
Keesokan harinya...
Hujan pagi ini membuat dua pasangan suami istri yang baru tidur pertengahan malam itu, kini masih asiknya bergelut manja dengan saling berpelukan dengan Selimut tebal yang menutup tubuh keduanya.
Namun Melodi yang merasa tak nyaman dengan posisinya yang kini di peluk begitu erat oleh Rizki pun akhirnya mau tak mau dia pun terbangun.
Melodi dengan pelan mendorong tubuh Rizki dan setalah itu barulah Dirinya membuka dua kelopak matanya itu.
"Pantas saja sesak napas, orang peluknya kaya takut kehilangan gitu." Ucap pelan Melodi takut-takut dia akan mengganggu tidur sang suami.
Dirinya pun langsung menatap lekat wajah sang suami, yang semakin kesini semakin terlihat ketampanannya.
"Kok tambah cakep sih ini suami." Ucap Melodi sambil mengusap lembut wajah Rizki.
Dia tahu Rizki tak di ragukan lagi ketampanannya, tapi kenapa sekarang ketampanan itu makin bertambah menurutnya.
Tanpa Malu Melodi langsung mengecup bibir merah Suaminya itu sakin gemasnya dia melihatnya. Sebentar, yah hanya sebentar setelah itu dia menyudahi aksinya itu.
"Sayang, lihat nih Dady kamu begitu polos wajahnya ketika tidur. Tapi kalau udah bangun, uhhhh wajahnya pasti terlihat sangat mesum dan menyebalkan." Ucap Melodi sambil mengusap perut ratanya itu. Berharap sang anak di dalam sana bisa melihat wajah Dady nya saat ini.
"Siapa yang mesum." Ucap Rizki tiba-tiba tanpa membuka matanya, namun sukses membuat Melodi terkejut setengah mati.
"By, apa kau ingin membunuhku hah." Ucap Melodi sambil memukul keras legan Rizki sakit, sakin dirinya terkejut di buat suaminya itu.
"Astaga, maafkan aku sayang." Ucap Rizki yang ikutan terkejut olah tindakan dan ucapan Istrinya.
Niat hati mengerjai Melodi, tapi kenapa malah kini dia yang seperti balik di kerjai.
"Lihat Dady mu ini nak, dia berani mengejutkan kita. Apa kau baik-baik saja sayang." Ucap Melodi sambil mengelus perutnya.
"Dady?" Tanya Rizki mengerutkan keningnya tak menyangka kini Melodi menyematkan Kata Dady untuk dirinya.
"Yah, memangnya kenapa? Kau tidak suka By?" Tanya Melodi.
Bukannya menjawab, Rizki malah menarik Melodi dalam Pelukannya.
"Aku suka sebutan Itu Sayang, sangat menyukainya." Kata Rizki sambil mencium sayang rambut Melodi.
__ADS_1
"Aku juga menyukainya." Ucap Melodi senang, seakan lupa tadi dia sedang kesal terhadap Rizki.
Melihat Melodi yang sudah mulai senang Mood nya, Rizki pun kembali lagi membawa Melodi ke awal permasalahan.
"Sayang, kamu tahu nggak?" Tanya Rizki mencoba membawa fokus Melodi pada pertanyaannya.
"Apa? kamu saja belum bilang, bagaimana aku bisa tahu." Ucap Melodi sambil mencium dan menghirup bau Rizki yang sedang memeluknya itu.
"Dengar yang baik, aku mau cerita sayang." Ucap Rizki dan Melodi langsung Menganggukkan kepalanya.
"Tadi itu aku mimpi, ada yang bilang aku bertambah tampan sekarang. Terus dia juga kecup ini bibirku, padahal ini kan milik kamu. Sudah gitu aku terbangun dan malah mendengar kamu menyebut diriku mesum terhadap anak kita." Ucap Rizki sengaja, sebab tadi dirinya sudah terbangun sejak Melodi Mendorong tubuhnya itu.
Namun dia malas saja untuk membuka matanya, dan alhasil dia mendengar dan tahu apapun yang tadi Melodi perbuat dan katakan padanya.
Melodi yang mendengar itu hanya bisa menahan rasa malunya. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan hal itu.
"Oh yah. Aku lapar By, aku mandi dulu yah setelah itu kita sarapan." Ucap Melodi mencoba lari dari situasi tak menguntungkan dirinya itu.
"Sebentar dulu kita bahas dulu mimpi Abang itu." Ucap Rizki tetap menahan pergerakan Melodi yang mau melepaskan diri darinya.
