Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Keputusan


__ADS_3

"Mas, ko cepat banget baliknya?" Tanya Melodi karena perasaannya Rizki tadi baru saja pergi, namun sekarang pria itu sudah kembali lagi.


"Urusannya udah beres soalnya." Jawab Rizki sambil berjalan mendekati Melodi yang masih di tempat sebelum Rizki keluar tadi.


"Oh iya Mas, tadi Larisa telfon aku tapi nggak sempat aku angkat soalnya lagi ke kamar mandi tadi." Ucap Melodi.


"Nanti kalau dia telfon lagi, nggak usah di angkat. Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Larisa soalnya." Ucap Rizki membuat Melodi mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang kamu mutusin Larisa sepihak Mas, itu nggak adil buat dia." Ucap Melodi yang sudah berasumsi sendiri setelah mendengar penuturan Rizki barusan.


"Nggak mungkin aku mutusin tanpa alasan sayang. Dia sendiri yang membuat semuanya berakhir, dan aku bersyukur untuk hal itu." Ucap Rizki dengan wajah jijik ketika kembali membayangkan kejadian tadi sekaligus rasa bahagia yang tak bisa dia tutupi dalam waktu bersamaan.


"Maksud kamu apa Mas?" Tanya Melodi yang tak mengerti dengan penuturan Rizki apalagi dengan ekspresi pria itu saat ini.


Rizki pun akhirnya menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya tentang kejadian tadi di apartemen Larisa.


"Flashback On"


"Sayang." Ucap Larisa lemas saat dirinya bertatapan dengan Rizki ketika baru saja melepas tautan bibirnya dari pria di depannya dan tak sengaja melihat Rizki yang sedang menatapnya jijik tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Sayang terima kasih yah, aku pergi dulu." Ucap Pria di depan Larisa, sambil kembali mengecup bibir Larisa setelah itu Berlalu pergi tanpa sadar situasi yang sedang Larisa hadapi saat ini.


Larisa yang masih Lemas di tatap Rizki seperti itu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, agar pria di hadapannya cepat berlalu.


Di tatapnya wajah pria yang sudah hampir menemaninya setahun lebih itu, pria yang selalu baik dan mengerti dirinya itu namun kini menatapnya dengan tatapan jijik. Larisa tak menyangka jika Rizki kini menatapnya dengan tatapan menjijikan, yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Gadis itu tak berniat menghampiri Rizki karena sakin lemas dirinya saat ini.

__ADS_1


Rizki yang melihat Larisa hanya diam saja menatap dirinya tanpa kata pun akhirnya memutuskan untuk mendekati gadis itu.


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Larisa lirih ketika Rizki sudah berada dekat di hadapannya.


"Tak perlu jelaskan apapun sa, aku tahu kamu punya alasan tersendiri. Tapi aku sudah memutuskan. Mulai saat ini hubungan kita berakhir, melihat ataupun tanpa melihat kejadian tadi. Karena niat awalku memang kesini, membicarakan perpisahan ini baik-baik. Namun Tuhan terlalu baik untuk kita berdua agar tak saling menyalahkan kedepannya dengan kejadian ini. Dan kamu tak perlu merasa bersalah, karena aku tak marah untuk hal itu dan kamu pun harus begitu. Itu pilihanmu yang patut aku terima. Mungkin ini adalah jalan terbaik tuhan untuk kita sampai disini." Ucap Rizki hati-hati, agar Larisa tak merasa bersalah ataupun dirinya atas keputusannya terhadap perpisahan mereka.


"Maafkan aku." Ucap Larisa dengan melihat Rizki sebentar kemudian menundukkan tatapannya tak sanggup menatap kearah Rizki lebih lama lagi.


"Kau tak perlu minta maaf Sa, karena aku tak marah padamu. Maafkan aku sudah menilai atau berkata buruk tentangmu tadi, aku tahu setiap yang kita lakukan pasti ada alasan besar di belakangnya dan begitupun dirimu atau diriku kan." Ucap Rizki tak tega melihat tatapan bersalah yang di tunjukan Larisa tadi saat mereka bertatapan.


