
Setelah kepulangan Saga dan Gerald, kini Rizki sendiri sedang duduk di ruang tamu. Sedang mempersiapkan diri sejenak untuk bertemu Melodi. Istrinya itu, sejak kepulangannya tadi dari apartemen Anzas sampai sekarang tak kunjung keluar kamar.
Entah apa yang sedang wanita itu lakukan, hingga tak kunjung keluar biar sekali.
Setelah lama berpikir, akhirnya Rizki memutuskan untuk menekan egonya. Memilih masuk kamar, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Sebab, dia tak suka situasi ini. Situasi dimana mereka seperti orang lain.
Persetan dengan saran Gerald yang memintanya untuk mendiamkan Melodi barang sejenak, karena sungguh dia ternyata tak bisa melakukan itu.
Saat baru saja memasuki kamar, Rizki langsung melihat Melodi yang sedang tertidur lelap dengan ponsel di tangannya. Rizki pun mendekati Melodi, mengambil ponsel dari tangan sang istri dan menyimpannya. Setelah itu Rizki kembali menatapnya lebih dekat.
"Hoh, aku nggak bisa diamkan kamu lebih lama sayang." Ucap Rizki sambil berbaring memeluk erat Melodi hingga membuat istrinya itu terbangun karena dekapannya.
"Mas." Ucap Melodi saat membuka matanya dan bertatapan dengan Rizki sangat dekat.
"Ya sayang, maaf kamu kaget yah. Tidur lagi saja kalau masih ngantuk, Mas hanya ingin peluk kok." Ucap Rizki sambil mencium kening Melodi.
"Mas nangis?" Tanya Melodi saat dia merasakan ada setetes air yang mengenai pipinya saat Rizki mencium keningnya lama. Namun suaminya tak menjawab perkataannya dan malah membawa tubuhnya lebih erat dalam dekapan pria itu.
"Aku minta maaf soal kejadian tadi Mas." Ucap Melodi, dia benar-benar merasa bersalah karena kejadian pagi tadi. Kalau saja dia lebih tegas dengan Anzas, maka suaminya tak akan berbuat nekat seperti tadi. Yah, dia menyadarinya.
"Nggak, kamu nggak salah sayang. Mas yang salah karena nggak bisa nahan diri. Mas terlalu cemburu, Mas nggak bisa lihat kamu di sentuh orang lain. Maafkan Mas sayang, Maafkan Mas." Ucap Rizki membuat Melodi tertegun.
"Nggak, mungkin aku salah dengar. Nggak mungkin Mas Rizki cemburu. Kamu salah dengar Mel." Batin Melodi meyakinkan diri, jika apa yang dia dengar itu salah.
"Mas cemburu kamu dekat dengan Anzas sayang, Mas cemburu kamu lebih mencintainya di banding Mas. Mas cemburu, kamu membelanya tadi." Ucap Rizki kembali membuat Melodi tertegun, dia tak salah dengar karena suaminya mengucapkan itu berulang kali.
"Ce cemburu, Mas cemburu?" Ucap Melodi masih tak percaya jika seorang Rizki cemburu melihatnya dekat dengan Anzas, bukankah pernikahan mereka hanya paksaan. Tak mungkin rasa cemburu itu timbul, jika tak ada rasa. Apa Mas Rizki..., Pikir Melodi namun tak mau melanjutkan, takut saja jika salah mengartikan sendiri.
__ADS_1
Melodi masih mengingat jelas, Rizki begitu mencintai Larisa. Tak mungkin jika secepat itu, Rizki berpaling padanya. Ini baru dua bulan pernikahan mereka, tak mungkin cinta timbul secepat itu bukan.
Yah, memang dia akui, Rizki selalu memperlakukan dirinya baik bahkan sangat baik. Tapi itu bukan berarti Rizki mencintainya kan, bisa saja pria itu bersikap baik hanya karena menghormati pernikahan mereka dan itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang suami saja. Pikir Melodi.
"Yah Cemburu, cemburu karena Mas sayang sama kamu Mel. Mas cinta sama kamu sayang." Ucap Rizki lagi membuat Melodi mematung.
"Mas bercanda, itu nggak mungkin kan." Ucap Melodi seolah apa yang dia dengar tak masuk dalam pikirannya.
"Kenapa nggak mungkin, apa Mas salah jika mencintai kamu Mel." Ucap Rizki kemudian dia menceritakan semua kepada Melodi, cerita tentang awal mula dia menyukai istrinya. Bahkan alasan berhubungan dengan larisa demi Melodi pun semua Rizki ceritakan. Dia tak mau lagi, menyimpannya sendiri. Dia mau Melodi tahu, betapa pentingnya Melodi bagi dirinya.
