
Mobil yang di kemudikan Rizki kini telah sampai di parkiran cafe Pria itu.
"Sayang, sebentar." Ucap Rizki ketika Melodi hendak keluar mobil.
"Kenapa?" Tanya Melodi.
"Kamu marah soal ucapanku tadi?" Rizki bertanya karena sejak tadi Melodi tak bersuara setelah dia berkata tentang alasan Saga dan Gerald yang tak memberitahu tentang Larisa pada Melodi. Apalagi melihat gadis itu yang hendak turun tanpa menunggu dirinya.
"Hah, siapa yang marah Mas. Kamu ini ada ada aja sih." Ucap Melodi jujur karena memang dia tak marah sedikitpun.
"Terus kenapa nggak tanggapi ucapan aku tadi?" Rizki berkata sambil memposisikan duduknya menghadap Melodi.
"Astaga Mas, kenapa kamu sekarang jadi ba-peran sih." Melodi tak habis pikir dengan jalan pikiran Rizki, dia hanya tak menanggapi ucapan Rizki kerena memang benar yang di katakan pria itu padanya. Makanya dia diam saja, agar Rizki tak menyinggung Anzas sehingga membuat mood pria itu buruk lagi. itu saja.
Rizki yang di katai baper oleh Melodi pun jadi salah tingkah sendiri, entah kenapa jika bersangkutan dengan Melodi dia selalu saja sensitif, apalagi ada hubungannya dengan Anzas atau pria lain yang dekat dengan Melodi..
"Hehe, jadi bener nggak marah?" Tanya Rizki sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal namun minta untuk di sentuh.
"Hey kenapa nggak turun turun." Ucap Saga sambil mengetok kaca mobil Rizki.
"Jawab sayang." Rizki tak menghiraukan Saga dan malah menagih jawaban Melodi.
"Iyalah Mas." Ucap Melodi dan Rizki langsung menarik Melodi ke dalam pelukannya tak peduli Saga melotot melihat tingkahnya dari luar.
"Ayo Mas, udah di tungguin itu." Ucap Melodi karena tak enak dengan Saga, dan Rizki pun mencium kepala Melodi dan setelahnya melepas gadis itu.
Keduanya pun turun dan di sambut dengan tatapan horor Saga.
"Biasa aja kali." Ucap Rizki sambil Menarik Melodi dan melangkah meninggalkan Saga.
"Kalau mau mesum, nanti di rumah bukan di tempat umum." Ucap Saga dan langsung melambung Rizki dan Melodi menyusul Gerald yang telah lebih dulu masuk ke dalan cafe.
__ADS_1
Mereka pun masuk langsung menuju ruangan Rizki. Ke empat mahasiswa itu tengah sibuk membahas singkat tentang kendasnya hubungan Rizki dan Larisa, terkhusus Rizki yang sibuk menjelaskan semua pertanyaan yang di lontarkan Saga juga Gerald.
"Hahaha, makanya kalau di bilangin itu jangan sok butuh bukti." Ucap Gerald dengan tawanya sambil mengingat waktu di mana dia bercerita tentang apa yang dia lihat tentang Larisa namun tak di percaya Rizki sedikitpun.
"Jadi sekarang aman dong tinggal urusan Melodi sama Anzas aja nih." Ucap Saga keceplosan membuat Gerald mengernyitkan keningnya bingung. Dan sedikit kepanikan di wajah Rizki karena dia tahu bahwa Melodi belum siap jika Gerald tahu dulu tentang hubungan keduanya.
Melodi yang mendengar ucapan Saga pun akhirnya dia langsung angkat suara. Gadis itu langsung menjelaskan perihal pernikahannya dengan Rizki tanpa beban sedikitpun, karena memang dia sudah memutuskan agar Gerald juga tahu dan tak mau menyembunyikan terlalu lama dari pria itu.
Rizki yang mendengar Melodi berbicara pun hanya diam saja. Dia cukup bahagia karena kini sedikit demi sedikit Melodi sudah mau mengakui hubungan mereka di hadapan orang lain. Dan dia diam-diam tersenyum bahagia sambil menatap istrinya itu sayang, tak peduli dengan tatapan Gerald yang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.
