
"Hah, kenapa kejadian yang sama selalu saja menimpaku." Gumam lirih Bima saat melangkah keluar dari rumah sang adik dan adik iparnya itu.
"Apa aku yang terlalu bodoh, buta atau bagaimana. Selalu saja memilih pilihan yang salah." Lanjutnya lagi sambil melangkahkan kakinya ke arah mobil miliknya.
Sesampainya di mobil, Bima tak lantas langsung menghidupkan mobilnya itu. Melainkan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi yang dia duduki dan memejamkan matanya, memikirkan apa yang akan dia lakukan jika apa yang di laporkan sang orang suruhan itu benar-benar dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Lagi." Batin Bima lemah masih setia dengan mata yang dia pejamkan.
Lagi, Yah lagi, ini bukan kali pertamanya dia mengalami perselingkuhan dari pasangannya terhadap dirinya.
Jika dulu dia akan memaafkan begitu saja, tapi tidak untuk kali ini. Dia sudah terlalu benci yang namanya penghianatan. Maka untuk pasangannya kali ini, dia akan bertindak tegas tak akan segan-segan melakukan hal yang mungkin saja pelaku penghianatan itu akan sangat menyesali sudah bermain-main dengan dirinya.
Hingga untuk menatapnya saja, mungkin wanita itu akan berfikir ribuan kali. Ini sudah menjadi janji untuk dirinya sendiri setelah mengalami kejadian sebelumnya.
Saat masih dalam lamunannya Bima sedikit tersentak kaget karena pintu mobilnya di ketuk berulang dari luar.
"Ade." Gumam Bima saat melihat Melodi berdiri di depan pintu mobilnya, kemudian dirinya langsung dengan cepat menurunkan kaca mobil.
"Abang ngapain tidur di mobil, katanya ada urusan penting. Kalau ngantuk sana tidur di kamar. Udah Bibi Sum siapin." Ucap Melodi saat Abangnya itu menurunkan kaca mobilnya.
Tadinya Melodi hanya ingin keluar untuk sekedar mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil suaminya, namun dirinya beralih pada mobil sang Abang yang masih setia di garasi padahal si empunya tadi sudah berpamitan pulang kisaran sepuluh menit yang lalu.
Saat mendekati mobil Bima, Melodi sedikit mengerutkan kening pasalnya dia melihat sang Abang sedang tidur di mobil itu. Hingga membuat dirinya dengan sigap mengetuk pintu mobil sang Abang.
"Eh nggak dek, Abang cuman bersandar sebentar doang kok." Ucap Bima, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal namun entah kenapa dirinya pingin saja untuk menggaruknya.
"Kalau ngantuk jangan paksa nyetir Bang bahaya, udah masuk dulu tidur sebentar." Ucap Melodi yang masih berpikir jika Bima sedang mengantuk saat ini.
"Bawel kamu dek, Abang nggak ngantuk kok sumpah. Abang harus pergi sekarang. Sudah yah kamu masuk, ngapain di luar sendirian." Ucap Bima meyakinkan sang adik.
"Ya udah, kalau gitu hati-hati Bang. Melodi mau ambil ponsel Melodi dulu ketinggalan di mobil tadi." Ucap Melodi sambil melangkah mundur karena Bima kini sudah menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya sayang, Abang pergi yah." Ucap Bima dan langsung Melodi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melambai kan tangan pada Bima yang mulai mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Melodi dan melaju meninggalkan kediaman sang adik.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju apartemen Larissa, Bima terus meminta orang suruhannya itu untuk memantau keadaan di luar apartemen. Sebab dirinya tak mau sia-sia sampai dan tak mendapati keberadaan Larissa dan pasangan ranjangnya itu di sana.
"Aku harus membeli cemilan untuk pertunjukan nanti. Sepertinya adegan live nya akan berjalan seru, dan tentu tak akan aku sia-siakan setiap menitnya sedikitpun." Gumam Bima sebelum dirinya benar-benar tiba di apartemen.
Dia menyempatkan terlebih dahulu untuk singgah di sebuah outlet makanan siap saji dan dirinya memesan paket ayam beserta pendampingnya.
Usai dengan Membeli cemilan yang dia maksud, Bima pun langsung kembali ke fokus utamanya. Mengendarai mobil ke arah apartemen.
Sesampainya di sana Bima langsung di sambut orang suruhannya yang sejak tadi setia menunggu dirinya memantau dari luar apartemen sebab, orang yang berkepentingan saja yang bisa masuk di dalamnya atau tamu yang sudah punya janji sebelumnya.
Setelah berbincang sedikit dan mengambil barang yang dia minta, Bima langsung memutuskan untuk berjalan masuk gedung apartemen yang cukup mewah itu, bahkan bisa di katakan lebih mewah di banding milik Sang adik ipar sebelumnya.
Dengan santai Bima langsung mengetik kode pass apartemen Larissa saat dirinya baru saja tiba di depan pintu itu.
