Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Undangan


__ADS_3

"Permisi Den non. Ada tamu untuk non Melodi di depan." Ucap Penjaga rumah mereka.


"Siapa pak Kasim?" Tanya Rizki sambil berdiri dan menghampiri Pak Kasim.


"Aduh, aku lupa nanya namanya atuh Den."


"Ya udah minta tunggu sebentar." Ucap Rizki dan setelahnya Pak Kasim pun Pamit keluar.


"Sayang, kamu tunggu sini, biar aku yang temui." Ucap Rizki dan Melodi pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Rizki pun langsung melangkah keluar untuk menghampiri tamu mereka.


"Kamu." Ucap Rizki terkejut saat sampai di depan dan melihat seorang pria sedang bersandar di mobilnya dan menatap kearahnya dengan tatapan tajam miliknya.


"Pantas saja aku tak pernah bisa temui Melodi, rupanya kamu sudah memindahkan kekasihku di sini yah." Ucap Anzas pria yang sedang menyambangi kediaman Rizki dan Melodi.


"Sepertinya ponselnya pun sudah kamu ambil alih juga, iya kan. Segitu takutnya kamu kah sampai berbuat sejauh ini Bro." Ucap Anzas sambil melangkah ke arah Rizki yang sedang berdiri mematung di depan pintu rumahnya.


"Karena Melodi istriku, jadi aku berhak atas dirinya apapun itu." Ucap Rizki setelah tersadar dari keterkejutannya.


"Tahu dari mana kamu tentang rumah kami." Lanjutnya lagi.


"Nggak penting itu, oh iya masa tamu cuman di ajak ngobrol di luar." Ucap Anzas sambil menatap sekeliling depan rumah Rizki.


"Hm, silahkan masuk." Kata Rizki pada akhirnya mempersilahkan Anzas masuk rumah mereka.


"Sayang, siapa?" Tanya Melodi dari arah dalam saat Rizki dan Anzas baru memasuki ruang tamu.


"Hay Mel." Ucap Anzas tanpa embel-embel sayang lagi.


"Hay Za, ayo duduk." Kata Melodi sambil berjalan duduk di sofa ruang tamu mereka.

__ADS_1


"Udah Lama kamu nggak hubungin aku Za, dari mana saja nih nggak pernah nongol juga." Ucap Melodi saat mereka sudah duduk saling berhadapan, dengan Rizki di sebelahnya.


Melodi sudah menganggap Anzas sebagai temannya, karena entah sejak kapan dia sudah tak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap pria itu. Mungkin saja cintanya tak sebesar itu pada Anzas, hingga tak butuh waktu lama rasa sayang itu berubah menjadi bisa saja. Apalagi mereka sudah lama tak sedekat dulu, mungkin itu juga salah satu sebabnya.


"Kamu aja yang sombong, katanya anggap aku teman. Ko malah blokir nomor aku. Aku datang ke apartemen kalian juga nggak pernah di bukain. Ternyata kalian pindah." Ucap Anzas sambil menatap sinis ke arah Rizki, namun Pria itu seakan tak menghiraukan tatapan Anzas sama sekali.


"Oh yah, aku lupa. Ponselku hilang sebulan yang lalu. Maaf yah." Ucap Melodi sambil mengingat kejadian saat ke mall bersama sang Abang, saat pulang ternyata ponselnya sudah tak ada bersamanya.


"Pantas saja, ku hubungin nggak masuk-masuk. Oh ia aku mau ngantar ini undangan buat kalian." Ucap Anzas sambil memberikan sebuah undangan pernikahan.


"Undangan Pernikahan!!" Tanya Rizki karena dirinya yang mengambil undangan itu dari tangan Anzas dan langsung melihatnya.


*Flashback On*


Kejadian sebulan yang lalu..


Setelah kepulangan Anzas dan Sarah dari Mall yang ternyata tak sesuai keinginan Sarah.


Sarah sedikit berulah membuat Anzas dan dirinya mengalmi percekcokan saat keduanya baru masuk ke apartemen Sarah.


"Salah sendiri mengajakku pulang, padahal kan aku ingin foto dengan patung manekin." Ucap Sarah sambil menduduki dirinya di sofa.


Tak berselang lama Sarah yang memang sangat ingin berfoto dengan patung pakaian itu pun tersenyum saat dirinya memiliki ide agar keinginannya terwujud.


"Halo Kak jim." Sapa Sarah saat dia menghubungi seseorang. Dan itu jelas saja membuat konsen Anzas beralih padanya. Padahal sejak tadi Anzas sedang sibuk dengan Ponsel di tangannya..


