
Setelah tadi mendengar ucapan Dokter, Gerald langsung menghubungi keluarga Rizki untuk meminta izin agar Rizki di pindahkan ke rumah sakit kota mereka dengan alasan yang tadi dikemukakan Dokter padanya.
Berhubung Melodi yang belum sadarkan diri, wanita itu di angkut menggunakan mobil rujukan dari rumah sakit. Sama-sama di tangani Dokter. Sementara Gerald setia mendampingi Melodi, dan Rizki yang berada di mobil lainnya. Takut saja jika Melodi sadar dan tak ada dia di sisinya.
Setelah kurang lebih perjalanan yang memakan waktu dua jam karena memang menggunakan mobil rujukan rumah sakit maka jalannya pun di mudahkan hingga sampai lebih awal.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata keluarga dari Rizki juga Melodi sudah tiba lebih dulu di sana Menyambut kedatangan mereka.
Sementara Gerald dia menuntun Melodi yang berjalan di belakang brankar Rizki yang sedang di dorong masuk rumah sakit menuju ruangan yang sudah di siapkan untuk pria itu.
Melodi sudah sadar sejak tadi, namun dia menjadi irit bicara dan hanya tangis yang setia menemani. Hingga tubuhnya terlihat sangat lemah dalam papahan Gerald.
"Sayang." Panggil Mami Eka mendekati Melodi saat sang menantu sudah di bawa masuk dalam ruang tindakan.
Sementara Ibu Rizki nampak sedang ditenangkan oleh Ayah mertua Melodi, Wanita paru baya itu nampak menangis tersedu sampai-sampai Melodi pun tak bisa iya tenangkan kerena beliau sama-sama shock nya sama sepertu sang menantu.
"Mami, suamiku Mi. Hikz hikz hikz." Ucap Melodi dan dia langsung berhamburan dalam pelukan Sang Mami yang kini sudah membawanya duduk.
"Sabar sayang, suami kamu akan baik-baik saja." Ucap Mami Eka tak sanggup melihat kerapuhan sang putri.
"Tapi kata dokter.."
"Ya Sayang Mami tahu, kami sedang mengusahakan untuk mendapatkan pendonor untuk suamimu secepatnya. Kamu harus sabar sayang, Rizki pasti baik-baik saja." Kata Mami Eka, dengan mengusap air matanya sediri. Beliau juga khawatir dengan Rizki, apalagi sangat sulit mendapatkan pendonor jantung secepat mungkin.
Saat mereka sedang Dalam kekalutan, Di ruang tindakan kini nampak kepanikan terjadi.
"Sus, ada apa. Ada apa dengan anak saya?" Tanya Ayah Gunawan dengan cemasnya saat melihat suster yang hilir keluar masuk masuk ruangan sang putra dengan kepanikan.
"Maaf, kesadaran pasien menurun. Nanti akan di jelaskan Dokter. Saya permisi." Ucap Sang Suster setelah itu beliau berlalu pergi dengan cepat.
Sementara semua keluarga jadi panik mendengar itu, Ibu Rizki bahkan sampai tak sadarkan diri setelah mendengar hal itu.
Melodi, jangan di tanya tubuhnya bagaikan tak bertulang. Hingga untuk tak sadarkan diri kembali pun sudah tak mempan lagi sepertinya.
"Kamu nggak boleh ninggalin aku By, bagaimana aku dan Sky nantinya tanpa kamu By. Aku nggak sanggup kamu tahu itu By." Lirih Melodi hampir tak terdengar sakin suaranya di ajak menangis sejak tadi.
Sementara Gerald yang mendengar ucapan Lirih Melodi itu, langsung beranjak dari sana. Dia tak kuasa melihat orang yang dia cintai se rapuh itu.
"Sayang. Pi, Melodi Pi." Ucap Mami Eka tak kuasa membendung tangisannya, Pelukannya pun pada Melodi semakin di eratkan.
__ADS_1
Papi Darma hanya bisa membawa kedua wanita itu kedalam dekapannya.
"Rizki pasti baik-baik saja sayang. Kamu jangan begini nak, Rizki pasti marah lihat kamu se rapuh ini." Ucap Papi Darma sambil mencium kepala Melodi dan satu tangannya yang bebas mengusap punggung sang istri.
"Papi." Ucap Melodi beralih memeluk sang Papi, namun tak lama dia kembali tak sadarkan diri.
Papi Darma pun langsung meminta Sang istri untuk memanggil suster demi menangani sang Anak. Takut terjadi sesuatu padanya.
Sementara Melodi di tangani, Dokter tiba-tiba mendatangi keluarga untuk memberi kabar jika pendonor untuk Rizki sudah ada.
"Permisi Pak Buk, syukur alhamdulillah pendonor untuk pasien sudah ada. Kami meminta persetujuan untuk memulai operasi mengingat keadaan pasien yang sudah tidak memungkinkan untuk di tunda lagi." Ucap Dokter bagaikan mereka mendapatkan angin segar, betapa bersyukurnya mereka mendengar hal itu.
