
"Maafkan aku sayang." Ucap Anzas sambil mengusap sudut mata Sarah.
Setelah itu dia pun membawa Sarah dalam pelukannya.
"Jangan memancing kemarahan ku lagi." Lanjut Anzas sambil mengecup dan mengelus rambut Sarah.
"Makan yah, setelah ini kan kita ada kelas." Ucap Anzas dan hanya di angguki Sarah.
Wanita itu tak bisa berkata-kata setelah perlakuan Anzas terhadapnya tadi.
Anzas pun langsung memindahkan Sarah di kursi sebelahnya.
Memperbaiki anak rambut Sarah yang menutupi wajah wanita itu.
Mengusap sayang wajah basah Sarah, setelah itu dia mengecup sekilas kening wanita itu tak lupa juga bibir bengkaknya karena ulahnya tadi.
"Mau ku suap?" Tanya Anzas dan Sarah hanya menggelengkan kepalanya. Masih tak bisa menebak perubahan-perubahan mendadak pria itu.
Melihat itu Anzas langsung dengan sigap menyendok kan sesendok makanan ke mulut Sarah membuat gadis itu melotot.
"Aku bisa makan sendiri." Ucap Sarah namun tak di indahkan Anzas tentunya.
"Buka mulutnya." Kata Anzas tak mau di bantah.
"Nggak usah nanya kalau gitu." Ucap Sarah kesal namun tak ayal dia membuka mulutnya juga.
"Hehehe, pintar." Ucap Anzas terkekeh mendengar gerutu an wanitanya itu.
"Coba saja kalau tolak lagi, pasti aku akan menyuapi mu dengan sangat romantis tentunya." Ucap Anzas dengan menaik turunkan alisnya, membuat Sarah hanya memutar bola matanya malas karena dia tahu arti kata romantis yang Anzas maksud seperti apa.
"Kamu harus makan yang banyak sayang, lihat tuh badan kamu kurusan kan jadi nggak seksi lagi." Lanjut Anzas lagi dengan jujur, namun seksi yang dia maksud hanya bercanda saja.
Sarah yang mendengar itu seketika berhenti mengunyah makanannya.
Menatap Anzas tajam, sedangkan yang di tatap hanya bisa menelan Saliva nya karena di tatap seperti itu.
"Salah lagi, itu mata kenapa tajam banget sih. Oh calon Ibu dari anak-anakku ini ternyata mengerikan juga kalau marah." Batin Anzas bergidik ngeri di tatap tajam Sarah.
__ADS_1
"Stop aku bisa makan sendiri." Ucap Sarah dan langsung menggeser piring di hadapan Anzas ke arahnya, tak lupa juga dia mengambil kasar sendok di tangan pria itu.
"Sayang maaf, aku cuman becanda kok nggak serius." Ucap Anzas namun tak di hiraukan Sarah, wanita itu terus melanjutkan makannya.
"Yang, serius aku hanya bercanda saja. Nih lihat ini masih nggak muat di tangan aku, itu tandanya kamu masih seksi sayang. Tapi kamu harus banyak makan buat kesehatan kamu, maksud aku itu." Ucap Anzas memperbaiki ucapannya barusan, namun apa yang di perbuatnya langsung menambah kekesalan Sarah.
Bagaimana wanita itu tidak kesal, jika kini tangan Anzas sudah bertengger indah di dua aset berharganya kini.
Sarah langsung menatap ke arah tangan Anzas membuat sang empunya tangan langsung tersadar namun tak kunjung melepas tangannya.
"Hehehe." Hanya Cengengesan yang Anzas tunjukan membuat Sarah langsung melepas paksa tangan pria itu.
"Ko di lepas?" Tanya Anzas tanpa dosa.
"Gila." Ucap Sarah dan langsung berdiri meninggalkan Anzas yang mematung, dia jadi tak berselera makan lagi jadinya.
"Yah emang aku udah gila, gila karena kamu nggak mau di sentuh. Sudah gitu pake ngirit bicaranya lagi." Teriak Anzas saat sadar Sarah sudah menghilang dari hadapannya.
"Apa dia nggak kangen apa sentuhan aku." Gerutu Anzas.
Setelah itu dia langsung beranjak masuk ke kamar mengikuti Sarah.