"Mas sangat, sangat mencintai kamu Mel. Maaf jika Mas pengecut baru mengatakannya sekarang." Ucap Rizki menutup ceritanya sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Melodi dan memeluknya erat, seakan takut Melodi akan pergi darinya.
Sementara Melodi sejak tadi dia hanya diam, terkejut dengan ungkapan Rizki tentang perasaannya. Sebab dia tak pernah membayangkan jika, sahabat yang kini sudah resmi menikahinya itu sejak awal sudah menaruh hati padanya.
"Yah kamu memang pengecut." Hanya satu kalimat itu yang meluncur bebas dari mulut Melodi. Entahlah, dia harus senang atau apa. Karena sungguh, dia begitu terkejut dengan hal ini.
"Ayo, katakan sekali lagi." Ucap Melodi sambil menatap Rizki yang juga sedang menatapnya.
"Aku memang pengecut." Ucap Rizki.
"Bukan itu."
"Lalu apa?" Tanya Rizki tak paham.
"Itu, perasaanmu padaku." Ucap Melodi sambil menatap lekat Rizki dengan tatapan seolah sedang mengejek pria itu.
"Aku a aku mencintaimu Mel." Ucap Rizki gugup karena di tatap seperti itu dari Melodi.
__ADS_1
"Apa? Aku nggak denger." Ucap Melodi sedikit menjahili pria pengecut di hadapannya itu.
"Aku mencintaimu Melodi Dwi Tirta Kusuma, sangat mencintaimu." Ucap Rizki lagi dengan suara yang begitu jelas agar Melodi mendengarnya dengan baik, namun jika Melodi memintanya untuk mengucapkannya kembali. Maka akan dengan senang hati dia akan mengulanginya berulang kali.
"Pengecut." Ucap Melodi sambil memukul kuat lengan Rizki yang sedang berbaring di sebelahnya itu.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Rizki ucapkan, karena dia akui dirinya memang pengecut.
"Bodoh." Ucap Melodi kemudian dia menarik tengkuk Rizki dan langsung mencium ganas bibir suaminya itu, namun aksinya itu tak berlangsung lama karena dia malah melepaskan ciuman itu ketika Rizki mau membalasnya.
Tadinya Rizki hanya diam dengan perlakuan tiba-tiba Melodi, karena begitu terkejut ini kali pertamanya Melodi menciumnya lebih dulu.
"Kenapa?" Tanya Rizki.
"Itu hukuman mu karena sudah bodoh." Ucap Melodi membuat Rizki mengerutkan keningnya bingung.
"Bodoh?" Tanya Rizki.
"Yah bodoh, bodoh karena memendamnya begitu lama dan membiarkan orang lain mengisi hatiku. Itu apa namanya kalau bukan bodoh? Sudah pengecut bodoh lagi." Ucap Melodi kesal dengan pria di hadapannya ini.
Ah kenapa dia jadi tak malu lagi sekarang dengan Rizki, ketika tahu perasaan pria itu terhadapnya. Melodi jadi merasa dirinya kembali seperti waktu mereka belum menikah dulu. Waktu dimana tak ada perasaan canggung di antara keduanya, dan dia sekarang merasa kembali seperti sebelumnya.
"Yah aku memang bodoh." Terima Rizki.
"Yah memang kamu bodoh, sangat bodoh. Kau tahu kenapa?" Ucap Melodi.
"Karena aku tak meng..." Ucap Rizki terpotong karena Melodi langsung menyela ucapannya itu.
__ADS_1
"Karena kamu sudah membuatku mengubur perasaanku pada si bodoh yang ada di hadapanku saat ini, dan kau membuatku lebih memilih membuka hati pada pria pemberani yang tadi kamu lukai pagi tadi. Kamu membiarkan aku melupakan hatiku yang sempat kamu curi, di ambil dan di genggam sama pria baik yang sudah aku sakiti hatinya dengan menikah dengan pria bodoh sepertimu. Dan paling utama kamu sudah mematahkan hatiku karena memilih berhubungan dengan orang lain. Kau pria bodoh, pria pengecut yang sudah membuat rumit semuanya. Bodoh memang bodoh kamu." Ucap Melodi panjang lebar membuat Rizki membeku mencoba mencerna setiap kalimat demi kalimat yang Melodi utarakan kepadanya.