
Tepat Pukul Tujuh malam. Dion Baru sampai di Rumah. pemuda itu Memarkirkan Mobilnya lalu segera masuk ke dalam Rumah.
"Selamat malam Semuanya!" Sapa Dion. Dengan lembut pada Kedua orang tuanya dan Juga Istrinya. Yang sedang duduk di ruang tamu Sambil Menunggu Kedatangannya.
"Malam Juga. Kamu dari mana Saja Dion?" Kenapa Baru Pulang? Tanya Siska. Melirik Putranya.
"Maaf Ma. Aku Lupa mengabari kalian Terlebih Dahulu, Soalnya Tadi aku mampir Mencari Buah Kelapa Mudah Terlebih dahulu Untuk Caca, Ma." Jawab Dion. Sembari Tersenyum
"Kamu cari di mana Dion? Kok, Sampai kemalaman Gini?" Sambung Yudianto.
"Tadi pas Aku lagi Cari Kelapa Mudahnya. Tidak Sengaja aku Ketemu Dengan seorang bapak. Lalu aku Ikut sama dia Kerumahnya."
"Oh. Pantesan saja kamu lama baliknya." Ujar Siska.
"Sayang. Kamu tidak marah kan?" Tanya Dion. Sambil Duduk di samping Istrinya.
Caca Hanya Menganggukkan Kepalanya Sambil Tersenyum Menatap Buah Kelapa muda Yang Sedang Dion bawakan untuknya itu.
"Aku cuma Khawatir saja mas, Kan Nggak biasanya mas Pergi tanpa mengabari aku Dulu." Ucap Caca.
"Iya. Maaf sayang, Lain kali aku Pasti akan Kabarin kamu dulu."
"Mas. Aku mau Makan Buah Kelapa Mudahnya Dong, Udah Nggak sabaran lagi." Rengek Caca.
"Tapi Sayang, ini kan udah malam. Gimana kalau Esok Siang saja kamu Makan Buah Kelapa Mudahnya Sayang,"
"Aku Pengen makan Sekarang mas! Bukan Esok." Caca Merengek-rengek Seperti anak kecil Di Depan Dion. dan kedua Mertuanya,
Dion Hanya bisa menatap Orang Tuanya yang Duduk Di Samping mereka.
"Sudah. ikuti saja mau Istrimu itu Dion, Lagi pula dia Sedang Ngidam Jadi tidak baik jika apa yang ia sukai Kamu banta." ujar Yudianto. Menatap datar pada Dion.
"Tu kan, Papa Saja Ngertiin aku. masa mas Dion, Tidak mau ngertiin aku si!" Cetus Caca
"I--iya-iya. Sayang, Bentar ya. Aku Kupas Kulitnya dulu."
Sementara Menunggu Suaminya Kembali. Gadis muda Itu Duduk sambil Mendengarkan Musik dari Ponselnya.
Sementara Yudianto dan Istrinya sudah masuk ke kamar mereka.
Melihat Caca duduk sendirian di Ruang tamu. Bi Fatma Langsung mendekat Wanita muda itu.
__ADS_1
"Non Caca, kenapa belum tidur non?" tanya Bi Fatma.
"Belum Bu. Aku lagi nungguin Mas Dion." jawab Caca Dengan Lembut.
"Memangnya Den Dion kemana Non?"
"Dia lagi Di belakang Bu. Mengupas Buah Kelapa Mudah."
"Waaah hebat den Dion Sekarang sudah banyak Berubah. Sejak Non Hamil Dia Sangat Menghawatirkan Non Caca Sama Dede Bayinya ya." Ucap Fatma Sembari Tersenyum.
Tidak lama Kemudian Dion Datang sambil membawah Mangkuk yang Berisi Buah Kelapa mudah.
Dan Ia Langsung Memberikan Mangkuk Yang Berisi Kelapa mudah itu pada Istrinya.
"Ini Buahnya sayang." Ucap Dion.
Dengan cepat Caca Mengambil Mangkuk itu. Dan Menikmati Buah Kelapa mudah Yang sudah Dion Bawakan Untuknya itu.
"Makasih mas. Aku sayang sama Mas," ucap Caca Sambil Memeluk Suaminya Di depan Fatma.
"Ehemmmmmm.. Suara fatma. Sambil Melirik Ke arah Caca Dan Dion.
"Bibi Masuk Kamar dulu ya Non, Den." Ucap Fatma. Sembari Tersenyum Hangat pada mereka.
"Iya Bi. Selamat malam dan Selamat Beristirahat." Ujar Dion.
"Iya Den,"
"Sayang. Kita masuk Kamar yuk, Aku mau mandi dulu udah Bau Kelapa." Ucap Dion.
"Iya. Mas masuk Saja duluan, Ntar aku Nyusul." Ujar Caca. Yang Masih ingin Duduk Di ruang Tamu.
