
"Ki Pap-i..." Ucap Papi Darma terpotong ketika beliau baru saja membuka pintu ruangan Rizki yang memang sudah terbuka sedikit. Papinya Melodi begitu terkejut ketika melihat menantunya itu sedang memeluk gadis lain Yang jelas-jelas bukan putrinya Melodi.
"Papi." Ucap Rizki langsung mengurai pelukannya dengan Larisa karena sedikit terkejut atas kedatangan mertuanya itu, namun dirinya mencoba biasa saja. Karena memang pelukan yang ia berikan pada Larisa hanya semata-mata sebagai pelukan perpisahan saja, tidak lebih.
"Apa Papi ganggu?" Tanya Papi Darma.
"Nggak kok pi, silahkan masuk." Ucap Rizki sambil berjalan menghampiri Papi Darma dan menyalami mertuanya itu.
"Papi, kenalin ini Larisa teman kampusku. Dan Larisa ini Papi mertuaku." Ucap Rizki memperkenalkan dua orang itu.
Setelah itu, Larisa pun pamit pergi meninggalkan yang sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya itu.
"Apa ada yang perlu kamu jelaskan ke Papi Ki?" Tanya Papi Darma setelah kepergian Larisa. Dengan santai Rizki pun menceritakan semuanya pada sang mertua. Dan beruntungnya Papi Darma, tak marah sedikitpun pada Rizki. Beliau hanya sedikit saja meminta pada menantunya itu.
"Terlepas dengan semua ceritamu itu, Papi akan percaya. Tapi tolong jika di suatu saat nanti kamu merasa bosan dengan anak Papi, tolong jangan pernah selingkuh darinya. Kembalikan saja dia pada Papi, setelah itu kamu bebas dengan siapapun. Hanya itu yang Papi minta dari kamu Ki." Ucap Papi Darma.
"Melodi adalah doaku Pi, dan sampai kapanpun tak akan ku sia-siakan. Karena dia adalah tujuan terakhirku dan tak ada akhir yang lain selain Melodiku." Ucap Rizki yang langsung diam-diam diaminkan oleh Papi Darma.
Keduanya pun akhirnya berakhir dengan obrolan santai, hingga Rizki mengingat satu hal.
"Papi kok bisa di sini, bukannya ada meeting." Tanya Rizki.
"Sudah selesai, dan kebetulan meeting nya di kantor dekat sini makanya Papi sekalian mampir saja." Jelas Papi Darma dan Rizki hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Papi kok tahu cafenya Rizki?" Tanya Rizki lagi, karena memang dirinya belum pernah mengajak mertuanya itu ke cafe ini.
"Kebetulan lewat terus nebak-nebak aja, atau mungkin juga firasat Mertua itu namanya." Ucap Papi Darma membuat Rizki mengerutkan keningnya bingung.
Papi Darma Diam-diam selalu memantau kedua Anaknya itu setelah menikah, sehingga jangan kaget jika beliau bisa mengetahui cafe Rizki.
"Udah nggak usah di pikirkan, Papi balik yah. Udah kangen Mami kamu soalnya, nggak bisa lama kalau jauh." Ucap Papi Darma dan langsung beranjak berdiri.
"Ah, Papi bisa aja. Aku pada Melodi juga gitu kok." Ucap Rizki membuat keduanya pun tertawa.
__ADS_1
"Jangan lupa datang makan malam." Ucap Papi Setelah berada di mobilnya dan kemudian melaju pergi meninggalkan cafe itu.
Setelah kepergian Papi Darma, Rizki pun memutuskan memilih kembali juga ke apartemen.
"Sayang." Panggil Rizki setelah memasuki apartemen mereka.
"Mel, Melodi." Panggil Rizki lagi karena tak ada jawaban dari istrinya itu.
Rizki pun berjalan menuju dapur, namun tak juga dia temui Melodi di sana. Setelah itu dirinya pun memutuskan untuk melihat ke kamar mereka.
"Astaga, pantas saja nggak jawab." Ucap Rizki saat melihat Melodi sedang tidur dengan nyenyak di kasur mereka.
Rizki pun berjalan menghampiri Melodi, dirinya pun ikut berbaring di sebelah istrinya itu sambil menatap lekat wajah polos itu.
"Kau sudah mencuri hatiku, bahkan pandanganku Mel. Semuanya sudah milikmu. Tak akan aku kembalikan kamu pada Papi seperti yang beliau minta. Kamu milikku, hanya milikku sampai kapanpun hanya milikku." Ucap Rizki sambil membawa Melodi dalam pelukannya, namun karena pergerakannya itu malah membuat Melodi terganggu dan terbangun karenanya.
