
Angin Malam berhembus dengan kencang Membuat Gadis itu Merasa Kedinginan. Stefan Mengeluarkan Switer nya. dan di berikan pada Wanita itu.
"Apa kamu Sama Sekali tidak Ingat dimana Alamat Tempat tinggal suami kamu, ataupun Keluargamu yang lainnya?" Lirik Stefan Menatap Wanita itu.
"Yang aku tahu alamat rumah kami yang baru Di Cibubur. Tuan, Di tempat penampungan Warga yang terkena musibah bencana longsor Seminggu yang lalu," Jawab Caca.
"Jadi kamu tinggal di Cibubur, Lalu alamat rumah Suami kamu di mana? Siapa tahu aku boleh mengantarkan kamu kesana." Ucap kembali pemuda itu.
"Ia aku tau tuan, di jalan Cempaka Putih Blok Satu." Jawabnya kembali.
"Wah Jauh juga tempat tinggal Suamimu ya," Ujar pemuda itu.
Dan di anggukan oleh Caca.
"Iya Tuan. Apa tuan bisa mengantar aku Kesana?" kembali bertanya.
"Demi kamu. Aku akan mengantarmu ke Rumah suamimu." balas Stefan Dengan Pelan.
"Makasih. Tuan, Aku janji akan Selalu Mengingat kebaikan keluarga tuan, dan juga bapak Ramli dan juga Bu Rosa, Sama aku. Aku pasti akan Datang untuk Menemui mereka lagi." Ungkap Caca dengan sangat senang.
Dan pemuda itu hanya Tersenyum Hangat menatap wajah gadis itu.
"Ya udah. Ini sudah Hampir pukul Sepuluh Tengah malam. Kita harus segera pulang ke rumah. Takutnya kamu Masuk angin disini." Ucap Stefan. mengajak gadis itu Kembali ke rumah.
Malam itu Caca tidak bisa tidur ia Terus menatap Jam dinding di Depannya.
"Kenapa masih lama Mau pagi ya, pada hal aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan mas Dion dan juga Dede." Gumam Caca.
Ia Nampak gelisah karena Menunggu Pagi yang akan Segera tiba.
Suara ayam berkokok Menandakan hari sudah Mulai pagi. Dengan cepat wanita Muda itu Bangkit dari ranjang tempat tidurnya. dan Pergi Ke dapur untuk menyiapkan Sarapan untuk mehendra dan Stefan. Walaupun Itu bukanlah tugasnya Menyiapkan Sarapan untuk Mahendra dan juga Stefan. Tetapi Wanita muda itu selalu mengerjakan Semua Pekerjaan di rumah itu dengan senang hati. Karena ia tidak bisa membalas semua kebaikan mereka kepadanya.
Usai membuatkan bubur ayam untuk Mahendra. Wanita Muda itu langsung Mengambil sebuah piring dan Membawahnya ke kamar Mahendra.
Tok Tok! Caca Mengetuk Pintu kamar itu.
"Masuklah!" pinta lelaki dewasa itu.
Ceklek! perlahan pintu di buka oleh Caca.
Dan ia pun Masuk Sambil membawahkan Makanan untuk Ayahnya Stefan.
"Selamat Pagi. Pak," Sapa Caca Sambil meletakkan Piring yang berisi Bubur di atas Meja Samping Tempat Tidurnya Mahendra.
"Pagi juga. Ca, Kamu Sudah Bangun?" tanya lelaki dewasa itu penuh Heran. Sambil menatap jam Dinding di kamarnya.
"Iya pak." Singkat Caca. tersenyum menatap Lelaki dewasa itu.
"Tapi ini kan baru jam lima Pagi ca, Harusnya Kamu Tidur saja. biar nanti Bi nita yang Mengerjakan Pekerjaan di dapur sana." ujar Mahendra.
"Tidak apa-apa Pak. aku Malah senang bisa membantu Pekerjaan Bi nita, Anggap saja ucapan terimakasih dari aku, karena bapa sama Tuan Stefan. sudah mengijinkan aku Tinggal di sini." Ucap Caca. Sembari tersenyum
"Tapi itu sudah menjadi kewajiban Bi nita, Biar bagaimanapun kamu Itu adalah Tamu di rumah ini. Bukan Pembantu nak," Ucap Kembali Mahendra.
"Nggak apa-apa Pak. Aku senang kok, Kenapa bapa Tidak Bisa Berjalan? Apa bapa Habis kecelakaan?" Tanya Caca.
