Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Dimana Suamimu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Melodi dan Rizki, Anzas hanya diam saja. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun, hingga membuat Melodi jadi serba salah. Di lain sisi dia memikirkan apa yang akan terjadi ketika Anzas bertemu Rizki nanti, lain sisinya dia memikirkan bagaimana caranya agar Anzas mengurungkan niatnya untuk bertemu Rizki.


"Be, mobilku bagaimana?" Tanya Melodi basa basi.


"Orangku akan mengantarkan ke apartemen kalian." Ucap Anzas tanpa menoleh pada Melodi.


"Be." Panggil Melodi lagi namun kali ini tak di hiraukan Anzas.


Tak berselang lama kini mereka telah tiba di gedung apartemen Melodi dan suaminya.


"Ayo." Ucap Anzas sambil beranjak turun dan di ikuti Melodi.


"Be, apa tidak sebaiknya nanti saja bertemunya?" Tanya Melodi takut jika Anzas masih dalam kondisi belum menerima dan nanti akan berakibat buruk jika dia bertemu Rizki nanti. Dia takut akan terjadi keributan nantinya, dan dia tak mau itu sampai terjadi.


Anzas tetap tak menghiraukan ucapan Melodi dan lebih memilih berjalan menuju lif.


"Lantai berapa?" Tanya Anzas setelah mereka masuk lif. Namun Melodi langsung menekannya tanpa menjawab ucapan Anzas, karena dia sedikit kesal tak di hiraukan sejak tadi.


Kini tibalah mereka tepat di depan unit Rizki, dengan ragu Melodi menekan pin apartemen itu dan itu semua tidak lepas dari tatapan Anzas membuat pria itu semakin sakit mengetahui kenyataan ini.


Tanpa basa basi Anzas langsung melangkah masuk mendahului Melodi, membuat gadis itu dengan susah paya menelan saliva nya sendiri.


"Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja." Batin Melodi sambil berjalan masuk.


"Duduk dulu Be." Ucap Melodi karena melihat Anzas hanya berdiri sambil melihat ke segala sisi di apartemen itu. Tatapannya seperti sedang mencari sesuatu, dan tentu saja Melodi tahu siapa yang di cari Pria itu.


"Dimana suamimu?" Tanya Anzas tak menghiraukan Ucapan Melodi.


"Sebentar Be." Ucap Melodi sambil beranjak menuju kamar mereka sambil tetap berdoa semua akan baik-baik saja nantinya.


"Dimana Mas Rizki." Ucap Melodi setelah memasuki kamar dan tak menemukan Rizki di dalam sana, kemudian dia langsung melihat ke kamar mandi namun tak juga ada sosok Rizki di sana.


"Apa di dapur?" Ucap Melodi kemudian dia langsung berjalan keluar menuju dapur, namun tetap sama dia tak menemui Rizki di sana.


Dengan cepat Melodi langsung menelfon Rizki namun nomor yang dia tuju tak bisa dihubungi.


"Apa Mas Rizki lagi keluar beli makan yah." Tanya Melodi pada dirinya sendiri kemudian dia langsung pergi menemui Anzas yang berada di ruang tamu.


"Be, Rizkinya nggak ada. Mungkin lagi keluar beli makan." Melodi berkata saat tepat di samping Anzas.


"Baiklah, aku akan menunggunya." Ucap Anzas, sambil mendudukkan dirinya di sofa.

__ADS_1


"Mau minum Be." Tanya Melodi gugup, entah kenapa dia bisa merasa canggung dengan Anzas kini. Ah, mungkin karena besarnya rasa bersalah pada Pria itu tentunya. Apa lagi.


"Tidak." Ucap Anzas dan lebih memilih bersandar pada sofa sambil menutup matanya.


Melodi yang melihat itu hanya menarik nafasnya pelan, yah ini memang salahnya. Dia harus menerima semuanya, meskipun kebencian sekalipun yang Anzas berikan padanya. Dia akan menerimanya.


Hingga hampir pukul sebelas malam Anzas menunggu, namun Rizki tak kunjung datang. Membuat Anzas langsung bersuara pada Melodi yang sedang duduk gugup tak jauh darinya berada. Sungguh dia tak bisa melihat Melodi seperti itu, ingin sekali dia memeluk gadis itu. Tapi dia harus menyelesaikan dulu masalah ini, karena kini Melodi bukan hanya pacarnya tapi juga dia adalah istri orang sekarang. Ah mengingat itu membuat moodnya kembali bertambah buruk.


"Apa salahku Tuhan, hingga kau menghukum aku seperti ini." Batin Anzas.


"Apa sering suamimu keluar seperti ini, kenapa dia tak kunjung pulang. Ini sudah terlalu larut, jika hanya untuk membeli makan Mel." Ucap Anzas tanpa embel-embel sayang lagi.


"Tidak pernah, baru kali ini Be. Aku sudah menghubunginya tapi tetap saja masih tak bisa di hubungi." Ucap Melodi yang sudah mulai gelisah memikirkan Rizki sekaligus khawatir terhadap pria itu. Tapi dia mencoba menutupi itu dari Anzas, dia tak mau Anzas bertambah kecewa padanya karena tahu dia khawatir pada Rizki kini.


"Baiklah, aku harus pulang sekarang. Tak baik kita berduaan sendiri di apartemen kalian, besok pagi aku akan kembali lagi." Setelah mengucapkan itu Anzas lalu berlalu pergi tanpa menunggu Melodi menanggapi ucapannya dahulu.


