Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Biji Kacang


__ADS_3

"Abang senang deh, akhirnya Anzas udah moveon juga dari kamu sayang." Ucap Rizki sambil berjalan masuk setelah tadi mengantar Anzas yang baru saja pamit pulang.


"Yah aku juga ikut senang, perempuan yang berjodoh dengan Anzas pasti paling bahagia nantinya." Ucap Melodi teringat betapa baiknya pria itu dulu kepadanya.


"Lalu kamu bahagia nggak nikah sama Abang?" Tanya Rizki karena tak suka Melodi seakan memuji Anzas di banding dirinya.


"Kalau nggak bahagia, nggak mungkin ada ni biji kacang di perutku." Ucap Melodi sambil melengos pergi meninggalkan Rizki yang mematung mendengar ucapannya..


"Sayang, kenapa kau memanggil bayi kita biji kacang. Aku nggak terima yah." Teriak Rizki karena Melodi sudah jauh dari hadapannya..


"Enak saja hasil kerja kerasku di samakan dengan biji kacang. Biji mutiara kek, apa kek yang lebih berharga gitu. Ini malah biji kacang yang kamu pilih." Gerutu Rizki tak terima, pria itu pun langsung bergegas menyusul Melodi yang sudah masuk di kamar baru yang akan mereka tempati itu.


"Sayang, aku nggak suka yah kamu samakan bayi kita dengan biji kacang." Protes Rizki setelah masuk kamar dan Memeluk istrinya dari belakang..


Para asisten rumah tangga yang sedang membereskan kamar mereka pun di buat terkejut dengan penuturan Rizki barusan, hingga membuat perhatian mereka pun beralih pada majikan mudah mereka itu.


"Den, Apa non Melodi hamil?" Tanya Bibi Sum antusias. Dan dirinya langsung di sambut senyum hangat kedua majikannya itu.


"Iya Bi, doakan yah Istri dan anak saya sehat-sehat selalu." Ucap Rizki sambil mengelus perut Melodi.


"Ah selamat non, Aden. Bibi doakan dede bayi dan calon ibu sehat selalu." Ucap Bibi Sum kelewat bahagia hingga dirinya tak sadar sudah memeluk Sinta, karena hampir dua minggu ini mereka bekerja di rumah ini kedua majikan mereka itu begitu memperlakukan mereka sangat baik. Sehingga mendengan kabar bahagia majikannya, maka mereka pun ikut bahagia akan hal itu.


"Aamiin Bi." Ucap kompak Rizki dan Melodi.


"Bi, aku sesak nafas." Ucap Sinta karena memang begitu adanya.


"Astaga Bi." Ucap Melodi hanya menggelengkan kepalanya. Sementara Rizki hanya terkekeh melihat tingkah wanita seumuran Ibunya itu.

__ADS_1


"Heheh, maaf. Bibi terlalu bahagia." Ucap Bibi sum sambil tersenyum malu.


"Oh yah. Besok mau kedatangan kedua keluar besar kami, Bibi tolong nanti bantu nyiapin semuanya yah. Nggak perlu masak, soalnya aku udah pesan semuanya. Tinggal nanti Bibi awasi saja kerjaan mereka." Ucap Rizki membuat Melodi langsung berbalik menatapnya. Pasalnya Rizki belum memberitahunya soal kedatangan kedua keluarganya itu.


"Kok kamu nggak beri tahu aku si By." Ucap Melodi cemberut, masa hal se penting ini dia tak di beri tahu.


"Tadi baru Abang pikirin pas mandi tadi, terus langsung hubungin keluarga kita. Mau beri tahu kamu tadi, malah datang tu calon manten buat Abang jadi urug kan beritahu kamu." Ucap Rizki menjelaskan.


"Kamu ini By." Ucap Melodi pasrah.


"Hehehe, sorry sayang. Besok kita kasih kejutan yah buat calon nenek kakek bayi kita ini, mereka pasti sangat senang." Ucap Rizki sambil mengelus perut Melodi kemudian dengan cepat dia mencuri kilat ciuman bibir Melodi, membuat sang empunya melotot kan matanya kesal dengan tingkah sang suami yang tak tahu keadaan.


"By, malu tahu." Ucap Melodi memukul pelan lengan Rizki.


"Nggak apa apa atuh non, biasa itu bagi pasangan mudah." Ucap Bibi sum bukan tanpa alasan, karena dia sering melihat hal itu selama berkerja di rumah itu. Namun begitu, beliau hanya pura-pura tak melihat saja.


