
Kini Anzas sedang mondar mandir menunggu Sarah yang sedang di tangani dokter, dia bahkan sudah menunggu hampir satu jam lamanya. Namun tak kunjung ada yang keluar dari ruangan Sarah.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya Anzas ketika Dokter baru saja keluar dari ruangan penanganan Sarah.
"Istri anda sudah baik-baik saja tuan." Ucap Dokter memberitahu.
"Lalu Anak saya.."
"Kami mohon maaf karena bayi yang di kandung istri anda sudah tiada saat perjalanan kesini tuan." Ucap Sang dokter bagaikan hantaman keras bagi Anzas, pria itu bahkan sampai tak sanggup menopang kakinya sendiri sakin shock nya.
"Bayi ku, maafkan Dady sayang." Ucap Anzas dan tak lama dokter berpamitan setelah lebih dulu berbicara tentang keadaan Sarah padanya.
Saat ini Anzas sedang menatap Sarah yang masih belum sadar setelah tadi melalui proses pembersihan rahimnya.
Anzas begitu menyesali perbuatannya terhadap Sarah tadi, hingga mengakibatkan dia kehilangan bayi yang belum sempat dia katakan kepemilikannya itu.
"Maafkan Dady." Hanya itu yang terus saja Anzas ucapkan sambil mengelus perut rata Sarah. Dia menyesal pernah tak menganggap janin itu, janin yang sekarang dia teramat inginkan. Tapi sayang dia sendiri yang sudah menghilangkannya.
"Dady minta maaf sayang, Dady baru menyadari Dady begitu menginginkanmu setelah kau tiada sayang. Maafkan Dady." Ucap Anzas lagi dengan air mata yang tak mampu dia cegah lajunya.
Saat sedang mengelus perut Sarah dengan seriusnya, tiba-tiba saja tangan Sarah menepis tangannya. Yang entah kapan wanita itu sudah sadar dari tidurnya itu, dia tak tahu sakin asik fokusnya pada perut rata Sarah.
"Jangan menyentuhku." Ucap Sarah lemah, namun tersirat penekanan dalam setiap katanya, wanita itu tadi tersadar dan mendapati Anzas terus saja mengelus perutnya hingga membuatnya tersenyum dengan itu. Namun senyumnya tak bertahan lama, ketika dia mendengar kalimat yang Anzas ucapkan membuatnya shock seketika.
"Sayang." Ucap Anzas sambil ingin menggenggam tangan Sarah, namun dengan cepat Sarah langsung menjauhkan tangannya itu.
"Apa maksudmu bayiku tiada?" Tanya Sarah dengan kepanikannya, dia tak mau mendengar kemungkinan terburuk yang sedang dia pikirkan.
Tidak, bayiku masih ada. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan aku. Aku hanya memilikinya saat ini. Batin Sarah sambil mengelus perutnya berharap tak terjadi apapun dengan janin di dalam perutnya itu.
"Maafkan aku, bayi kita sudah tiada Sar." Ucap Anzas dengan menundukkan kepalanya.
"Brengsek kamu, kamu sudah melenyapkan anakku. Tega kamu Za, kenapa kamu setega ini sama aku. Aku bahkan selalu menuruti keinginanmu, tapi kenapa bayiku kau lenyap kan." Ucap Sarah dengan lirih sakin tak bertenaga nya. Sungguh, dia sangat menginginkan bayi itu. Karena hanya bayi itu keluarga satu-satunya.
Kini hanya tangis tertahan yang bisa Sarah lakukan, dia masih belum percaya dengan kejadian tadi. Secepat inikah Tuhan mengambil bayinya, padahal baru saja dia di beri kebahagiaan yang tak terkira dengan keberadaan bayi itu. Bayi satu-satu keluarganya, mengingat dirinya yang yatim piatu.
"Maafkan aku." Ucap Anzas tak tega melihat kerapuhan Sarah saat ini.
__ADS_1
"Pergi." Ucap wanita itu lirih.
"Nggak, aku akan tetap di sini." Ucap Anzas kekeh, dia tak mau meninggalkan Sarah dalam keadaan seperti ini sendirian.
Sarah yang tahu permintaannya tak akan di kabulkan Anzas pun nampak pasrah dengan pria itu.
Hingga beberapa hari di rumah sakit, kini Sarah dan Anzas sudah kembali ke apartemen Sarah. Karena gadis itu sudah di izinkan pulang pagi tadi.
Beberapa hari di rumah sakit hingga kini, Sarah bagaikan gadis bisu yang tak sedikitpun menanggapi keberadaan Anzas di dekatnya. Tak menanggapi setiap yang Anzas ucapkan atau tanyakan. Dia terlalu kecewa akan pria itu, yang sudah membuatnya kehilangan bayi yang belum sempat dia lihat bentuknya itu.
"Sarah, sampai kapan kau diam seperti ini. Ayo bicaralah. Aku mengijinkan kamu untuk memarahiku sesuka hatimu, tapi tolong bicaralah jangan diamkan aku seperti ini." Ucap Anzas sambil menyisir rambut Sarah yang baru saja dia mandikan, karena wanita itu tak akan mandi atau makan jika bukan dia yang bertindak.
"Kembalikan anakku." Ucap Sarah dengan tatapan kosongnya.
