
Suasana di dalam rumah itu Terlihat Canggung. Dion dan Caca kini saling bertatapan Penuh Rasa Kegelisahan Di dalam Hati mereka masing-masing. Namun keduanya saling menutupi perasaan mereka. Karena sudah terlanjur dengan apa yang sudah mereka ucapkan Dulu.
"M'mm. Maafkan saya Ca," Ucap Dion Mengalihkan Pandangan ke Arah jendela
"I--iya. Tuan, Sebaikanya Tuan Kembali ke rumah Bapa dan Ibu lagi. Aku Sudah Ngomong sama Mereka Kalau aku akan Membawah Tuan Kembali ke rumah itu lagi."
"Untuk apa? saya tidak akan Pernah Datang ke rumah itu lagi. Sebaiknya kamu pulang Dan Beritahu Papa dan mamaku. Kalau aku Tidak Ada," Ujar Dion Yang masih menatap arah Jendela
"Memangnya tuan tidak bisa memaafkan Ibu sama Bapa ya, Saya saja Bisa kok Memaafkan Semua kesalahan Tuan sama aku, Tapi kenapa tuan Nggak bisa maafin mereka." Menatap Dion.
"Untuk apa aku kembali ke rumah Itu lagi Ca, Jika pada dasarnya aku hanya akan Kembali Membuat Mama sama Papa malu dengan Perbuatan ku."
Caca Menatap Dion Penuh Rasa keliru. Gadis itu Pun Memberanikan Dirinya untuk Memegang Wajah Dion Untuk Menatap ke arahnya.
"Tuan, Jika Tuan memang Punya hati Nurani. Maka Saya mohon Kembali ke rumah bersama Saya," Pinta Caca Dengan Penuh permohonan pada Suaminya itu.
Dion Menatap Caca Tanpa berkedip Bakan Detak jantungnya kembali tidak normal lagi.
"Saya mohon tuan," Ungkap Caca Sambil Memeluk Tubuh Sang suami dengan Erat.
Membuat Dion Semakin Gugup Karena ia Sendiri Tidak ingin memaksakan Hatinya untuk Membuat Caca Kecewa lagi.
"Apa kamu Bisa Berjanji sama aku? Jika aku sudah kembali ke rumah Itu lagi." Tanya Dion.
Dengan cepat Caca Melepaskan Pelukannya itu dan kembali menatap Dion.
"Janji apa Tuan?"
"Maukah Kamu Tetap bersamaku? Dan Tidak Pernah Menuntut Apapun Dariku?" tanya Dion
Sekarang Caca Di Buat bingung oleh Dion.
"Iyaa, Aku janji. Asalkan tuan juga mau Janji Nggak akan pernah Ninggalin Rumah Apapun yang akan Terjadi nanti saat kita Sudah di sana."
Dion Mengangguk Lalu ia membalas Memeluk Tubuh Istrinya. Tanpa basa-basi Pemuda itu Langsung ******* Bibir Tipis Milik Sang Empunya Tanpa Rasa Canggung lagi. Caca hanya membiarkan Suaminya Memainkan Lidahnya di dalam Mulutnya itu. Ia Bakan Hampir tidak bisa bernafas karena Ulah Suaminya yang Sudah mulai nakal.
"Makasih sayang, aku janji Akan Menjadi Suami Yang baik Untuk kamu Dan untuk calon anak Kita nanti." Ujar Dion Menatap Istrinya dengan serius. Membuat Caca Tak berkutik saat Dion memanggilku Dengan Sebutan kata sayang. Ini baru pertama kalinya seorang Dion Yang Terkenal egois Suka Menjelekkan Dirinya. Tiba-tiba Berubah Romantis di depannya.
__ADS_1
"Apa kamu Sudah makan Sayang?" Tanya Dion Dengan Rasa senang.
Namun Caca Kembali Tercengang. Dengan apa Yang Kembali ia dengar itu. Bakan Ia masih belum bisa percaya kalau Suaminya Kini Memanggilnya Seperti itu.
"Sayang, Kamu Kenapa bengong?" apa kamu Sakit ya?" Tanya Dion penuh Perhatian.
Gadis itu hanya menggelengkan Kepalanya
"Nggak kok, Tuan. Aku baik-baik Saja." Jawab Caca Dengan Sedikit Gugup
"Sayang, Mulai detik ini. Hari ini, Aku nggak mau Kamu Manggil Aku dengan Kata tuan lagi. Ingat aku Suamimu Bukan lagi Bos Kamu, Ngerti!"
"S-saya.Saya mau Ke Toilet dulu Tu...eh M--mas." ujar Caca Bertele-tele Karena ini hari yang membuatnya hampir gila.
Dion Pun Menatap Istrinya penuh Heran.
"Apa kamu baik-baik Saja, Sayang!" Dion Merasa Khawatir dengan Kondisi Istrinya yang terlihat Pucat itu.
