
"Maksud tante kamu itu, cucu. Cucu dari perut kamu untuk kita." Ucap Mami Eka mewakili Tante Mia, membuat Melodi spontan menatap Rizki seolah meminta bantuan pada pria itu untuk menjawab pertanyaan sang Mami dan Tante Mia.
"Oh itu Mi, kami udah sepakat untuk masih belum mau punya anak dulu. Kita kan juga masih kuliah, iya kan sayang." Ucap Rizki dan Melodi hanya menganggukkan kepalanya saja tanda setuju.
"Aih, masih lama dong. Nggak asik kalian." Ucap Tante Mia cemberut.
"Sayang, nggak baik ditunda-tunda gitu. Anak juga kan Rejeki." Ucap Mami Eka yang memang sudah tak sabar lagi ingin memiliki cucu.
"Betul itu." Timpal Tante Mia.
"Kalian berdua ini kenapa sih, biarlah dulu mereka menikmati masa-masa berdua mereka dahulu." Ucap Papi Darma menyela pembicaraan istri dan Adiknya itu, karena melihat raut wajah Melodi yang memang seperti belum siap memiliki anak.
"Is Papi nih gimana sih, awas yah jangan sampai Mami denger Papi ngeluh kalau belum juga punya cucu." Ucap Mami Eka pada suaminya, pasalnya suaminya itu yang selalu bertanya pada dirinya tentang Melodi yang belum juga memberi kabar baik untuk mereka. Tapi malah sekarang beliau bilang begitu.
"Mas, lihat ponsel aku nggak?" Tanya Melodi saat baru keluar kamar mandi sambil mencari-cari ponselnya di setiap spot kamar yang sering dia letakan ponselnya.
Rizki dan Melodi Mereka berdua terlah kembali dari acara makan malam bersama keluarga Melodi sekitar setengah jam yang lalu.
"Aku pinjam bentar." Jawab Rizki dari balkon kamar mereka.
"Kan kamu juga punya ponsel sendiri, ngapain pinjem segala Mas." Protes Melodi sambil berjalan mendekati Rizki.
"Soalnya ponsel kamu bunyi terus, ganggu tahu. Mana pesannya banyak banget lagi." Ucap Rizki sambil membuka pesan-pesan Melodi dan membacanya.
"Sini kan Mas." Ucap Melodi sambil merebut ponselnya dari tangan Rizki, dia merasa malu jika sampai suaminya itu membaca chat pribadinya dengan Anzas. Apalagi ponsel miliknya tak pernah memakai kunci atau pengaman apapun, jadi memungkinkan jika siapa saja bisa melihat hal pribadinya di ponsel itu.
"Anzas lebai juga ternyata yah, pantas di sematkan kata bucin sama Saga dan Gerald." Ucap Rizki setelah Melodi mengambil ponsel dari tangannya. Walau dalam hati, dia begitu iri pada Anzas.
"Apa sih, Mas. Itu privasi tahu." Ucap Melodi, yang tak suka jika Rizki dengan lancangnya membuka dan membaca chat pribadinya dengan Anzas.
__ADS_1
"Hahaha, aku suka lupa deh kalau aku ini orang lain. Sorry." Ucap Rizki membuat Melodi jadi merasa serba salah.
"Bukan begitu maksud aku Mas." Ucap Melodi saat melihat tawa Rizki yang dirasakannya terasa aneh di pendengarannya apalagi kalimat setelah tawanya itu semakin membuat Melodi serba salah. Bukannya dia menganggap Rizki orang lain, yah dia tahu Rizki adalah suaminya. Hanya saja dia tak bisa jika chat pribadinya di lihat atau dibaca orang lain, itu saja.
"Maaf kalau aku sudah lancang membaca pesan-pesan kamu." Ucap Rizki langsung berdiri dan meninggalkan Melodi yang sedang mematung di depannya.
"Lah kenapa dia yang marah." Ucap Melodi saat melihat raut wajah Rizki, padahal pria itu meminta maaf padanya namun dengan wajah yang terlihat kesal yang memang sengaja dia tunjukan mungkin.
"Mas." Panggil Melodi saat Rizki sudah pergi masuk.
"Mas." Panggil Melodi lagi namun tak di hiraukan Rizki.
