
Sarah yang sudah kesal dengan keras kepalanya Anzas, dia pun langsung bangun dan mendudukkan dirinya.
Menatap dalam mata Anzas yang sedang menatapnya lembut, sungguh kenapa dengan kelembutan yang Anzas beri untuknya kini seakan terasa hambar baginya. Padahal hal itu sudah dia impi-impikan sejak lama, tapi kenapa di saat dia mendapatkan itu malah terlihat memuakkan sekarang.
"Za." Panggil Sarah.
"Ya sayang." Ucap Anzas lembut seraya membawa tangan wanita itu dalam genggamannya.
Mengecupnya perlahan sambil menatap Sarah yang juga sedang menatapnya kini.
"Apa kau baik-baik saja." Ucap Sarah yang entah kenapa dia ingin menanyakan hal itu. Sebab, Anzas yang sekarang seakan seperti orang yang dia tak kenal sebelumnya.
"Yah tentu, tentu aku sangat baik-baik saja. Kenapa sayang?" Tanya Anzas sambil mengelus-elus punggung tangan Sarah.
Mendengar itu Sarah hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Bukan ini jawaban yang dia inginkan, tapi... entahlah, aneh bukan.
"Kapan hari pernikahannya?" Tanya Sarah selanjutnya tanpa menanggapi jawaban Anzas yang dia tanya sebelumnya. Bahkan dia tak menyebutkan pernikahan kita melainkan hanya aksen pernikahan yang dia pakai dalam pertanyaannya.
"Tiga hari lagi sayang, kenapa? Apa kamu mau mempercepatnya?" Tanya Anzas dengan senyum bahagianya, dia bahkan mendekatkan wajahnya pada Sarah. Sengaja hendak mau mencium wanitanya itu. Namun tanpa dia duga, Sara menolaknya lagi dan lagi. Masih tak mau di sentuh olehnya.
Wanita itu memiringkan wajahnya sengaja menghindar dengan tindakan yang akan Anzas lakukan.
"Maaf." Lirih Sarah saat mendengar helaan nafas pelan yang Anzas keluarkan. Dia tahu, pria itu pasti kecewa akan penolakannya. Tapi ini lebih baik, dia sendiri tak tahu kenapa. Tubuhnya kini tak lagi mau merespon Anzas akhir-akhir ini.
Bukan sengaja, tapi ada sedikit dari sudut hatinya yang memompa memimpin pergerakan penolakan yang dia lakukan itu. Tapi entah kenapa, dia pun bingung akan hal itu..
Selama Sarah mengalami keguguran hingga kini, Wanita itu tak lagi pernah mau membiarkan tubuhnya di sentuh oleh Anzas lagi.
"Kenapa?" Tanya Anzas kecewa karena wanita ini selalu saja menolak sentuhannya akhir-akhir ini.
"Bolehkah kita tunda dulu pernikahannya, aku belum siap sekarang Za." Ucap Sarah tanpa mau menjawab kalimat tanya Anzas atas penolakan dirinya itu.
Dia sengaja tak mau membahas sesuatu yang akan menjebak dirinya sediri nanti. Maka dari itu dia langsung mengubah arah konsen Anzas dengan keinginannya kini.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Anzas pun mencoba bersabar dan menjawab permintaan sang calon istri. Yang entah kenapa akhir-akhir ini selalu saja menguji kesabarannya.
__ADS_1
"Kenapa? aku tak mau menundanya. Jangan pernah meminta hal itu lagi, karena akan percuma saja aku tak akan menunda atau membatalkannya." Ucap Anzas dan dia langsung melepas tangan Sarah yang dia genggam.
Sedikit tak suka dengan permintaan konyol yang Sarah lontarkan terus menerus.
Karena tak mau membahas hal itu lagi, Anzas lebih memilih beranjak dari duduknya. Kembali pada permasalahan awal dirinya membangunkan Sarah.
Dia tak mau pagi ini mereka kembali dengan perdebatan yang itu itu saja pembahasannya, lagi dan lagi selalu penolakan Sarah atas pernikahan yang sudah di depan mata.
"Ayo makan, aku tak mau membahas hal itu lagi." Ucapnya sambil berdiri.
"Aku tak lapar, kau makan saja." Ucap Sarah dan dia langsung kembali merebahkan tubuhnya kembali.