"Tapi jangan lama-lama di sini. Nanti bisa masuk Angin."
"Iya mas." Singkat Caca. Tersenyum hangat menatap Suaminya.
****
Di tempat Lain. Kirana Sedang Duduk Di Ranjang Tempat tidur. sambil memikirkan Rencananya Yang Tidak pernah berhasil Untuk Dion dan Istrinya.
Namun walaupun begitu Wanita Itu tidak pernah mau menyerah Begitu saja. Ia akan mencari Cara lain untuk membuat Dion dan Caca Pisah.
__ADS_1
"Aku harus Mencari Tahu usia kehamilan Wanita kampung Itu. Dan aku akan Membuat Dia Menyesali Perbuatannya Sendiri! Gumam Kirana. Tersenyum sendiri di dalam Kamarnya.
"Dan Buat kamu Dion! Aku Bersumpah akan Membuat Istrimu Kehilangan Harapnya. Agar kamu Kehilangan Segala Yang ada Pada Kamu Saat ini! Kita lihat saja Dion, Siapa yang akan Menang Dalam Permainan ini!" Menatap Foto Dion dan Caca Yang berada di Ponselnya.
Lalu wanita Itu Berdiri dan Mengambil Kunci Mobil Miliknya yang Berada di atas Meja. Ia pun Langsung keluar dari Kamarnya untuk Pergi Menemui seseorang di Sebuah Restoran Ternama Di Kota itu.
Dengan langkah Perlahan wanita itu Mulai Memasuki area Restoran tempat Ia Janjian Dengan Seseorang di sana. setelah melihat Seorang pemuda yang sedang duduk Di Samping meja Kecil. Wanita itu langsung Berjalan mendekati Pemuda itu.
"Kenapa kamu Sangat Lama Kirana! Apa Kamu pikir saya Ini Adalah budak kamu!" Geram Pemuda itu dengan sangat kesal.
"Baru saja telat Sejam Kamu Segitu marahnya!" Balas Kirana. Sambil Menarik Tempat Duduknya Dan Ia Pun Duduk Bersebelahan Dengan Pemuda itu
"Kamu memang tidak pernah Berubah Juga ya! Sikap Egois Mu Masih saja Kamu bawah-bawah Hingga Saat ini." Ucap Leon.
"Udahlah. Jangan Di permasalahkan Lagi! Kita langsung ke Topik pembicaraan kita saja!" Menatap Leon dengan Sangat Serius
"Memangnya Kamu mau Apa Pengen Ketemu denganku? Apa ada hal Yang sangat penting Hingga harus ketemuan seperti ini?" pangkas Leon.
Wanita itu hanya Mengangguk Dan Menatap Leon dengan Tatapan yang Sangat Lain. Ia Sengaja mengajak Leon. untuk Ketemuan di Restoran itu agar ia bisa Menjalankan Rencananya untuk Dion dan Istrinya.
"Hei. Apa yang sedang kamu Pikirkan Kirana? Jangan bilang kamu Sedang Merencanakan Sesuatu yang Jahat lagi! Lirik Leon
Namun Kirana hanya Mengerutkan Dahi Keningnya Sambil Menatap Leon Dengan Serius.
"Memangnya menurut kamu Gimana? Apa aku Mengajak Ketemuan sama Kamu. hanya untuk Bermain-main Saja!" cetus Kirana.
"Wah. Memang kamu Ini Gadis yang amat Jahat Juga ya! Aku memang sudah menduga Saat kamu Mengajak aku Ketemu di sini, Sebenarnya apa Yang kamu Rencanakan Kirana?" kembali bertanya.
"Aku mau Istri dari Dion," Singkat Kirana.
"Maksud kamu? Istri Dion, Gimana?"
"Jujur aku Sama Sekali tidak mengerti dengan Isi hati kamu Sekarang Kirana!"
"Aku mau Istrinya Dion. Menderita! Buat dia Seolah-olah Keguguran!"
"Apa Kamu Sudah Gila Kirana! Mana mungkin aku Sejahat itu. sama Wanita yang Sedang Mengandung." Protes Leon. Sambil Menggelengkan Kepalanya Saat menatap Kirana.
"Lakukan saja Perintahku! Dan jangan banyak Membantah. Jika kamu Ingin Orang tuamu Selamat!" Ancam Kirana. Menatap Tajam pada Leon.
Setelah mendengar Segala umpatan Dari Wanita jahat itu Leon Semakin Merasa marah. Namun ia juga tidak bisa Melawan Perintah Wanita itu. Karena Kedua orang tuanya Sedang dalam Proses pengobatan. Dan Semua biaya Pengobatan kedua orangtuanya Di tanggung oleh Kirana. Itulah sebabnya ia hanya Bisa Menahan Amarahnya Di dalam Hatinya saja.
__ADS_1