Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Sikap Dingin Rizki


__ADS_3

"Maaf." Ucap Melodi.


"Tak masalah, seharusnya aku pahan dan tak membuat kamu takut seperti ini. Dia kekasihmu dan aku hanya suamimu." Ucap Rizki dengan menekankan kata pada kalimat terakhirnya.


Setelah itu Rizki langsung merebahkan tubuhnya kembali pada kasur yang iya duduki tanpa mau mendengar penjelasan Melodi.


Melodi yang mendengar itu dan melihat sikap Rizki kepadanya, langsung lemas seketika. Dia tak berniat membuat pria itu marah seperti sekarang. Tapi Melodi harus apa, ketika Anzas ngotot mau mengantarnya pulang tadi. Apa dia harus memberi tahu Anzas bahwa suaminya sendiri sedang menunggunya di bawah, yang benar saja pikir Melodi.


Dengan lemas Melodi langsung menuju lemari pakaian mereka dan mengambil baju tidurnya, kemudian gadis itu langsung menuju kamar mandi.


Usai mengganti pakaiannya, Melodi langsung menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana. Dia menatap punggung Rizki yang sedang membelakanginya.


"Mas." Panggil Melodi.


"Mas Iki." Panggil Melodi lagi, namun lagi-lagi tak ada jawaban dari sang pemilik nama.


Melodi pun mencoba bangkit dan melihat keadaan Rizki sejenak.


"Tidur tenyata." Gumam Melodi kemudian dia kembali ke tempatnya semula.


Melodi tidur dengan terlentang sambil melihat-lihat seisi kamarnya, namun dia sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah bingkai foto dimana dirinya dan Rizki pada hari pernikahan mereka yang di letakan di sebuah kardus di sudut kamar mereka. Karena penasaran Melodi langsung saja beranjak menghampiri kardus itu.


"Sejak kapan bingkai pernikahannya sampai, kok aku nggak tahu." Ucap Melodi sambil dilihatnya dengan teliti bingkai itu, kemudian dia langsung beranjak kembali ke ranjang mereka.


Melodi memposisikan tidurnya menghadap punggung belakang suaminya, dilihatnya punggung pria itu dengan intens kemudian dia mengeluarkan seluruh keluh kesahnya tanpa sadar jika di balik pemilik punggung itu kini telah membuka matanya bersamaan dengan pergerakannya menaiki tempat tidur sejak tadi.


"Hum, harusnya aku sadar dan tak harus merasa bersalah sebesar ini. Seperti katamu tadi kamu hanya suamiku, dan aku hanya istrimu karena ada Larisa sebagai pacarmu sebagaimana Anzas adalah pacarku. Itu sebabnya kan, bingkai foto pernikahan kita tak kamu pajang kan Ki." Ucap Melodi berbicara sendiri sambil tetap setia menatap punggung Rizki.


"Bodohnya aku yang mengganggap amarahmu sebagai bentuk memang tak sukanya kamu atas kedekatanku dengan Anzas Ki. Maaf jika tadi aku sempat lupa jika pemilik hatimu adalah Larisa."


"Maafkan aku Ki karena sudah membuatmu menunggu tadi, maaf sudah merepotkan kamu." Ucap Melodi setelahnya dia berbalik dan membelakangi punggung Rizki.

__ADS_1


Riski yang sedari tadi mendengar ucapan Melodi membuatnya bertambah kesal.


"Kenapa kamu begitu bodoh Melodi, apa kamu nggak bisa merasakan perasaanku Mel. Mengapa kamu malah membenarkan ucapanku Mel. Bingkai foto itu tadi aku bawa dan mau memasangkan bersama kamu Mel, tapi malah kamu bilang mau bertemu Anzas. Seperti katamu Mel, kamu benar-benar bodoh tak bisa membaca perasaanku terhadapmu." Batin Rizki.


"Apa sebesar itu kah perasaanmu terhadap Anzas Mel, hingga kamu lebih memilih dia untuk mengantarmu pulang di bandingkan aku yang sudah dengan suka relanya menunggumu berjam-jam lamanya Mel. Ahhhh sudahlah, mungkin aku saja yang terlalu bodoh menyayangimu sebesar ini dan akan tetap menyayangimu sampai kapanpun itu." Batin Rizki lagi setelahnya dia lebih memilih tidur membiarkan hati, perasaan dan pikirannya untuk beristirahat sejenak melupakan kejadian hari ini.


Keesokan Paginya....


