Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Habis berfoto ria serta menikmati pemandangan dan rasa air terjun dengan berendam kaki walau tak mandi, Melodi beserta rombongan kini tengah menunggu untuk makan siang bersama sambil mengobrol santai. Bahkan tak ayal, para wanita kini sedang asik berfoto dengan Gerald yang jadi fotografer nya. Karena memang pria itu yang nampak memiliki hasil foto yang memuaskan setelah tadi semua pria sudah di coba satu persatu dan Gerald lah yang terpilih.


Sambil menunggu makan di antar, Rizki Bima dan Mahesa bercerita sambil banyak bertukar pikiran tentang bisnis yang kini sedang mereka jalani. Sementara Saga hanya menyimak saja terkadang mengambil dan menyimpan ilmu yang sekiranya akan membantunya di kemudian hari dari yang dia dengar.


"Kamu memang yang terbaik Ger." Ucap Melodi saat dia melihat hasil jepretan Gerald. Pasalnya entah bagaimana pria itu ketika memfoto mereka, dia terlihat tak gemuk di setiap fotonya. Benar-benar Gerald pintar dalam mengambil angel yang tepat untuk dirinya yang mulai tak pede dengan bentuk tubuhnya sekarang.


"Apanya yang terbaik?" Tanya Rizki tiba-tiba, padahal pria itu tadi nampak asik bercerita. Namun ternyata kuping dan matanya selalu memantau Melodi.


"Hasil fotonya By, ini lihat. Bagus kan, nggak sama seperti yang kamu foto tadi By. Aku gemuk di setiap gambar yang kamu ambil, tapi yang ini membuat aku puas By happy jadinya." Ucap Melodi dengan menunjukan foto dirinya beserta Kanaya Bella dan Gadis tadi.


"Humm, bagus." Ucap Rizki tak bersemangat, walau memang hasil foto yang dia lihat begitu bagus dan jauh berbeda dengan yang dia ambil tadi, namun haruskah Melodi membandingkan dirinya dengan Gerald. Mau marah namun takut berunjung dengan istrinya yang menangis nantinya. Jadi Rizki lebih memilih diam saja kali ini, walau dia begitu kesal saat ini.


Lagi-lagi Gerald selalu masuk daftar pujian Melodi, pikir Rizki.


"Yah sangat bagus." Sahut Melodi bahagia, sungguh kebahagian seorang wanita itu sungguh sederhana. Cukup terlihat perfek di satu gambar foto saja, sudah membuat seorang wanita bahagia. Sama seperti Melodi kini.


"Ger, makanannya kan masih belum tuh. Tolong fotoin aku sama Rizki dong, boleh yah. Di sana." Ucap Melodi sambil menunjuk depan Warung makan yang berhadapan langsung dengan spot air terjunnya.


"Boleh." Jawab Gerald dan Rizki hanya mengikuti saja tarikan tangan Melodi.


"Ayo bergaya." Pinta Gerald ketika dia sudah bersedia untuk memfoto pasangan suami istri di depannya kini.


"Ayo By." Melodi berkata sambil mengarahkan Rizki untuk di belakangnya dan dengan sigap Rizki mengikuti. Memeluk Melodi dari belakang.

__ADS_1


Hingga beberapa gaya di suguhkan, akhirnya mereka menyudahi sesi foto mereka karena memang makan siang mereka sudah di antar semuanya siap di nikmati.


"Keren kan By?" Tanya Melodi pada Rizki saat melihat foto mereka sambil berjalan kembali ke dalam warung.


Sementara Gerald berjalan di belakang mereka, Saga yang melihat itu nampak menatap iba pada Gerald. Apalagi dia sempat melihat Gerald mengusap sudut matanya, bahkan sempat menengadahkan wajahnya ke atas beberapa kali. Yang dia yakini jika pria itu kini sedang mencegah air yang seharusnya tak menetes di saat ini.


