
"Katanya nggak mau nikah sama aku, tapi ko kaya cemburu gitu. Padahal aku cuman nyapa aja loh, toh juga ada tu suaminya Melodi." Sindir Anzas ketika dia sudah menyamakan langkah kakiknya di sebelah Sarah.
Sementara Sarah yang menyadari hal itu nampak cuek saja, namun tak urung dia menjawab sindiran pria itu.
"Sembarangan, siapa yang cemburu coba." Ucap Sarah bohong tak mau mengakuinya hal itu, dan menurutnya tak perlu juga dia mengakui itu.
"Masa sih, trus kenapa ninggalin aku gitu aja." Anzas terus saja mengerjai Sarah bahkan kini dia berjalan ke depan Sarah dan melangkah mundur sesuai langkah maju wanita itu.
"Apa sih Za, sana minggir." Kata Sarah sambil menggeser Anzas yang menghalangi langkahnya.
"Itu muka merah gitu, jadi pengen gigit tahu nggak." Jahil Anzas lagi dan lagi membuat Sarah menghentikan langkahnya.
"Sekali lagi ngomong, benar-benar aku nggak mau nikah sama kamu Za." Ucap Sarah tanpa sengaja membuat Anzas bersorak girang.
"Berarti kamu nggak jadi nolak aku kan, ah nggak sia-sia aku maksa kamu sayang." Ucap Anzas tanpa malu dan langsung saja memeluk erat Tubuh Sarah, alhasil mereka berdua kini menjadi pusat perhatian semua penghuni kampus di tempat mereka berada kini.
"Lepas Za, kita di lihatin banyak orang." Ucap Sarah membuat Anzas langsung menatap sekitarnya.
"Biar saja makasih sayang, aku senang banget tahu." Ucap Anzas setelah itu dia melepas Sarah dari dekapannya.
"Berarti pulang dari kampus boleh yah?" Tanya Anzas sambil melangkah, karena kini Sarah sudah melanjutkan langkahnya lagi.
"Boleh apa?" Tanya Sarah, sedikit mengerutkan keningnya tak mengerti yang di maksud Anzas itu.
"Itu loh."
"Itu Apa loh? yang jelas dong, kamu makin kesini makin aneh tahu. Ke bentur apa coba." Ucap Sarah sedikit bingung dengan perubahan sikap Anzas yang sangat berbeda dari sebelumnya, kalau sikap kasarnya dia sudah tahu akan hal itu.
Namun sifat jahil selain lembut, baru kali ini dia melihat hal itu ada di diri pria yang akan menjadi suaminya itu.
"Ke bentur cinta kamu yang nggak aku sadari sejak lama, hahahha bisa gombal juga aku ternyata." Ucap Anzas namun dia merasa lucu akan perkataannya sendiri.
"Diiih aneh." Ucap Sarah hanya menggelengkan kepalanya saja menyikapi sikap baru Anzas itu, namun di lubuk hati terdalamnya dia begitu bersyukur karena apa yang dia inginkan semua sudah di berikan Anzas kini.
Yah dia menginginkan Anzas yang seperti ini.
"Hehehe, pulang langsung gas yuk." Ucap Anzas ketika mengingat tujuannya awal.
"Gas apa? yang jelas kalo ngomong." Kesal Sarah.
"Itu, nyicil buat anak. Biar nikah udah jadi." Ucap Anzas dan langsung dapat tabokan dengan tas Sarah.
__ADS_1
"Dasar otak mesum." Ucap Sarah dan berjalan mendahului Anzas yang sedang meringis sakit.
"Sakit juga tuh tabokan." Kata Anzas sambil mengusap tulang sikunya yang terkena besi tas milik Sarah.
***
Parkiran kampus...
"By ayo cepetan dong, ntar telat ini kita." Ucap Melodi yang berdiri di samping mobil, menunggu Rizki yang sedang mengambil peralatan materi kelas mereka nanti.
"Ahhh." Ucap Melodi merasakan rambutnya di jambak seseorang dari arah belakang, hingga membuatnya menolehkan wajahnya dan mendapati Larissa orang yang sudah menjambak rambutnya itu.
"Awww. Apa yang kamu lakukan Sa, lepasin sakit." Ucap Melodi sambil menahan sakit di kepalanya akibat tarikan kuat tangan Larissa di rambutnya itu.
"Rasakan kamu manusia tak punya rasa syukur. Berani-beraninya kamu tak mengindahkan ancaman ku waktu itu." Ucap Larissa menggebu-gebu, entah setang apa yang merasukinya hingga dia melakukan hal itu pada Melodi.
Rizki yang sementara sedang berada di belakang jok mobilnya seketika langsung berlari kearah Melodi, ketika dia mendengar teriakan kesakitan dari sang istri.