"Lalu, kenapa kamu menyebutku mesum sayang. Padahal kan aku masih tidur?" Tanya Rizki dengan menaikturunkan alisnya menatap Melodi yang juga sedang mendongak menatapnya.
"Ah, tidak. Aku nggak bilang gitu, kamu pasti salah dengar." Ucap Melodi berbohong.
"Jangan bohong yang, Mana ada salah dengar. Orang aku dengar dengan jelas kamu bilang gitu kok. Kasihan tahu, bayi kita sudah di ajak bohong sama kamu sejak dini. Entar besok-besok kalau dia bohong, jangan kamu marah karena kamu sendiri yang mengajarinya sayang." Ucap Rizki mencoba menakut-nakuti sang istri.
Mendengar itu Melodi langsung bergidik dan spontan menggelengkan kepalanya tak mau.
"Yah aku mengatakannya, tapi memang benarkan kamu mesum aku nggak salah soal itu." Ucap Melodi pada akhirnya dan langsung membuat Rizki menahan senyumnya
"Soal mimpiku...."
"Itu bukan mimpi tapi nyata, aku yang melakukannya." Potong Melodi cepat tak mau berbohong lagi.
"Yah aku tahu, orang aku sudah bangun sejak tadi sayang." Ucap Rizki dan Melodi langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kau mengerjai ku By." Ucap Melodi malu tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bisa menyembunyikan wajah memerahnya itu di dada bidan Rizki saja.
__ADS_1
"Hehehe, tapi aku suka sayang. Sering-sering saja kaya gitu. Makasih yah sudah jujur tentang kegantengan ku ini, aku tahu itu kok aku memang tampan. Kamu orang beruntung yang bisa menikah sama pria setampan ini." Ucap Rizki membuat Melodi tersenyum dengan kesombongan suaminya itu.
"Ki kenapa kamu bisa se alai ini sih?" Ucap Melodi memposisikan Rizki sebagai sahabatnya dan bukan sebagai suami karena dia menyebutkan nama Rizki.
"Yah, karena aku menemukan pasangan yang tepat sepertu kamu Mel." Ucap Rizki menyambut ucapan Melodi.
"Yah, kamu termasuk orang beruntung kawan." Ucap Melodi terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Dan kamu juga beruntung Mel, jangan lupakan itu." Ucap Rizki dan keduanya pun langsung menertawakan diri mereka sendiri.
"Ternyata menikah dengan sahabat sendiri ternyata se asik ini." Batin mereka bersamaan dalam tawa yang sedang berlangsung.
Sementara kedua suami istri yang sedang bahagia dengan obrolan receh mereka itu. Malah di tempat lain berbeda cerita lagi.
***
Apartemen Sarah.
"Sayang, ayo bangun. Aku sudah masak untukmu." Ucap Anzas membangunkan Sarah yang masih terlelap tidur padahal matahari sudah meninggi dari tadi.
"Za, apa sih kamu makan saja sendiri. Aku masih ngantuk." Ucap Sarah masih dalam tidurnya.
"Sayang, ko gitu. Calon pengantin nggak boleh banyak tidur yang. Ayo bangun." Mendengar itu Sarah langsung menahan pelipisnya yang tiba-tiba sakit, alhasil dirinya pun langsung bangun dan mendudukkan dirinya bersandar di kepala tempat tidurnya.
"Sudah ku katakan, sampai kapanpun aku tak mau menikah dengan orang yang sudah membunuh bayiku, apa kau tuli." Ucap Sarah kesal.
"Dan sudah ku katakan, aku tak mau penolakan apa kau tak paham. Undangan sudah ku sebar, dan kau tak bisa menghindarinya lagi." Ucap Anzas tegas tak mau di bantah.
Kenapa baru sekarang Anzas ngotot menikahinya, padahal sudah tak ada janin pengikat mereka lagi. Sebenarnya apa maunya, Pikir Sarah.
Entah mengapa dia belum bisa menerima kepergian calon anaknya itu, walau dia tahu itu anak hasil dari perbuatan dosanya.
Namun bagitu dia sudah terlanjur mengharapkan bayi itu begitu besarnya, tapi malah Ayah bayinya itu sendirilah yang sudah menyebabkan kematian bayi mereka.
"Pulanglah Za, aku pingin sendiri." Ucap Sarah pada akhirnya.
"Tidak."
__ADS_1