
"Mel, sayang." Ucap Rizki setelah tersadar dan langsung melangkah mengikuti Melodi.
"Kakek." Panggil Melodi saat melihat Kakek Burhan sedang duduk di ruang tamu sambil di temani susternya.
"Sayang, Kalian baru bangun?" Tanya Kakek Burhan karena sarapan pagi tadi beliau tak melihat keberadaan kedua suami istri itu.
"Udah dari tadi kek, tapi.." Ucap Melodi tak melanjutkan kata-katanya.
"Iya sayang, kakek ngerti kok. Pasti ulah anak nakal itu kan." Ucap Kakek Burhan sambil melirik Rizki yang berjalan di belakang Melodi.
"Kalian pergi makan dulu kalau gitu." Ucap Kakek Burhan karena tak enak hati melihat cucu mantunya yang seperti tak enak padanya karena malu mungkin.
"Iya kek."
"Kamu duluan ke ruang makannya yah sayang, kakek pinjam suamimu dulu sebentar." Ucap Kakek Burhan dan langsung di turuti Melodi.
"Sini kamu." Ucap Kakek Burhan berlagak galak pada Rizki.
"Apa sih kek." Kata Rizki sambil mendekati sang kakek.
"Kalau bermain itu ingat waktu juga Ki, kasihan istri kamu sampai melewatkan makan paginya." Ucap Kakek Burhan menasehati.
"Iya kek, tadi memang kita bangun agak kesiangan kek." Ucap Rizki jujur karena memang itu yang terjadi.
"Alah kamu kaya kakek nggak tahu aja, lain kali siapin makanan dulu dikamar. Baru berperang, biar seharian full juga nggak papa. Kakek dulu juga gitu. Cuman bedanya kakek sayang istri nggak lupa siapin makanan, lah kamu istri nggak di kasih makan." Ucap Kakek Burhan membuat suster yang di sebelahnya menahan tawanya.
Sedangkan Rizki hanya tersenyum kecut mendengar penuturan sang kakek.
"Iya lain kali, nanti Rizki prepare nya lengkap deh. Biar seminggu nggak keluar kamar juga nggak papa." Ucap Rizki membuat sang kakek menepuk-nepuk lengannya.
"Lanjutkan Bro. Sana, temani istrimu makan." Ucap Kakek Burhan.
"Iya kek, oh iya kek. Ibu sama Ayah kemana kek?"
"Di taman belakang sama kedua temanmu, lagi nanam bunga yang kalian beli."
"Oh, ya udah Iki makan dulu yah kek. Lapar." Ucap Rizki dan berlalu pergi.
"Gimana nggak lapar, main terus. Tapi udah dua bulan belum ada hasil. Payah kamu Ki, Kalah sama kakek sama Ayah kamu. Sebulan nikah langsung ada hasilnya." Ejek Kakek Burhan saat Rizki hendak berlalu, namun Pria itu tak ambil pusing dan hanya menggelengkan kepalannya saja.
"Kakek nggak tahu aja, susahnya aku gimana. Mana bisa ada hasil kalau melakukannya aja belum, mana sekali coba cuman sampai pemanasan doang lagi. Nasiiiiiib nasib, gini amat." Gumam Rizki sambil berlalu.
"Sayang, kok makan duluan." Ucap Rizki ketika tiba di ruang makan, dan mendapati sang istri sudah makan duluan.
__ADS_1
"Habisnya kamu lama Mas, aku udah kelaparan. Nggak tahan." Ucap Melodi jujur.
"Ya udah karena kamu nggak nunggu aku, kamu harus di hukum." Ucap Rizki menatap serius Melodi.
"Jangan mulai deh Mas, siapa suruh lama." Melodi tak mau kala.
"Pokonya harus di hukum, ayo suapi aku. Itu hukuman buat kamu." Ucap Rizki setelah itu dia langsung membuka mulutnya mengisyaratkan agar Melodi segera memulai hukumannya.
"Isss." Kesal Melodi.
"Nggak mau pakai sendok." Ucap Rizki menjauhkan mulutnya ketika Melodi menyodorkan sesendok makanan.
"Pakai tangan?" Tanya Melodi.
"Yah." Ucap Rizki dan langsung dituruti Melodi.
Kemudian Melodi menyuapi Rizki juga dirinya sendiri hingga makanan di piringnya habis, dan menambah sepiring lagi.
"Ih lepas Mas." Ucap Melodi ketika dia sedang menyuapi suapan terakhir pada Rizki namun pria itu menahan tangannya dan malah menjilat kelima jarinya bergantian.