"Ughh Mas." Ucap Melodi ketika dia menyadari ada yang memeluknya, dan sudah pasti itu Rizki tentu saja.
"Maaf sayang, kaget yah." Ucap Rizki mengurai pelukannya dan menatap Melodi yang sudah membuka matanya.
"Bau sayang." Ucap Rizki bercanda.
"Enak aja Bau, hah hah hah. Makan tuh bau." Ucap Melodi sambil menguap tepat di depan hidung Rizki.
"Iiiuww, jorok banget si istriku ini. Lagi sayang, tapi jangan di hidung aja. Bibir juga boleh." Ucap Rizki malah membuat Melodi yang mau mengulanginya lagi jadi di urungkan niatnya.
"Jorok, tapi minta lagi." Ucap Melodi langsung menjauhi Rizki.
"Mau kemana?" Tanya Rizki karena Melodi sudah turun dari ranjang mereka.
"Pipis, mau ikut?" Tanya Melodi sambil tetap melenggang menuju kamar mandi.
"Ayok." Ucap Rizki yang sudah ikut turun menyusul Melodi.
__ADS_1
"Stop. Mau kemana?" Tanya Melodi sambil menghentikan langkahnya karena entah bagaimana kini Rizki sudah berada di sampingnya saja.
"Tadi kan kamu ajak bareng kan." Ucap Rizki sengaja menjahili Melodi.
"Ih, apaan sih. Mana ada orang pipis di ikutin, sana Mas." Ucap Melodi dengan wajah memerah sambil mendorong tubuh Rizki menjauh, dan itu membuat Rizki jadi gemes sendiri melihatnya. Sepertinya menjahili istrinya akan menjadi rutinitas yang menyenangkan, pikir Rizki.
Setelah Melodi masuk kamar mandi, Rizki langsung beranjak ke dapur karena dia ingin membuat kopi untuknya juga tak lupa Jus kotak untuk Melodi, setelah selesai dia langsung masuk kembali ke kamar dan langsung menuju balkon kamarnya.
"Duduk di depan yuk." Ajak Rizki pada Melodi saat melewati tempat tidur.
Melodi yang memang sudah tidak mengantuk lagi akhirnya mengikuti ajakan Rizki.
"Kamu nggak nanya gitu, soal tadi aku ketemu Larisa." Tanya Rizki penasaran, karena Melodi seperti melupakan jika dirinya habis bertemu Larisa.
"Boleh kalau mau cerita." Jawaban Melodi membuat Rizki tak habis pikir, bisa-bisanya dia tak kepo sedikitpun soal Larisa. Definisi berjuang sendiri, yah begini nih pikir Rizki.
Namun begitu, Rizki tetap menjelaskan semuanya sama Melodi, bahkan sampai dengan pelukan terakhir dengan Larisa pun dia ceritakan. Kedatangan Papi pun tak ketinggalan di cerita Rizki itu.
"Papi datang ke cafe kamu." Ucap Melodi membuat Rizki melongo menatap gadis itu. Kenapa dari sekian banyak ceritanya, cuman kedatangan Papi yang di pertanyakan Melodi. Astaga, apa tak ada part yang menarik sedikitpun dari ceritanya tentang Larisa. Sudahlah, Mungkin memang Melodi tidak tertarik, pikir Rizki.
"Yah, tepatnya sekalian mampir setelah meeting selesai." Ucap Rizki dan Melodi hanya menganggukkan kepalanya saja tanda mengerti.
Malam menjelang, Rizki dan Melodi kini sudah di apartemen milik Melodi dulu.
"Sayang, lalu bagaimana apa sudah ada kabar baik?" Tanya Tante Mia ketika mereka kini sedang duduk santai di ruang tv, setelah habis makan malam bersama tadi.
Rizki dan Melodi yang tak mengerti pertanyaan Tante Mia pun akhirnya saling pandang, kemudian dengan spontan mereka langsung bertanya dengan kompak.
"Kabar apa?" Tanya keduanya.
"Itu hasil, di perut Melodi." Ucap Tante Mia ambigu.
"Hasil? Perut? Maksudnya apa Tan?" Tanya Melodi benar-benar tak mengerti.
__ADS_1
"Maksud tante kamu itu, cucu. Cucu dari perut kamu untuk kita." Ucap Mami Eka mewakili Tante Mia.