Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Menyendiri Untuk Sementara


__ADS_3

Terdengar deburan ombak sepanjang sepasang kaki melangkah tak menghiraukan terpaan air mengenainya. Gadis itu tetap melangkah walau geraknya tak sebebas berjalan pada umumnya, karena kini langkahnya tertahan ombak kecil seakan memintanya agar tak melangkah lebih jauh lagi.


Saat dia terus melangkah separuh dan tubuhnya terus tertelan air laut itu tiba-tiba saja sebuah tangan kokoh menahan pergerakannya dan langsung membopong tubuhnya menuju tepian pantai.


"Hey, lepaskan. Apa yang kamu lakukan." Pekik Melodi ketika dirinya merasakan tubuhnya melayang.


"Diam." Ucap orang yang sedang membopong tubuh Melodi.


"Kamu gila yah, lepaskan aku." Ucap Melodi sambil memukul punggung kekar pria yang menurutnya gila itu.


"Kamu yang gila, ngapain mau bunuh diri di tempatku. Bikin susah saja." Ucap pria itu sambil menurunkan Melodi.


Saat kedua mata itu bertemu, tiba-tiba saja pria itu langsung terdiam sambil menatap wajah basah Melodi. Entah apa yang iya pikirkan namun, tiba-tiba senyum terukir di sudut bibir pria itu.


"Gila memang ni orang, iya kali aku mau bunuh diri dengan jalan sesantai itu." Ucap Melodi sambil melirik pria itu kesal.


"Kenapa menatapku seperti itu." Ucap Melodi bertambah kesal karena pria itu terlihat tersenyum.


"Ehem... Cantik cantik ko mau-maunya bunuh diri." Pria itu ber-dehem setelahnya bergumam pelan namun masih bisa di dengar Melodi.


"Kapan aku mau bunuh diri." Ucap Melodi.


"Tajam banget tuh kuping. Terus ngapain kamu di sana jam segini." Ucap pria itu sambil menunjuk Pantai.


"Yah berenang lah, mau apa lagi kalau bukan renang." Ucap Melodi sambil mendudukkan dirinya di atas pasir.


"Mana ada orang renang jam segini." Ucap Pria itu sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukan jam satu siang.


"Ya suka-suka aku lah." Ucap Melodi sambil melihat ke arah laut.


"Gila ni anak." Ucap Pria itu.


"Bapak yang gila." Ucap Melodi asal, karena orang itu memanggilnya anak, padahal pria itu kelihatan tak bedah jauh umurnya dari Melodi.


"Bapak bapak, fix lo emang gila. Udah gila, buta lagi." Ucap pria itu sambil menatap tak percaya Melodi.


"Bisa diam nggak, udah ngatain aku mau bunuh diri, gila, dan sekarang juga kamu ngatain aku buta. Pergi kamu dari sini sebelum aku panggilkan satpam buat seret kamu dari sini." Ucap Melodi menatap Pria itu dengan ekspresi marahnya.


Namun pria itu hanya menertawakan ucapan Melodi saja, entah apa yang lucu dari perkataan Melodi barusan hingga membuat pria itu tertawa segitunya menurut Melodi.


Melodi yang kesal mendengarkan tawa pria itu pun, dia langsung merebahkan tubuhnya ke pasir sambil tangan satunya menutup kedua matanya sambil menarik nafasnya dalam dalam dan kemudian menghembuskan nafas itu dengan perlahan.


Pria itu kemudian duduk di sebelah Melodi saat tawanya terhenti ketika melihat Melodi tak lagi menanggapi dirinya dan lebih memilih tidur di pasir.


"Lo lagi punya masalah yah, ngapain mesti bunuh diri. Kamu jangan lari dari maslah apalagi dengan buat dosa kaya barusan, masih banyak ko solusi lain selain bunuh diri." Ucap pria itu yang masih kekeh dengan pemikirannya. Pria itu jadi tak tega saat Melihat Melodi seperti orang yang memiliki masalah berat saat ini..


Melodi tak menanggapi ucapan pria itu dan lebih memilih untuk tak menganggap keberadaan pria itu.


Merasa tak di hiraukan pria itu pun kembali bersuara lagi.


"Aku Mahesa, pemilik Villa ini. Kamu tamu di sini kan, tamu di hari rabu. Hari dimana semua orang sedang sibuk dan kamu malah menyewa villa. Kamu nggak kerja atau kuliah gitu?." Ucap Mahesa lagi memperkenalkan dirinya.


"Kamu nggak tiba-tiba tuli kan." Ucap Mahesa lagi karena tak di hiraukan Melodi.


"Bisa tinggalkan aku sendiri." Ucap Melodi tanpa berniat melihat Mahesa.


"Nggak mau, nanti kamu bunuh diri lagi." Ucap Mahesa.

__ADS_1


"Ampun, aku masih menyayangi nyawaku bodoh." Ucap Melodi sambil beranjak duduk dan menatap Mahesa sinis.


"Dih, santai aja kali. Jadi bener kamu nggak mau bunuh diri? Terus ngapain siang-siang gini di sana." Ucap Mahesa sambil menunjuk tempat Melodi tadi.