"Lo nggak papa?" Bisik Saga pelan saat Gerald sudah mengambil tempat duduk di sebelahnya.


"Yah, huuuummm. Sakit Sag." Lirih Gerald dan Saga langsung menepuk bahunya menguatkan.


Saga tahu mencintai dalam diam itu tak enak, sebab dia pun jika berada di posisi Gerald mungkin dia tak akan sanggup dan sekuat pria itu.


Bagaimana Gerald di tuntut harus merasa bahagia di setiap harinya, ketika orang yang dia cintai memandang cinta dan di pandang cinta orang lain yang notabennya sahabatnya sendiri di depan matanya namun dia tak bisa apa-apa. Harus menerima, walau hati memberontak sakit sebisa mungkin setiap saat dia hanya bisa menjelaskan pada dirinya agar tetap terkontrol demi nama persahabatan.


Definisi sakit yang tak berdarah mungkin hal itu kini cocok di sematkan untuk Gerald. Pria yang mampu menyembunyikan rasanya sepanjang persahabatan mereka. Pria yang lebih baik menanggung sakit, di banding harus melukai orang tersayangnya hanya demi perasaan yang kini di anggap salah olehnya sendiri.


Mencoba melupakan namun sulit, pertemuan yang intens tanpa sadar terus memupuk rasanya hingga dia tak tahu harus menghilangkannya dengan apa. Sebab akarnya sudah terlalu melekat menancap lekat hingga sulit untuk dia cabut dengan apapun, kecuali mungkin tuhan yang merubah hatinya saat waktu yang tepat tiba.


Bahkan untuk mengungkapkan sekali saja rasanya sekedar mengeluarkan beban rasanya untuk Melodi pun dia tak bernyali. Bukan takut, hanya saja dia tak mau jika dengan kejujurannya dia akan kehilangan Melodinya. Wanita baik yang berhasil menguasai dunianya, tanpa dia genggam.


***


Usai makan siang, Rombongan kembali ke Villa dimana sepanjang perjalanan Melodi terus mengomel.

__ADS_1


"Pokonya selama seminggu, kamu harus puasa By." Ucap Melodi tegas, tak mau di bantah.


"Mana bisa begitu sayang." Protes Rizki tak terima.


"Yah bisa lah, jangan pura-pura lupa. Tadi kan Dady udah janji kalau habis makan Mami boleh mandi ternyata apa? Malah kita semuanya pulang." Ucap Melodi kesal.


"Kan bukan aku yang minta pulang sayang. Ko aku yang harus nanggung hukumannya sih, nggak adil tahu."


"Pokonya harus Puasa titik nggak pake koma." Ucap Melodi dan dia langsung memejamkan matanya tak mau berdebat lagi.


Rizki hanya bisa menghembuskan nafasnya frustasi. Hanya bisa berdoa jika Melodi berubah pikiran nantinya saja.


Sesampainya di Vila semua orang langsung menuju kamar mereka masing-masing.


Melodi langsung melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu di mobi. Sementara Rizki terlihat sedang menghubungi Gerald.


"Lo tidur?" Tanya Rizki to the poin Saat sambungannya di terima Gerald.


"Nggak, lagi selunjuran kaki doang." Ucap Gerald.


"Kita ke pantai yuk, ada yang harus aku omongin." Ucap Rizki dan langsung di iyakan Gerald.


Setelah itu panggilan pun di akhiri dengan Rizki langsung beranjak keluar setelah memastikan Melodi benar-benar sudah terlelap.

__ADS_1


"Ki." Panggil Gerald ketika dia sampai di pantai yang ternyata Rizki sudah lebih dulu sampai.


"Lo suka sama Melodi?" Tanpa menjawab sapaan Gerald dan menghadap Pria itu, Rizki langsung mengucapkan kalimat yang mampu membungkam dan menghentikan langkah kaki Gerald seketika.


__ADS_2