Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Jahat


__ADS_3

"Taraaaa, selesai." Anzas berbicara sambil menaruh hasil masakannya di depan Melodi, setelahnya dia langsung menepuk tangannya sebagai tanda selesai perjuangannya memasak.


Melodi hanya tersenyum sambil melihat wajah bahagia kekasihnya itu, ah tepatnya sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihnya.


"Bagaimana sayang? Jangan lihat dari tampilannya, aku yakin kamu pasti menyukainya." Ucap Anzas saat sadar bentuk dari hasil karya tangannya itu.


"Aku belum coba, ayo duduk kita cobain bersama." Melodi langsung menarik Anzas agar duduk di sebelahnya.


"Bagaimana?" Ucap Anzas sambil melihat ekspresi Melodi yang sedang mengunyah makanan buatan dirinya.


"Tidak buruk, ayo giliran kamu Be ayo coba." Ucap Melodi sambil menyodorkan makanan ke mulut Anzas.


"Umm, terlalu asin." Ucap Anzas setelah menerima suapan Melodi.


"Sedikit, tapi tak masalah. Kita bisa mengakalinya dengan nasi, iya kan?" Ucap Melodi tak mau membuat Anzas kecewa.


"Kamu benar, untung udah aku masak nasinya tadi." Ucap Anzas.


Keduanya pun makan dengan Sangat menikmati, apalagi Anzas pria itu selalu saja menunjukan raut bahagianya sepanjang Melodi menyuapi dirinya. Hingga perkataan Anzas membuat Melodi tersedak makanan dengan ucapan pria itu.


"Kira-kira kalau kita udah menikah dan punya anak, kamu masih mau nggak suapi aku kaya gini terus say..." Ucap Anzas terpotong karena Melodi yang sedang tersedak.


"Sayang pelan-pelan makannya." Ucap Anzas sambil menyodorkan segelas air putih pada Melodi.


"Terima kasih." Ucap Melodi setelah meminum air pemberian Anzas.


"Bagaimana, sudah mendingan." Tanya Anzas dan Melodi hanya menganggukkan kepalanya.


Anzas pun jadi melupakan perkataannya tadi sakin paniknya melihat Melodi tersedak, dan Melodi pun bersyukur Anzas tak lagi mengulang perkataannya.


"Sayang, udah biar saja. Nanti aku yang beresin." Anzas berkata sambil menarik Melodi yang mau membersihkan peralatan masak yang tadi di gunakan Anzas, ketika gadis itu meletakan piring kotor mereka usai makan.


"Apa sih Be, biar aku aja. Sana duduk santai." Ucap Melodi sambil melepas genggaman tangannya dari Anzas dan mendorong pria itu keluar dapur.


"Ya udah, jangan lama aku tunggu di depan." setelah mengatakan itu Anzas lalu pergi ke kamarnya dan membersihkan diri sejenak, karena dia merasa lengket setelah memasak tadi.

__ADS_1


Sementara itu Melodi kini sedang membersihkan kekacauan yang Anzas buat di dapur milik pria itu.


"Apa semua pria kalau masak berantakan kaya gini yah." Ucap Melodi saat mengingat Rizki ketika memasak juga sama, tak jauh beda dengan Anzas. Pasti dapur akan menjadi berantakan se berantakan berantakannya.


Mengingat Rizki tiba-tiba saja, Melodi jadi mengingat kembali niat awalnya untuk bertemu Anzas sekarang.


"Hohhh, kenapa mesti seribet ini sih." Ucap Melodi pusing sendiri. Hingga dirinya tak fokus membersihkan peralatan masak yang ternyata masih begitu banyak.


"Harus mulai dari mana coba, aaarrrgg." Ucap Melodi sambil tak sengaja mengetuk kepalanya dengan tangan yang begitu banyak busa sabun dan alhasil dirinya jadi berantakan sekarang dan tak di sadari oleh dirinya sendiri.


Anzas yang sudah selesai dengan mandinya pun berjalan keluar kamar dan menuju ruang depan apartemennya mencari Melodi, namun tak menemukan gadis itu di sana.


"Kemana dia, nggak mungkin kan belum selesai." Ucap Anzas karena berpikir jika tak mungkin Melodi belum selesai dengan membereskan dapur, karena sudah tiga puluh menit dirinya di kamar tadi.


"Sayang." Panggil Anzas ketika baru memasuki dapurnya dan melihat Melodi yang masih di tempat saat dia meninggalkan gadis itu.


"Astaga, ada apa dengan kepalamu." Ucap Anzas saat Melihat Melodi yang berbalik karena panggilannya. Dengan sigap Anzas langsung megambil tisu dan membersihkan busa sabun di kepala Melodi.


"Memangnya ada apa?" Tanya Melodi polos.


"Hehehe, busanya aja yang nakal kali main loncat kesitu. Orang aku nggak tahu apa-apa." Ucap Melodi kemudian langsung berbalik dan kembali melanjutkan mencucinya.


"Udah biarin aja, nanti aku lanjutin." Ucap Anzas sambil membawa tangan Melodi untuk dicucinya. Setelah itu dia langsung membawa Melodi keruang depan.


"Ayo duduk sini, aku mau kasih lihat ini." Ucap Anzas membawa Melodi duduk, kemudian dia menghidupkan laptopnya yang sudah berada di sana.


