
"Anzas bukan tipe pemarah Mas dan dia.." Ucap Melodi terhenti saat dia sadar akan kata-katanya. Ah, lagi-lagi dia menyakiti Rizki. Walaupun tak ada niatan sedikitpun menyindir Pria itu, karena memang Anzas bukan pemarah selama bersamanya.
"Dan dia sempurna" Ucap Rizki menimpali tanpa mau menanggapi pujian Melodi pada Anzas.
"Aku lapar sayang, kamu ada masak atau beli makan nggak?" Tanya Rizki agar mereka tak lagi membahas Anzas. Biar untuk malam ini saja tak mau lagi membahas pria itu dulu, karena dia harus menyiapkan diri besok bertemu dengan Anzas. cukup sudah dia tadi hampir stres memikirkan Azas dan istrinya itu.
"Maaf Mas, aku kira Mas udah makan." Ucap Melodi merasa bersalah.
"Ya sudah biar Mas makan mie instan saja." Ucap Rizki.
"Ya udah kalau gitu Mas mandi dulu, bau soalnya, biar aku masak mie nya." Ucap Melodi kemudian langsung berjalan ke dapur.
"Hah bau?, Eh bau juga yah." Rizki berkata setelah mencium bauh tubuhnya sendiri, betul kata Melodi. Dirinya sangat bau, tepatnya bau rokok.
"Mas jangan lama mandinya." Teriak Melodi ketika dia melihat Rizki mau memasuki kamar mereka.
"Ia sayang." Jawab Rizki seolah lupa jika dirinya dan Melodi tadi memiliki masalah cukup tegang tadi.
Setelah selesai membuat mie untuk Rizki, Melodi pun beranjak pergi ke kamar untuk memanggil suaminya itu.
"Mas, udah belum? Mie nya udah masak itu." Ucap Melodi setelah memasuki kamar dan mendapati Rizki baru keluar kamar mandi.
"Iya udah ini, tinggal pakai baju doang ko sayang." Ucap Rizki sambil berjalan menuju lemari pakaian.
Melodi pun langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya sejenak, karena sore tadi dia sudah mandi sebelum ke Apartemen Anzas. Jadi gadis itu pun memutuskan untuk mencuci muka dan mengganti bajunya saja.
"Loh, udah selesai makannya mas. Cepat banget?" Tanya Melodi ketika baru keluar kamar mandi dan mendapati Rizki.
"Ya mana bisa kamu biarin aku makan sendiri, itu mie nya juga cuman buat satu." Ucap Rizki cuek.
"Astaga Mas, yang ada mie nya bengkak loh nggak enak. Lagian tadi aku udah makan, Makanya buat mie nya cuman buat Mas aja." Ucap Melodi sambil berjalan menuju lemari dan mengambil baju tidur untuk dia pakai.
"Masak yang baru lagi aja." Ucap Rizki sambil memainkan ponselnya sambil berbaring menunggu Melodi.
"Iya sudah. Ayo Mas." Ucap Melodi setelah selesai mengganti bajunya dengan memakai baju tidurnya seperti biasa.
Kini Melodi sudah tak sungkan lagi jika berganti pakaian di hadapan Rizki begitu pun sebaliknya, entahlah mungkin Melodi sudah menerima Rizki namun belum di sadri oleh gadis itu.
Melodi pun berjalan keluar kamar sambil Rizki yang mengekornya dari belakang.
"Tunggu sebentar, Mas duduk saja dulu." Melodi berkata setelah meraka sampai di ruang makan mereka.
"Telurnya dua ya sayang."
__ADS_1
"Iya."
Tak butuh waktu lama, kini mie Rizki pun sudah siap dan Melodi langsung menaruhnya di hadapan Rizki.
"Mas taruh dulu ponselnya, makan dulu." Ucap Melodi karena Rizki tetap fokus dengan ponselnya walau mie sudah berada di depan dirinya.
"Bisa minta tolong suapi Mas nggak sayang, Mas ada urusan penting soalnya ini." Ucap Rizki sambil melirik Melodi sekilas kemudian dia kembali dengan aktifitas di ponselnya lagi.
"Iya Mas." Ucap Melodi kemudian dia langsung duduk mendekati Rizki dan langsung menyuapi pria itu.
Entah apa yang Rizki buat, namun pria itu terlihat sangat serius sekali dengan ponselnya.
Hingga beberapa saat, barulah Rizki meletakan ponselnya di atas meja.
"Selesai." Ucap Pria itu.
Melodi tak mau bertanya tentang apa yang sedang Rizki kerjakan, walau dirinya sangat ingin tahu karena melihat dari ekspresi pria itu yang terlihat cukup puas setelah meletakan ponselnya.
