
Setibanya Di kampung Caca Langsung mencari ayahnya Dan Meminta maaf atas semua yang Sudah terjadi pada Rumah tangganya. Heru hanya Tersenyum Melihat Apa yang Sedang putrinya Alami saat Ini.
"Nak, Dalam Sebuah keluarga pasti akan Ada Cobaan yang datang Untuk Mengganggu Hubungan kamu dan Suamimu. Tapi Ayah percaya Kamu Bisa Melewati Semua ini Dengan Hati yang dingin dan sabar, Ingat nak. Tidak semua apa yang kita harapkan itu Tidak ada Cobaannya, Dan pesan ayah hanya Satu untuk kamu. Tetap selalu bersabar dan Bisa menerima Semua Konsekuensi dalam rumah tanggamu." Ujar Heru, Menasihati Putrinya yang sedang menangis
"Tapi ayah. Di antara kami hanya aku yang Mencintai Dia. mas Dion Tidak pernah mencintai aku Ayah, dan aku tidak bisa Terus-terusan seperti ini ayah." Tangisannya semakin Tak terbendung lagi.
membuat hati Heru Merasa bersalah karena sudah Menjodohkan putrinya dengan Anak Yudianto.
"Sabar nak. Ayah Yakin Kamu Bisa Melewati semua ini, Dan ayah akan selalu Mendoakan untuk kebahagiaan Kamu Dan suamimu."
"Ayah. Mungkin setelah ini Caca, Sudah tidak Ingin Kembali ke rumah itu lagi, Karena Caca Ingin mencari Pekerjaan Yang lain Di kota," Menatap ayahnya.
Heru hanya bisa Terdiam Dengan Rencana putrinya itu. Karena ia tidak bisa memaksa Caca Untuk Kembali Ke rumah Yudianto. dalam Keadaan yang Seperti itu.
"Itu terserah kamu Nak, Papa hanya bisa Berharap Hubungan Kalian Akan Segera membaik. Karena Tidak baik Untuk kamu Menghindar Dari Masalahmu nak,"
"Aku Tahu ayah. Tapi untuk saat ini Mungkin Aku Belum bisa siap Untuk kembali ke sana."
"Baiklah Ayah memaklumi Perasaan kamu Saat ini.
"Ya Sudah. Ayah Kembali ke Kebun dulu."
Caca hanya mengangguk Pelan.
Heru pun Segera Meninggalkan Putrinya sendiri di dalam kamarnya agar Ia Bisa Merasa tenang.
*****
Dua Minggu Sudah Berlalu Setelah kepergian Caca Dari Rumah Yudianto. Membuat Dion merasa Tidak Bersemangat untuk Melanjutkan Hidupnya. Ia Bakan Kehilangan Segala yang Ia miliki saat bersama Istrinya. Kini Dion hanya bisa Berdiam Di kamarnya. Melihat kondisi Dion Semakin Terpuruk Fatma merasa Kasihan kepada Pemuda itu. Ia pun masuk dan mencoba Untuk Menghibur Dion di dalam Kamarnya.
Tok Tok! Suara ketukan pintu
__ADS_1
Namun Dion Tidak menghiraukan Ketukan Pintu itu. ia masih saja Termenung
Ceklek. Pintu di buka Oleh Fatma. lalu Ia Masuk Dan Mendekati Dion Yang Terlihat Sangat Murung.
"Den, Makan dulu den. Biar Aden Tidak Sakit. Kasihan bapa sama Ibu Selalu Menghawatirkan Keadaan Den Dion. Sampai-sampai Bu Siska Tidak pernah bisa tidur karena selalu memikirkan Aden." Ucap Fatma. Sambil Membelai Rambut Pemuda itu
"Aku Rindu Istriku Bi. Aku Tau Aku salah, Tapi kenapa dia pergi meninggalkan aku Bi, Bakan Sampai saat ini Dia Tidak Kembali lagi sama aku." ujar Dion Dengan Wajahnya yang sangat Sedih.
"Sabar den, Mungkin ini Adalah ujian dari Sang Kuasa untuk Aden Dan Non Caca. Banyak Berdoa den, Tetap pasrahkan Semua kedalam Tangan Tuhan."
"Iya Bi. Jujur aku Sangat berharap agar dia bisa kembali ke sini Dan Aku bisa meminta maaf sama dia Bi, Dan kami akan Memulai Semuanya Dari awal lagi."
"Semoga Tuhan Mengabulkan Semua permintaan Aden, Dan bibi Akan selalu mendoakan Kalian Agar cepat Bersama Kembali Seperti dulu."