Baru saja Pintu itu terbuka Bima langsung di suguhkan dengan pemandangan pakaian pria dan wanita yang berserakan di lantai dan sofa apartemen itu bahkan sepatu pun berhamburan di beberapa sudut. Entah apa yang pemilik barang itu lakukan hingga bisa membuat situasi ruang tamu itu se kacau itu.
"Apa mereka memang tak sabaran." Gumam Bima.
Bima langsung saja melangkah masuk menuju kamar yang sudah sebulan ini dia tempati bersama Larisa. Sayup-sayup dia mendengar suara-suara tak mengenakan kupingnya, yang dia pastikan mungkin sedang terjadi pertempuran hebat di dalam sana.
Bima terlihat santai saja saat melihat situasi di depannya, tanpa niat mengganggu kegiatan penghuni kamar itu. Bima pun langsung melangkah masuk dengan menenteng cemilan yang dia beli tadi serta kamera on yang di berikan sang orang suruhan menuju sofa di hadapan tempat tidur king size milik Larissa itu.
Saat melewati tempat tidur itu, barulah kedua orang yang sedang berolah raga itu pun langsung tersadar dan menghentikan aktifitas mereka kemudian saling melepaskan diri. Detik berikutnya barulah Larissa pemeran wanita dalam olahraga itu langsung berucap lirih dengan wajah pucat nya saat melihat sang kekasih berada di hadapannya kini.
"Sa sa sayang a a a ak aku.." Lirih Larissa tercekat pucat nya dengan keringat yang membasahi dirinya. Entah itu karena olahraganya atau juga karena kehadiran Bima di sana, namun ucapannya itu langsung di selah Bima cepat.
"Sssssstttt, lanjutkan saja sayang aku tak akan mengganggu aktifitas kalian, aku janji. Aku hanya akan duduk diam, makan, nonton dan pastinya rekam saja. Biar aku tak lupa kejadian hari ini." Ucap Bima santai tak ada raut marah sedikitpun di wajah tampannya itu.
"Lihat aku sudah mempersiapkan segalanya untuk menonton bioskop 21+ tanpa sensor dan yang pasti gratis." Lanjut Bima sambil menata makanan yang dia bawa di meja depannya beserta kamera bawaannya juga tak lupa di tata rapi pas dengan sasaran tempat tidur larissa.
Saat sedang asik menata makannya, Bima langsung di buat geram saat pria yang bersama Larissa itu sedang mencoba memakai pakaiannya.
"Hentikan, jika tidak Vidio mu ini akan langsung sampai di tangan istrimu sekarang juga Tuan Septian Bagaskara yang terhormat." Ucap Bima sarkas dengan tatapan tajamnya menatap pria paruh baya itu tercekat mematung mendengar penuturan Bima.
__ADS_1
Siapa yang tak kenal Tuan Septian Bagaskara, dia adalah salah satu anggota pemerintahan yang cukup di kenal di masyarakat. Begitupun Bima tentunya.
"Dan kau, lepaskan selimut itu. Tak perlu lagi kau tutupi barang murahan mu itu. Aku dan semua penikmat tubuhmu itu sudah melihatnya, bukan begitu tuan Bagaskara." Ucap Bima lagi saat Larissa mencoba menutup seluruh tubuhnya.
Wanita itu sampai tak bisa berkata apa apa sakin malunya, bahkan kini dia nampak bergetar takut melihat ke arah Bima. Sementara Tuan Bagaskara pun tak menyahut Bima sedikitpun.
"Kau malu?" Tanya Bima pada Larissa namun wanita itu tak menjawabnya sedikitpun..
"Ah, wanita sepertimu mana ada kenal malu. Pertanyaan ku ada ada saja." Kekeh Bima pelan.
"Tuan Bagaskara sepertinya anda memang menantang saya yah. Baiklah." Ucap Bima saat Melihat pria itu hendak melanjutkan berpakaian nya.
Bima langsung mengambil ponselnya, namun Tuan Bagaskara langsung mencegahnya.
"Tolong hentikan, jang kirim vidio nya." Ucap Pria itu lirih.
"Maka Lakukan." Ucap Bima sambil kembali meletakan ponselnya.
"Om." Ucap Larissa sambil menggelengkan kepalanya saat Tuan Bagaskara beralih menatapnya.
"Om jangan Om." Ucap Larissa sambil Dengan erat menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Sayang tolong maafkan aku." Ucap Larissa dengan tatapan mengibanya ke arah Bima.
"Lakukan." Ucap Bima lagi dan Tuan Bagaskara langsung memenuhi perintah Bima.
"Om tolong jangan, Om jangan....." Ucap Larissa terhenti.
Bima hanya diam menyantap cemilannya itu sambil menikmati pemandangan di hadapannya.
"Ini Baru awal Rissa." Gumam Bima sambil tak melepas pandangannya dari wanita itu.
...Like, plus komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
__ADS_1
...Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author boleh bagi yang baik hati😁...