"Mau lanjut makan sendiri atau." Tanya Melodi.
"Tanggung sekalian saja sayang." Ucap Rizki sambil tersenyum menatap Melodi.
"Mas."
"Sejak kapan kamu merokok?" Tanya Melodi sambil tetap menyuapi Rizki.
"Selama kita kenal aku nggak pernah lihat kamu ngerokok, bahkan nggak pernah nyium kamu bau rokok." Lanjut Melodi lagi, sejak tadi dia sudah gatal sekali ingin bertanya itu. Namun karena mood Rizki yang belum begitu baik makanya dia urungkan niatnya, dan saat inilah waktu yang tepat menurutnya untuk bertanya setelah melihat ekspresi Rizki yang terlihat baik saat ini.
"Aku baru mencobanya tadi, kebetulan pas aku datang ke cafe dan masuk ruangan dan melihat Juna sedang merokok, aku minta saja rokoknya yang dia pegang untuk ku coba. Dan ternyata tidak buruk." Ucap Rizki membuat Melodi melotot padanya.
"Astaga, baru pertama dan sebanyak itu, dan lagi kenapa Juna. Ah pria itu, membawa pengaruh buruk untuk mu Mas. Awas saja kalau aku ketemu dia lagi, tak suruh dia langsung merokok sebungkus sekaligus." Ucap Melodi membuat Rizki meringis.
"Kamu juga Mas, ingat itu untuk terakhir kalinya. Bukan hanya nggak bagus buat kesehatan kamu, tapi juga membuat bau badanmu seperti bau satpam di fakultas kita tahu, bau tua." Ucap Melodi sedikit kesal sambil kembali membayangkan kembali ketika Rizki tadi memeluknya bahkan menciumnya dengan keadaan bau.
"Astaga sayang, segitunya kah. Masa aku di samain sama satpam fakultas sih." Ucap Rizki tak terima.
"Kenapa marah, kau sudah mencemarkan bibirku dengan mulutmu yang bau rokok itu. Hampir saja aku kira yang menciumiku tadi satpam fakultas." Ucap Melodi sakin kesalnya, karena memang dia sempat menyamakan bau Rizki dengan Bau satpam fakultas mereka yang suka merokok itu.
"Hehehe, maaf sayang. Ya udah deh, sini aku cium ulang biar hilangin rasa yang tadi jadi rasa mie." Ucap Rizki jahil kemudian dia langsung tertawa ketika melihat Melodi yang melotot menatapnya.
"Becanda sayang." Ucap Rizki sambil tersenyum tanpa dosa.
"Nih, lanjut makan sendiri."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Melodi langsung berdiri meninggalkan Rizki menuju kulkas.
"Yah, tanggung sayang udah mau habis ini."
"Karena udah mau habis, makanya makan sendiri." Ucap Melodi kemudian kembali duduk sambil membawa lemon di tangannya.
"Mas mau." Tanya Melodi menawari lemon pada Rizki.
"Boleh."
"Itu kenapa mie nya nggak di makan lagi." Tanya Melodi karena melihat Rizki mendorong piring sisa minya menjauh dari hadapannya.
"Udah kenyang. Mau lemon saja."
"Ya sudah, sebentar." Melodi pun mengusap dua buah lemon untuk mereka berdua.
"Kenapa kamu memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengan Anzas secepat ini sayang? kamu juga ngakuin aku sebagai suami kamu? Apa itu berarti.." Ucap Rizki langsung di potong Melodi.
Tadinya Rizki tak mau bahas Anzas lagi, tapi otaknya ini tetap saja menuju pada Anzas. Apalagi besok pria itu akan menemuinya.
"Aku nggak mau terlalu lama, menahan Anzas Mas. Dia berhak tahu dan berhak untuk bahagia juga. Aku jahat kalau terus menutupi pernikahan kita dari dia Mas, dia orang baik dan tak pantas jika aku terus menyembunyikan ini dari dia Mas."
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. nih Makan lemon nya. Habis itu tidur, aku udah ngantuk soalnya."
"Iya iya."
Setelah lemon masing-masing habis, keduanya pun langsung menuju kamar untuk istirahat.
"Mel."
"Hmm."
"Boleh peluk"
"Boleh."
"Tidurlah sayang." Ucap Rizki setelah membawa Melodi dalam pelukannya.
Tak berselang lama Rizki pun mendengar dengkuran halus dari Melodi pertanda gadis itu telah terlelap.
"Aku mencintaimu Mel." Setelah mengucapkan itu Rizki langsung mengecup pucuk kepala Melodi sambil memeluk erat tubuh gadis itu, namun tak sampai membangunkan Melodi.
"Akan aku buat paham Anzas besok, jika kamu hanya pantas untukku Mel. Hanya aku."
__ADS_1