
Baru saja Bima mau memejamkan matanya setelah menghempaskan tubuhnya di sofa, namun dirinya pun di ganggu dengan dering di ponsel miliknya. Hingga membuat pria itu urung memejamkan kedua matanya.
Setelah melihat nama si penelpon, Bima langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Bos." Sapa si penelpon.
"Hm." Gumam Bima.
"Apa Bos sudah melihat email dariku, aku sudah mengirim info yang bos minta." Ucap si penelpon.
"Apa aku harus memberitahumu juga jika aku sudah melihatnya." Ucap Bima sambil memijit pelipisnya dan dia juga tak lupa langsung mematikan telfonnya sepihak.
"Info mu itu sudah merusak mood ku." Ucap Bima dengan kesal pada ponselnya sebelum akhirnya menaruh ponsel itu dengan keras di atas meja depannya.
Namun baru saja dia ingin kembali memejamkan matanya, ponselnya itu kembali berdering. Dan itu tentu saja membuatnya bertambah kesal hingga si penelpon itu pun langsung mendapat makian keras darinya setelah dia mengangkatnya.
"Brengsek, lo udah bosan hidup yah." Ucap Bima tanpa melihat nama si penelpon itu lagi sakin kesalnya.
"Abang, ini Melodi." Ucap Melodi terkejut dari sebrang sana, sebab dia tak pernah menghadapi sang Abang seperti ini.
"Ah Ade, sorry Abang kira orang lain. Abang nggak lihat kontaknya tadi." Ucap Bima terkejut dan langsung bangkit duduk sambil merutuki dirinya sendiri karena sudah memperlihatkan sisi lain darinya pada sang adik.
"Sial!!! Kenapa nggak aku cek dulu sih." Batin Bima sambil menarik rambutnya kesal.
"Abang nggak papa? Abang marah sama siapa?" Tanya Melodi panik, karena dia tak pernah melihat sang Abang mengumpat seperti itu sebelumnya.
"Nggak sayang, tadi ada telfon nyasar yang telfon Abang terus. Makanya Abang kesal, dan Abang nggak tahu kalau ini kamu yang telfon dek. Maafin Abang yah." Ucap Bima berusaha meyakinkan Melodi agar sang adik tak mengkhawatirkan dirinya ataupun memikirkan hal tadi lagi..
"Oh syukurlah, Melodi udah panik juga. Jangan gitu lagi Bang, buat Melodi takut tahu." Ucap Melodi sambil mengelus dadanya di seberang sana.
"Iya dek, Abang janji nggak lagi. Oh yah, kamu telfon Abang ada apa?" Tanya Bima sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sampai lupa, besok Abang datang ke rumah Melodi yah sore gitu boleh pas Melodi pulang kampus. Soalnya besok semua keluarga ada kumpul di sini." Ucap Melodi.
"Siap dek, emang kalian lagi ada acara apa sampai semua pada ngumpul." Tanya Bima.
"Nggak ada, cuman mau ngumpul aja Bang. Awas jangan sampai nggak datang loh."
"Iya sayang, Abang pasti datang."
"Ya udah Melodi tutup yah, mau makan soalnya lapar." Ucap Melodi tanpa mendengar ucapan Bima lagi, dirinya langsung memutus sepihak sambungan telfon mereka.
"Sayang, siapa yang telfon. Pake sayang segala?" Tanya Larissa sambil berjalan mendekati Bima dan langsung duduk di samping pria itu.
"Melodi Sa, ngundang besok kerumahnya. Kamu mau ikut?" Tanya Bima sambil merebahkan kembali dirinya di sofa dengan Larissa yang duduk di dekat pahanya.
"Nggak yang, aku kan ada kuliah pagi sampai siang. Sore nya baru pulang." Ucap Larissa bukan hanya itu alasannya saja, tapi dia belum siap bertemu dengan Papinya Bima. Sebab dia pernah bertemu dengan orang tua itu ketika sedang berpelukan terakhir kalinya bersama Rizki di cafe pria itu waktu itu. Dia tak mau nantinya karena hal itu, Papinya Bima nanti tak akan mengijinkan Bima bersamanya setelah itu.
