
"Selamat pagi kak Dimas." Ucap Larisa saat memasuki cafe dan langsung menuju tempat Dimas.
"Tumben mau menyapa." Batin Dimas.
"Selamat pagi juga mba." Ucap Dimas sambil tersenyum.
"Rizki ada di ruangannya kan?" Tanya Larisa.
"Ada mba." Ucap Dimas.
"Kalau gitu, aku pamit ke sana yah." Ucap Larisa setelah itu langsung menuju ruangan Rizki.
Larisa memasuki ruangan Rizki tanpa berniat mengetuk pintu itu sedikitpun, kerena dirinya mau membuat kejutan pada kekasihnya itu. Namun malah dirinya yang di buat terkejut oleh penghuni di dalamnya.
Bagaimana dirinya tidak di buat terkejut, saat ini sang pacar dalam posisi sedang memangku kepala wanita yang Larisa tak tahu siapa itu.
"Sayang." Ucap Larisa ketika baru memasuki Ruangan Rizki, membuat Juna dan Rizki pun menatap kearah sumber suara itu dengan begitu terkejut sama dengan ekspresi Larisa sendiri.
"Larisa." Gumam Rizki pelan, takut membangunkan Melodi.
Rizki jadi bingung sendiri jadinya bagaimana mau menjelaskan ini pada Larisa.
"Siapa dia Ki?" Tanya Larisa sambil berjalan mendekati Rizki.
"Melodi, Jangan berisik. Kita ngomongnya di luar saja." Ucap Rizki sambil mencoba berdiri dan meletakan Kepala Melodi pada bantal sofa, namun itu membuat Melodi jadi terbangun.
"Mas, kenapa?" Tanya Melodi masih tak sadar dengan keberadaan Larisa.
"Mas?" Ucap Larisa membuat Melodi menoleh ke arah Larisa.
"Larisa." Ucap Melodi santai.
"Maksud kamu apa menyebut Rizki dengan sebutan Mas?" Tanya Larisa dengan nada tak bersahabat.
Dengan malas Melodi langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu namun langsung di cegah Larisa dengan menarik tangan Melodi.
"Lo mau kemana? Jangan lari dari pertanyaan aku Melodi." Ucap Larisa mulai geram.
"Ki tolong jelaskan." Ucap Melodi sambil melepaskan tangan Larisa dari lengannya, kemudian Melodi langsung keluar dari ruangan itu.
Rizki yang melihat Melodi keluar dan melimpahkan masalah ini sendiri pada dirinya pun menjadi bingung sendiri. Sedangkan juna yang melihat situasi mencekam itu pun lebih memilih pamit untuk meninggalkan mereka.
"Bos, kalau sudah tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Saya permisi keluar Bos." Ucap Juna dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Rizki, setelah itu dia pun langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan kedua pasangan yang mungkin saja sebentar lagi akan mengalami perang dunia perhubungan mereka itu.
Larisa hanya diam saja dan lebih memilih membiarkan hingga nanti Rizki sendiri yang menjelaskan pada dirinya sesuai dengan yang Melodi minta tadi.
Setelah cukup tenang Rizki pun mulai menjelaskan pada Larisa.
"Tadi yang kamu lihat itu bukan apa-apa, tadi Melodi hanya mengantuk dan aku yang menawarkan agar dia tidur di pahaku, kamu tahu sendiri kan bagaimana dekatnya aku sama Melodi. Jadi tak perlu aku jelaskan lagi, kalau soal Melodi memanggilku Mas, mungkin dia tak sengaja karena kamu lihat kan kalau dia sendiri tadi baru bangun pas kamu datang." Ucap Rizki meyakinkan.
"Yakin begitu?" Tanya Larisa yang masih belum sepenuhnya percaya.
"iya sayang." Ucap Rizki sambil menatap Larisa yang sedang duduk di sampingnya.
"Baiklah, aku percaya." Ucap Larisa pada akhirnya, karena dia sudah tahu dari awal bagaimana kedekatan Melodi sama pacarnya itu. Lagi pula mereka tak mungkin ada hubungan, karena Melodi sendiri memilki pacar juga pikirnya.
__ADS_1
Rizki sedikit lega mendengar itu, tadinya dia mau jujur soal pernikahannya dengan Melodi namun dia takut Melodi belum siap akan hal itu dan mungkin ada banyak hati yang akan tersakiti jika mendengar kebenaran mereka. Itu sebabnya dia tak sampai hati mengatakan soal pernikahannya pada Larisa sekarang, sampai dia dan Melodi benar-benar siap nanti.
Setelah itu mereka pun keluar ruangan itu dan mendapati Melodi sedang Duduk di depan Meja Dimas saat ini.
"Mel, ayo berangkat. Sebentar lagi udah mau masuk kelas ini." Ucap Rizki.
"Ayo Mel." Lanjut Larisa lagi.
Mendengar itu Melodi pun merasa lega, karena itu berarti Rizki dapat mengatasi masalah mereka barusan.
"Kalian duluan saja, aku sebentar lagi menyusul. Kasihan kopinya baru saja jadi, sayang kalo nggak di habisin, sekalian buat hilangin ngantuk." Ucap Melodi beralasan. Pasalnya dia tak mau mengganggu kedua pasangan itu lagi, apa lagi tadi sudah membuat Larisa sedikit salah paham terhadapnya. Walaupun itu juga tak dia sengaja.
"Baiklah, ayo sayang." Ucap Larisa dan Melihat Rizki.
"Kita duluan ya Mel, Dim seperti biasa yah." Ucap Rizki sambil memberikan selembar uang limapuluh ribu pada Dimas.
"Makasih ki." Ucap Melodi dan Kedua pasangan itu pun meninggalkan mereka.