Bagaimana Anzas tak mengalihkan perhatiannya pada Sarah, sedangkan gadis itu sedang menghubungi orang yang dia tak suka Sarah mendekatinya.


Jimi adalah sahabat dari Sarah yang pernah dengan terang-terangan meminta Sarah darinya untuk dia nikahi, karena yang Jimi tahu Anzas adalah kakak dari Sarah sesuai dengan apa yang Sarah katakan padanya.


"Halo Sar, tumben telfon. Kamu mau beri jawabannya yah." Ucap Jimi sahabat sekaligus orang terdekatnya selain Anzas.

__ADS_1


Jimi selalu setia menunggu Sarah, namun gadis itu seakan tak pernah meresponnya sejak Anzas bertemu dirinya waktu itu. Waktu dimana dia meminta sarah menjadi istrinya. Dunia Sarah seperti terbatas karena Anzas selalu membatasi ruang geraknya jika berhubungan dengan seorang pria selain ayah dari janin di perutnya itu.


"Ih kakak, masih nagih aja sih. Oh iya kakak lagi sibuk nggak? boleh nggak temenin aku ke mall sekarang?" Tanya Sarah dengan penuh harap. Karena dia tak bisa lagi mengharapkan Anzas untuk menuruti maunya.


Saat perkataan Sarah selesai, Anzas langsung dengan cepat merebut ponsel miliknya. Bahkan pria itu tanpa segan melempar benda pipih itu hingga tak berbentuk sedikitpun.


Sarah yang terkejut seketika langsung menatap tajam ke arah Anzas, namun pria itu tak menghiraukannya.


"Apa kau gila, ada apa denganmu." Ucap Sarah.


"Kau yang gila Sarah, sudah berapa kali aku berkata padamu agar jangan berhubungan dengan pria itu. Tapi kenapa kau tak mendengarkan ku, Haaa." Teriak Anzas menggelegar hingga membuat Sarah bergidik ngeri.


"Ada apa denganmu, kau seperti orang yang cemburu saja." Ucap Sarah berusaha tak terlihat takut di hadapan pria itu.


"Hah cemburu, sejak kapan aku cemburu padamu. Cinta saja aku tak punya untukmu, lantas dari mananya aku bisa cemburu." Ucap Anzas menyangkal perasaannya. Entah kenapa dia tak suka jika Sarah di dekati dengan pria manapun, termasuk Jimi. Pria yang sudah mengungkapkan perasaan tertariknya pada Sarah di hadapannya itu.


"Lalu kenapa kau menghancurkan ponselku, melarang ku bertemu pria manapun. Ah mungkin lebih baik aku menerima Kak Jimi saja, biar aku dan anakku ini bisa dia lindungi dari orang sepertimu." Ucap Sarah sengaja, dia ingin melihat apakah yang dia pikirkan benar atau tidak. Jika memang Anzas sudah mencintainya.


"Apa kau bilang," Ucap Anzas tanpa sadar dia langsung menampar Sarah dengan kerasnya hingga membuat ibu hamil itu jatuh terduduk dengan memar di pipinya.


"Ahh, aw." Pekik Sarah saat merasakan keram hebat di perut bawahnya, bahkan dari di ujung bibirnya pun dia tak merasakannya sakin konsennya tertuju pada perutnya.


"Aku akan membunuhnya jika kau berani." Ucap Anzas masih tak sadar jika dia sudah menyakiti Sarah.


"Za tolong perutku, ah.." Ucap Sarah menahan sakit yang teramat pada perutnya itu.


Anzas yang mendengar itu, seketika dia langsung berjongkok panik saat melihat ada darah yang bercecer di lantai yang Sarah duduki.


"Tolong Baby ku Za." Ucap Sarah sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.


Anzas yang panik pun langsung bergegas membawa Sarah ke rumah sakit terdekat di sekitar apartemen, setelah sebelumnya dia menyelimuti Sarah dengan selimut tebal agar darah ibu hamil itu tak berceceran di mana-mana.

__ADS_1


Dengan mencoba tenang Anzas mengendarai mobilnya ke rumah sakit, sungguh dia tak berniat menyakiti Sarah seperti ini. Dia hanya kesal saja, wanita teman tidurnya itu tak mengikuti perintahnya dengan tidak mendekati Jimi lagi. Itu saja.


"Oh Tuhan selamatkan Sarah..... da... dan ba ba bayiku." Ucap Anzas yang entah kenapa ingin keselamatan terbesar pada baby Sarah yang sempat dia tak terima keberadaannya.


__ADS_2