Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Aku Suamimu, Kalau Kamu Lupa.


__ADS_3

Setelah selesai menerima vidio call dari Anzas, Melodi pun kembali ke dalam kantin. Saat masuk Melodi melihat Larisa sudah kembali dari toilet dan langsung duduk bersebelahan dengan Rizki, makanan pesanan mereka pun sudah tersaji di atas meja.


"Maaf lama." Ucap Melodi, karena memang sehabis telfon tadi Melodi tak langsung saja masuk, namun dia sedikit memikirkan bagaimana caranya agar meminta izin pada Rizki untuk pergi ke apartemen Anzas nanti malam. Setelah mendapatkan sedikit solusi barulah Melodi memutuskan untuk kembali ke dalam kantin.


"Ya sudah kita mulai makan saja." Ucap Rizki, dan mereka pun makan dengan sedikit obrolan dan candaan khas mereka, namun sepanjang itu Rizki melihat Melodi seperti sedang memikirkan sesuatu dan banyak diam saat ini.


Mereka pun kembali ke kelas setelah menghabiskan waktu di kantin, karena sekarang saatnya untuk kelas selanjutnya.


Setelah usai kuliah Melodi memutuskan langsung kembali ke apartemen tanpa Rizki, karena pria itu sedang mengantar Larisa entah kemana.


Hingga sore hari barulah Rizki kembali dari urusannya dengan Larisa Dan Rizki mendapati Melodi sedang berdiri di balkon kamar mereka.


"Mel." Panggil Rizki karena Melodi tak sadar sejak tadi ketika dia masuk ke kamar mereka, bahkan dari Rizki masuk hingga selesai mandi pun sampai sekarang wanita itu tetap masih dalam posisi berdirinya seperti awal Rizki masuk tadi.


"Eh, udah pulang Mas." Ucap Melodi ketika Rizki memegang pundaknya.


"Yah, dari tadi." Ucap Rizki dan Melodi baru sadar jika ternyata pria itu pun bahkan sudah habis mandi kini, karena terlihat dari rambut Rizki yang masih basah.


"Sorry, aku nggak tahu." Ucap Melodi kemudian menduduki dirinya di kursi yang berada di sana.


"Ya bagaimana kamu tahu, kalau kamunya di sini tapi pikiranmu di tempat lain." Ucap Rizki sambil mendudukkan dirinya di kursi seberang Melodi.


"Ada masalah apa?" Tanya Rizki.


"Aku lihat mulai sehabis kamu terima telfon di kantin tadi, kamu mulai tak fokus. Ada apa?" Tanya Rizki lagi.


"Um, itu.." Ucap Melodi ragu.


"Itu apa, yang jelas Mel Chéri." Ucap Rizki sambil menatap Melodi serius.


"Itu, um Anzas. Maksud aku Anzas minta aku sebentar malam buat ke apartemennya, boleh?" Ucap Melodi ragu-ragu.


"Dalam rangka apa?" Ucap Rizki mulai merasa tak nyaman setelah Melodi menyebut nama Anzas, apalagi pria itu menyuruh istrinya untuk berkunjung ke apartemennya malam ini maka bertambah pula kekhawatiran dalam dirinya.


"Orang tua Anzas sedang berkunjung ke apartemennya, dan kata Anzas Maminya yang meminta aku untuk datang." Ucap Melodi bertambah tak enak hati pada Rizki, namun dia harus apa? dirinya yang lebih dulu berhubungan dengan Anzas sebelum akhirnya dia sekarang menjadi istri dari Rizki tanpa kehendaknya sedikitpun.


"Pergilah." Ucap Rizki namun tak menatap Melodi lagi, Pria itu lebih memilih melihat keadaan kota dari tempatnya duduk. Dia lebih memilih menutupi kecewanya dengan melihat ke arah lain.


"Kamu nggak marah?" Tanya Melodi.


"Maunya kamu bagaimana?" Rizki balik bertanya pada Melodi karena sedikit kesal dengan pertanyaan Melodi tadi.


