Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Cerita Baru


__ADS_3

Karya baru Author nih, jangan lupa mampir yah.


Cerita ini akan masuk dalam projek baru Author yang bertemakan the love triangle.


Episodenya nggak bakalan sampai ratusan Bab, karena memang Author sudah menyusunya dengan baik. Akan ada Cerita berakar dari kisah ini. Sesuai tema yang Author sebutkan di atas. Semoga berkenan Mampir yah.


Nih Author udah nulis sekilas Bab satu dari cerita ini. Baca dulu yah, biar tahu alurnya☺️..



Pagi ini adalah pagi spesial bagi Adenia, wanita berumur 29 tahun itu bangun begitu pagi sekali demi menyiapkan suprise pernikahan ke empat tahunnya bersama sang suami.


Setelah berdandan cantik dan **** seperti biasanya, Adenia pun langsung bergegas keluar kamar pribadinya bersama sang suami. Melangkah anggun menuju kamar di lantai bawah, tepatnya kamar sang adik satu-satunya sekaligus keluarga terakhir yang dia miliki.


Tok Tok Tok.


Ketukan yang terus dia lakukan demi membangunkan sang adik kebo nya itu, dia tahu pasti ini tak akan mempan tapi tetap dia lakukan. Hingga sampai dimana dia bosan sendiri melakukan hal itu.


"Dasar ade lakn@t kamu Brian. Ayo buka pintunya. Kamu tidur atau mati siiih." Omelnya sambil terus menggedor pintu kamar sang adik.


"Benar-benar yah ni anak minta di gebukin kali yah."


"BRIAN!!!!!" Teriak Adenia makin menambah tinggi suaranya dengan volume tingginya sekuat yang dia mampu...


"Nah, berhasil." Batinnya bersorak senang saat mendengar bunyi entah apa itu dari dalam kamar sang adik, yang dia yakini bahwa adik lakn@tnya itu merespon teriakan membahana nya.


Dalam hitungan satu dua dan tiga dalam hatinya, pintu kamar sang adik akhirnya terbuka dan menampakkan wajah bantal Brian yang nampak menggerutu kesal.


"Mba apa-apaan sih, udah kaya orang hutan saja teriak sepagi ini. Pantas saja Bang Adnan buat rumahnya segede lapangan bola agar teriakan Mba tak mengganggu tetangga lain." Omel Brian membuat Adenia mendelik kan bola matanya dan langsung melepaskan hills nya secepat kilat dan menggetok kepala Brian dengan hills yang tingginya mengalahkan alat wiffi rumah mereka itu.


"Awwwww, sakit mba. Ya ampun, bisa berlubang ini kepalaku." Aduh Brian memegang kepalanya yang habis di cium panas sepatu keramat sang kakak.

__ADS_1


"Mulut mu itu di jaga Brian, aku Mba mu sendiri malah di katai orang hutan. ku oper juga kamu di panti asuhan baru tahu yah." Kesal Adenia dan hendak kembali melayangkan tepokan nya pada Brian namun dengan cepat langsung di cegah pria itu sebelum dia akan berakhir mengenaskan.


"Ampun ampun, udah cantik gitu kenapa harus marah-marah sih. Ada apa Mba, ada perlu apa bangunin aku sepagi ini. Ini masih jam lima loh, belum waktunya pria lajang sepertiku ini bangun sepagi ini." Ucap Brian sengaja memuji sang kakak, namun bukannya merasa tersanjung Adenia malah ingin mengeluarkan semua isi perutnya mendengar kalimat sang adik.


"Halah..... lajang dari mananya, kalau hidupmu saja seperti memiliki banyak istri Brian. Dan itu kau tidak bisa melarang wanita-wanita murah@nmu itu untuk tak membuat banyak tanda di tubuhmu. Itu sangat menjijikan Brian oh astaga..." Omel Adenia meluncur begitu saja saat melihat banyak tanda merah keunguan di leher sang adik.


"Apa sih, kenapa sekarang malah membahas ku Mba? Sebenarnya Mba bangunin aku untuk apa? Apa hanya untuk mengomentari tanda istimewa ini. Ayolah aku hanya bersenang senang, kaya nggak pernah muda aja." Gerutu Brian bersandar frustasi di pintu kamarnya.


"Oh ya ampun Mba sampai lupa. Gara-gara kamu sih, jiwa omel Mba jadi bangun kan."


"Bagaimana kue pesanan Mba sama pacar kamu itu udah beres, bentar lagi Mas Adnan sampai rumah nih." Lanjut Adenia yang sudah mengingat niat awalnya untuk membangunkan sang adik.


"Udah, itu aku letakan sama bunga dan embel-embelnya di ruang makan. Jangan lupa transferannya aku tunggu." Seru Brian sambil berjalan masuk kamarnya setelah tahu apa yang di inginkan sang kakak untuk membangunkan dirinya terjawab sudah.


"Hey, kamu letakan dari kapan tuh kuenya. Apa nggak letoy tuh kue. Kenapa nggak taruh di lemari es sih." Omel Adenia berjalan masuk mengikuti sang adik.


"Bawel ih, baru aja aku taru dan masuk kamar. Eh suara memekakkan telinga Mba malah mengganggu istirahatku yang bahkan belum beberapa menit." Jelas Brian jujur, dia baru saja berkelana menjajakan tubuhnya pada sang pacar demi kue gratis yang dia tahu pasti kakaknya akan membayar mahal dirinya karena sudah membantu menyiapkan segalanya.


"Hehehe, good boy. Kau memang ade yang terbaik. Awas saja kalau tulisannya nggak benar, aku nggak transfer." Ucap Adenia dan memeluk sang Adik yang nampak duduk di ujung kasur.