__ADS_1
"Sebulan yang lalu Saya dan Stefan pergi ke Jakarta untuk Mengadakan Pertemuan Kerja dengan Klien kami di sana. Akan tetapi di tengah perjalanan kami Mengalami Musibah sehingga Membuat Kaki saya tidak bisa di gerakan lagi," Jawab Mahendra dengan Pelan.
"Tapi kenapa bapa Tidak mencari Tukang pijat, Siapa tahu bapa bisa berjalan kembali,"
"Sudah Berbagai Macam cara yang di lakukan oleh Stefan. agar Saya bisa berjalan kembali Akan tetapi Tidak ada yang berubah. Melahan saya bertambah sakit,"
"Kasihan. Semoga bapa Cepat sembuh dan bisa Kembali beraktivitas seperti biasanya,"
"Amin. Makasih nak,"
"Lalu Bagaimana dengan kamu, Apa kamu Sudah menemukan alamat tempat tinggal Keluargamu?" Kembali bertanya.
Dengan cepat wanita Muda itu Mengangguk.
"Sudah pak. Dan Rencananya hari ini Tuan Stefan mau Mengantarkan aku ke sana," Jawab Caca Tersenyum Bahagia.
"Baguslah. Jika nanti kamu butuh sesuatu Langsung saja kabari Stefan, agar Stefan bisa membantu Kamu,"
"Iya pak." Singkat Caca kembali.
Tidak lama kemudian Nita masuk ke kamarnya Mahendra sambil membawakan Napan yang berisi makanan untuk Mahendra. Namun wanita itu sangat terkejut ketika melihat Mahendra Sudah Makan Bersama Caca. Membuat Ia merasa Marah karena Caca sudah Berusaha untuk mengambil semua pekerjaannya di rumah itu.
"Kenapa bapak di suruh makan Bubur Ca, Harusnya bapak Itu di kasih makan Nasi sama Telur saja. biar bapak cepat Sehat." ucap Nita dengan sinis menatap ke arah Caca.
"Mba Nita. Menurut saya, Nasi sama telur itu Tidak baik untuk bapa. karena bisa Membuat bapa semakin melemah karena tiap hari hanya di kasih makan nasi sama telur rebus. Harusnya kamu kasih bapa Makanan yang lebih bergizi dan memiliki protein yang baik untuk kesehatan Bapak. Dan Menurut saya, Bubur ayam Itu sangat baik untuk kesehatan bapak kok," Jawab Caca. Sembari tersenyum Tipis pada wanita itu.
Nita merasa sangat marah karena Caca sudah berani mengaturnya di depan Mahendra.
"Kamu tau apa soal kesehatan, Apa kamu seorang dokter?" Sindir Nita Kembali.
Dan Caca Hanya membalasnya dengan Tersenyum.
"Tidak apa-apa Nak Caca, yang penting bapa Masih bisa Tetap makan." Tersenyum menatap Kedua Wanita itu
"Nggak pak. Masalahnya Mba Nita ini Udah Sangat keterlaluan. Masa iya, Dia makan Daging ayam Tiap hari sama Ikan yang enak-enak. Tapi bapa sendiri, Tiap hari hanya di kasih Makan nasi kering sama Telur?" Singgung Caca.
Setelah melihat perdebatan Di antara mereka. Mahendra segera meminta Nita untuk kembali ke dapur. sementara Caca juga di Perintahkan untuk Kembali ke kamarnya.
Nita merasa risi Ketika Caca sudah mulai Berani Di Depan majikannya.
"Memangnya siapa dia! Kenapa dia bisa mengaturku seperti itu!" Ucap Nita dengan sangat marah.
"Awas saja kamu. aku akan membalas semua perbuatan kamu yang sudah berani Mengusik ketenanganku di rumah ini Wanita licik!" Geram Nita. lalu ia segera kembali ke dapur.
Di Dalam kamar Caca terus menatap Jam dinding yang Berada di sampingnya.
"Kenapa tuan Stefan belum bangun juga ya, Pada hal dia kan sudah janji mau Mengantarkan aku Ke Sana." Keluh Caca Sambil Terus Menatap jam itu.
Karena merasa bosan di dalam kamarnya. Wanita muda itu keluar untuk menikmati Udara pagi hari di luar sana. Ia masih penasaran dengan Wanita yang bekerja di rumah itu.
"Kenapa Mba Nita tidak pernah memberikan makanan yang lain sama Bapak Mahendra, Apa dia Memang sudah di perintahkan oleh dokter ya?" Gumam Caca.
Karena ia merasa penasaran dengan wanita itu. akhirnya ia pergi ke dapur untuk Melihat apa yang sedang Nita Kerjakan di dalam sana. Namun ia tidak melihat Nita berada di dalam dapur itu.
