Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Bertemu Dan Minta Bertemu


__ADS_3

Apartemen Sarah.


"Mau kemana kamu?" Tanya Anzas ketika melihat Sarah berpakaian rapih.


"Mau ke mall sebentar, lagi pingin lihat suasana mall sambil mau minta foto sama patung manekin." Ucap Sarah setelah itu dia langsung mengambil tas tangannya.


"Nggak ada kerjaan banget Sar." Ucap Anzas dan langsung merebut tas Sarah.


"Apaan sih Za, sinikan nggak." Ucap Sarah sambil mencoba merebut kembali tasnya.


"Biar aku antar." Ucap Anzas dan itu langsung membuat Sarah tersenyum, namun tak sampai di lihat oleh Anzas sendiri. karena pria itu langsung melangkah keluar setelah lebih dulu memakai bajunya.


"Sayang, bantu mamah yah buat dapatin hati ayah kamu." Gumam Sarah sambil mengelus perutnya sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Anzas..


Kemudian keduanya pun langsung pergi menuju Mall yang di inginkan Sarah.


Saat keduanya sedang asik duduk di kursi yang terdapat di tengah Mall sesuai permintaan sarah, tiba-tiba ada yang datang dan mengagetkannya saat sedang asik memainkan ponsel miliknya.


"Hey." Ucap Gerald dan di ikuti Saga yang kebetulan mereka juga baru datang di mall itu setelah tadi dari apartemen Rizki.


Anzas yang mendengar suara yang tak asing di telinganya pun dengan spontan melihat ke arah suara itu.


"Pacar baru yah, Sarah kan?" Ucap Saga pada Anzas kemudian dia mengalihkan pertanyaan pada Sarah yang sedang duduk tepat di samping Anzas.


"Bukan urusan kamu." Ucap Anzas dan setelah itu dia langsung menarik Sarah mengikutinya pergi dari hadapan Saga dan Gerald.


"Za, mau kemana aku belum foto sama manikin nya." Ucap Sarah saat Anzas menarik lengannya menjauh.


Setelah kepergian keduanya Saga dan Gerald pun langsung saling tatap. Seolah mereka dalam satu pikiran yang sama.


"Cepat banget dapat gantinya, Itu si Sarah model kan yang sekelas sama Anzas? Tanya Saga pada Gerald.


"Hm, begitulah lo tahu nggak Aku pernah tahu lihat mereka berdua..." Ucap Gerald menjelaskan pada Saga soal dirinya yang melihat adegan mesum kedua orang tadi. Hingga membuat Saga menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Astaga, Harusnya Anzas jodoh tuh sama Larissa. kelakuannya sama gitu. Untung saja, Tuhan mengambil langkah cepat buat nikahin tuh dua sahabat kita. Kalau tidak, huh kasihan mereka. Nasib yang sama." Ucap Saga tak habis pikir.


"Yah, aku juga pikir gitu sih." Ucap Gerald menimpali.

__ADS_1


"Rizki pilihan yang tepat untukmu Mel, aku ikut bahagia untuk hal itu. Sungguh. Semoga ada yang baik sepertimu di kemudian hari yang sudah Tuhan tentukan untukku." Batin Gerald sambil membayangkan senyum Melodi.


"Kenapa tuh muka, sedih banget?" Tanya Saga yang melihat Gerald yang sedang melamun dengan wajah murungnya.


"Ah, nggak." Ucap Gerald sedikit gugup.


"Lo suka sama Sarah?" Tanya Saga yang sudah menyimpulkan sendiri.


"Sedikit." Bohong Gerald.


"Hm, carilah yang lain buat lo sukai. Biar Anzas sama Sarah saja, dan tak lagi ganggu Melodi nantinya." Ucap Saga.


"Yah kamu benar, yuk ah buruan." Ucap Gerald kemudian dia langsung berjalan ke tempat yang mereka tuju di mall itu.


***


"Yang kamu marah?" Tanya Rizki ketika dia sudah menceritakan apa saja yang dia lakukan bersama Larissa selama mereka pacaran.


"Nggak?" Ucap Melodi namun wajahnya menunjukan sedikit kesalnya.


"Lalu kenapa wajahnya jutek gitu."