"Baiklah." Ucap Bima tanpa berniat membujuk Larissa lagi.
"Sendiri." Ucap Larissa santai.
"Oh."
"Tanda merah di leher kamu ko nggak hilang-hilang bekasnya seperti baru. Perasaan semalam kita tak melakukannya kan?" Ucap Bima sambil mengusap tanda merah di leher Larissa.
"Ah ak aku nggak tahu, aku bahkan tak melihatnya." Ucap Larissa sedikit terkejut.
"Sudahlah, mungkin kulitmu sedang sensitif." Ucap Bima santai.
"Yah mungkin saja." Kata Larissa cepat.
"Oh iya sayang, gimana perkembangan pembagunan cafenya?" Ucapnya lagi sambil bertanya, sengaja agar fokus Bima beralih dari tanda yang berada di di lehernya itu.
__ADS_1
"Hampir rampung." Ucap Bima masih mengelus tanda di leher Larissa walau wanita itu selalu saja memegang tangannya mencoba mengalihkan tangan itu dari lehernya, namun Bima tetaplah Bima. Dia tak suka ada yang mengganggu kesenangannya.
"Tadi kamu ke mana aja waktu di mall?" Tanya Bima membuat Larissa akhirnya mengarang bebas, karena sejatinya dia tak ke mall hari ini.
"Em, makan sambil jalan-jalan saja. Terakhir di tokoh pakaian." Jelas Larissa meyakinkan.
"Oh yah."
"Iya sayang, kamu nggak mau mandi? Biar aku siapkan air hangatnya ini sudah sore." Ucap Larissa sambil bangkit, dia tak mau Bima terus bertanya padanya soal kegiatannya hari ini terlalu jauh.
"Yah kamu benar sayang, sebaiknya aku mandi. Tubuhku begitu lengket sekarang." Sahut Bima sambil langsung berdiri dan membuka bajunya dan dengan sigap Larissa langsung mengambilnya.
"Iya sayang, ayo." Ajak Larissa dan langsung melangkah duluan ke kamar mereka.
***
"Sar bagaimana? Cantik kan Gaunnya?" Tanya Anzas saat dia memberikan Gaun yang akan Sarah kenakan untuk hari pernikahan mereka seminggu lagi itu. Karena memang Sarah tak ikut andil sedikitpun dalam penyiapan pernikahan mereka.
"Aku sudah bilang, aku nggak mau nikah sama kamu Za. Kamu mengerti tidak sih." Ucap Sarah masih belum menyetujui pernikahan mereka.
"Sudah ku katakan setuju atau tidak, kamu akan tetap menjadi pengantinku. Cepat kenakan aku mau lihat." Ucap Anzas tegas tanpa mau di tolak sedikitpun.
"Ayo, Mami juga mau melihatnya dia sudah di depan sekarang." Ucap Anzas tak berselang lama sang Mami langsung muncul dari balik pintu kamar Sarah.
"Hay." Ucap Mami Anzas masih terlihat tak tersenyum sedikitpun.
"Hay Mi, kenalin ini Sarah calon istriku." Ucap Anzas membuat sang Mami sedikit bingung, pasalnya yang dia tahu Melodi adalah pacar sang anak. Namun kini Anzas malah memperkenalkan dirinya dengan wanita lain yang belum ia kenal sebelumnya. Bahkan pernikahan ini pun baru dua hari yang lalu Anzas memberitahukan mereka setelah undangan sudah di sediakan dahulu. Bahkan izin menikah saja tak mereka dapati dari Anzas.
"Mami kira calon istrimu itu Melodi Za, ada apa ini? apa kau bisa menjelaskan semuanya?" Ucap sang Mami menatap tajam ke arah Anzas, sedangkan Sarah hanya bisa menghembuskan nafasnya saja.
Malu sudah pasti, inilah juga salah satu alasannya Sarah kenapa dia tak menyetujui pernikahan ini. Dia bahkan tak pernah bertemu kedua orang tua Anzas, dan apa ini. Anzas malah meminta menikah dengannya bahkan persiapan pernikahan pun sudah rampung namun kedua orang tua dari Anzas bahkan tak tahu apapun sebelumnya.
__ADS_1