Setelah kepergian Anzas, kini Melodi kembali menghubungi Rizki berulang kali namun tetap saja nomor itu masih saja tak bisa di hubungi.


"Kamu kemana sih Mas." Ucap Melodi sambil mondar-mandir tak jelas, dia sampai sudah lupa jika tadi Anzas pergi dengan membawa kekecewaan yang mendalam tadi.


"Saga, yah Saga. Mungkin saja Mas Rizki lagi ke apartemennya." Ucap Melodi setelah itu langsung menghubungi Saga.


"Hey, orang kalau telfon itu basa-basi dulu ke. Dan lagian aku nggak sama Rizki sekarang." Ucap Saga sedikit ngegas dan itu sudah biasa bagi Melodi.


"Gila ni Orang." Ucap Saga karena Melodi langsung mematikan sambungan telponnya sepihak setelah dia berbicara.


Sedangkan Melodi dia tak abis akal, gadis itu langsung menghubungi Gerald. Namun sama saja Rizki tak bersama juga dengan Gerald.


"Kemana sih kamu Mas." Ucap Melodi benar-benar Khawatir.


"Cafe, yah cafe. Mungkin saja Mas Rizki ke sana." Ucap Melodi.


Dengan cepat Melodi langsung mengambil tas miliknya dan langsung memesan taksi untuknya karena mobil miliknya masih berada di Apartemen Anzas.


Setelah sampai di parkiran Melodi Sudah melihat mobilnya berada di sana, beserta seorang pria yang sedang berjalan menujunya.


"Permisi mba, ini titipan dari Anzas." Ucap pria seumuran Anzas sambil memberikan kunci mobil Melodi.


"Terima kasih." Ucap Melodi sambil menerima kuncinya setelah itu dia tak langsung masuk mobilnya tapi menunggu taksi yang dia pesan tadi, karena tak enak jika dia harus membatalkan pesanannya.


Setelah kedatangan taksi pesanannya, Melodi langsung meminta maaf dan tetap membayar taksi itu. Kemudian dia langsung bergegas menuju Cafe Rizki.

__ADS_1


"Malam kak Dim." Ucap Melodi menyapa Dimas di meja kerjanya.


"Malam juga Mel, tumben malam banget ke sininya." Ucap Dimas sedikit heran karen tak biasanya Melodi datang ke cafe semalam ini, apalagi dirinya datang hanya seorang diri.


"Rizki ada?" Tanya Melodi to the poin tanpa menjawab pertanyaan Dimas sakin khawatirnya dengan Rizki.


"Oh Bos, tadi sore masuk ruangannya tapi aku belum lihat Bos keluar lagi dari ruangannya itu sejak tadi. Mungkin Bos masih di dalam." Ucap Dimas.


"Baiklah, terima kasih kak Dim. Aku pamit ketemu Rizki dulu yah." Ucap Melodi dan Dimas hanya menganggukkan kepalanya saja karena Melodi langsung pergi setelah berucap itu.


Dengan pelan Melodi mengetuk pintu ruangan Rizki, hingga beberapa kali barulah terdengar suara Rizki dari dalam sana.


"Masuk."


"Mas." Ucap Melodi ketika dia baru masuk dan mendapati Rizki sedang duduk sambil merokok, hal yang tak pernah Melodi lihat sebelumnya.


Rizki yang mendengar suara Melodi hanya melirik sekilas kemudian dia kembali dengan aktifitasnya lagi.


"Hentikan Mas, sejak kapan kamu merokok." Ucap Melodi sambil berjalan menuju Rizki.


"Dan ini oh astaga, kamu mau mati Mas." Ucap Melodi saat melihat begitu banyak puntung rokok yang tersebar di atas meja kerja suaminya itu.


"Aku bilang berhenti Mas." Ucap Melodi sedikit membentak karena Rizki tak menghiraukan dirinya. Dia tak pernah melihat Rizki se kacau ini apalagi di tambah dengan Merokok. Sama sekali bukan Rizki yang dia kenal kini.


"Apa hak kamu melarang ku Mel." Bentak balik Rizki sambil menatap Melodi.


"Aku istrimu Mas, aku berhak melarang mu jika itu memang baik untukmu." Ucap Melodi tak takut sedikitpun dengan bentakan Rizki.


"Benarkah kau istriku Mel?" Tanya Rizki sambil berdiri dan menatap Melodi.


"Ada apa denganmu Mas?" Tanya Melodi sedikit bingung dengan tingkah Rizki kini.


"Benarkah kau istriku Mel?" Tanya ulang Rizki.


"Yah, tentu saja aku istrimu. Sebenarnya kamu kenapa Mas." Ucap Melodi sedikit gugup Karena kini Rizki terus mendekatinya dengan tatapan aneh, hingga membuatnya tak sadar ikut melangkah mundur.


"Baiklah, kamu istriku kan.?" Tanya Rizki lagi tanpa menghentikan langkahnya mendekati Melodi yang terus mundur menghindarinya.


"Mas, kau mau apa?" Tanya Melodi karena melihat tatapan aneh Rizki apalagi kini Dirinya sudah tak dapat melangkah mundur lagi karena punggungnya kini telah mentok pada dinding.


"Mas, Mas apa Mas henti...."

__ADS_1


__ADS_2