"Kemana dia? Kenapa tidak ada di dapur," Lalu ia kembali mencari Nita ke kamarnya. Akan tetapi Nita juga tidak ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa mungkin mba Nita pergi ke pasar ya?" Gumamnya dalam hati. lalu ia melihat Sesuatu yang aneh di atas Meja kamar Wanita itu. Ia Pun menerobos masuk ke dalam kamarnya Nita. Tanpa sepengetahuan Sang pemilik kamar.
"Ini foto siapa ya, Perasaan aku pernah melihat orang ini sebelumnya," Ucap Caca Sambil Menatap Foto yang berada di atas meja.
Lalu ia pun Mengingat Kejadian waktu di kantor milik Stefan. Pemuda yang berada di dalam foto itu adalah orang yang di pukuli oleh Stefan.
"Ini kan lelaki yang waktu itu tuan Stefan Pukuli di kantor?" kenapa Bisa ada fotonya di kamar mba Nita ya?" Caca merasa Curiga. Dan ia pun Segera keluar dari dalam Kamar itu.
Sebelum Nita Menemukannya di sana.
Caca Kembali ke halaman rumah untuk Mencari Nita. Karena ia tidak menemukan wanita itu ia memutuskan untuk duduk di teras depan rumah sambil memikirkan apa yang baru saja ia lihat di kamar Nita.
"Ada hubungan apa mba Nita dengan Tuan Tio, Apa mereka adalah Kakak beradik. atau apa ya?" Pikiran Caca Merasa tidak tenang.
Dari dalam sana Stefan melihat Caca Sedang Duduk Sendirian di Teras rumah. Ia pun pergi menemui wanita itu.
"Sedang apa kamu di sini Ca, Kenapa masih Pagi Udah Melamun," Ucap Stefan.
"Eh. Tuan, Apa tuan sudah Sarapan?" tanya Caca.
Dan pemuda itu Hanya Menggelengkan kepalanya.
"Belum. Kan aku baru saja bangun," Jawab Stefan. Mengerutkan dahinya.
"Kamu sendiri Udah sarapan belum?" Kembali bertanya. dan duduk di samping Caca.
"Belum juga tuan, Aku Belum lapar." Menatap Jalanan.
"Bi Nita kemana Ya. Kenapa dia tidak ada di dapur."
Caca juga Menggelengkan Kepalanya. karena ia sendiri juga tidak tahu Nita pergi kemana.
"Tuan, Apa tuan Masih ingat dengan janji tuan Semalam sama aku?" Menatap wajah pemuda itu
Seketika Stefan Menatap Kembali Wanita itu dengan Serius. Membuat Caca Menjadi Salting di depan pemuda itu.
"Iya. Aku masih ingat, Lalu Kapan Kita berangkat," Mengalihkan Pandangannya ke arah Jalan.
"Terserah tuan saja. Sekarang juga boleh kok," Balas Caca. Dengan Cepat.
"Apa setelah kamu bertemu dengan suamimu nanti. Kamu masih mau Berkunjung ke sini?" Tanya Stefan. Menatap caca
"Iya tuan. aku pasti datang ke sini lagi," jawab Caca.
Dan kini Tatapan mereka bertemu. membuat Pemuda itu semakin Tidak bisa menahan isi hatinya. ia merasa Sangat aneh ketika berada di depan Gadis itu.
Saat mereka sedang duduk berdua di halaman rumah. Nita datang sambil membawah beberapa kantong plastik yang berisi Bahan-bahan Makanan. Ia baru saja kembali dari pasar Dan melihat Stefan sedang berduaan dengan wanita itu. Nita pun langsung Melepaskan kantong plastik itu di depan Stefan dan Caca. membuat Stefan terkejut ketika Kantong plastik itu di Jatukan di depannya.
"Bi nita, Kamu dari pasar ya?" Tanya Stefan berusaha Mengalihkan Perasaannya dari Caca.
"Ya iyalah. Memangnya aku dari Kantor! Udah tau Dari pasar masih saja Nanya!" Jawab Nita dengan sedikit kasar.
Membuat Stefan merasa Bingung dengan Nita.
"Maksud kamu apa ya Bi! Kok Jawabnya kasar gitu?" menatap Nita.
__ADS_1
"Hei kamu! cepat angkat barang-barang Ini ke dapur!" Pinta Nita. menatap sinis pada Caca.
"Cukup Bi Nita! Dia bukan Pembantu di rumah ini, Dia adalah tamu di rumah ini. Jadi bibi tidak berhak memerintahnya seperti itu, mengerti!" tegas Stefan. lalu segera menarik tangan Caca dan membiarkan Wanita itu bersama bawaannya di luar sana.