"Apa mau mu Sa, Aku sudah berlaku sabar terhadapmu. Ada apa dengan sikapmu sekarang?" Ucap Anzas sedikit menaikan nada bicaranya saat melihat Sarah tak mengindahkan ucapannya barusan.
Kenapa kau jadi keras kepala seperti ini Sa, aku rindu. Rindu kamu yang selalu patuh dengan semua keinginanku. Batin Anzas.
Apa perubahan sikapnya belakangan ini tak cukup membuat Sarah luluh, kenapa di saat dia sudah menerima Sarah tapi malah kini wanita itu seakan ingin menjauhinya.
Kenapa sikap perempuan begitu tak bisa di tebaknya. Dia tak suka dengan keadaan ini, sangat-sangat tak suka dengan penolakan berulang kali yang Sarah lontarkan untuknya.
"Apa cuman segini kesabaran yang kau punya untukku Za." Batin Sarah.
"Bersikaplah kembali kasar padaku seperti ini, aku menyukainya. Aku tak suka dengan kelembutan yang kau berikan akhir-akhir ini. Dan tolong jangan paksa aku untuk menikah denganmu. Pikirkanlah lagi keputusanmu untuk menikahi ku Za, ini terlalu cepat." Ucap Sarah mencoba menahan sakit di dadanya, saat mendengar ucapan meninggi yang akhir-akhir ini tak di dengarnya lagi.
Mendengar itu, Anzas seketika saja tersulut emosinya.
"Sudah cukup bicaranya sa!!!" Ucap Anzas tak suka.
Pria itu pun langsung menarik paksa Sarah yang sedang berbaring, menggendongnya. Membawa Sarah keluar kamar wanita itu, walau Sarah tarus saja memberontak dalam gendongannya pun dia tak perduli sedikitpun.
"Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan." Teriak Sarah sambil memukul-mukul punggung Anzas yang menggendongnya bagaikan bayi.
Anzas langsung mendudukkan dirinya sendiri di kursi meja makan dengan masih menahan Sarah dalam gendongannya.
"Lepas Za, apa kau gila." Teriak Sara sejak tadi, tak suka dengan perlakuan tiba-tiba Anzas terhadapnya.
__ADS_1
"Yah, aku gila. Aku gila karena mu Sa, apa kau tak menyadarinya." Ucap Anzas dengan satu tangan memeluk erat tubuh Sarah, yang mulai tenang, dan tangan satunya lagi dia gunakan untuk menaruh makanan di piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Lepaskan aku." Ucap Sarah Lirih.
"Aku akan melepaskan dirimu, tapi setelah aku selesai menyuapi mu. Kau dengar." Ucap Anzas seakan dia tak mau di bantah.
"Kau gila."
"Aku memang gila, sudah ku katakan bukan."
"Ayo, angkat muka mu." Ucap Anzas lagi sambil menjauhkan tubuh Sara sedikit dari dadanya.
"Sar, apa mau aku berbuat kasar dulu baru kau turuti perintahku." Ucap Anzas karena Sarah tak mengindahkan ucapannya lagi dan lagi.
"Lakukanlah." Ucap Sarah seakan menantang ucapan Anzas, dia ingin melihat sejauh mana pria ini telah berubah dan bersabar menghadapinya.
Mendengar kalimat tantangan yang di lontarkan Anzas, seketika pria itu langsung emosi.
Di tariknya kepala Sarah, dan dia langsung mencengkram kuat rahang wanita itu. Setelahnya dia lakukan apa yang wanita itu tantang darinya.
Di bungkamnya bibir Sarah dengan kasar hingga Sarah meringis. Sampai beberapa saat barulah di melepas Sarah dengan raut penyesalannya.
Menyatukan keningnya dengan kening Sarah menatap mata Sarah yang terpejam dengan setetes air mata yang keluar di sudut mata kiri wanita itu.
Menyesal?
Yah, tentu dia menyesalinya karena sudah terpancing emosinya karena menyikapi wanita keras kepala yang ada di pangkuannya kini.
...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...
Yuk yang belum mampir di cerita baru Author, jangan lupa mampir yah.
Judul : SATRIA (Satria Bima Kusuma). Author tunggu di sana yah, semoga berkenan☺️🤗
__ADS_1
Masih sepi😁.