
Saat ini Rizki dan kedua sahabatnya sedang berada di mobil menuju rumah sakit setelah tadi ada kejadian tak mengenakan yang menimpah dirinya dan sang istri.
Untung saja kedua sahabatnya Saga dan Gerald keburu datang, jika tidak dia pastikan wanita yang sudah membuat istrinya pingsang itu habis di tangannya tadi.
"Cepat sedikit Sag, aku takut ada apa-apa sama Melodi." Ucap Rizki panik tanpa terasa air mata sudah dengan lancangnya memenuhi wajah tampannya itu.
"Ini juga udah cepat Ki, lo mau kita semua nggak selamat apa karena ngebut." Ucap Saga karena sudah dengan maksimal mengemudikan mobil Rizki.
"Sabar Ki." Ucap Gerald pelan, dia tak mau mengganggu Rizki yang sedang panik di belakang sana yang sedang memangku kepala Melodi yang sedang berbaring.
"Harusnya kau tak menahan ku tadi Ger, biar saja aku membunuhnya karena sudah membuat Melodi seperti ini." Ucap Rizki sambil mengingat kejadian tadi yang sudah membuat sang istri tak sadarkan diri sekarang.
Melodi tak sanggup mendengar fitnahan yang di lontarkan Larissa terhadapnya, membuat semua mahasiswa yang mendengar itu langsung menghujatnya dengan kata-kata pedas mereka. Hingga membuat dirinya jatuh pingsan dalam dekapan Rizki suaminya itu.
Saat Saga dan Gerald baru sampai, Rizki langsung meminta mereka menahan Melodi sedangkan dirinya mau memberi pelajaran pada Larissa, namun sayang gerakannya di hentikan Gerald yang mengatakan jika Melodi harus di bawa ke rumah sakit secepatnya ketika mengingat janin di perut wanita itu.
"Jika tidak begitu, kasihan istri sama anakmu Ki. Aku hanya mengkhawatirkan mereka, biar saja nanti kita urus wanita gila itu nanti." Ucap Gerald mengatakan yang memang dia pikirkan seperti itu tadi.
"Betul Ki yang di katakan Gerald, kamu nggak mau kan terjadi sesuatu sama mereka berdua." Timpal Saga saat mendengar penuturan Gerald.
"Yah kalian benar, tapi jika sesuatu menimpa istri dan anakku. Aku tak akan membiarkan wanita gila itu hidup tenang, aku akan membuatnya tak melihat indahnya matahari lagi." Ucap Rizki sambil mengelus pipi Melodi.
"Sayang, kamu nggak papa kan. Ayo bangunlah sayang, kamu membuatku khawatir." Ucap Rizki terus menerus seperti itu.
Hingga kini mereka telah tiba di rumah sakit yang mereka tuju.
Dengan cepat Gerald keluar mobil dan berlari masuk meminta bantuan pihak rumah sakit, sedangkan Rizki langsung membopong tubuh Melodi keluar mobil ketika Gerald telah datang bersama dua suster yang dia temui di dalam sana.
Melodi pun langsung di bawa menggunakan alat bantu dorong rumah sakit dan di bawah keruang pemeriksaan setelah tadi Rizki mengatakan jika Istrinya pingsan dan dia sendang mengandung kini.
Tak butuh waktu lama lima belas menit di periksa, kini Rizki di minta masuk menemui sang istri setelah tadi di minta menunggu di luar ruangan pemeriksaan..
"Gimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya Rizki saat dokter menghampirinya.
"Istri anda baik-baik saja begitu pun bayi di dalam kandungannya, beliau hanya mengalami shock ringan saja. Namun sebaiknya hindari semua hal yang membuatnya kepikiran. Karena hal itu akan berpengaruh buruk terhadap kandungannya nanti." Jelas Dokter.
"Syukurlah, apa istri saya sudah sadar. Boleh saya menemuinya?" Tanya Rizki dengan sedikit khawatir yang sudah mulai berkurang setelah mendengar penjelasan Dokter tadi.
"Sudah Pak silahkan di temui, kalau gitu saya permisi." Ucap Sang Dokter dan langsung meninggalkan Rizki.
"Ki kita ikut." Ucap Saga dan Rizki hanya menganggukkan kepalanya, dan setelahnya mereka pun akhirnya berjalan masuk menemui Melodi.
__ADS_1
"Sayang." Sapa Rizki saat melihat Melodi hendak bangun saat melihatnya.
"Baring saja yang." Ucap Rizki dan langsung duduk di sebelah Melodi.
"By." Ucap Melodi dan langsung memeluk pinggang Rizki erat.
"Ya sayang, kamu nggak usah mikirin apapun. Ada aku di sini." Ucap Rizki menenangkan.
Dia merasa kasihan dengan Melodi yang seperti ini, terlihat sekali istrinya itu memikirkan kejadian tadi saat ini.
"By, mereka semua membenciku." Ucap Melodi lagi dengan raut sedihnya.