"Enak." Ucap Rizki.
"Jorok." Potong Melodi.
"Ibu, Ayah." Sapa Melodi lirih, begitu malu terhadap kedua mertuanya itu.
"Hay sayang, kalian udah makan?" Tanya Ibu Rizki dan di iyakan Melodi.
"Duduk sini Mel." Ucap Ayah mertuanya dan Melodi langsung mengambil tempat di sebelah Ayah mertuanya itu.
"Gila lo Ki, ngurung Melodi sampai siang gini." Bisik Saga pada Rizki yang baru duduk di sebelahnya.
"Biarin istri, istriku kok." Jawab Rizki ngeselin, dan langsung mendapatkan Tebokan dari Gerald.
"Ibu maaf, Melodi kesiangan jadi nggak bantu masak sama tanam bunganya." Ucap Melodi menahan Malunya saat melihat semua tanaman yang dia beli, sudah tertanam rapih di hadapannya.
"Nggak papa kok, lagian untung kalian bawa tuh dua tampan. Jadi ibu di bantu mereka." Ucap Sang mertua dengan senyum hangatnya, bertanda beliau tak mempermasalahkan hal itu.
Mereka pun mengobrol santai hingga siang hari, sampai dimana Rizki memberi saran agar mereka berkeliling kota di tempat itu. Dan langsung di setujui semuanya. Namun sayang Kedua orang tua Rizki tak bisa ikut karena mereka mempunyai agenda tersendiri.
"Kemana dulu nih kita?" Tanya Rizki ketika mereka sudah berada di dalam mobilnya.
"Kamu yang rekomendasi lah, masa kita yang nggak tahu apa-apa." Jawab Saga.
__ADS_1
"Baiklah." Ucap Rizki dan langsung melajukan mobilnya ke tempat yang menurut dia sering di kunjungi pendatang.
"Wah, keren." Ucap Melodi ketika mereka tiba di sebuah danau yang begitu padat pengunjungnya itu.
"Ini Danau buatan, kaya asli kan?" Rizki
"Yah cantik banget."
Mereka menghabiskan waktu di sana hampir satu jam lebih, kemudian memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat untuk mengisi perut mereka yang sudah kembali lapar.
"Mel itu bang Bima kan?" Saga yang tak sengaja melihat kakaknya Melodi yang sedang duduk makan di dalam restoran ketika mereka baru memasuki restoran itu.
"Abang." Ucap Melodi dan langsung mereka semua berjalan menuju meja Bima.
"Abang." Panggil Melodi dan di susul Rizki membuat Bima langsung sontak mendongakkan kepalanya menatap keduanya.
"Ade, kalian di sini juga?" Ucap Bima dan langsung berdiri memeluk sang adik dan adik iparnya itu tak lupa juga bersalaman dengan Saga dan Gerald.
"Iya, Abang sama siapa?" Tanya Melodi saat dia melihat dua piring makan yang tersaji di atas meja.
"Oh Abang sama Risa dek, cuman dia lagi ke mobil sebentar." Ucap Bima karena tadi pacarnya itu ke tumpahan jus di roknya, dan sekaran sedang menggantinya sebentar.
"Pacar abang itu?" Tanya Melodi.
"Iya sayang, kalian duduk dulu. kenapa berdiri saja." Ucap Bima saat melihat Rizki dkk hanya berdiri saja melihat interaksinya bersama sang adik.
"Iya bang."
"Abang ada keperluan apa di sini?" Tanya Melodi penasaran.
"Abang lagi ada proyek buka cabang cafe baru di sini sayang." Ucap Bima usai bersamaan dengan bunyi ponselnya.
"Dek sebentar." Kata Bima setelah itu langsung mengangkat panggilan di ponselnya.
"Sayang, kok lama sudah belum?" Tanya Bima setelah menerima panggilan.
"Ya sudah sayang, aku ke sana sekarang." Ucap Bima dan setelah itu dia langsung menutup panggilannya.
"Dek, kakak balik duluan yah. Pacar kakak sakit perut, dan minta balik sekarang." Ucap Bima terlihat khawatir.
"Kakak nginap dimana?"
"Hotel sayang, kalau mau nanti datang saja. Kakak masih seminggu di sini soalnya. Kalau gitu kakak langsung balik yah." Ucap Bima setelah itu beranjak pergi setelah mendapatkan anggukan sang adik, setelah berpamitan pula dengan adik iparnya juga kedua sahabat sang adik.
__ADS_1