Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Bertemu


__ADS_3

"Uggh." Gumam Melodi di tengah-tengah tidurnya saat merasakan sesuatu.


"Aww." Melodi meringis saat merasakan ada yang menggigit gigit pelan lehernya membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.


"Mas, sedang apa?" Ucap Melodi sambil mendorong kepala Rizki yang sedang bertengger di celah lehernya.


"Hehehe, maaf sayang. Lanjut tidur lagi gih." Rizki berkata sambil cengengesan tanpa dosa.


"Jam berapa ini, dan kenapa leherku di gigit Mas?" Tanya Melodi masih penasaran dengan aktifitas Rizki tadi.


"Jam lima, becanda doang tadi. Sakit yah, sini aku..." Ucap Rizki.


"Nggak usah." Ucap Melodi memotong perkataan Rizki karena kini dia paham apa yang Rizki lakukan tadi seperti waktu di cafe semalam.


"Ya udah tidur lagi aja."


"Hmm."


Melodi pun kembali menutup matanya karena memang dia masih sangat mengantuk, apalagi semalam mereka tidur hampir jam satu lewat.


"Karya yang sempurna selesai." Batin Rizki sambil menatap leher Melodi yang tadi dia buat tanda kepemilikan di sana.


"Sekarang waktunya prepare yang ke dua." Ucap Rizki setelah memastikan Melodi telah kembali tidur nyenyak.


Pria itu pun perlahan turun dari tempat tidur dengan hati-hati setelah itu dia langsung mengambil semua foto-foto pernikahan mereka yang belum sempat mereka pajang itu, dan membawanya keluar kamar mereka.


"Hay tampan, sekarang posisimu di ganti sama yang baru yah." Ucap Rizki sambil menurunkan bingkai fotonya yang berada diruang tamu kemudian dia menggantikannya dengan foto pernikahannya dengan Melodi.


"Nah sempurna." Ucap Rizki berkata setelah memasang fotonya dan Melodi.


"Ini juga, harus di tempat yang strategis biar Anzas melihatnya dan mau berlapang dada melepas Melodi." Ucap Rizki kepada bingkai foto bersama keluarganya juga keluarga Melodi.


"Ahah, satu kiri dan satu kanan. Adil kan." Rizki berkata sambil meletakan foto keluarga masing-masing saat pernikahan mereka di kiri dan kanan meja tv mereka.


"Foto sudah aman, tinggal apa lagi yah?" Ucap Rizki sambil melihat hasil tataannya.


"Oh iya Tante Mia"


Pria itu langsung menghubungi tantenya Melodi.


"Halo, Pagi Tante." Ucap Rizki ketika sambungan telfon mereka terhubung.


"Hay sayang, tante udah di jalan nih sebentar lagi sampai." Ucap Tante Mia dari seberang sana.


"Oke tan, hati-hati yah. Dan maaf udah ngerepotin tante."


"Nggak masalah sayang."


Setelah itu mereka pun mengakhiri panggilan telpon itu bersamaan dan Rizki langsung membereskan ruang tamu mereka sebelum tamunya datang nanti.


Rizki sengaja mengundang sang Tante agar bisa menemani Melodi nanti sehingga dia bisa berbicara berdua saja dengan Anzas nantinya. Dia tak mau melibatkan Melodi dalam obrolan mereka, karena takut Melodi tak tahu harus menempatkan dirinya nanti bagaimana. Dia tak mau membuat gadis itu salah tingkah ketika hanya mereka bertiga saja.

__ADS_1


Tepat pukul jam enam pagi, seperti dugaan Rizki kini Anzas sudah berada di depan apartemennya sebelum sang tante tiba.


"Pagi Bro." Ucap Rizki menyambut tamunya sekaligus saingannya itu.


"Pagi." Ucap Anzas Dingin.


"Ayo masuk."


"Selamat Pagi, eh ada tamu juga." Ucap Tante Mia dari arah belakang Anzas membuat kedua pria itu menoleh ke arah sumber suara.


"Pagi Tan, ah iya ini temannya Melodi Tante." Ucap Rizki membuat Anzas menatap tak suka pada Rizki yang seenak jidatnya menyebut dirinya sebagai teman Melodi.


"Pagi Tante." Ucap Anzas.


"Pagi juga sayang."


"Tante tumben pagi-pagi udah kesini." Ucap Rizki basa basi sambil sekilas melihat Anzas dengan ekor matanya saat menatap Tante Mia.


"Tante bawain oleh-oleh buat Ibu kamu, kalian mau pulang kan hari ini ke rumah kamu?"


"Iya, Makasih ya tan. Aih sampai lupa, ayo kita masuk dulu. Sini aku bawain tante."


Rizki pun mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk kedalam apartemen mereka, sambil dirinya megambil alih bawaan sang Tante.


"Istrimu mana Ki?" Tanya tante Mia ketika mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Masih tidur kayanya Tan, tunggu aku panggilkan yah." Rizki langsung beranjak untuk memanggil Melodi.


"Oh iya, ada perlu sama Melodi yah. Siapa namamu sayang." Tanya tante Mia pada Anzas ketika Rizki sudah tak bersama mereka lagi.


Anzas yang sedang fokus melihat bingkai foto pernikahan yang baru Rizki pasang tadi sedikit mengerutkan keningnya karena semalam foto itu tak ada disana. Sakin asiknya dengan pikirannya tentang itu, sampai-sampai dia tak sadar Tante Mia sedang bertanya pada dirinya.


