
"Kami juga permisi, Tan, Raja." Ucap Saga sekaligus menarik tangan Gerald untuk pergi tanpa berpamitan pada Melodi, karena berharap Melodi pun akan mengikuti mereka berdua menyusul Rizki.
"Eh, kok semuanya pada pergi." Ucap Mama Ami.
"Iya tan mau nyusul Rizki, kita semobil soalnya. Permisi." Ucap Saga setelahnya mereka langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu menyusul Rizki.
"Aku juga pamit Ma, Ja. Entar kabarin aku aja kalau jadi naik gunungnya." Ucap Melodi setelah Gerald dan Saga baru saja pergi.
"Ya sudah, hati-hati ya sayang. Mama sama Raja masih seminggu di sini, kalau mau kamu bisa ke apartemen Raja biar Mama masakin buat kamu." Ucap Mama Ami sambil mengelus rambut Melodi.
"Siap Ma, entar aku kabar-kabar aja sama Rajanya." Ucap Melodi sambil memeluk Mama Ami.
"Siap sayang, Mama tunggu. Pulangnya hati-hati yah." Ucap Mama Ami.
"Iya Ma." Balas Melodi.
"Mel, nggak sebaiknya aku antar kamu pulang." Ucap Raja.
"Nggak usah Ja, pasti teman-temanku udah pada tunggu di bawah." Ucap Melodi.
"Jangan lupa kasih kabar." Ucap Melodi sambil memeluk Raja.
Setelah berpamitan Melodi langsung pergi menuju parkiran sambil menelfon Saga.
"Ga, kalian masih di bawah kan. Belum pulang kan, aku udah jalan ke bawa nih." Ucap Melodi setelah sambungan telfon telah tersambung.
"Masih, kita di mobil." Ucap Saga setelah itu Melodi langsung mematikan panggilannya.
"Untung belum pergi." Ucap Saga.
"Tapi kemana sih tu Rizki, main ditinggal-tinggal aja. Katanya mau belanja isi kulkasnya, malah dia sendiri yang ninggalin kita." Ucap Gerald, karena ketika ke parkiran, mereka tak ketemu dengan Rizki di sana. Ponsel pria itu pun bahkan tidak bisa di hubungi.
"Mungkin benar dia lagi ada urusan penting." Ucap Saga, padahal dalam hati dia sungguh kasihan melihat Rizki tadi. Dia jadi tahu bahwa Rizki benar-benar serius dengan Melodi, buktinya pria itu tadi begitu terlihat marah karena cemburu terhadap Melodi.
"Mungkin" Balas Gerald.
Tak berselang lama Melodi pun kini telah tiba di parkiran dan dia langsung berjalan menuju mobil Saga. Setelah sampai gadis itu pun langsung mengetuk kaca mobil Saga.
__ADS_1
"Lama banget Mel, untung Saga bilang nungguin kamu." Ucap Gerald.
"Sorry, tadi pamitan dulu. Masa aku langsung pergi aja." Ucap Melodi saat dirinya sudah duduk di kursi belakang, karena Gerald sudah duduk di sebelah Saga di samping kursi kemudinya.
"Ya sudah, kita langsung ke apartemen Rizki aja. Mobil ku kan di sana." Ucap Gerald.
"Rizki beneran pulang duluan yah?" Tanya Melodi.
"Yah, Udah aku hubungin juga buat nanya tapi ponselnya nggak bisa di hubungin." Ucap Saga sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Ya sudah, langsung ke apartemennya kalau gitu." Ucap Melodi.
Mereka pun pergi meninggalkan parkiran Mall itu tanpa Rizki bersama mereka.
Kini mereka telah sampai di parkiran apartemen Rizki setelah menempuh perjalanan yang hanya sebentar itu.
"Aku sama Gerald langsung pulang saja yah, toh juga Rizkinya nggak ada kan." Ucap Saga beralasan, dia hanya ingin Melodi dan Rizki menyelesaikan urusan mereka tanpa ada dirinya dan Gerald sebagai gangguan mereka nanti.
"Lah ko langsung pulang sih, kita nunggu Rizki di apartemennya saja kan Melodi tahu password apartemennya si Rizki kan. Palingan urusannya sejam dua jam doang." Ucap Gerald.
"Niat hati mau habisin waktu bareng, malah tu anak pake kerja segala." Ucap Gerald sambil keluar dari mobil Saga.