"Itu terlihat jelas yang, sumpah itu aku terbawa suasana saja saat itu. Tapi jujur, kami belum sempat melakukannya. Kamu yang pertama buat Abang yang." Ucap Rizki jujur, dia memang hampir melakukan hal intim dengan Larissa. Namun entah kenapa dia mengingat Melodi dan langsung menghentikan aktifitas intim waktu itu seketika.


"Aku udah bicara jujur ini loh, jangan marah yah. Itu hanya masa lalu." Ucap Rizki mencoba membujuk Melodi, walaupun Melodi mengatakan tak marah padanya. Namu ekspresi Melodi seolah berbanding terbalik dengan ucapannya.


"Siapa yang marah coba." Ucap Melodi.


"Ya udah kalau nggak marah." Ucap Rizki dan mencoba mendekati Melodi dan mau menciumnya, namun dengan cepat Melodi langsung tidur memunggunginya.


"Yang ih, kenapa lagi. Katanya nggak marah." Ucap Rizki karena Melodi menolaknya.


"Maaf, tadi kebayang Larissa pas kamu mendekat By." Ucap Melodi jujur.


Mendengar penuturan Melodi membuat Rizki menghembuskan nafasnya pelan, yah dia memang salah. Tapi itu kan masa lalu, dia harus apa jika semuanya sudah terlanjur terjadi.


"Maaf." Akhirnya hanya kata itu yang bisa Rizki ucapkan kini. Pria itu langsung memeluk tubuh polos istrinya itu dari belakang, mencium punggungnya berharap Melodi mau menerima masa lalunya itu.

__ADS_1


Sedangkan Melodi hanya bisa memejamkan matanya menikmati sentuhan Rizki. Entah kenapa dia tak suka saja kejadian itu, dia tak suka Rizki sudah menikmati tubuh wanita lain. Walupun kata Rizki dia tak sampai melakukan hubungan intim, namun tetap saja Rizki sudah menikmati tubuh Larissa. Pikirnya.


"Enakan mana? Aku apa Larissa Ki?" Entah kenapa Melodi bisa bertanya segila itu, hingga membuat Rizki merasa risih dengan pertanyaannya.


"Sayang kenapa bertanya begitu, aku nggak suka tahu. Jelas-jelas kamu lebih segala-gala nya di banding Larissa sayang. Dia nggak ada apa-apanya di banding kamu." Ucap Rizki lembut, namun Melodi tak menghiraukan ucapannya dan malah meraih ponsel di meja sebelah kasurnya.


Rizki yang merasa ada pergerakan dari Melodi pun langsung bangkit mengikuti sang istri.


"Kamu mau apa yang?" Tanya Rizki ketika melihat Melodi sedang mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya..


"Halo Bang." Ucap Melodi ketika panggilannya sudah diterima.


Sedangkan Rizki hanya mengamati dan mendekatkan kupingnya di telinga Melodi yang sedang menelfon sambil memeluk pinggangnya erat, karena istrinya itu tak menjawab pertanyaannya..


"Halo sayang." Ucap Bima.


"Abang dimana? Masih di sini kan?" Tanya Melodi.


"Iya masih sayang. kenapa?"


"Pacar Abang dimana?"


"Lagi di kamar mandi dek, kenapa?"


"Abang tinggal sama Sarah Bang?" Tanya Melodi sedikit terkejut mendengar ucapan Bima.


"Iyah, Abang numpang di apartemennya selama disini." Ucap Bima membuat Melodi menarik nafasnya, karena pikirannya kini sudah mulai ngelantur kemana-mana.


"Boleh kita ketemu nanti, tapi tanpa Larissa yah. Aku kangen jalan berdua sama Bang Bima." Ucap Melodi.


"Kau ini dek, ya udah boleh. Mau kapan?" Tanya Bima menyetujui ucapan sang adik satu-satunya itu.


"Yey makasih Bang, Malam ini yah. Tapi Abang jemput aku di sini."


"Iya sayang siap." Ucap Bima setelah itu melodi langsung pamit dan mereka pun mengakhiri panggilan itu.


"Mau apa ketemu Bang Bima yang, Abang ikut yah?" Ucap Rizki.

__ADS_1


"Mau menyelamatkan Bang Bima, biar nggak buat dosa kaya kamu." Ucap Melodi dan Rizki hanya bisa menelan saliva nya mendengar ucapan sang istri.


__ADS_2