"Bukan urusan kamu." Ucap Melodi, pasalnya dia tadi hanya mau mencoba bagaimana rasanya mandi air laut di siang bolong begini. Dia mencobanya karena saat ini tak ada satu pengunjung yang berada di pantai siang ini.


"Ini sudah menjadi urusanku, jika terjadi apa-apa sama kamu nanti yang rugi pihak aku lah. Masa Villa yang baru aku resmikan setahun lalu harus tutup karena ada yang bunuh diri, yang benar saja." Ucap Mahesa sambil merinding dan menggelengkan kepalanya seakan sedang membayangkan sesuatu.


"Humm, idiot memang ni orang. Udah aku jelasin juga." Ucap batin Melodi.


Merasa kembali di abai Mahesa tak habis ide untuk terus mengorek tentang gadis cantik di sebelahnya itu.


"Oke oke, aku coba percaya kamu nggak bakal bunuh diri. Tapi sebelum aku pergi kenalkan dulu nama kamu, baru aku berhenti bertanya." Ucap Mahesa.


"Melodi." Dengan cepat Melodi mengatakan namanya agar Mahesa tak lagi mengganggunya.


"Nama yang bagus " Ucap Mahesa lalu berdiri dan meninggalkan Melodi, karena gadis itu setelah menyebutkan namanya dia langsung merebahkan tubuhnya di pasir kembali.


Dengan menaruh sebelah tangan di kedua matanya dan satu tangan sebagai bantalnya Melodi mulai dengan pemikirannya.


"Apa, benar yah kalau aku lari dari masalah seperti ini." Batin Melodi.


Setelah memikirkan itu Melodi langsung bergegas bangun dan dia berniat kembali ke Vila tempatnya menginap saat ini.


Tadi pagi sebenarnya Melodi memang tak berniat untuk pergi kampus, karena moodnya yang kurang bagus juga dia khawatir akan bersikap aneh ketika di kampus jika berhadapan dengan Rizki nanti. Maka semalam dia sedikit searching tentang Villa kekinian yang sedang ramai saat ini di internet dan tak jauh dan hanya di sudut kota itu saja.


Pikirnya mungkin dengan bersantai sejenak dia bisa melupakan perkataan Rizki terhadapnya, juga dia sedikit malu karena tubuhnya sudah iya tunjukan seutuhnya pada Rizki juga itu salah satu sebabnya. Karena seumur hidupnya dia tak pernah bersikap seberani itu, apalagi sampai nekat naked di hadapan pria untuk pertama kali seumur hidupnya itu. Tentu saja itu hanya sikap protesnya terhadap Rizki saja, dia hanya tak terima orang menganggap rendah dirinya itu saja. Namun karena Rizki menganggapnya seperti itu kenapa tidak dia membenarkan saja ucapan pria itu pikirnya.


Sesampainya di Villa Melodi langsung di sambut dengan pegawai Villa yang langsung menghadang langkahnya dan memberikan sebuah kimono handuk kepadanya. Dengan tersenyum Melodi pun menerimanya.


"Makasih ya bu." Ucap Melodi sambil tersenyum.


"Bawa saja ke kamar, saya akan makan di sana saja." Ucap Melodi dan hendak meninggalkan wanita itu namun langsung di cegah.


"Nona, tuan Mahesa sudah menunggu anda untuk sarapan bersama." Ucap Ibu itu lagi menghentikan langkah Melodi.


Mendengar nama itu langsung membuat gadis itu pusing seketika.


"Saya akan check out saja kalau begitu." Ucap Melodi karena tak mau menambah pikirannya dengan bertemu lagi sama Mahesa. Seusai mengatakan itu Melodi langsung saja menuju ke kamarnya.


Mendengar ucap tamunya berbicara seperti itu, ibu tersebut langsung saja menghampiri Mahesa untuk memberitahu perihal ucapan Melodi padanya.


Baru saja Melodi keluar kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Melodi sudah di buat kesal dengan ketukan pintu yang menurutnya sangat mengganggunya. Niat hati menenangkan pikiran, namun ini malah membuat dia menjadi tambah pusing pikir Melodi.


"Maafkan ketidak nyamanan anda dengan keberadaan saya. Saya hanya mau meminta maaf dengan mengajak anda makan siang bersama. Namun jika itu membuat anda tak nyaman tolong sekali lagi maafkan saya." Ucap Mahesa sambil menunduk hormat ketika Melodi baru membuka pintu kamarnya.


Tadinya Mahesa hanya berniat mengajak Melodi makan bersama sekedar untuk meminta maaf saja. Namun reaksi Melodi membuat Mahesa tak enak hati, karena sudah membuat pelanggannya menjadi tak nyaman berada di Villanya, itu sebabnya saat ini dia berbicara begitu formal tidak sama seperti waktu di pantai tadi. Sekedar menghormati pengunjung Villanya itu.


Mendengar ucapan Mahesa membuat Melodi jadi tak enak hati.


"Sudahlah, tidak masalah. Hanya saja saya sedang banyak masalah sekarang, itu sebabnya saya sedikit sensitif." Ucap Melodi pada akhirnya.


