Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Tega


__ADS_3

"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang." Ucap Rizki ketika Melodi baru memasuki pintu apartemen mereka.


Melodi yang mendengar itu langsung saja menuju kamar mereka tanpa memperdulikan sedikitpun ucapan Rizki yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu mereka.


"Kenapa diam Mel, dari mana saja kamu sampai pulang jam segini." Ucap Rizki sedikit emosi. saat ini dia sudah menyusul Melodi di kamar mereka. Rizki begitu marah besar saat ini karena Melodi yang tak ada kabar dari pulang kuliah sampai kini dirinya baru pulang hampir jam sebelas malam ini.


Melodi sama sekali tak menghiraukan perkataan Rizki sedikitpun. Gadis itu malah berlalu kembali meninggalkan Rizki menuju kamar mandi.


Entahlah hari ini Melodi begitu lelah walau hanya sekedar menjawab pertanyaan Rizki pun dia tak mampu.


Rizki yang melihat Melodi tak merespon dirinya pun dengan kesal dia mondar-mandir di kamar itu sambil menunggu Melodi keluar kamar mandi.


Hingga hampir satu jam lamanya Melodi akhirnya baru keluar kamar mandi dengan wajah datarnya, tak sedikitpun dia melihat pada Rizki yang sudah setia menunggunya pas di depan pintu itu. Dengan santai Gadis itu melewati Rizki begitu saja, entahlah ada apa dengannya.


*Flashback On*


Dia Kenapa Ger?" Tanya Melodi pada Gerald sambil menunjuk Rizki dengan matanya.


"Nggak tahu dari datang mukanya udah kaya gitu. Lagi halangan kali." Ucap Gerald sekenanya.


"Aneh." Ucap Melodi.


"Apa lagi berantem sama Larisa. Ah bodoh ah, ngapain juga ngurusin mereka." Batin Melodi.


Tak lama kemudian Dosen mereka pun datang karena sudah jam kelasnya. Kuis berjalan lancar dan semua mahasiswa begitu lega akan hal itu saat kuis itu selesai.


Tak terkecuali juga bagi Melodi dan kawan-kawan.


Sekilas Melodi melihat Rizki dan mata mereka pun saling bertemu namun Rizki langsung membuang pandangannya kepada Larisa dan mengajaknya untuk pulang bersama.


Melodi yang merasa di abaikan pun akhirnya berinisiatif untuk menelfon Anzas namun setelah keluar saja pikirnya.


Rizki dan Larisa pun keluar terlebih dahulu tanpa menyapa sedikitpun pada Melodi juga Saga dan Gerald.


"Kenapa tu anak?" Ucap Saga tak paham.


"P-M-S kali, kita jadi nggak di anggap." Ucap Gerald.


"Nanti juga baik sendiri, btw aku cabut duluan yah. Udah di jemput Anzas di luar." Ucap Melodi, karena tadi dia mengurungkan untuk telfon dan memutuskan hanya mengirim pesan saja pada Anzas.


Melodi pun langsung meninggalkan mereka tanpa mendengar persetujuan Saga dan Gerald lebih dulu.


Melodi sempat melewati Rizki dan Larisa di lobi karena Larisa sedang mengobrol dengan temannya dan Rizki dengan setia menunggu gadis itu. Gadis itu tak menghiraukan mereka sedikitpun dia tetap melangkah dengan pasti menuju parkiran dimana Anzas telah menunggunya.


Rizki yang melihat itu jadi bertambah lah kekesalannya hingga dia tak menghiraukan Larisa lagi, pria itu pun berjalan menuju parkiran dan tak di sadari oleh Larisa sendiri karena asik dengan temannya.


Rizki melihat Istrinya itu di jemput oleh orang lain membuat dia menjadi kesal dan tak sengaja memukul pohon di samping dirinya sakin kesalnya. Di tatapnya Mobil itu hingga tak terlihat lagi, kemudian pria itu pun menuju mobilnya dan mengendarainya menuju apartemen mereka. Bahkan dirinya telah lupa dengan Larisa saat ini.

__ADS_1


Di tempat lain Tepatnya di mobil Anzas, Melodi sedang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil itu sambil menutup kedua matanya memikirkan Rizki tadi.


"Kenapa sayang, ngantuk yah?" Ucap Anzas sambil mengusap kepala Melodi dengan satu tangannya yang bebas dari setir mobil.


"Lapar." Ucap Melodi asal.


"Masakanku masih ada, biar nanti aku panaskan." Ucap Anzas dan Melodi hanya menganggukkan kepalanya saja menanggapi ucapan Anzas tadi.


"Ko cepat nyampe Be?" Tanya Melodi.


"Iya tadi langsung kemari soalnya, eh kebetulan kamu chat." Jelas Anzas.


Setelah menempuh perjalanan yang tak begitu jauh itu, akhirnya kini mereka telah berada di apartemen yang pagi tadi Melodi datangi.


"Sayang tunggu sebentar, aku panaskan dulu nasinya." Ucap Anzas sambil menuju dapur miliknya.


Melodi kemudian merebahkan tubuhnya dia sofa milik Anzas sambil menatap plafon apartemen itu sambil membayangkan sikap Rizki tadi, entah mengapa sikap Rizki barusan begitu mengusik dirinya saat ini.


"Ada apa dengan kamu ki, apa aku ada berbuat salah." Batin Melodi.


"Sayang, aku keluar sebentar yah. Kalau udah bunyi tolong kamu keluarin nasinya yah." Ucap Anzas sambil berlalu keluar apartemen.


Tak berselang lama Rizki menelfon Melodi. Saat melihat idname Rizki, dengan semangat Melodi langsung mengangkatnya.