Sedangkan Siska yang notabennya seumuran mereka pun nampak malu-malu melihat hal itu, walau ini juga bukan hal baru baginya. Karena statusnya yang janda sudah lebih dulu paham akan hal itu.


Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, Melodi kembali membalikan tubuhnya lagi.


"Sis, kamu nanti tolong bereskan semua kamar tamu yah." Ucap Melodi pada Siska.


"Iya non." Ucap Siska, dan setelah mendengar itu. Melodi langsung melangkah pergi.


Setelah kepergian kedua majikan mereka, Bibi Sum dan Siska langsung membagi tugas. Bibi Sum yang membereskan kamar Melodi sedangkan Siska melaksanakan tugas sesuai perintah Melodi yang nanti juga akan di bantu bi Sum setelah perkejaannya di Kamar Melodi selesai nanti.


Sementara di lain tempat kini Bima baru saja pulang dari sidak bangunan cafe barunya. Kini dia baru saja memasuki apartemen yang sebulan ini dia tumpangi. Bahkan dia pun yang melunaskan semua cicilan apartemen itu, saat tahu Larissa masih menyicilnya.

__ADS_1


"Sa, kamu di dalam." Teriak Bima saat baru memasuki apartemen dan mendapati sepatu Larissa yang berserakan, sudah pasti wanita itu juga baru tiba seperti dirinya.


"Kamu udah balik sayang." Ucap Larisa sambil berjalan dengan bathrobe nya, sepertinya wanita itu baru saja mandi jelas terlihat dari penampilannya saat ini.


"Yah, Kamu dari mana?" Tanya Bima, karena setahunya tadi dia meninggalkan apartemen, Larissa tak kemana-mana atau izin keluar hari ini karena memang hari ini juga Larissa pun tak mempunyai kelas. Namun di lihat dari sepatu yang berserakan di pintu masuk itu jelas menunjukan jika wanita itu habis keluar tadi.


"Sedikit berbelanja tadi, aku bosan sendiri di sini itu sebabnya aku memutuskan untuk berbelanja. Yah berbelanja." Ucap Larissa tapi tak memandang Bima, dia lebih memilih berbicara sambil membereskan sepatunya yang tadi dia sembarang membuangnya.


"Kamu beli apa sayang, kenapa tak memberi tahu aku saja biar ku temani." Ucap Bima sambil memeluk tubuh Larissa dai belakang saat wanita itu baru saja berdiri dari jongkoknya saat meletakan sepatunya di rak belakang pintu masuk.


"Hanya baju dan bawahannya. Aku tahu kamu sibuk sayang, itu sebabnya aku tak mau merepotkan kamu." Ucap Larissa sambil menikmati sentuhan tangan Bima di tubuhnya.


"Aku lelah." Ucap Larissa yang tahu maksud Bima.


"Aku tahu, aku tak ingin meminta itu." Ucap Bima yang juga tahu maksud ucapan Rissa.


Pria itu kini sedang menaruh wajahnya di pundak Larissa sambil menatap dan mengelus tanda merah di leher jenjang Larissa yang terekspos karena wanita itu sedang menggulung tinggi rambutnya dengan handuk kecil. Dan itu membuat Bima dapat melihat segalanya dengan jelas di leher putih milik Larissa..


"Sayang." Lirih Larissa yang tak tatahan dengan sentuhan Bima di lehernya.


"Iya sayang." Ucap Bima namun masih tetap dengan mata tertuju di tempat yang dia usap.


"Berhenti mengusapnya, kau membuatnya terasa panas sayang." Ucap Larissa jujur, karena sejak tadi Bima terus saja mengusap pada satu tempat yang sama.


"Maaf, berpakaian lah sayang sebelum aku berubah pikiran untuk melahap mu di sini." Ucap Bima dan Larissa langsung melepaskan diri dari Bima dan berlalu ke kamar, sebelum pria itu benar-benar memakannya di sini. Kalau saja dia tak capek saat ini, sudah pasti dia tak akan menolaknya.


"Iya iya." Ucap Larissa sebelum melangkah pergi.

__ADS_1


Bima hanya menatap datar kepergian Larissa, namun selanjutnya dia pun tersenyum.


"Ah, Semuanya sama saja. Tapi yang ini sepertinya asik." Gumam Bima dan setelahnya dia langsung merebahkan tubuhnya di di sofa.


__ADS_2