"Dimana dia." Gumam Rizki ketika dirinya membuka mata dan melihat sisi ranjang sebelahnya yang telah kosong.


Pria itu pun bergegas langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai dan saat keluar kamar mandi Rizki mendapati Melodi sedang membereskan Ranjang mereka.


"Mas." Panggil Melodi.


"Hmm." Gumam Rizki.


"Boleh mengantarku belanja, persediaan dapur kita sudah berkurang." Ucap Melodi seperti tak ada masalah di antara mereka.


"Ya sudah, biar aku sendiri saja kalau kamu tak bisa." Ucap Melodi yang berpikir bahwa Rizki tak bisa menemaninya.


"Bukan begitu, hanya saja aku takut kamu perginya sama aku tapi pulangnya dengan yang lain. Seperti yang sudah-sudah." Ucap Rizki sambil berjalan menuju lemari pakaian mereka.


Melodi yang mendengar ucapan Rizki serasa tersindir oleh perkataan pria itu.


"Maksud kamu apa Mas?" Ucap Melodi pura-pura tak paham.


"Yah contohnya seperti semalam, masih kurang paham." Ucap Rizki membuat Melodi merasa disudutkan oleh pria itu.


"Baiklah." Ucap Melodi.


"Baiklah apa, kalau bicara itu yang jelas." Ucap Rizki sambil memakai pakaiannya, kebetulan dirinya tadi sudah memakai bokser sedari kamar mandi sehingga Melodi tak perlu untuk keluar.

__ADS_1


"Aku nggak akan seperti itu lagi, dan maaf soal semalam. Anzas yang memaksaku untuk mengantarku pulang dan aku tak ada alasan untuk menolaknya." Ucap Melodi menjelaskan, namun tak sadar jika ucapannya telah menyakiti Rizki.


"Cihh, aku tidak meminta penjelasan kamu Mel." Ucap Rizki bertambah kesal karena bisa-bisanya Melodi mengatakan dia tak punya alasan untuk menolak ajakan Anzas. Yang benar saja apa dirinya yang menunggu di mobil berjam-jam bukan alasan yang kuat untuk Melodi dapat menolak ajakan pacarnya itu, pikir Rizki.


"Cepatlah aku tunggu di luar." Ucap Rizki sakin kesalnya dan langsung meninggalkan kamar mereka.


Melodi yang tak bisa berkata lagi, langsung bersiap sebentar dan kemudian menyusul Rizki di luar.


"Mas." Panggil Melodi dan tanpa Kata Rizki langsung berdiri dari duduknya kemudian melangkah mendahului Melodi dan langsung keluar apartemen mereka. Melodi yang merasa di abaikan pun dengan pasrah mengikuti langkah Rizki.


"Kemana?" Tanya Rizki dingin tak sehangat biasanya saat keduanya telah berada di mobil saat ini.


"Boleh kita ke tempat makan dahulu untuk sarapan? Setelah itu baru kita pergi ke swalayan yang terakhir kali kita belanja, kamu kan belum makan sejak semalam kan?." Ucap Melodi sedikit takut-takut, pasalnya sejak tadi Rizki begitu dingin terhadapnya.


"Kenapa seperti itu bicaranya, apa aku membuatmu takut." Ucap Rizki yang merasa Melodi seperti takut berbicara padanya


"Bukan begitu." Ucap Melodi tak enak.


"Lalu." Ucap Rizki


"Emm, boleh kita bicara sebentar sebelum kita pergi " Ucap Melodi ingin membuat mereka agar tak dalam keadaan seperti ini terus.


"Dari tadi juga kita bicara Mel." Ucap Rizki sebenarnya paham maksud arah pembicaraan Melodi, namun jiwa jahilnya mendadak muncul tiba-tiba walaupun kini dia masih kesal pada wanita itu.


"Maksud aku kita bicara soal hubungan kita Mas." Ucap Melodi sambil menatap Rizki serius.


"Silahkan, kamu duluan." Ucap Rizki mau melihat seperti apa pembicaraan yang di maksud Melodi tentang hubungan mereka itu.


"Begini, sesuai kesepakatan awal kita kamu sendiri kan yang minta agar kita tak mengurusi urusan pasangan kita masing-masing. Kamu masih ingat kan?" Jelas Melodi sambil Bertanya balik pada Rizki.


"Bolehkah kita menghilangkan kesepakatan itu mulai saat ini?" Ucap Rizki membuat Melodi menatap aneh ke arah pria yang berstatus suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2