"Lakukanlah Dok, aku mau anakku pulih berapapun biayanya." Ucap Ayah Gunawan mewakili semuanya.
"Baiklah, suster tolong berikan suratnya. Setelah itu kita akan memulai operasinya." Ucap Dokter dan langsung di ikuti suster yang sejak tadi mendampingi Dokter.
Ayah Rizki pun langsung menandatangani berkas persetujuan operasi yang di berikan suster. Setelahnya mereka pun langsung melihat Rizki yang di bawa keluar menuju ruang operasi dimana si pendonor sudah stay di sana sana."
"Mami temani Melodi saja, biar Papi yang menunggu Rizki bersama yang lainnya." Ucap Papi Darma sebelum mengikuti rombongan ke ruang operasi.
"Baiklah Pi." Ucap Mamin Eka.
"Mami." Panggil Bima.
"Satria." Kejut Mami Eka saat melihat putranya itu datang bersama Gadis mantan calon menantunya itu.
Mami eka nampak menatap ke arah tangan Satria dan Gadis yang saling menautkan.
"Jadi benar yang di katakan Papi." Batin Mami Eka.
"Mami." Panggil Bima lagi saat Maminya itu nampak melamun.
"Tante." Sapa Gadis dengan pelan.
"Ya nak, kalian cepatlah ke ruang operasi. Rizki sudah mendapatkan pendonornya." Ucap Mami Eka.
"Baiklah Mi, Melodi mana?"
"Dia sedang istirahat sebentar di ruangan. Tadi dia pingsang karena terlalu shock." Jawab Mami Eka cepat.
__ADS_1
"Aku mau melihat Melodi dulu, kalian duluan saja ke ruangan operasinya Rizki. Nanti kami akan menyusul.
Saga, Kanaya dan Mahesa pun pamit pergi meninggalkan mereka.
"Sayang kamu masuk dulu temani Melodi, aku mau bicara dulu sama Mami." Ucap Bima pada Gadis dan langsung di turuti gadis itu.
Sementara di depan ruang operasi kini semua sedang diam menunggu operasi di mulai. Karena sejak tadi ruangan itu masih seperti sedang menyiapkan sesuatu. Suster pun sesekali keluar masuk, entah apa yang mereka lakukan. Namun begitu, keluarga nampak tak bertanya sedikitpun. Hingga hampir satu jam menunggu akhirnya lampu di depan Ruang operasi pun menyala menandakan operasi mulai di mulai.
Melodi juga Mami serta Bima dan Gadis pun sudah ikut bergabung di depan ruang operasi. Keadaan Melodi pun sudah tak se histeris tadi. Dia sudah nampak tenang, namun sesekali air matanya masih menetes walau tak bersuara.
Wanita itu nampak duduk diam dengan kedua tangan yang saling menautkan.
***
Tak terasa mereka menunggu hingga hampir enam jam lamanya di luar ruangan, sampai kantuk dan lapar pun tak mereka hiraukan.
Beruntung Saga nampak memberikan minuman juga roti yang baru saja dia pergi beli.
"Makan dulu Mel, Biar Rizki bangun kamu dalam keadaan baik. Nggak lemah seperti ini." Ucap Saga sambil membuka sebungkus roti untuk Melodi.
"Terima kasih." Sahut Melodi yang mendengar Ucapan Saga, wanita itu nampak menerima pemberian Saga dan memakannya Perlahan.
Sementara yang lain pun ikut memakan roti mereka masing masing.
Tak berselang lama lampu operasi pun mati, menandakan operasi yang di lakukan sudah selesai.
Namun dari dalam ruangan, belum ada seorangpun suster arau Dokter yang keluar dari sana.
Hingga hampir satu jam lamanya baru pintu operasi itu terbuka.
Dokter pun langsung menghampiri semuanya.
"Operasi yang kami lakukan berjalan lancar, namun untuk pendonornya dalam keadaan kritis saat ini. Dan ini beliau menitipkan ini untuk istri dari pasien sebelum memulai operasi tadi,." Ucap Dokter sambil memberikan sebuah kertas yang berlipat dan setangkai bunga yang ikut bersama kertas itu.
Melodi dengan cepat langsung mengambil surat itu dari tangan Dokter, tak berselang lama Rizki di dorong keluar ruangan untuk di pindahkan membuat konsen Melodi yang tadinya ingin membuka surat itu jadi terhenti.
Namun saat melihat brankar selanjutnya di belakang brankar Rizki, Melodi dengan cepat menutup mulutnya saat melihat siapa yang berbaring di sana.
"Tidak, tidak mungkin." Ucap Melodi sambil menggelengkan kepalanya menatap wajah pucat sang pendonor.
__ADS_1