"Baiklah, jika begitu. Saya permisi, dan makan siang anda akan di bawakan karyawan saya sebentar lagi." Ucap Mahesa dan akan berniat untuk meninggalkan kamar Melodi namun dia langsung berhenti ketika mendengar ucapan Melodi.


"Saya akan makan saja bersama anda, sesuai dengan yang di ucapakan karyawan Villa tadi." Ucap Melodi dari pada dia makan sendiri dan kembali hanyut dalam kesedian, lagi pula Mahesa juga terlihat baik pikirnya.


Di tempat lain Rizki sedang gelisah karena tak kunjung mendapati keberadaan Melodi saat ini. Dia sudah berusaha untuk mencari Melodi di apartemen Melodi namun mobil gadis itu tak ada di sana, dan akhirnya dia pun merubah haluan mencari Melodi ke kampus dan sempat bertemu Anzas juga namun dia tak melihat keberadaan Melodi juga.

__ADS_1


"Apa kamu mau menyendiri untuk sementara Mel?" Ucap Rizki sambil bersandar pada kursi kemudi di mobilnya saat dia baru saja tiba di parkiran apartemen mereka.


"Baiklah jika begitu." Ucap Rizki lirih.


Di Villa saat ini Melodi sedang mengobrol santai dengan Mahesa setelah mereka selesai makan tadi, yang ternyata orangnya juga tak kalah asik seperti ketiga temannya.


"Jadi kamu sudah menikah yah, kok kaya masih gadis." Ucap Mahesa ketika Melodi mengatakan dia wanita bersuami.


"Yah masih baru soalnya." Ucap Melodi.


"Beruntung banget suami kamu dapat wanita secantik kamu." Ucap Mahesa.


"Yah nggak juga, suami aku juga tampan jadi sama-sama beruntung." Ucap Melodi membayangkan wajah Rizki.


"Humm, pasangan serasi berarti." Ucap Mahesa.


"Hm, nggak usah omongin aku lagi. Btw, kamu masih mudah kok udah punya Villa sendiri. Hebat banget sih." Ucap Melodi, karena villa yang dia tempati ini cukup mewah menurutnya.


"Yah, ini bukan punya aku pribadi sih. ini itu milik Ibuku, cuman nggak sempat beliau kelola." Ucap Mahesa.


"Kenapa?" Tanya Melodi tak melihat ke arah Mahesa karena sedang sibuk melihat-lihat setiap sudut di Villa itu, karena saat ini Mahesa sedang mengajaknya berkeliling Villanya.


"Ibuku kecelakaan setahun yang lalu saat mau menuju kesini." Ucap Mahesa sambil mengusap sudut matanya.


"Maafkan aku." Ucap Melodi tak enak, namun dia tak melihat Mahesa saat sedang mengelap sudut matanya tadi.


"Nggak masalah, ayo lanjut lagi." Ucap Mahesa sambil tersenyum.


Keduanya pun berbincang bincang hingga sore hari dan Melodi memutuskan untuk kembali pulang, karena takut jika nanti Rizki mencari dirinya.


"Mahesa aku balik yah." Ucap Melodi setelah check out selesai dan menghampiri Mahesa di lobi Villa itu.


"Kapan-kapan ajak suami kamu kesini, gratis deh hitung hitung kado bulan madu dari aku." Ucap Mahesa.


"Siap, jangan nyesel loh kalau kita beneran balik lagi." Ucap Melodi sambil mau memasuki mobilnya.


"Aku tunggu pokonya." Ucap Mahesa.


"Baiklah, aku balik dulu." Ucap Melodi pamit.


Setelah acara pamit selesai Melodi pun melajukan mobilnya kembali ke kota dengan menempuh perjalanan hampir tiga jam itu.


"Capek juga." Ucap Melodi ketika baru keluar mobil setelah tiba di parkiran apartemen mereka dan dia melirik sekilas mobil Rizki yang ternyata tak pergi kemana-mana itu.


Dengan perlahan Melodi membuka pintu apartemen mereka dan berharap Rizki sedang tidur sekarang.


"Sudah pulang Mel." Ucap Rizki ketika Melodi sedang menaruh sepatu miliknya di rak depan pintu.


"Yaah." Ucap Melodi gugup.


"Makanlah aku udah siapin makan malam buat kita berdua." Ucap Rizki sambil berjalan menuju meja makan.


Karena tak mau membuat keributan, Melodi pun hanya mengikuti langkah Rizki dari belakang saja.


"Kenapa kulit kamu agak hitam Mel." Ucap Rizki saat kini mereka telah menikmati makanan buatan dirinya itu.


"Tadi aku mandi pantai soalnya." Ucap Melodi dan Rizki hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berniat untuk bertanya lagi.

__ADS_1


Rizki sudah tak mau lagi menanyakan soal kemana Melodi pergi tadi, yang penting kini gadis itu datang dengan selamat saja, dia sudah bersyukur dengan hal itu.


Melodi yang melihat sikap cuek Rizki pun tak ambil pusing dengan itu, menurutnya lebih baik seperti ini saja agar tak ada lagi perdebatan yang timbul seperti sebelumnya.


__ADS_2