"Dim, aku pamit juga yah." Ucap Melodi setelah melihat mobil Rizki telah meninggalkan cafe itu.
"Lah, kan kopinya belum juga di sentuh." Ucap Dimas, kemudian Melodi langsung meminumnya sedikit.
"Udah ni, takut telat soalnya." Ucap Melodi.
"Bay." Ucap Melodi lagi dan langsung bergegas keluar.
Setelah mobil Rizki parkir di halaman fakultas mereka, tiba tiba saja Rizki melihat Melodi yang sedang berjalan masuk ke lobi fakultas mereka.
"Dia cepat banget." Ucap Rizki sambil menatap Melodi.
"Tuh." Ucap Rizki menunjuk Melodi.
"Naik ojek mungkin." Ucap Larisa.
"Bisa jadi, ayo turun." Ucap Rizki sambil bergegas keluar mobil.
Setelahnya mereka pun berjalan memasuki lobi fakultas mereka dan langsung menuju ke kelas sesuai dengan ruangan yang telah di tentukan.
"Sayang, aku duduk di sana yah." Ucap Larisa saat masuk kelas dan menunjuk tempat temannya yang sedang melambaikan tangan pada dirinya.
"Iya." Ucap Rizki kemudian mereka berpisah menuju tempat yang mereka inginkan.
"Sini aja Ki." Ucap Saga menepuk kursi di sebelahnya, karena Gerald dan Melodi sudah duduk bersebelahan.
"Yah emang aku mau duduk di situ, kan cuman ini yang kosong." Ucap Rizki dan langsung duduk di sebelah Saga.
Karena dosen pengajar belum juga masuk, Rizki pun mengambil ponselnya dan mulai mengirim pesan pada Melodi karena gadis itu saat ini sedang memainkan ponselnya sejak tadi.
"Tadi naik apa ke sini?" Isi pesan Rizki yang sedang Melodi baca sekarang.
"Ojek." Balas Melodi.
"Aku kira bareng Anzas." Balas Rizki.
"Dia lagi keluar kota, ada urusan." Ucap Melodi.
__ADS_1
Rizki pun tak membalas pesan Melodi lagi karena kini Dosen yang akan mengajar mereka telah memasuki ruangan saat ini.
Setelah Kelas selesai Rizki, Larisa, Melodi, Gerald dan Saga pun langsung menuju kantin untuk makan bersama sambil menghabiskan waktu menunggu kelas berikutnya.
"Mel mau pesan apa?" Tanya Rizki ketika mereka sudah duduk di kursi pada kantin itu.
"Samain aja." Ucap Melodi sambil fokus pada ponsel miliknya.
Saat ini Larisa sedang pamit ke toilet sebentar, makanya Rizki langsung bertanya seperti itu pada Melodi.
"Kita nggak di tanyain Ki." Ucap Saga.
"Pesan sendiri." Ucap Rizki.
"Pilih kasih." Ucap Saga.
"Udah besar pesan sendiri napa." Ucap Gerald pada Saga.
"Kalian, ah sudahlah." Ucap Saga bagaikan sedang dizolimi.
"Aku tinggal sebentar." Ucap Melodi karena ponselnya kini sedang menerima panggilan Vidio Call dari Anzas.
Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain Melodi langsung saja berjalan keluar dari kantin itu. Dia memilih keluar karena kondisi kantin tak memungkinkan dia untuk menerima telfon di sana karena sakin berisiknya tempat itu.
"Ya Be." Ucap Melodi ketika sudah menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Sebentar malam aku jemput yah, Mami Papi aku mau ketemu kamu. Mereka baru tiba tadi, aku juga sekarang udah di apartemen." Ucap Anzas membuat Melodi bingung sendiri.
"Sayang." Ucap Anzas karena Melodi tak membalas ucapannya dan malah terlihat seperti sedang melamun.
"Eh iya Be, harus malam ini yah?" Tanya Melodi.
"Iya sayang, Mami sendiri yang minta soalnya." Ucap Anzas dengan raut bahagianya.
Melodi yang mendengar dan melihat raut bahagia Anzas itu dia menjadi merasa bersalah sendiri dengan situasinya saat ini. Sungguh Melodi jadi tak tega menyakiti pria itu lebih jauh lagi, tapi dia harus apa semua sudah terjadi bukan kehendaknya.
"Iya Be, biar aku langsung saja ke apartemen kamu. Nggak perlu di jemput ya Be." Ucap Melodi.
"Baiklah sayang, kalau gitu udah dulu yah. Mau bantu papi beres-beres apartemen soalnya." Ucap Anzas setelahnya merekapun mengakhiri vidio call mereka dan Melodi pun kembali masuk ke dalam kantin.
Kini malam telah menjelang dan Melodi telah siap untuk pergi ke apartemen Anzas sesuai janjinya tadi.
"Sudah siap?" Tanya Rizki ketika Melodi baru keluar kamar mereka.
"Sudah, biar aku perginya sendiri saja Mas." Ucap Melodi tak enak hati.
"Kamu udah janji kan tadi." Ucap Rizki dan Melodi pun tak ingin membantah lagi.
Mereka pun Langsung bergegas menuju Apartemen Anzas dengan hening tanpa adanya obrolan sedikitpun di sepanjang perjalanan itu, hingga kini mereka telah tiba di parkiran apartemen milik Anzas.
"Aku tunggu di sini." Ucap Rizki ketika Melodi mau turun dari mobil Rizki.
"Tapi..." Ucap Melodi langsung di potong Rizki.
"Mau aku tunggu di dalam apartemen Anzas sekalian." Ucap Rizki dan Melodi langsung tak bisa berbicara lagi.
__ADS_1