"Mas kamu marah?" Tanya Melodi sambil naik ketempat tidur mengikuti Rizki yang sudah berbaring di sana.
"Mas ayolah." Ucap Melodi sambil membalik tubuh Rizki menghadapnya.
"Sudahlah Mel, aku ngantuk." Ucap Rizki berbohong, dia hanya terbawa kesal saja sama isi chat yang dia baca tadi dan dia tak mau mengakui itu.
"Mel." Panggil Rizki tanpa memperdulikan ucapan maaf Melodi.
"Yah." Ucap Melodi.
"Urusanku sama Larisa sudah selesai." Ucap Rizki menghentikan kalimatnya demi melihat ekspresi Melodi.
"Y-yah." Ucap Melodi yang sudah tahu arah pembicaraan Rizki.
"Apa kamu sudah memikirkan tentang bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan Anzas?" Tanya Rizki bukan tanpa alasan, dirinya semakin khawatir karena Melodi seolah tak memikirkan itu sekarang. Rizki semakin di buat gusar sejak dia membaca isi percakapan Anzas dan Melodi tadi. Jujur dia tak suka dengan itu.
"Ii it itu.." Ucap Melodi yang memang belum tahu harus apa, dan apa lagi dia di hadapkan dengan pertanyaan seperti itu secara mendadak seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah, istirahatlah Mel." Ucap Rizki pada akhirnya, dia tahu Melodi pasti sangat berat untuk memutuskan kelanjutan hubungannya dengan Anzas. Rizki pun mencoba memahami itu, walau dia sedikit kecewa karena Melodi seperti berat untuk mencoba menjawab pertanyaannya dan itu berarti gadis itu memang belum memutuskan apapun yang akan dia lakukan untuk Anzas nantinya. Pria itu langsung membalikan tubuhnya membelakangi Melodi, berharap tidur dan melupakan kecemasan yang sedang dia rasakan sekarang.
"Mas." Panggil Melodi.
"Tidur Mel." Ucap Rizki tak mau melanjutkan pembahasan yang memang belum ada ujungnya.
"Mas." Melodi tetap memanggil Rizki, karena entah kenapa dia ingin memeluk pria itu sejenak, ingin memberitahu pria itu lewat pelukannya jika dia juga masih memikirkan tentang pernikahannya. Tapi dia hanya membutuhkan waktu sedikit lagi, itu saja.
"Mas." Ucap Melodi dan langsung memeluk belakang tubuh Rizki, karena pria itu tak lagi menggubris panggilannya.
Rizki yang mendapat perlakuan seperti itu untuk pertama kalinya dari Melodi apalagi dalam keadaan dirinya sedang kesal, sontak saja hatinya mendadak menghangat mendapatkan pelukan pertama dari Melodi.
Pria itu hanya diam saja, mau melihat apa lagi yang akan Melodi lakukan selanjutnya. Walau dia ingin sekali membalikan tubuhnya dan membawa tubuh istrinya dalam pelukannya. Sungguh.
"Berikan aku waktu sedikit lagi Mas, aku janji akan selesaikan semuanya. Tapi tidak sekarang, aku belum siap Mas. Tepatnya belum siap menyakiti Anzas, dia terlalu baik Mas." Ucap Melodi sambil membenamkan wajahnya di punggung belakang Rizki.
"Belum siap menyakiti Anzas, yah seharusnya aku mengerti." Batin Rizki sedikit tersentak dengan kalimat itu.
Rizki langsung membalikan tubuhnya hingga Melodi merenggangkan pelukannya.
"Mas." Ucap Melodi.
"Akan aku tunggu." Ucap Rizki dan membawa Melodi dalam pelukannya sambil sesekali mendaratkan kecupan pada pucuk kepala Melodi.
"Terimakasih." Ucap Melodi sambil mencoba merenggangkan pelukannya dan menatap Rizki.
Pria itu hanya tersenyum membalas tatapan Melodi.
"Yah, dan kuharap semuanya cepat selesai. Biar kita bisa menjalani pernikahan selayaknya pernikahan pada umumnya." Ucap Rizki.
__ADS_1
"Dan bisa mewujudkan keinginan Mami dan Tante Mia, juga kakek dan tentunya aku sendiri." Sambung Rizki lagi.