"Halo ki." Ucap Melodi.


"Dimana?" Tanya Rizki.


"Rumahmu di sana Mel." Ucap Rizki dingin.


"Mampir sebentar doang." Ucap Melodi


"Kamu itu istri aku Mel, kenapa pulang ke tempat orang lain. Laki-laki lagi, dimana harga diri kamu sebagai seorang istri. Murahan tahu Mel." Ucap Rizki sakin emosinya dia tak memikirkan ucapannya dapat menyakiti Melodi atau tidak.


Melodi yang mendengar itu langsung memutuskan panggilannya sepihak dan juga langsung menonaktifkan ponsel miliknya. Dia begitu tak menyangka Rizki bisa berkata se kasar dan setega itu pada dirinya. Tak terasa bulir bening pung membasahi pipinya, sebagai bukti hatinya telah tersakiti dengan ucapan Rizki tadi. Melodi pun melangkah ke dapur milik Anzas untuk mengeluarkan makanannya karenya bunyi alat itu telah terdengar.


Dengan masih setia air matanya menemani Melodi saat wanita itu kini telah duduk di kursi di meja makan. Saat mendengar bunyi Pintu terbuka dengan buru buru Melodi menuju wastafel untuk hanya sekedar membasuh wajahnya menyamarkan air matanya dari pandangan Anzas nanti.


"Sayang sudah yah, aku ke bawa ambil pesanan ini." Ucap Anzas sambil menunjukan dua minuman copi kesukaan mereka berdua.


"Udah aku pindahin nasinya di piring masing-masing Be." Ucap Melodi.


"Yah, padahal udah rencana makan sepiring berdua lagi. Eh tunggu tunggu, itu kenapa matanya bengkak. Kamu menangis sayang." Ucap Anzas saat sadar akan kedua mata Melodi yang bengkak di tambah juga mukanya yang memerah.


"Enggak Be, itu tadi nggak sengaja kena uapnya nasih ini. Makanya matanya kepedesan, aku gosok lah malah jadi kaya gini." Dusta Melodi.


"Ko bisa begitu yah, ya sudah sayang tapi udah nggak papa kan. Atau masih sakin?" Tanya Anzas walau dia sedikit bingung dengan penjelasan Melodi tadi.

__ADS_1


"Udah enggak. Kita makan yuk, lapar aku." Ucap Melodi.


"Ayo sayang." Ucap Anzas, kemudian mereka makan dengan Anzas yang banyak bercerita hingga makanan mereka tandas masing-masing.


"Enak Be, masakan kamu." Ucap Melodi jujur.


"Udah tahu kok, kalau mau bisa sering-sering aku masakin. Mau?" Ucap Anzas.


"Boleh." Ucap Melodi.


Keduanya pun membersihkan dapur Anzas setelah acara makan selesai.


"Be aku langsung balik yah, ngantuk soalnya." Ucap Melodi.


"Kalau ngantuk tidur aja dulu." Ucap Anzas.


"Nggak usah, di apartemen aku aja." Ucap Melodi.


"Aku antar yah kalau gitu." Ucap Anzas menawarkan diri.


"Aku kan bawa mobil sendiri, nanti repot besok kalau mau kekampus." Ucap Melodi.


"Ya udah tapi hati-hati nyetirnya." Ucap Anzas.


Setelahnya Melodi pun Meninggalkan apartemen itu namun bukan tujuan pulang ke apartemen Rizki namu gadis itu mengarahkan mobilnya menuju mall terbesar di kota ini berhubung waktu masih siang hari pikirnya dan dia juga malas bertemu Rizki saat ini.


Melodi menghabiskan waktunya hampir setengah hari full di mall itu sendirian mulai dari nonton bioskop, pergi ke tokoh buku, sampai hanya sekedar berjalan santai di pusat pakaian wanita atau sekedar nongkrong sendiri di tempat makan di mall itu.


Hingga tak terasa waktu kini sudah menunjukan pukul delapan malam baru Melodi keluar dari mall itu dengan sekantong plastik cemilan yang dia beli di tadi.


Gadis itu pun memutuskan untuk pulang karena dirinya pun sudah cukup capek sekarang.


Namun saat tiba di parkiran apartemen mereka mendadak Melodi mengurungkan niatnya untuk pulang. Gadis itu pun memacu kembali mobilnya menuju taman yang berada tak jauh dari apartemen itu hanya sekedar untuk menghilangkan ucapan Rizki yang tak jua dia bisa lupakan itu.


Hingga pukul setengah sebelas malam barulah Melodi bergegas untuk pulang karena taman itu pun mulai sepi sekarang.


*flashback Off*


"Mel, maafkan aku." Ucap Rizki mengikuti langkah Melodi menuju lemari pakaian mereka.


Melodi tetap diam membisu, tak ada raut apapun yang dia tunjukan di wajahnya.


"Mel aku minta maaf, tolong jangan begini. Jangan diamkan aku Mel. Maafkan atas ucapku Mel Chéri." Ucap Rizki sambil memeluk Melodi dari belakang saat Melodi mau membuka lemari pakaian.


Gadis itu hanya diam membisu tak bergerak sedikitpun, dia tak menolak atau menerima pelukan itu. Hanya air mata yang menetes di pipinya saja yang menjawab ucapan Rizki tadi.


"Mel jangan begini, jangan menangis maafkan aku." Ucap Rizki ketika dirinya merasakan ada cairan hangat yang sedang membasahi tangannya disertai tubuh bergetar Melodi kini.

__ADS_1


"Mel ak-..." Ucap Rizki lagi namun langsung di potong Melodi.


"Tinggalkan wanita Murahan ini Ki...." Ucap Melodi sambil Menyeka air matanya.


__ADS_2