"Apa yang kamu lakukan Rissa? Lepasin istriku." Ucap Rizki sambil mencoba melepas genggaman tangan Larissa yang bertengger di rambut Melodi.
Namun karena Larissa yang melingkarkan rambut sang istri di pergelangan tangannya, hingga membuat dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu dari rambut sang istri.
"Awww By, Sakit." Ucap Melodi lirih, karena Larissa begitu keras menarik rambutnya.
"Ku bilang lepasin istriku, apa kau gila haaah." Ucap Rizki sambil sengaja meremas kuat tangan Larissa berharap hal itu akan membuat wanita itu melepas rambut sang istri.
"Yah aku memang gila, dan dialah penyebabnya. Dia sudah merusak segalanya, dia merebut mu dariku. Dan kini dia juga pasti yang mempengaruhi Satria untuk meninggalkanku." Ucap Larissa masih bertahan dengan menarik rambut Melodi.
"Apa Maksudmu, aku tak tahu apa-apa soal hubunganmu dengan Bang Bima." Meski kesakitan Melodi tetap merespon perkataan Larissa karena apa yang di tuduh wanita itu tak sama sekali dia lakukan.
"Lepasin Sa sebelum aku melakukan hal kasar untukmu, kau sudah menyakiti istriku wanita gila." Ucap Rizki namun Larissa tak bergeming dia bahkan sesekali menendang bokong Melodi.
Hingga membuat Rizki langsung meremas tengkuk Larissa kuat hingga Larissa melepaskan tangannya pada rambut Melodi karena merasakan sakit pada tengkuknya.
"Awwww." Teriak Melodi saat di tendang Larissa .
Sementara Larissa berteriak sakit karena kini dia sudah di dorong kasar Rizki, hingga membuat dia terhempas jatuh.
"Ahhhh." Aduh Larissa.
"Dasar perempuan gila." Ucap Rizki sambil beralih memeluk sang istri.
__ADS_1
"Kamu nggak papa sayang." Tanya Rizki sambil Mengelus rambut Melodi yang di tarik Larissa tadi.
Melihat Rizki yang memeluk Melodi, Larissa langsung berulah dengan pikiran liciknya.
"Aku nggak akan membuat kalian tenang karena sudah mengusik kehidupanku." Batin Larissa sambil beranjak berdiri tak peduli dia yang kesakitan sekarang.
"Kalian dengar, wanita itu. Lihat dia." Ucap Larissa dengan lantangnya, karena saat ini mereka sedang di tonton banyak mahasiswa di parkiran itu akibat ulahnya tadi.
"Wanita itu, dia sudah merebut Rizki dariku. Mereka bahkan menikah dimana aku dan Rizki masih menjalin hubungan." Ucap Larissa membuat semuanya menatap tak suka ke arah Melodi.
Bahkan Banyak dari mereka yang berbisik-bisik dengan yang mereka dengar, apa lagi kini Rizki sedang memeluk erat istrinya membuat mereka makin membenarkan hal itu.
Karena yang mereka tahu, Larissa sudah berhubungan lama dengan Rizki. Sementara Melodi hanya sahabatnya.
Pernikahan Rizki dan Melodi pun tak ada yang tahu selain teman dekat saja hingga kini.
"Diam kau wanita gila." Teriak Rizki mencoba menghentikan aksi gila wanita itu, namun tak sedikitpun di indahkan Larissa.
"Tidak hanya sampai di situ, ketika aku sudah mengikhlaskan Rizki untuknya. Aku menerima hubungan mereka, tapi apa. Di saat aku sedang menjalin hubungan baru dengan pria lain. Dia tetap saja masih mengusikku." Lanjut Larissa lagi dengan menggebu-gebu.
Dia sungguh senang melihat tatapan shock Melodi kini.
Karena kini banyak yang mendukung perkataannya dengan menghardik Melodi dengan kata-kata pedas mereka.
"Nggak nyangka yah, Melodi bisa kaya gitu."
"Padahal kan mereka sering bareng, ko bisa dia rebut Rizki dari Larissa sih."
"Dia juga kan punya pacar, kasihan pacarnya kalau tahu kelakuan Melodi."
"Dasar pelakor."
Begitulah kalimat kalimat yang sampai di telinga Melodi kini, dan membuatnya tak sanggup memperlihatkan wajahnya dan memilih bersembunyi di dada bidan Rizki yang sedang memeluknya kini.
Inilah akibatnya jika kau tak mengindahkan peringatan ku Melodi. Batin Larissa bahagia.
🌼Baca cerita Satria yah Bab 6, biar tahu alasan Larissa melabrak Melodi kini.🌼
...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...
__ADS_1
Yuk yang belum mampir di cerita baru Author, jangan lupa mampir yah.
Judul : SATRIA. Author tunggu di sana yah, semoga berkenan☺️🤗.