Sambil menunggu laptopnya hidup, Anzas mengajak Melodi untuk menebak apa yang bakalan dia kasih lihat buat Melodi.


"Sayang ayo tebak, aku mau kasih lihat apa hayo sama kamu?" Ucap Anzas.


"Apa? Aku nggak tahu Be." Ucap Melodi sambil menatap Laptop Anzas.


"Ah payah, ini tu adalah progres aku sejak lama." Ucap Anzas kemudian dia membuka sebuah file ketika laptopnya telah menyala.


"Nih rumah masa depan kita, kemarin yang aku sibuk itu yah ini. Aku juga yang minta Papi buat jadi arsiteknya langsung, tapi kamu boleh koh rubah bagian mana yang kamu nggak suka. Nanti kita ke sana bareng yah. Ini tempatnya di puncak, kamu pernah bilang kan ke aku kalau kamu pengen punya rumah masa depan di puncak kan. Nih udah aku buat, tapi belum selesai sih masih lama mungkin setahunan baru selesai. Gimana menurut kamu sayang?" Ucap Anzas sambil terus memperlihatkan setiap sudut bangunan yang dia abadikan.

__ADS_1


Tanpa Anzas ketahui karena sedang sibuk melihat rumahnya itu sampai tak sadar jika Melodi kini sedang menangis sambil menutup mulutnya.


Sungguh Melodi harus apa?


Anzas yang mendengar suara isak tertahan pun langsung menoleh ke arah Melodi dan dia langsung memeluk tubuh bergetar Melodi.


"Kenapa sayang? Kamu nggak suka modelnya yah? sudah jangan menangis. Aku akan meminta Papi untuk merubahnya. Tapi berhenti menangis yah." Ucap Anzas sambil meregangkan pelukannya dan membingkai wajah Melodi dengan kedua tangannya, kemudian dia langsung mengusap likuid bening yang menetes membasahi wajah cantik itu.


"Aku akan meminta Papi merubahnya sesuai mau mu, jangan menangis." Ucap Anzas dan Melodi hanya menggelengkan kepalanya saja sambil menunduk tak sanggup menatap wajah pria baik itu.


"Maafkan aku, maafkan aku Be." Ucap Melodi di selah tangisannya.


"Tak masalah, jangan menangis lagi. Aku yang minta maaf nggak diskusi dulu sama kamu tentang bentuknya. Jangan menangis lagi." Ucap Anzas yang masih salah mengartikan tangis dan ucapan Melodi.


"Kamu orang baik Be, a-ku...a ku..aku nggak pantas buat kamu Be...." Ucap Melodi yang masih susah mengutarakan niatnya untuk menyudahi hubungannya dengan Anzas.


Tapi dia harus bisa, sebelum urusannya akan semakin panjang dan semakin menyakiti hati pria baik itu.


"Maksud kamu apa sayang, apanya yang tak pantas. Kenapa bilang begitu, semua orang juga tahu kau itu gadis baik. Itu sebabnya aku membawa kamu masuk dalam hidupku. Kau tahu, kau sudah ada di sini. Tepatnya di sini dan di sini. Lalu apanya yang tak pantas maksud kamu sayang, itu sudah menjadi bukti jika kamu satu-satunya orang yang pantas menempatinya. Dan tak bisa di gantikan oleh siapapun, mengerti." Ucap Anzas panjang lebar tepat saat dia menunjuk dada dan otaknya pria itu menatap lekat ke dua bola mata Melodi, seakan menjelaskan jika gadis itu pantas untuknya.


Melodi yang mendengar ucapan Anzas, makin membuatnya gadis itu merasa bersalah.


Tidak, ini tak boleh terus berlanjut. Kalau tidak, dirinya akan semakin sulit melupakan Anzas. Tidak, tidak boleh. Anzas pria baik, dia tak pantas mendapatkan gadis sepertiku yang tak bisa mempertahankan hubungannya dan membiarkan dirinya di nikahi pria lain. Pikir Melodi.


Dengan memantapkan hatinya tanpa mendengar Anzas yang masih saja berbicara pada dirinya. Melodi pun akhirnya membuka suara membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan kecewa pada dirinya tidak terkecuali Anzas sendiri.


"Mami sama papi bahkan sudah tak sabar, memintamu untuk menjadi menantu mereka. Kau tahu sayang, Mami bilang dia langsung jatuh hati saat pertama pertemuan kalian kemarin. Papi juga bila...." Anzas berkata dengan senyum yang terukir di wajahnya namun dia langsung terdiam ketika Melodi langsung menyela ucapannya.


"Aku mau hubungan kita berakhir Be, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku." Ucap Melodi sambil menunduk tak sanggup melihat Raut wajah Anzas.


Dengan susah payah Melodi mengeluarkan kalimat itu. Sejenak Anzas diam, seakan pria itu sedang mencerna kata demi kata yang Melodi lontarkan.


"Apa maksud kamu sayang, jangan becanda. Aku tak suka kau mengatakan itu. Ucap Anzas menatap Melodi yang tak kunjung menatap dirinya.


"Aku serius, lupakan aku Be. Aku bukan gadis yang baik untukmu." Melodi berkata sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Anzas, berharap Pria itu melihat keseriusan dari tatapannya

__ADS_1


Jahat, satu kata yang Melodi sematkan untuk dirinya sendiri. Yah, lebih baik begini. Anzas pria baik, dia pantas mendapatkan wanita baik pula pikir Melodi.


__ADS_2