"Lihat saja sendiri baru protes, pacarku itu sangat teliti dia nggak mungkin buat kesalahan. Apalagi bayarannya aku yang tampan ini, nggak mungkin dia buat kaka kecewa." Seloroh Brian membuat Adenia melepas pelukannya.


"Sana mandi, bau amis banget kamu. Kalau habis begituan sama pacar tuh bersihin diri dulu biar nggak bau. Udah buat dosa setidaknya bersih-bersih dulu baru tidur, biar kalau malaikat cabut tuh nyawa nggak pada ilfil sama bau dosa kamu." Ujar jahil Adenia pada Brian sambil menepuk kedua tangannya seolah habis menyentuh sesuatu yang jorok.


Yah begitulah kehidupan nyata kedua adik kakak itu, saling membuli namun rasa sayang di antara keduanya begitu erat bagaikan lem tak ada obat pemutus rekatannya.


"Sembarangan kamu Mba, aku udah lap lap pakai tissue basah tahu. Masa masih bau." Ucap Brian kemudian mencium bau badannya sendiri, dia akui setelah tadi menghabiskan malam panjangnya dengan sang Pacar dia tak langsung bersih-bersih melainkan langsung balik sebelum dia di gong gong sang kakak karena pesanannya terlambat sampai. Yang udah sampai dengan selamat aja udah banyak dramanya apa lagi telat, bisa mati bujang dia. Pikir Brian.


Adenia yang sudah melangkah ke ambang pintu kamar sang adik berbalik sekilas menatap Brian.


"Btw makasih ade ganteng. Uangnya udah Mba transfer, ucapin salam juga buat pacar kamu. Makasih buat kuenya." Kata Adenia Cepat dan langsung melangkah buru-buru karena sudah mendengar deru mobil sang suami yang baru memasuki gerbang rumah mereka.

__ADS_1


Dengan langkah tergesa-gesa, Adenia memasuki ruang makan mereka dan langsung tersenyum. Karena ternyata sang adik sudah menyiapkan segalanya.


"Ah, kau yang terbaik Brian." Sorak gembira Adenia melihat meja makan yang sudah di sulap Brian begitu romantisnya. Yang dia tak tahu sejak kapan sang adik menyiapkan itu.


Meja makan yang di hiasi lilin elektrik dengan sebuah rendaman wewangian mawar di baki kecil yang penuh dengan taburan bunga kesukaan nya di tambah makanan dari restoran siap saji sudah tertata rapi di sana. Buket bunga mawar besar serta kue sudah tersedia rapi persis seperti yang di katakan Brian tadi. Sempurna, satu kata yang bergumam kala Adenia meneliti semuanya.


Ceklek...


Adenia pun langsung terkesiap ketika pintu rumahnya berbunyi, yang dia tahu Adnan pasti sudah berjalan masuk sekarang. Dengan langkah lebar Adenia langsung melangkah menghampiri sang suami. Dan ternyata dirinya yang di kejutkan oleh Adnan, Pria itu membawa sebuket bunga dan kue kecil di tangannya. Berdiri diam menanti Hills Adenia yang terus berbunyi melangkah dalam kegelapan menghampirinya.


"Selamat hari pernikahan sayang." Seru Adnan sambil menyalakan lilin membuat Adenia menghela nafasnya, lagi-lagi dia kala telak sama sang Suami yang selalu berhasil lebih dulu memberi selamat dari awal menikah hingga sampai pagi ini. Selalu Adnan pemenangnya.


"Curang ihhh." Ucap Adenia memanyunkan bibirnya sontak saja Adnan langsung tertawa puas, selalu seperti ini.


"Berhenti, awas muncrat kena kuenya Mas." Seloroh Adenia membuat Adnan bukannya berhenti ketawa namun malah bertambah terbahak.


Selagi sang suami masih tertawa puas, Adenia malah melangkah mendekati sang suami dan menutup matanya sekilas mendoakan kebahagian akan selalu menghampiri keluarga kecilnya itu, tak lupa juga dia selalu meminta agar suaminya tak akan pernah berubah dalam mencintainya dan tawa bahagia seperti ini akan terus terjadi setiap tahunya sampai mereka menua. Aamiin, Batin Adenia berdoa dan setelahnya dia membukakan matanya dan meniup lilin itu tanpa menunggu suaminya membuat Adnan langsung menghentikan tawanya.


"Loh, ko duluan. Kenapa nggak barengan." Ucap Adnan sedikit terkejut dengan yang di lakukan istrinya.


"Habisnya ketawanya Mas lama, ayo nyalakan lagi lilinnya. Giliran kamu doa sekarang." Ucap Adenia dan di turuti Adnan tanpa bantahan lagi.


"Yah yah yah, baiklah. Tapi ulang lagi, aku nggak mau sendiri. Kita barengan meniup seperti biasanya." Ujar Adnan dan mereka langsung melakukannya.


Adnan berdoa, doa yang hampir sama dengan Adelia. Kemudian mereka berdua meniupkan lilin bersama.


"Happy anniversary pernikahan sayang." Ucap Adnan usai keduanya meniup lilin. Pria itu menarik Adenia dalam pelukannya setelah kue di tangannya di letakan di atas sofa di samping mereka.


"Happy anniversary pernikahan juga Mas, semoga saja tahun ini kita di berikan kado anak ya Mas. Aku sudah siap." Seru Adenia dan langsung Adnan menganggukkan kepalanya.


Akankah doa yang di panjatkan kedua sepasang suami istri itu akan terkabulkan? Yuk kepoin langsung lanjutannya di cerita baru Author.

__ADS_1


__ADS_2