
Kini Melodi dan Rizki sudah berada di apartemen mereka, sekedar hanya membawa barang-barang mereka saja. Setelah itu barulah keduanya berangkat ke kampus mereka.
Saat baru saja sampai di parkiran kampus, keduanya langsung di sambut Anzas yang sedang duduk di depan mobil miliknya yang berhadapan langsung dengan mobil Rizki yang beru terparkir di sana.
Anzas langsung saja menghampiri mobil yang baru terparkir itu, dan langsung mengetok pintu di sebelah pintu kemudi. Karena dia tahu Melodi berada di sisi itu.
"Mas." Ucap Melodi saat melihat Anzas sedang mengetuk pintu mobil mereka, Melodi sedikit tak enak hati dengan suaminya itu. Namun siapa sangka tanggapan suaminya itu membuat dirinya merasa sedikit lega.
"Temui saja sayang, tapi jangan lama. Sebentar lagi kan kelas kita mulai." Ucap Rizki karena dia mempercayai istrinya sekarang. Terbukti dari hal semalam, maka dia akan mempercayainya.
"Mas nggak papa." Tanya Melodi memastikan.
"Nggak papa, yuk turun." Ucap Rizki dan setelah itu mereka berdua sama-sama turun dari mobil itu.
"Za." Panggil Melodi menyapa Anzas, tidak lagi dengan panggilan sayang biasanya. Dan itu membuat Anzas merasa terpukul dengan hal itu, namun dia mencoba terlihat biasa saja.
"Sayang, aku ke kelas duluan yah. Jangan lama." Ucap Rizki setelah menghampiri Melodi yang berada dekat tepat di depan Anzas, bahkan Rizki tak segan-segan mencuri sekilas ciuman di bibir Melodi. Seakan dirinya mau memberitahu jika Melodi adalah miliknya sekarang.
Anzas yang melihat itu, seketika memalingkan wajahnya dan mengepal erat kedua tangannya.
"Iya Mas." Ucap Melodi sambil tersenyum kearah suaminya itu, sebelum akhirnya Rizki meninggalkan dirinya dan Anzas di parkiran.
"Boleh ikut ke mobil sebentar sayang." Ucap Anzas namun Melodi seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sebentar saja." Ucap Anzas dan pada akhirnya mau tak mau Melodi mengikuti langkah Anzas, karena pria itu sudah terlanjur menggenggam dan menarik tangannya.
Sementara itu Rizki yang belum betul-betul meninggalkan parkiran melihat semua itu, dan hanya bisa menarik nafasnya saja.
__ADS_1
Rizki melakukan itu, karena dia mau Melodi benar-benar menyelesaikan masa lalunya itu. Agar kedepannya pernikahan mereka, tak akan di bayang-bayang oleh masa lalu istrinya. Dia percaya, bahwa kini Melodi sudah mulai belajar menerimanya. Itu sebabnya dia tak mau terlalu mengekang sang istri demi egonya sendiri.
Setelah melihat Anzas dan Melodi masuk kedalam mobil, barulah Rizki benar-benar meninggalkan parkiran.
Sementara itu di dalam mobil, Melodi di buat terkejut karena Anzas yang langsung memeluknya seketika. Saat mereka baru saja duduk di kursi masing-masing di mobil itu.
"Zas." Panggil Melodi seketika, dia sedikit terkejut dengan perlakuan Anzas kepadanya ini.
"Jangan memanggilku seperti itu sayang, aku nggak suka. Kemana panggilan sayang kamu ke aku sebelumnya. Apa aku punya salah padamu sayang, hingga kamu tak mau lagi memanggilku dengan sebutan biasanya." Ucapan Anzas seketika membuat Melodi terdiam. Sebab Anzas tak punya salah apa-apa padanya, dia yang sudah membuat salah pada pria baik itu. Pikir Melodi hingga dia tak biasa berkata apa-apa saat ini.
Namun saat Melodi terbayang wajah suaminya, tiba-tiba saja dia langsung melepas pelukan mereka. Tak peduli jika Anzas menatapnya tak suka.
"Kenapa? Apa aku juga tak boleh memelukmu lagi sayang." Ucap Anzas dengan wajah sedihnya.
