
"Dia Merebut Dion Dariku!! Tiba-tiba Suara Kirana yang sudah Berdiri di Depan Pintu. Membuat Wulan dan Caca Terkejut dan Melihat ke Arah Gadis itu.
"K--kirana? Kenapa kamu bisa Ke sini?" Lirih Wulan Dengan Gugup Ketika melihat Wajah Kirana yang Sangat marah itu.
"Aku Kesini mau Smoothing Tapi Sejak melihat Wajah Gadis Kampung ini. Aku Jadi Males." ungkap Kirana Menatap tajam pada Caca.
"Memangnya kenapa Dengan Caca, Dia kan Hanya Menemani aku di sini." Ujar Wulan Kembali.
"Bisakah kamu keluar sebentar Wulan? Aku mau Berdua dengan Gadis kampung ini!! Pinta Kirana Pada Wulan.
Namun Wulan tidak Bisa Meninggalkan Caca Sendirian bersama Kirana. Karena Ia sangat Tahu Tentang Sikap Kirana Yang Sangat Kasar itu.
"Maaf Kirana. Aku bukannya tidak mau keluar Tapi Dion Sudah Menyuruh aku untuk Menjaga Istrinya dengan baik." Ujar Wulan.
Kirana Semakin Bertambah Marah ketika mendengar Ucapan Wulan.
"Jadi sekarang kamu Sudah punya Penjaga juga ya? Hebat kamu. Aku sangat Salut sama Kamu Wanita jalan!"
"Cukup mba. Saya Tidak mau Bertengkar dengan Mba lagi, Sebaikanya mba Tinggalkan tempat ini Jika memang Tidak ada yang Harus mba Lakuin di sini." ujar Caca Dengan sangat berani Pada Wanita jahat itu
"Dasar Wanita tidak tahu malu. Memangnya Kamu Siapa bisa mengusir aku Dari sini Hah?? Kirana membentak Caca Sambil Mendorong Kursi Tempat Caca Sedang duduk. Sehingga Membuat Caca Jatuh.
"Cukup Kirana!" Kamu tidak berhak Melakukan Kejahatan kamu Di tempat saya. Karena jika terjadi apa-apa dengannya Maka Akulah yang Akan Di cari oleh Dion." Ucap Wulan Sambil Membantu Caca Berdiri
"Kamu dan Wanita ini Sama-sama pengecut!! Ujar Kirana Sambil tertawa terbahak-bahak di depan Wulan dan Caca.
"Oya Wanita kampung. Tadi aku baru saja Bertemu dengan Suami Kesayanganmu. Bakan Kami Sempat Bermesraan di kantornya." Tersenyum Sinis menatap Caca.
Wulan Berusaha Menenangkan Caca Agar tidak Percaya dengan Perkataan Gadis itu. Namun Kirana Lebih Menjadi-jadi Agar Caca Percaya dengan semua ucapannya.
"Apa kamu Tidak percaya dengan apa yang aku Katakan baiklah Sekarang coba Dengarkan Rekaman Pembicaraan kami tadi." Kirana Sengaja Memutarkan Sebuah rekaman Yang Sudah lama Saat ia dan Dion baru Jadian. Dan hal Itu membuat Hati Caca Merasa Sulit untuk Bernafas.
"Gimana. Apa kamu sudah mendengar Rekaman Ini? Perlu Kamu Ketahui Dion itu tidak pernah mencintai kamu, Karena di hatinya Hanya ada aku."
"Cukup Kirana!! Sekarang kamu pergi dari tempat ini." Ujar Wulan mengusir Wanita jahat itu.
__ADS_1
"Tenang saja Wulan. Aku akan Pergi kok, Jagain Dengan baik Tuh Wanita Simpanan Dion." Ucap Kirana, Lalu ia segera pergi Meninggalkan Wulan dan Caca.
Kirana Merasa puas dengan Permainannya. Karena ia Sudah berhasil mempengaruhi Pikiran Caca.
"Aku Yakin Kalian akan Bertengkar Dion. Itu adalah Balasan atas apa yang Sudah kamu Lakukan ke aku Tadi." Gumam Kirana lalu Segera Melajukan Mobilnya Dengan cepat
Sementara di dalam sana. Wulan Berusaha Menenangkan Caca Yang sudah sakit hati dengan Apa yang sudah Kirana Lakukan Terhadapnya.
"Ca, Menurut aku. Kirana itu hanya berusaha untuk Membuat Hubungan Kamu dan Dion Berantakan. Kamu kan Sudah istri sahnya Dion, jadi kamu Jelas lebih paham Tentang isi hati Suami kamu kan?" Ujar Wulan. Menasihati Caca.
"Iya mba, Aku tahu Mba Kirana Memang Sengaja Membuat rekaman itu. Agar aku sama Mas Dion Berpisah, Karena sejak Mas Dion Mulai Mencintai aku. Mba Kirana Tidak pernah tinggal diam Dia selalu berusaha untuk memisahkan Kami." Tutur Caca, Sambil berlinang Air mata di depan Wulan.