Sementara Saga dan Gerald hanya bisa melihat tanpa berucap karena tak mau mengganggu obrolan kedua suami istri itu, walau mereka pun ikut sedih dengan kondisi Melodi kini.
"Kamu tenang saja, nanti aku urus semuanya." Ucap Rizki sambil mencium rambut Melodi.
"Brengsek kau wanita gila, kau akan membayar mahal sudah membuat istriku seperti ini." Batin Rizki sambil mengepalkan satu tangannya di belakang Melodi.
"Ade." Ucap Seseorang dari arah pintu masuk ruangan Melodi hingga membuat atensi semua orang langsung mengarah ke arah suara panggilan itu.
"Bang Bima." Ucap Melodi lirih saat melihat sang Abang datang.
"Sayang, kamu nggak papa? jangan khawatir, Abang di sini." Ucap Bima sambil memeluk sang adik.
"Bang, pacar abang dia..." Ucap Melodi dengan sedikit tangisannya langsung di hentikan Bima.
"Sssssst, jangan bahas wanita gila itu lagi. Abang udah nggak ada hubungan apapun dengan dia. Maafkan Abang, karena Abang perempuan gila itu melukaimu." Ucap Satria menyesal kerena hubungannya dengan Larissa berdampak hingga membuat sang adik seperti ini.
"Dia.." Ucap Melodi lagi, namun lagi-lagi Bima menghentikan ucannya.
"Dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang dia lakukan padamu sayang, jangan menangis lagi yah. Kasihan ponakan Abang, kalau kamu bersedih seperti ini sayang." Ucap Bima tak sanggup melihat adiknya bersedih seperti ini.
Bima sudah mengurus Larissa sebelum dia berkunjung ke sini tadi, hingga dia mengatakan hal itu pada Melodi.
Mendengar itu semua yang ada di sana langsung menatap ke arah Bima dengan penuh tanya.
"Abang tahu dari mana masalah kita Bang?" Kali ini Rizki yang membuka suaranya karena mendengar penuturan sang Abang ipar.
"Nanti saja kita bahas nya Ki. Mel kamu lapar nggak, biar abang suapi." Ucap Bima saat melihat sup di sebelah branker Melodi yang entah sejak kapan ada di sana.
Sedangkan Rizki hanya mengiyakan ucapan Bima saja.
__ADS_1
"Yah sangat lapar Bang." Ucap Melodi membuat semua yang ada di sana langsung tersenyum. menatapnya.
Ibu hamil itu langsung berbinar saat Bima mengambil makanan ke hadapannya, sungguh Melodi selalu saja bisa berubah moodnya dalam se kejab mata. Padahal baru saja dia menangis, dan sekarang dia sudah berbinar lagi. Bahkan air matanya pun sudah dia hapus sendiri.
Saat Hendak Membuka mulutnya menyambut sesuap sup dari tangan Bima, Melodi tak sengaja melihat pada sosok gadis di sebelah pintu masuk yang sedang berdiri menatapnya itu.
"Dek, ayo buka mulutnya." Ucap Bima.
"Itu siapa Bang?" Tanya Melodi menatap gadis itu.
"Astaga Abang sampai lupa." Ucap Bima sambil melihat ke arah tunjuk sang adik begitupun Rizki beserta kedua sahabatnya yang sejak tadi tak menyadari keberadaan gadis itu.
"Gadis ngapain berdiri di situ, sudah seperti penagih hutang saja kamu. Tuh duduk di sana." Ucap Bima dengan ketusnya sambil menunjuk sofa tak jauh dari tempat berdirinya gadis itu.
"Bang." Tegur Melodi saat melihat sikap sang kakak yang ketus saat berbicara pada Gadis..
"Makan yah itu Gadis, adiknya teman kakak." Ucap Bima dan Melodi langsung memanggil Gadis.
"Gadis sini." Panggil Melodi dan gadis itu langsung menghampirinya.
"Hay kak." Ucap Gadis menyapa.
"Hay, kamu siapanya Bang Bima?" Tanya Melodi jadi kepo dengan gadis di depannya ini, bahkan dia serasa lupa akan hal yang menimpa dirinya tadi.
"Aku bukan siapa-siapanya si Om ko, tadi nggak sengaja ke bawa kesini sama Om ini." Ucap Gadis jujur.
Namun hal itu langsung membuat Bima kesal.
"Ki." Panggil Bima pada Rizki.
"Kamu suapi Melodi, Abang pergi sebentar." Ucap Bima sambil Menarik Tangan Gadis dan membawa gadis itu keluar tanpa menghiraukan tatapan aneh seisi ruangan itu.
🌼Baca cerita Satria juga yah, biar tahu siapa Gadis yang di bawa Bima bersamanya itu🌼
...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...
Yuk yang belum mampir di cerita baru Author, jangan lupa mampir yah.
Judul : SATRIA. Author tunggu di sana yah, semoga berkenan☺️🤗.
__ADS_1