"Amin. Makasih Bi,"
"Sekarang Aden Harus makan Dulu. Biar nanti Aden bisa pergi Menemui Non Caca Di kampungnya," Ujar Fatma Tersenyum pada pemuda itu.
Dan Diangguki oleh Fatma.
"Baiklah den, Bibi Ke dapur dulu. Mau Cuci Piring,"
"Iya bibi." Singkat Dion Lalu ia Segera mengambil benda Tipis yang berada di Atas Nakas. Setelah kepergian Caca Dion tidak pernah menghubungi atau mengirimkan pesan untuk istrinya. karena ia merasa Takut kalau Caca Tidak mau Bicara ataupun membalas Pesan darinya. Namun kini Ia Merasa Berani Berkat Dukungan Bi Fatma.
Setelah Beberapa kali Berdering Baru Terdengar Suara seorang pria yang menjawab Panggilan dari Dion. Dan Ternyata itu adalah Heru ayahnya Caca. Karena pada saat Itu Caca Sedang demam Dan Tidak bisa Menjawab Panggilan di Ponselnya.
Halo. Selamat Siang." Sapa Dion. Dari balik ponselnya.
{"Siang juga. Apa ini Dengan Nak Dion?"} Balas Heru Dari sebrang sana.
"I--iya. Ini dengan saya Sendiri. Apa ini ayahnya Caca?" Dion Kembali Bertanya
__ADS_1
{"Iya Nak, Kenapa kamu Baru menghungi Kami. Memangnya kamu tidak pernah Merindukan Istrimu lagi?"}
Dion Pun Termenung Karena ia tidak tahu harus berkata apa pada ayah Mertuanya itu.
"Maafkan Saya. Ayah, Mungkin Selama ini Saya Lebih mementingkan Pekerjaan Dari pada Istriku sendiri. Saya minta maaf pada kalian berdua." Ujar Dion mengakui Kesalahannya.
{"Tidak apa-apa Nak. Selama kamu masih Setia kepada Istrimu. Aku bisa memaafkan kamu,"}
"Terimakasih ayah. Di mana Caca ayah? aku sangat merindukan dia ayah,"
{"Saat ini Kondisi Istrimu Dalam Keadaan Sakit. Sejak dua hari yang lalu ia Selalu mual-mual Dan Demam, Mau di bawah ke dokter Tetapi Caca Selalu Menolaknya. Ayah takut kalau Penyakitnya Semakin Parah."} Tutur Heru
"Apa? Caca sakit?? Baiklah ayah. Aku akan Segera Ke kampung, Dan aku Akan Membawah dia ke Dokter agar Caca Bisa Mendapatkan Perawatan Yang Lebih baik."
{"Baiklah nak. Ayah Tunggu kamu di sini."}
Lalu Heru Langsung Mematikan Sambungan Panggilan itu Dan Melepaskan Ponsel Caca di sampingnya kembali.
"Maafkan ayah Nak, Terpaksa ayah Memberitahukan Hal ini Kepada suamimu. Karena ayah tidak ingin kamu Terlalu Menderita Dengan penyakitmu." Gumam Heru Mengelus Rambut Putrinya yang Tertidur.
Sementara Di Rumah Kediaman Yudianto. Dion Tergesa-gesa Agar bisa segera Pergi ke kampung untuk Menemui Istrinya. Namun ia Tidak bisa Memberitahu Kedua Orang Tuanya Kalau Caca Sedang sakit.
"Bi. Aku pamit ke kampung Caca Dulu Bi, Masalahnya Caca lagi sakit. Dan aku Harus Segera Membawah dia Ke Rumah sakit." Ujar Dion Dengan Sangat Khawatir.
"Non Caca Sakit? memangnya non Caca Sakit apa Den?" Tanya Fatma Dengan Cemas.
"Aku juga belum tahu bi. Tolong jangan Sampaikan Hal Ini pada papa Dan mama Ya Bi, Aku tidak ingin Mereka Cemas. Nanti biar aku Kabari bibi lagi." Jawab Dion. Lalu ia Segera Pergi Ke Mobilnya.
Sementara Fatma Hanya menatap Mobil Dion Yang Sudah pergi Ia sangat Mencemaskan Keadaan Caca Saat ini. Akan Tetapi ia Juga tidak bisa Berbuat apa-apa Untuk membantu Istri Majikannya itu.
"Semoga Tuhan menyembuhkan mu Non," Ucap Fatma dalam Hatinya. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Dion terus Kepikiran dengan Keadaan Caca Yang sejak Dua hari lalu Sudah demam. Ia Bakan Berusaha untuk Melajukan Mobilnya agar bisa Segera sampai di kampung Istrinya.