Setelah Gerald keluar Saga langsung berbicara pada Melodi.
"Mel, lo harus minta maaf sama Rizki. Dia pasti kecewa sama kamu, makanya dia langsung pergi tadi." Ucap Saga membuat Melodi mengernyitkan keningnya tak paham.
"Maksudnya apa? Memang aku punya salah apa?" Tanya Melodi bingung, karena menurutnya dia tak memiliki salah pada Rizki. Tadi juga dia bersama Rizki baik-baik saja pikirnya.
"Bagaimanapun kamu itu istrinya Rizki Mel, mana ada seorang suami yang nggak bakalan marah kalau istrinya memeluk pria lain. Akrab sama pria lain, mungkin juga puncak kekesalan Rizki tadi pas di meja makan. Kamu nggak lihat ekspresinya tadi." Ucap Saga menjelaskan panjang lebar.
Melodi yang mendengar itu jadi tersadar, mungkinkah sikapnya tadi telah keterlaluan menurut Rizki. Tapi Raja itu sahabatnya, dan mereka sudah biasa bersikap seperti itu. Dia sudah menganggap Raja sebagai saudaranya sendiri, itu saja.
"Itu belanjaan kalian." Ucap Saga lagi sambil menunjuk kantong belanjaan yang tadi di berikan Rizki padanya.
"Baiklah." Ucap Melodi kemudian wanita itu langsung turun dari mobil Saga setelah mengambil belanjaannya.
"Semoga masalah kalian cepat selesai. Salam buat Rizkinya." Ucap Saga setelah menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
"Mel, kita pergi yah. Atau lo mau ikut kita?" Tanya Gerald dari dalam mobilnya.
"Nggak deh, barang aku masih ada di apartemen Rizki soalnya." Ucap Melodi beralasan.
"Ya udah ambil sana, kita tungguin." Ucap Gerald lagi.
"Nanti aku nyusul deh." Ucap Melodi.
"Baiklah." Ucap Gerald.
Saga dan Gerald pun pergi meninggalkan parkiran setelah aksi ajak mengajak dengan Melodi usai. Gadis itu langsung beranjak pergi menuju apartemen suaminya itu dengan berbagai macam yang dia pikirkan setelah mendengar ucapan Saga tadi.
"Benarkah Rizki marah soal tadi?" Batin Melodi.
"Tapi mana mungkin, nikahnya aja ke paksa. Nggak ada rasa lagi, masa marah karena cemburu. Mana mungkin cemburu, ada ada aja kamu Mel pikirnya kejauhan." Batinnya lagi.
Melodi terus membatin dengan semua pemikirannya hingga kini dirinya telah sampai di apartemen mereka, dibukanya pintu apartemen itu dengan hati-hati. Setelahnya di lihatnya ke penjuru ruangan mencari keberadaan Rizki karena sendal yang tadi Rizki gunakan ada di rak sepatu belakang pintu masuk mereka, dan itu berarti Rizki ada di apartemen ini.
Saat memasuki kamar ternyata Rizki sedang duduk santai di balkon kamar mereka. Melodi langsung melangkah ke arah balkon kamar itu setelah dirinya tadi menaruh tas dan belanjaannya di kursi depan tempat tidur mereka.
"Mas." Panggil Melodi dan Rizki langsung menoleh pada sumber suara yang iya kenal itu.
"Udah selesai urusannya Mas?" Tanya Melodi lagi karena Rizki tak menyahut panggilannya.
"Sudah." Ucap Rizki.
"Mas marah sama aku?" Tanya Melodi langsung ke intinya.
"Kamu merasa aku marah?" Tanya Balik Rizki.
"Perasaanku." Ucap Melodi.
"Apa yang membuatmu merasa seperti itu?" Tanya Rizki lagi.
"Hanya perasaan saja." Ucap Melodi beralasan, karena dirinya tak tahu Rizki marah atau tidak kepadanya. Dia hanya kepikiran ucapan Saga tadi saja. Mana mungkin Rizki marah soal hal itu kecuali memang Rizki memiliki rasa terhadapnya sehingga dia bisa cemburu, tapi mana mungkin. Kalau memang ada rasa kenapa dia tetap bersama Larisa, pikir Melodi.
"Kalau aku bilang aku benar-benar marah karena cemburu bagaimana Mel?" Ucap Rizki.
__ADS_1