"Bu-bukan begitu Za, tapi kamu kan tahu aku sudah memiliki suami. Jadi aku mohon kamu mengertilah. Kita sudahi semuanya, kamu juga berhak bahagia bukan. Dan bahagia mu bukan lagi aku, mengertilah Za." Ucap Melodi dia jadi merasa bersalah pada Anzas, namun dia juga merasa bersalah pada Rizki karena sudah membiarkan pria lain memeluknya tadi.
"Maafkan aku, aku aku..." Ucap Melodi terhenti karena Anzas kembali memeluknya. Bohong jika dia menyangkal jika tak lagi menyayangi pria baik di hadapannya ini. Hingga tanpa sadar Melodi mengusap sayang punggung Anzas, mencoba menenangkan pria itu.
"Za, jangan begini kamu membuatku merasa bersalah padamu." Ucap Melodi masih mencoba menenangkan Anzas.
"Jangan tinggalkan aku Mel, aku mohon. Aku bisa mati tanpamu Mel, jangan tinggalkan aku." Ucap Anzas terasa memilukan bagi Melodi.
"Iya, aku nggak akan ninggalin kamu. Tapi berhentilah menangis. Aku harus ke kelas sekarang Za, waktunya kelasku di mulai sekarang." Ucap Melodi pada akhirnya, dia tak bisa melihat Anzas rapuh seperti itu. Biarlah nanti dia memikirkan cara lainnya, tapi setidaknya pria di hadapannya ini tak lagi bersedih.
"Baiklah, janji yah jangan pernah ninggalin aku." Ucap Anzas sambil melepas pelukannya di tubuh Melodi.
"Yah, jangan menangis lagi. Aku harus pergi sekarang." Ucap Melodi dan setelahnya Anzas ingin mendekat dan menciumnya seperti biasa namun Melodi langsung menghindar dengan alasan kelasnya.
__ADS_1
"Za maaf, aku sudah telat." usai mengucapkan itu, Melodi langsung turun dan meninggalkan Anzas yang memaku menatap kepergiannya.
***
Sedangkan di dalam kelas, Rizki sedang duduk gelisah menunggu Melodi. Pasalnya kini dosen mereka sudah masuk ke dalam kelas namun istrinya itu belum juga terlihat.
"Melodi mana ki." Tanya Gerald berbisik karena dia juga baru masuk bersama Saga dan tak berselang lama baru dosen mereka masuk selanjutnya.
"Di parkiran." Ucap Rizki bersamaan dengan masuknya Melodi di kelas mereka.
"Selamat siang Pak, maaf saya terlambat." Ucap Melodi sambil menatap sang dosen yang juga sedang menatapnya.
"Masuk, dan tutup pintunya." Ucap sang dosen membuat Melodi menghembuskan nafasnya, berucap syukur masih di perbolehkan masuk.
Melodi langsung mengambil tempat di depan, karena di sebelah Rizki sudah ada yang tempati.
Hingga acara perkuliahan berjalan, Melodi tak konsen sedikitpun, karena dia memikirkan janjinya pada Anzas tadi. Tapi itu semua dia lakukan semata-mata hanya untuk menghentikan tangis pria itu. Jujur dia tak bisa melihat ada yang menumpahkan air mata hanya karena dirinya.
"Hooh." Melodi menghembuskan nafasnya kasar memikirkan hal itu sampai dia tak sadar sudah menjadi bahan perhatian semua yang berada di kelas saat ini.
"Ada apa? apa pelajaran ku membosankan." Ucapan dosen membuat Melodi tersadar dari lamunannya.
"Eh maaf pak, hanya tak sengaja pak." Ucap Melodi, dan lagi lagi beruntung karena sang dosen tak lagi mempermasalahkan itu.
Enam puluh menit berlalu, kini kelas mereka telah usai, dan Melodi langsung di samperin ke tiga sahabatnya itu. Eh ralat, suami dan dua sahabatnya.
"Ayo." Ajak Rizki pada Melodi dengan ekspresi dinginnya, entah mengapa itu membuat Melodi menelan Saliva nya melihat itu.
__ADS_1