"Kirana itu memang Sangat licik. Sejak Dulu Aku memang tidak pernah Mau Berteman dengan Dia. Karena Dia hanya Menyukai Dion Karena uang, Bukan karna Dia Cinta."
Caca Pun Melongok Ketika Mendengar Cerita Wulan. Ia Bakan Baru tahu Kalau Wulan sangat membenci Wanita itu
"Memangnya Mba Wulan Tidak pernah Berteman dengan Mba Kirana ya?" Tanya Caca Kembali.
Wulan Mengangguk Pelan.
"Tapi Kenapa dia Bisa ke sini? Memangnya Dia Sudah Jadi langganan Di Salon Milik Mba Wulan?"
"Dia Memang sering kesini waktu Bersama Dion Dulu. Tapi Itu pun aku Terpaksa Menerimanya Karena aku masih menghargai Dion."
Caca Kembali Termenung Dan Ia pun meminta Wulan untuk tidak Memberitahu Dion Tentang Kejadian Tadi. Karena Dion Pasti akan Melarangnya kembali untuk Tidak keluar rumah.
Wulan Hanya bisa Mengangguk Pelan Dengan Sikap istri dari Sahabatnya itu. Bakan Wulan Merasa heran pada Caca. Karena ia Tidak Ingin Menceritakan Masala itu pada Suaminya.
Hari Sudah mulai sore. Wulan Dan Caca masih Setia Menunggu Hujan Sampai Berhenti. Karena sore itu Cuaca di luar sana Sedang Hujan Deras Membuat Kedua wanita Muda itu Tidak Bisa pulang Ke rumah mereka.
Tidak lama Kemudian Sebuah mobil Berhenti Tepat di depan Salon Milik Wulan. Setelah memarkirkan Mobilnya Dion Langsung keluar dari Dalam Mobil dan Segera Berlari ke Tempat Wulan.
"Sayang, Apa kalian Sudah makan?" Tanya Dion Ketika Sudah Berada Di dalam.
"Iya Sudah mas. Lalu bagaimana dengan Mas, Apa udah makan Juga?" kembali bertanya pada Suaminya
__ADS_1
Dion Tersenyum Sambil Mengangguk Pada Istrinya.
"Apa kalian sudah siap mau pulang?
"Iya dong. Sejak tadi Kami tidak bisa Pulang Karena Hujan Tidak Berhenti." Ujar Wulan.
"Makanya Jangan terlalu Bawel Biar hujannya Cepat Berlalu." ejek Dion Pada sahabatnya itu.
Lalu mereka pun Segera Pulang Ke rumah Mereka Masing-masing. Dion Dan Caca Pergi Mengantarkan Wulan Hingga ke Depan rumah. Setelah Mengantar Wulan. Dion mengajar Istrinya untuk Jalan-jalan ke Mall. Karena Selama ini Ia tidak pernah Membawah Istrinya Jalan-jalan.
"Kita mau Kemana mas? Kan Jalan Menuju rumah Kita bukan dari sini." Ucap Caca Kebingungan.
"Kita mampir ke mall Dulu sayang, siapa Tau Kamu Mau Cari sesuatu di sana." Ujar Dion Melirik Istrinya.
"Aku tidak mau Mas. Soalnya aku Sudah Kedinginan, Sebaiknya Kita Cepat balik Ke rumah Saja." Ucap Caca
"Ya udah deh, Kalau memang kamu Dingin Kita Balik Arah saja." Jawab Dion. Langsung Memutar balik Mobil mereka. dan kembali ke Rumah.
Malam itu Gemuruh di langit Sangat kuat Membuat Caca ketakutan. Bakan gadis itu Tidak mau Keluar dari Dalam Kamar. Dion yang Merasa Bingung dengan Keadaan Sang istri Langsung pergi Mendekati Istrinya.
"Ada denganmu Sayang? Kok, kamu Terlihat Sangat pucat. apa kamu Sedang sakit?" Tanya Dion,
Akan Tetapi Caca. Sama Sekali tidak bisa Menjawab Pertanyaan Suaminya Ketika melihat Cahaya Pantulan Dari petir yang Masuk ke Celah-celah Jendela di Kamar mereka.
Gadis itu Bertamba takut dan ia Pun Menarik selimut dan Menutupi seluruh tubuhnya dengan Selimut Itu.
"Sayang?" Kamu Kenapa? apa kamu Baik-baik Saja?" Dion Bertambah cemas Melihat Keadaan Caca.
Saat Suara Gemuruh Terdengar lagi. Caca Langsung Bangkit dari Tempat tidur dan Memeluk Suaminya dengan Ketakutan.
"Mas. Aku takut sama Gemuruh mas, Tolong Peluk aku," Ucap Caca Sambil Dengan Nada Suaranya yang sangat pelan.
Membuat Dion Merasa Kasihan pada Istrinya yang Sangat Penakut pada Petir dan suara Gemuruh. Dion pun Merangkul Tubuh Istrinya dan Memeluknya Penuh Kasih sayang.
"Tenang sayang, Aku akan Selalu ada Di Sisi Kamu." Ucap Dion Mengelus-elus Rambut Istrinya.
__ADS_1