Melodi jadi tak tahu mau menjawab apa atas pertanyaan balik Rizki padanya itu, dia lebih memilih diam dan tak mau bersuara lagi.


"Boleh aku mengantar kamu Mel.?" Ucap Rizki tiba-tiba.


"Biar aku pergi sendiri saja." Ucap Melodi tak enak, masa dia mau ketemu keluarga pacarnya malah suaminya sendiri yang mengantarnya (Ini bukan dunia dongen Ki, yang benar saja.) Pikir Melodi.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku melarang kamu pergi Mel. Aku suamimu kalau kamu lupa." Ucap Rizki dengan nada berbeda.


"Baiklah." Ucap Melodi pasrah, padahal niatnya baik agar dia tak menyakiti perasaan Rizki. Walaupun dia tahu Rizki tak mungkin tersakiti olehnya, karena dia hanya istri terpaksanya Rizki dan masih ada Larisa yang lebih penting dari dirinya tentu saja.


"Baiklah apa?" Tanya Rizki.


"Kamu boleh mengantarku Mas." Ucap Melodi.


"Yah tentu saja, dan itu harus." Ucap Rizki setelahnya dia memutuskan untuk masuk, namu baru sampai di depan pintu dia kembali bersuara pada Melodi.


"Ayo makan, aku tadi membeli makanan untuk kita." Ucap Rizki setelahnya dia langsung melangkah masuk.


Kini malam telah menjelang dan Melodi telah siap untuk pergi ke apartemen Anzas sesuai janjinya tadi pada pria itu.


"Sudah siap?" Tanya Rizki ketika Melodi baru keluar kamar mereka.


"Sudah, biar aku perginya sendiri saja Mas." Ucap Melodi tak enak hati.


"Kamu udah janji kan tadi." Ucap Rizki mengingatkan.


Mereka pun Langsung bergegas menuju Apartemen Anzas dengan hening tanpa adanya obrolan sedikitpun di sepanjang perjalanan itu, hingga kini mereka telah tiba di parkiran apartemen milik Anzas.


"Aku tunggu di sini." Ucap Rizki ketika Melodi mau turun dari mobil Rizki.


"Tapi..." Ucap Melodi langsung di potong Rizki.


Gadis itu pun pamit untuk masuk dan meninggalkan Rizki yang mau menunggunya itu.


Setelah sampai di depan pintu apartemen kamar Anzas, Melodi langsung saja menekan bel kamar itu. Tak butuh waktu lama sang pemilik apartemen itu langsung membukakan pintu untuknya.


"Melodi." Ucap Seorang wanita seusia Mami Melodi yang gadis itu perkirakan wanita itu pasti Maminya Anzas.


"Iya Tante, selamat malam." Ucap Melodi sopan.


"Ah cantiknya, panggil Mami saja sayang. Ayo masuk." Ucap Mami Anzas sambil menggandeng lengan Melodi.


Melodi yang di perlakukan seperti itu dia jadi mengingat Bundanya Rizki seketika. Gadis itu pun menjadi gugup menghadapi Maminya Anzas.


"Sayang, nih kenalin Papinya Anzas. Panggil saja Papi Bren." Ucap Mami Anzas memperkenalkan suaminya.


"Hay, om." Sapa Melodi.


"Hey, you're so beautiful Melody." Ucap Papi Bren menatap Melodi dan gadis itu hanya tersenyum kepada papinya Bren.


"Cantik sekali." Ucap Papi Bren lagi.


"Sayang tunggu sebentar yah, Mami panggil Anzasnya. Dia baru mandi soalnya." Ucap Mami Anzas setelahnya beliau langsung menuju kamar Anzas.

__ADS_1


"Duduk di sini Mel." Ucap Papi Bren menepuk kursi di sebelahnya.


