ragu Dengan tamu Yang Tiba-tiba datang dalam Suasana yang masih gelap seperti itu.
Dion pun Pergi mengintip dari Pintu kamar mereka. Dan Di sana ia melihat Verry dan Yanto. Sedang berbicara dengan seseorang di luar sana. Dion tidak bisa melihat siapa yang berada di Halaman Rumah itu.
Lalu ia pun Keluar dan Berjalan pelan menuju Pintu belakang.
"Bapak sama Anak Sama Saja! Kalian Masih saja belum bisa melunasi Hutang kalian. Apa kalian harus Aku Paksa Dengan kekerasan agar kalian bisa melunasi hutang-hutang kalian Sama Aku!" bentak Pria itu dengan Sangat kasar pada Verry dan Ayahnya.
__ADS_1
Dari Arah belakang rumah Dion Merasa Terkejut Ketika Mendengar Semua pembicaraan mereka Di luar sana.
"Tolong Pak. Beri kami Keringanan Lagi, Kami janji Akan melunasi hutang kami Sama Bapak." Ucap Yanto. Memohon pada Pria itu.
"Aku tidak bisa lagi Memberikan Waktu untuk kalian berdua! karena kalian ini sudah tidak berguna lagi. Jika memang kalian tidak bisa Melunasi hutang kalian Sama Saya. Maka Saya minta Kalian Keluar dari gubuk Hina ini. agar Saya Bisa Menjual tanah ini Pada Orang lain."
"Jangan pak. Jika kami harus keluar dari tempat ini. Kami mau tinggal di mana, Pak." Yanto Terus Memohon agar bisa Mendapatkan Keringanan dari Pria Bertubuh besar itu. karena ia memang belum punya uang untuk melunasi hutang mereka.
"Saya Tidak Perduli! Mau kalian tinggal di Bawah Jembatan Atau Di jalanan. Itu bukanlah Urusanku!" Menatap Yanto. Dengan tatapan yang sangat Marah
Melihat Yanto Sudah Berlutut di bawah kaki Lelaki itu. Dion langsung Menemui mereka
"Cukup pak!" Jangan pernah Mengusir mereka dari sini. Biar saya yang akan Melunasi hutang mereka." Ujar Dion. Sambil Mengangkat Tubuh Pak Yanto. Agar segera berdiri
"Memangnya Kamu ini Siapa! Apa kamu bisa Melunasi Hutang-hutang Mereka! Sebaiknya kamu Jangan pernah masuk Campur urusan kami." Melotot pada Dion.
"Dia Adalah ayahku!" Ucap Caca. Dari dalam Sana. Sambil berjalan Keluar halaman.
Pria itu merasa heran ketika melihat wanita muda Yang Baru Saja Keluar dari Dalam rumah itu. Ia Merasa Kebingungan Dengan kehadiran Dua orang yang Tidak pernah ia kenal di Rumah Keluarga Yanto dan Verry.
"Mana mungkin kamu ini Anaknya. Yang Saya Ketahui. Anak Yanto dan Milkha. hanya Verry Seorang. Kamu mau Mengelabuiku Ya!"
"Saya Berkata Jujur! Bukan Untuk mengelabui Anda! Dan Saya Kembali bertanya sama Anda. Berapa Hutang Ayahku. Sama kamu!" menatap tajam pada Pria itu.
"Baiklah. Hutang mereka berjumlah tiga puluh juta. Apa kamu Sanggup Membayarnya?" Tertawa Mengejek Caca.
Dengan cepat Caca memberikan sebuah ATM pada Pria itu. Hingga membuat Dion tercengang dengan Keberanian Istrinya itu.
"Ini Ambil! Di dalam sini ada lima Puluh juta. Pinnya Nanti saya tulis di kertas. Tapi ingat! Setelah kamu Mengambil Uang itu. Segera kembalikan Sisa Uang Saya Yang Tersisa di ATM Itu. Jika Sampai dalam waktu Tiga jam, Kamu Belum juga Ke sini. Maka saya akan Melaporkan anda. ke pihak yang Berwajib Atas penipuan!" Mengancam Pria itu.
"Baik. Saya akan Kembali lagi Untuk Mengantarkan Kartu ATM ini Dan Sisa uang Sama kamu." Ucap Pria itu. Lalu ia langsung Pergi Untuk mengambil uang Di Bank.
__ADS_1