"Aku pamit, jaga dirimu baik-baik." Ucap Rizki karena Larisa tak kunjung berbicara lagi setelah dia meminta maaf tadi.


Rizki tak marah pada larisa sedikitpun, dia hanya sedikit shock saja pada wanita itu. Wanita yang dia kenal begitu lembut dan baik, dan tak menyangka bisa seperti tadi. Karena selama mereka pacaran, dia saja begitu menghormati Larisa. Ciuman saja tak pernah, karena memang dia tak mau merusak gadis itu.


Namun begitu di balik kejadian tadi, Rizki sedikit bersyukur karena tuhan bagitu baik padanya karena tak perlu dia bersusah paya menjelaskan pada Larisa alasan dirinya meminta menyudahi hubungan mereka. Larisa malah yang sudah memudahkan tujuannya datang saat ini. Kejam memang, tapi ini lebih baik di banding dia menyakiti gadis itu tanpa alasan.


"Tapi aku belum bilang kalau kita sudah menikah, takut dia tak terima nanti. Kamu tak apa kan sayang?" Tanya Rizki ketika selesai menjelaskan kejadian tadi pada Melodi.


"Yah itu lebih baik." Ucap Melodi sedikit lega, karena Rizki tak setega itu memberitahukan pernikahan mereka pada Larisa yang masih begitu shock dengan kehadiran dan keputusan Rizki tadi.


"Kamu tak marah pada Larisa atas kejadian tadi." Tanya Melodi penasaran.


"Tidak, malah berterima kasih dengan kejadian tadi. Aku tahu, dia pasti memiliki alasan tersendiri dan aku tak pantas menghakimi orang kan." Ucap Rizki.


Melodi yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya saja.

__ADS_1


"Oh iya Mas. Aku udah kirim tugas kita ke email dosen kelas sore nanti, katanya beliau nggak jadi masuk soalnya." Ucap Melodi yang baru mengingatnya.


"Astaga aku belum bikin lagi." Ucap Rizki yang benar-benar lupa, karena memang akhir-akhir ini pikirannya hanya terfokus pada Melodi.


"Kamu nggak dengar kata kita yang aku bilang tadi, punya kamu udah aku kirim juga." Ucap Melodi.


"Hah, kapan memang kerjainnya.?" Tanya Rizki karena setahunya, dia tak pernah melihat Melodi mengerjakan tugas apapun.


"Saat kamu tidur waktu sakit kemarin Mas." Ucap Melodi.


"Oh syukurlah, istri aku memang yang terbaik." Ucap Rizki sambil menangkup wajah Melodi dengan Kedua telapak tangannya.


"Gemesnya." Kata Rizki lagi ketika melihat waja cemberut Melodi dalam bingkai tangannya.


"Udah Mas, lepasin." Ucap Melodi yang entah mengapa jantungnya berdetak begitu lancangnya ketika diperlakukan Rizki seperti ini.


"Kenapa, ini lucu tahu." Ucap Rizki tetap pada posisinya.


"Aku bukan badut Mas." Ucap Melodi tambah cemberutkan wajahnya, menutupi rasa deg-degannya yang mulai terasa aneh menurutnya.


"Oh, apa ini." Batin Melodi.


"Badut nggak se menggemaskan seperti kamu sayang." Ucap Rizki tambah membuat kondisi jantung Melodi mulai tak stabil.


Keduanya pun diam saling tatap karena mereka kini sedang dalam kuasa pemikiran masing-masing, Hingga kini entah keberanian dari mana Rizki memberanikan diri untuk mencium Melodi hingga kini keduanya pun telah hanyut dalam ciuman yang begitu lembut bagi dirinya maupun Melodi sendiri. Tapi tiba-tiba saja bel apartemen mereka berbunyi hingga keduanya pun terkejut dan saling melepaskan diri dengan sama-sama saling salah tingkah dengan ulah keduanya sendiri.

__ADS_1


"Maaf." Ucap Rizki dan langsung beranjak untuk membukakan pintu untuk tamu yang sudah mengganggu aktifitas langkah mereka itu.


"Kamu." Ucap Rizki ketika dirinya baru saja membuka pintu apartemen mereka.


__ADS_2