"Sayang ngapain tutup pintunya, aku mau mandi juga." Tanya Anzas di depan pintu kamar mandi namun tak di tanggapi sedikitpun oleh wanita itu.
Karena merasa tak ada tanggapan Anzas pun langsung beralih ke arah tempat tidur, membaringkan tubuhnya sejenak sambil menunggu gilirannya untuk mandi.
Dua puluh menit berlalu barulah Sarah keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Anzas yang melihat itu hanya bisa menelan saliva nya, karena saat ini Sarah hanya membungkus tubuhnya dengan handuk sedada dengan panjang di atas lututnya.
"Kenapa nggak tunggu aku si Sayang, kan kita bisa mandi bersama." Ucap Anzas sambil berdiri dan memeluk Sarah dari arah belakang saat wanita itu sedang mengambil pakaiannya di lemari.
"Lepas Za." Ucap Sarah karena merasa geli dengan ulah tangan tangan nakal Anzas yang sudah bergerak ke sana kemari.
"Kenapa?" Tanya Anzas tanpa dosa.
"Kenapa? Apa kau tak lihat aku mau apa? Dan tangan kamu tak ada sopan-sopan nya sejak tadi." Kesal Sarah.
"Hukuman buat kamu sayang, karena sudah diamkan aku." Ucap Anzas sambil menarik lepas simpul handuk yang Sarah kenakan dan hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi Anzas selama mereka bersama selama menjadi pasangan saling memuaskan satu sama lain.
__ADS_1
"Za, apa kau tak bisa memperlakukan aku seperti wanita yang kamu hormati sekali saja? Seperti Melodi misalnya, yang kamu jaga tak menyentuhnya sembarangan." Ucap Sarah lirih, mengingat dia yang selalu lemah dengan sentuhan Anzas.
Dia tahu akhir dari sentuhan ini akan kemana, itu sebabnya dia berkata seperti itu pada Anzas.
Sarah juga kini berpikir, apakah dia semurah itu? Hingga jika Anzas ingin menyentuhnya. Maka pria itu akan menyentuh dirinya kapanpun dia mau.
Mendengar itu seketika Anzas langsung menghentikan aktifitasnya, di ambilnya handuk yang tadi di lepaskan dari tubuh Sarah. Kemudian dia langsung memakaikannya kembali.
"Maafkan aku, maaf tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh dirimu. Tapi yang harus kamu tahu, aku tak ada niat merendahkan dirimu sedikitpun. Hanya saja, aku sudah terlalu terbiasa dengan tubuhmu. Katakanlah aku brengsek, brengsek karena kecanduan terhadapmu." Ucap Anzas dan setelah itu dia berjalan gontai menuju kamar mandi.
Melihat Anzas yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
Sarah pun langsung menyandarkan punggungnya di lemari belakangnya, memejamkan matanya sebentar sambil mengatur jantungnya yang terus saja berdegup ria.
Dia tak pungkiri, jika dia pun menginginkan sentuhan itu. Namun dia teringat jika yang mereka lakukan selama ini salah, cukup sudah anak yang Tuhan ambil darinya sebagai teguran untuk dirinya..
Dan lagi kenapa Anzas begitu tak sabar sedangkan pria itu katakan jika mereka akan menikah bukan. Dia bahkan iri dengan Melodi yang selalu Anzas jaga, perlakukan seperti benda berharga yang akan dia pakai di saat memang sudah waktunya.
Tapi kenapa tidak dengan dirinya. Anzas bahkan setiap waktu, setiap saat selalu saja mencari kesempatan untuk menyentuh dirinya kapanpun itu.
Apa memang karena dirinya juga, yang dengan rela saja jika di minta. Hingga sudah menjadi kebiasaan bagi Anzas sampai sekarang. Seperti kata pria itu, tubuhnya sudah menjadi candu bagi Anzas. Atau bisa saja menjadi kebiasaan untuk pria itu.
.
.
.
Beberapa episode ke depan akan banyak membahas kisah Anzas dan Sarah boleh?
Soalnya Author mau nyelesain masalah mereka dulu biar fokus ke Rizki dan Melodi saja kedepannya.
Menurut kalian gimana Readers?
...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...
__ADS_1
Yuk yang belum mampir di cerita baru Author, jangan lupa mampir yah.
Judul : SATRIA. Author tunggu di sana yah, semoga berkenan☺️🤗.