Suara klakson mobil Di luar sana Berbunyi Sangat kuat. Membuat Dion dan caca Saling bertatapan penuh Kebingungan.
"Aku juga nggak tau, Apa mungkin itu Papa sama Mama ya?" Mereka berdua saling Berdiam diri dalam rumah itu. Dion melarang Caca Untuk pergi membukakan Pintu karena Dion tidak ingin Terjadi Sesuatu hal yang Aneh untuk Istrinya lagi.
Namun Suara klakson mobil Itu kembali di Bunyikan. Akhirnya Dion pergi Mengintip Dari balik jendela Samping dekat mereka.
"Siapa disana mas?" Tanya Caca kembali
"Itu kayaknya Mobil milik Kirana. Mau apa dia kesini?" Dion Merasa kesal Dan hampir keluar untuk Membuat perhitungan dengan Gadis itu. Namun Caca Melarangnya.
"Mendingan Di Biarkan saja mas, Nanti juga dia pergi dengan sendirinya kok," Ucap Caca Menatap Suaminya Yang lagi marah itu.
Lalu Dion Kembali duduk Di samping Istrinya sambil terus memantau keberadaan di luar sana.
Karena melihat Tidak ada orang yang keluar dari Dalam rumah itu. Kirana keluar dari dalam Mobilnya dan Berdiri Menatap ke dalam halaman rumah dari balik Jeruji besi pintu depan.
"Si Dion kemana si?" Kirana merasa marah karena tadinya Dion yang memintanya untuk Menemuinya di rumah itu. Akan tetapi Batang hidung pemuda itu tidak terlihat di dalam rumah tersebut.
Dengan penuh kekesalan Gadis itu kembali ke mobilnya dan Pergi Meninggalkan Rumah Dion.
__ADS_1
Didalam sana Suami-isteri itu Merasa tenang ketika melihat Mobil Kirana sudah pergi.
"Kenapa mba Kirana bisa tahu kalau mas Tinggal di sini lagi?"
Dion Menatap Istrinya Ia Bakan tidak berani jujur bahwa ialah yang meminta Kirana datang.
"Aku juga nggak tau sayang, Mungkin ada yang Kasih tau dia kalau aku Tinggal di sini." jawab Dion.
"Maafkan aku sayang, Karena aku nggak ngomong yang sebenarnya sama kamu. Aku tidak Mau kamu Kecewa lagi." Gumam Dion Dalam Hatinya.
Dion bersama istrinya kembali ke rumah Orang Tuanya. Meskipun Dion tidak yakin kalau Kedua Orang Tuanya bisa menerimanya kembali Ia tetap Bersabar Untuk Menerima Konsekuensinya Jika Memang harus Di marahi oleh Yudianto dan Siska. Namun dengan Kekuatan Istrinya membuat Pemuda itu merasa kuat.
Setelah beberapa menit berlalu Mobil Yudianto dan Istrinya sudah memasuki halaman Rumah Mereka. Mendengar suara mobil Kedua Orang Tuanya Dion nampak terlihat gelisah. Namun dengan cepat tangan Caca Merai jemari Tangan Suaminya untuk menguatkannya.
"Tenang mas, aku akan selalu di samping kamu." Ujar Caca Tersenyum pada suaminya.
Dion merasa Senang karena Caca selalu Memberikan Semangat untuknya.
"Makasih sayang."
Setelah memarkirkan mobil mereka Yudianto dan Siska seger turun dari mobil. dan Bergegas Masuk ke dalam rumah. Setibanya di Dalam. Yudianto Terkejut ketika melihat Dion dan Caca Sedang duduk di Sofa ruang tamu
Tatapan Yudianto Sangat tajam Ketika melihat Dion kembali ke rumah itu.
"Pa, Aku minta maaf pa,ma." Memohon maaf pada kedua orangtuanya.
Hati Siska merasa Iba melihat putranya yang tiba-tiba Memiliki rasa bersalah dan kembali meminta maaf pada mereka.
"Kami sudah memaafkan Kamu. Sebelum kamu datang meminta maaf, Dan semua ini adalah Kemauan istri yang kamu campakkan selama ini Dion," ujar Yudianto menatap tajam pada Putranya.
"Iya pa, aku tau. Dan aku juga sudah berjanji sama Caca Akan menjadi suami yang baik untuknya."
Mendengar akan hal itu. Yudianto Mengerutkan Dahinya dan Menepuk punggung putranya.
"Papa Maafkan kamu. dan papa harap Kamu bisa Menjadi Suami yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap Istrimu."
Dengan cepat Dion Memeluk ayahnya dan mereka saling berpelukan. Caca merasa sangat senang melihat Dion dan Kedua Orang Tuanya Kembali berbaikan.
__ADS_1