Setelah menjelaskan alasan mereka pada Gerald yang tadinya tak terima karena terakhir di beritahu, dan akhirnya pria itu pun mau terima dan memaafkan kebohongan mereka. Kemudian mereka bergegas kembali ke kampus untuk mengikuti kelas selanjutnya.
"Sayang, tunggu sebentar yah. Aku ke toilet dulu, udah nggak tahan." Rizki berkata setelah itu ia meninggalkan Melodi di mobil. Mereka baru saja selesai kelas terakhir, dan memutuskan pulang karena Saga dan Gerald sedang mempunyai urusan masing-masing.
Sambil menunggu, Melodi pun memutuskan untuk menghubungi Anzas walau dia tahu Pria itu tak mungkin mengangkatnya karena pasti Anzas saat ini sedang sibuk.
"Halo Be." Ucap Melodi yang tak menyangka Anzas mengangkat panggilannya karena setahunya, pria itu sedang sibuk dan hanya bisa di hubungi jika di malam hari saja. Padahal tadinya Melodi hanya iseng-iseng saja menelfon.
"Kampus Be, kamu udah nggak sibuk?" Tanya Melodi.
"Udah nggak sayang, padahal tadinya aku mau telfon eh kamunya udah telfon duluan." Jelas Anzas terdengar bahagia.
"Sayang kangen." Ucap Anzas lagi.
"Sama Be. Kamu udah di apartemen?." Ucap Melodi jujur, karena memang sudah lama dia tak bertemu pria itu.
"Iya sayang, baru saja sampai." Ucap Anzas. "Sayang datang dong kesini, biar aku masakin kamu. Udah lama juga kan kita nggak makan bareng." Lanjut Anzas lagi.
"Iya Be, kalau gitu kamu istirahat aja dulu. Nanti jam lima aku ke sana." Ucap Melodi karena dia melihat Rizki yang sudah kembali dari toilet.
"Iya sayang." Ucap Anzas kemudian mereka sama-sama mematikan panggilan itu.
__ADS_1
"Sayang lama yah, maaf yah." Tanya Rizki ketika dia baru saja masuk mobil.
"Nggak kok." Ucap Melodi sambil memasukan ponselnya ke dalam tas kuliahnya.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanya Rizki saat baru keluar dari kawasan kampus.
"Makan dulu kayanya, biar nggak usah masak lagi. Nggak papa kan?" Melodi menyarankan itu karena memang dia lagi tak ada mood untuk masak saat ini, dia terlalu lelah. Lelah memikirkan kedua pria terdekatnya.
"Iya sayang." Ucap Rizki.
Keduanya pun langsung menuju restoran terdekat dengan apartemen mereka sesuai dengan permintaan Melodi ketika Rizki bertanya sebelumnya.
"Mel, mau beli oleh oleh nggak buat orang rumah. Biar besok kita langsung pulang dan nggak pusing belanja lagi." Ucap Rizki ketika mereka sedang makan.
"Oh iya Mas, aku hampir lupa. Untung kamu ingetin." Melodi berkata sambil menepuk jidatnya.
"Ya sudah habisin makan kamu dulu." Ucap Rizki.
"Iya Mas." Ucap Melodi sambil memikirkan barang apa yang harus dia beli untuk mertuanya nanti. Karena memang dia benar-benar lupa soal hal itu.
"Mas kita ke tokoh kue dekat Mall yang sering kita pergi itu yah. Di sana kue-kue nya enak, biar oleh-olehnya kue aja yah. Soalnya aku nggak tahu mau beli apa." Ucap Melodi di sela sela makannya.
"Iya sayang, siap." Ucap Rizki setelah itu melahap suapan terakhirnya.
Setelah ucapan Rizki selesai, ponsel Melodi pun berdering dan langsung di angkat gadis itu.
"Halo Be." Ucap Melodi sambil menatap Rizki yang sedang menatapnya juga.
"Iya nanti aku beliin." Ucap Melodi kemudian menutup panggilannya.
"Siapa?" Tanya Rizki walaupun dia tahu siapa si penelpon itu.
__ADS_1
"Anzas Mas." Ucap Melodi sambil memutus tatapannya dengan Rizki, dia tak tega melihat tatapan luka dari pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, bukannya pria itu sudah bilang mau memberikan dia waktu bukan.