"Foto yang bagus bukan, fotografernya tante sendiri loh yang pilihkan." Ucap Tante Mia saat sadar dengan tatapan Anzas, kemudian tante Mia berdiri melihat bingkai foto itu membuat pandangan Anzas terhalang, dan langsung menyadarkan pria itu.


"Siapa nama kamu sayang, kita belum sempat kenalan." Tante Mia berkata sambil kembali duduk.


"Anzas Tante."


"Tante Mia, tumben datangnya pagi sekali." Ucap Melodi sambil berjalan dan mengikat tinggi rambutnya, membuat fokus Tante Mia dan Anzas langsung beralih pada Melodi yang baru datang bersama Rizki di sampingnya.


"Be." Ucap Melodi ketika matanya tertuju pada sosok yang dia kenali.


Anzas yang sedang fokus melihat pada Leher Melodi pun sampai tak sadar dia sedang di sapa gadis itu.


"Kamu ini, masa sudah pagi begini baru bangun. itu juga pakai di bangunin segala." Ucap Tante Mia ketika Melodi sedang berdiri terpaku sambil bertatapan dengan Anzas.


"Eh, sorry tan. Semalam tidurnya agak kemalaman." Ucap Melodi sedikit gugup saat dia merasa Anzas sedang menatapnya dengan intens.


"Apa Mereka..." Batin Anzas tak sanggup melanjutkan lagi perkataannya.


"Ya udah, kalian duduk saja kalau gitu. Tante buatkan sarapan buat kita semua."

__ADS_1


"Biar aku bantu Tan." Ucap Melodi sambil berjalan mengikuti sang Tante.


"Berhasil." Batin Rizki sambil sedikit tersenyum ketika dia melihat tatapan Anzas yang terfokus pada leher Melodi.


"Mau kopi?" Tawar Rizki seolah tak ambil pusing dengan tatapan dingin yang Anzas suguhkan.


"Tidak perlu, aku ingin bicara denganmu. Berdua saja." Ucap Anzas serius setelah sesaat dia memutuskan pandangannya dari Melodi ketika mendengar ucapan Rizki.


"Baiklah, kita bisa sambil mengopi di restoran apart di bawah." Ucap Rizki kemudian langsung di angguki Anzas.


"Sayang." Panggil Rizki sengaja di hadapan Anzas.


"Ya Mas."


"Mas!" Batin Anzas karena kaget dengan sebutan Melodi pada Rizki. "Sudah sejauh itukah." Lanjutnya lagi ketika dia tak sengaja kembali melihat Tanda yang Rizki buat subuh tadi di leher Melodi saat gadis itu menghampiri Rizki karena panggilannya pria itu tadi.


Tanpa sadar Anzas langsung menghembuskan nafasnya pelan dan menutup matanya sejenak, demi menghalau kecewanya yang tiba-tiba saja seketika hinggap.


"Kalau udah selesai sarapannya, nanti kamu telfon yah. Mas mau ngobrol sebentar sama Anzas di restoran bawah." Ucap Rizki.


Melodi yang tak tau harus bersikap apa akhirnya hanya menganggukkan kepalanya saja, tanpa sanggup menatap ke arah Anzas sedikitpun.


Malu, satu rasa yang sekarang hinggap pada dirinya saat ini. Yah Melodi malu bahkan untuk menatap pria itu saja, dia tak punya keberaniannya.


"Ayo Bro." Ajak Rizki sambil beranjak dari duduknya dan langsung di ikuti Anzas.


Tanpa di duga saat melewati Melodi, Anzas menyempatkan mengusap kepala gadis itu tanpa di ketahui Rizki yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Nggak perlu khawatir, aku nggak papa kok." Ucap pria itu sebelum benar-benar meninggalkan Melodi.


Melodi yang melihat kepergian kedua pria itu pun langsung terduduk lemas dan bersandar di kursi sofa.


"Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja." Ucap Melodi setelah itu langsung menghembuskan nafasnya berat.


Sementara kini Rizki dan Anzas sudah berada di Restoran bawah. Kemudian mereka memesan kopi untuk menemani obrolan mereka.


"Kamu tahu kan, aku sama Melodi masih dalam status pacaran kan?" Tanya Anzas membuka obrolan mereka.


"Yah aku tahu, tapi kamu juga sudah tahu kan sekarang aku sama Melodi sudah sah jadi suami istri kan?" Ucap Rizki tak mau kalah setelah Anzas seolah mengingatkan dirinya soal hubungan pria itu dengan istrinya.


Anzas yang mendengar itu langsung tersenyum tak suka.


"Cih." Ucap Anzas.


"Maksud kamu apa menikahinya, padahal kamu tahu dia masih berhubungan denganku." Lanjutnya lagi.


"Sepertinya aku tak perlu menjelaskan lagi, bukannya istriku sudah mengatakan semuanya bukan." Rizki berkata santai berbeda terbalik dengan Anzas yang terlihat sudah mulai emosi.


"Tapi, mungkin saja itu sudah kehendak tuhan. Karena kita memang Berjodoh mungkin." Lanjutnya lagi.


Mendengar itu membuat Anzas langsung mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya.

__ADS_1


"Akan aku rebut kembali yang telah kau ambil dariku Bro, dan aku rasa mencuri milik orang itu tidak bagus kau tahu itu bukan." Ucap Anzas sedikit emosi.


__ADS_2