"Iya Om." Ucap Melodi kemudian duduk di sebelah Papi Bren dengan canggung, karena ini kali pertamanya dia bertemu dengan kedua orang tuanya Anzas.


"Panggil Papi saja, anggap Papi sendiri." Ucap Papi Bren dan hanya di balas Melodi dengan Tersenyum saja.


Kemudian mereka sedikit mengobrol karena Papi Bren sedikit bertanya-tanya tentang hubungan dirinya dan Anzas.


Tak berselang lama, Anzas dan sang Mami ikut bergabung dengan mereka.


"Sayang." Ucap Anzas sambil ingin memeluk Melodi namun gadis itu sedikit menghindar.


Anzas yang mendapat reaksi seperti itu dari Melodi, dia pun paham dan mengira Melodi merasa malu terhadap kedua orang tuanya.


"Kita Makan malam saja yuk, udah Mami masak yang spesial buat kamu Mel. Ayo." Ucap Sang Mami sambil beranjak dan menarik tangan Melodi untuk mengikutinya.


Mereka pun makan dengan sedikit obrolan hingga tak jarang tawa mereka sering beradu.


Melodi yang sudah mulai asik dengan keluarga Anzas yang ternyata begitu asik ketika mengobrol santai hingga membuat dirinya melupakan Rizki yang sejak tadi menunggunya di parkiran.


Di parkiran...


Rizki sampai tertidur di kursi kemudinya karena terlalu lama menunggu Melodi yang tak juga usai dari pertemuannya itu. Hingga ponsel nya Bergetar menandakan pesan masuk membangunkan dirinya.


Setelah membaca pesan itu, dengan kesal Rizki langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiran apartemen tersebut. Dia sedikit mengebut, karena kondisi jalan yang sudah sepi membuat dirinya lebih leluasa. Karena kini waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam membuat penghuni aspal itu sedikit sepi.


Setelah sampai di apartemen miliknya Rizki langsung saja masuk dengan membanting pintu apartemen itu sedikit keras.


Melodi yang sedang menunggu Rizki di ruang tamu apartemen mereka itu langsung terkejut di buatnya. Namun dia takut menyapa Rizki saat menatap wajah pria itu yang terlihat sagat marah terhadapnya itu.


Rizki yang melihat Melodi berdiri dan menatapnya dengan eskpresi takut, membuat dirinya menjadi sedikit luluh. Rizki lebih memilih meninggalkan Melodi dan lebih memilih masuk ke kamar mereka masih dengan situasi yang sama, pintu kamar pun menjadi korban kedua setelah tadi pintu masuk apartemen menjadi korban pertama kemarahannya.


Dengan kesal Rizki langsung membanting dirinya di kasur mereka. Dia berusaha untuk menutup matanya, namun lagi-lagi usahanya tak berhasil. Alhasil pria itu pun memilih duduk bersandar pada kepala ranjang mereka.


Sedangkan di luar kamar Melodi sedang mondar mandir tak jelas di ruangan tamu.


Gadis itu jadi takut untuk memasuki kamar mereka setelah tadi melihat Rizki yang begitu marah terhadapnya.


Setelah beberapa saat akhirnya Melodi memutuskan untuk masuk saja, dia akan menerima apapun yang terjadi jika Rizki nanti akan memarahinya.


Dengan hati-hati Melodi melangkah masuk setelah membuka pintu kamar mereka. Matanya bertemu dengan mata Rizki saat dirinya tak sengaja melihat ke arah tempat tidur yang ternyata Rizki juga sedang menatap kearahnya.


"Maaf." Satu kata yang berhasil di Keluarkan Melodi setelah sekian lamanya mereka saling menatap tanpa berucap.


Rizki yang mendengar itu pun akhirnya menarik nafasnya perlahan, sekedar menormalkan amarahnya.


"Tak masalah, seharusnya aku pahan dan tak membuat kamu takut seperti ini. Dia kekasihmu dan aku hanya suamimu." Ucap Rizki dengan menekankan kata pada kalimat terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2