"Kita akan membuatnya lagi, yang banyak. Tapi tolong ikhlaskan dia yang sudah tenang di sana sayang." Ucap Anzas dengan sabarnya, karena hanya itu yang bisa dia utarakan agar Sarah mau ikhlas akan kepergian anak mereka.
Mendengar itu Sarah langsung beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya ke arah balkon meninggalkan Anzas yang sedang menatapnya.
"Maafkan Mama sayang." Sarah berkata dengan mengelus perutnya menatap ke arah langit membayangkan bayi mungil sedang berada di sana.
Tak berapa lama Anzas menghampirinya, memeluknya dari belakang. Mencium sayang punggung terbukanya yang tak tertutup baju yang dia kenakan.
Mendengar penuturan Anzas kepadanya, Sarah hanya diam saja. Dia begitu terkejut dengan ucapan pria itu. Ucapan yang sejak lama dia impikan.
"Jangan menipuku dengan kalimat itu, aku tahu kau melakukan itu karena hanya kasihan terhadapku bukan." Ucap Sarah, karena dia tahu Anzas begitu mencintai Melodi. Dan tentu saja Anzas pasti hanya mempermainkan dirinya saja dengan kalimat itu.
"Aku serius." Ucap Anzas sambil membalikan tubuh Sarah menghadapnya.
"Aku serius ingin menikahi mu Sar." Ucap Anzas dengan seriusnya.
"Untuk apa? Apa untuk menebus kesalahanmu karena sudah menghilangkan bayiku? Aku bahkan kini sudah melupakan keinginanku untuk menikah denganmu kini." Ucap Sarah dengan tatapan tajamnya.
Dia tak ingin di bodohi pria itu lagi. Dia tahu tak semudah itu Anzas berubah pikiran untuk bersamanya secepat ini. Mengingat pengaruh Melodi yang begitu besar di hidup pria itu selama ini.
"Menikahlah denganku." Ulang Anzas lagi dengan keinginannya itu.
"Aku tak mau." Tolak Sarah dengan mantapnya.
__ADS_1
"Aku akan tetap menikahi mu, setuju atau tidak. Aku akan menikahi mu." Ucap Anzas dengan penuh penekanan..
"Terserah apa katamu, aku tetap tidak ingin menikah denganmu." Ucap Sarah setelahnya dia langsung meninggalkan Anzas.
Sarah sedikit bahagia, karena di lamar pria itu. Tapi di sudut hati terdalamnya menyimpan ketakutan terbesar akan pria itu, pria yang tak pernah mencintainya. Dia takut pernikahan mereka tak akan berhasil, karena hati Anzas yang begitu memuja Melodi yang dia tahu.
Seperti perkataan Anzas padanya, pria itu bahkan menyusun semuanya. Semua yang berhubungan dengan pernikahan, yang tak sedikitpun dia campuri. Karena memang dia yang belum setuju dengan keinginan pria itu.
*Flashback Off*
"Oh ia aku mau ngantar ini undangan buat kalian." Ucap Anzas sambil memberikan sebuah undangan pernikahan.
"Undangan Pernikahan!!" Tanya Rizki karena dirinya yang mengambil undangan itu dari tangan Anzas dan langsung melihatnya.
"Yah, jangan lupa hadir." Ucap Anzas dengan senyum hangatnya membuat Rizki bergidik menatap ke arahnya.
"Akhirnya, nikah juga kamu Za. Siapa perempuan beruntung itu." Tanya Melodi turut bahagia dengan berita pernikahan mantan kekasihnya itu.
"Sarah, teman sekelas ku." Ucap Anzas namun ada sedikit penyesalan di dirinya terhadap Melodi, karena dia sudah menduakan wanita itu dulu.
Tak bisa dia pungkiri, kedudukan Melodi sama besarnya kini dengan Sarah di hatinya. Tapi dia sudah mencoba mengikhlaskan Melodi, karena bagaimanapun dia berusaha tetap saja Melodi sudah menjadi milik orang lain. Dan dia kini menerimanya, berkat kesadarannya kini bahwa Sarah lah yang kini sudah menguasai hatinya.
"Ohhhh, terima kasih Tuhan. Kau sungguh baik terhadapku." Batin Rizki bahagia dengan berita pernikahan yang Anzas bawah ini.
"Akhirnya." Ucap Rizki spontan membuat Anzas dan Melodi menatapnya.
"Aku tahu maksudmu Bro." Ucap Anzas kemudian dia langsung tertawa keras membuat Rizki langsung melempar dirinya dengan bantal sofa karena sudah di tertawakan pria itu.
#Di saat kita mencintai makhluk Tuhan begitu besar, maka disitulah Tuhan akan menguji kita dengan cinta itu.
Hari ini kau membencinya, besok bisa saja Tuhan menggantikan benci itu dengan cinta yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya begitupun sebaliknya. Maka, benci dan cintailah orang sewajarnya kerena Tuhan tak suka dengan setiap yang berlebihan.#
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa ninggalin jejak yah, apapun itu☺️
💕banyak-banyak buat kalian yang sudah sering kasih like & komen apalagi masih sempat-sempatnya kasih hadiah buat Author. Author ucapkan terima kasih banyak🤗.