
"Aku mau hubungan kita berakhir Be, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku." Ucap Melodi sambil menunduk tak sanggup melihat Raut wajah Anzas.
Dengan susah payah Melodi mengeluarkan kalimat itu. Sejenak Anzas diam, seakan pria itu sedang mencerna kata demi kata yang Melodi lontarkan.
"Apa maksud kamu sayang, jangan becanda. Aku tak suka kau mengatakan itu. Ucap Anzas menatap Melodi yang tak kunjung menatap dirinya.
"Aku serius, lupakan aku Be. Aku bukan gadis yang baik untukmu." Melodi berkata sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Anzas, berharap Pria itu melihat keseriusan dari tatapannya
"Kalau itu mau kamu, ya udah coba jelaskan kenapa? kenapa kamu mau hubungan kita berakhir Mel?" Ucap Anzas tenang.
Melodi yang mendapat pertanyaan seperti itu pun jadi bingung sendiri, tidak mungkin dia mengatakan jika dirinya sudah menikah. Tapi jika tidak jujur pun, lalu dia harus memberi alasan apa pada Anzas. Sungguh dia tak suka dalam keadaan seperti ini, ini sungguh membuat otaknya bleng dan tak tahu harus menjawab apa.
"Ayo sayang, kenapa diam." Tanya Anzas karena dia melihat raut wajah Melodi seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan gadis itu sampai-sampai berkeringat di depannya.
"Ya udah, kalau kamu nggak bisa beri alasan. Berarti tak ada kata berpisah, kamu mengerti!" Ucap Anzas tegas dengan sambil tersenyum di akhir kalimatnya.
"Ayo lanjut lihat rumahnya lagi sayang." Ucap Anzas sambil memfokuskan dirinya ke laptop dan berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang hampir melandanya.
Melodi yang tak mau lagi memberikan harapan pada Anzas pun akhirnya mau tak mau ia pun mengatakan statusnya sekarang, karena jika tidak maka dia akan semakin di buat merasa bersalah terus-menerus pada pria itu.
"Aku sudah menikah Be." Ucap Melodi seketika tapi bagaikan lelucon terparah bagi Anzas yang tak pernah Melodi lontarkan sebelumnya.
"Sayang, aku nggak mau kamu bercanda seperti itu. Berhenti bercanda dan fokuslah pada rumah masa depan kita ini. Jangan membuat mood ku berantakan sayang, ayolah berhenti bercandanya aku nggak suka sayang." Ucap Anzas yang sudah mulai tak suka jika Melodi selalu mengatakan hal yang tak ingin dia dengar sedikitpun dari mulut kekasihnya itu, sekalipun itu hanya bercanda. Dia tetap tak suka itu.
"Aku sudah menikah hampir dua bulan." Ucap Melodi lagi tanpa menghiraukan Anzas yang selalu tak percaya perkataannya.
"Ayo apa lagi sayang, jelaskan." Anzas berkata sambil melihat Melodi lekat lekat dengan tatapan tajamnya, dia mau melihat sampai dimana Melodi mau mengerjainya. Dan tak menghiraukan ucapannya tadi untuk berhenti bercanda dengannya. Karena sungguh itu sudah berhasil membuatnya gelisah saat ini.
"Ah, sepertinya pacarku ini mau mengerjai ku. Baiklah" Batin Anzas.
Melodi yang di tatap seperti itu, tak mau mudur sedikitpun, dia harus menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf padamu Be, tapi memang benar adanya aku sudah menjadi istri orang. ini bukan mau ku, tapi mungkin ini memang takdirku. Aku percaya semua yang sudah ditakdirkan tuhan itu adalah yang terbaik untukku, dan aku berdoa kamu mendapatkan yang jauh lebih baik dariku Be. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Melodi kemudian dia mau beranjak berdiri namun tangannya langsung di tahan oleh Anzas.
"Baiklah, coba jelaskan kapan kamu menikah? Kenapa sampai memutuskan menikah? Menikah dengan siapa? Kenapa menikahnya diam-diam? Kenapa tak mengakhiri hubungan kita dulu baru kamu menikah?" Tanya Anzas dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di otaknya. Tadinya dia berpikir jika Melodi hanya bercanda saja, namun gadis itu tak terlihat sedang bercanda sedikitpun. Tapi Anzas mencoba memberikan kesempatan untuk Melodi menjelaskan semuanya, semuanya.
"Aku minta maaf, ...." Melodi pun menjelaskan secara detail pernikahannya, bahkan dia tak menutupi jika suaminya adalah Rizki. Dia tak mau menutupi apapun dari pria itu, pria yang sudah dia hancurkan hatinya.
Selama menjelaskan, Melodi hanya menundukkan kepalanya sambil berbicara dia tak sanggup melihat wajah kecewanya Anzas.
Sedangkan Anzas sendiri dia hanya memejamkan matanya saja, menahan sesak yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. sungguh dia harus apa? Hancur sudah impiannya hidup bahagia bersama Melodi.
"Ini bukan mau aku Be, maafkan aku. Tapi inilah kenyataannya." Ucapan Melodi terakhir setelah dia menyelesaikan ceritanya.
Saat Melodi merasa tak ada respon sedikitpun dari Anzas, akhirnya gadis itu pun memberanikan diri untuk menatap Pria itu.
Dan betapa hancurnya Melodi ketika dirinya menatap pria di depannya itu, sungguh dia benar-benar merasa sebagai wanita ter jahat di dunia ini.
"Be." Panggil Melodi sambil menyentuh tangan Anzas yang sedang bersandar di sandaran sofa sambil memejamkan matanya namun air mata pria itu menetes tanpa suara. Sakit, itulah yang dia rasakan sekarang.
"Kamu mencintainya Mel?" Kalimat tanya pertama yang Anzas lontarkan setelah dia membuka matanya dan menatap Melodi.
Melodi yang tak tahu mau menjawab apa pun hanya diam.
"Kamu mencintainya Mel?" Anzas kembali mengulang pertanyaannya lagi.
"Belum, tapi aku akan mencobanya." Ucap Melodi jujur dia tak mau mengatakan tidak karena memang dia sedang dalam tahap menerima Rizki.
"Kamu mencintaiku Mel?" Tanya Anzas lagi, dan lagi-lagi Melodi hanya terdiam.
"Kamu mencintaiku Mel?" Ulang Anzas lagi dan hanya mampu Melodi balas dengan anggukan kepala saja, dia tak mau membohongi perasaannya yang memang begitu mencintai pria di hadapannya ini. Pria pertama yang benar-benar berhasil masuk dan tersimpan di hatinya. Pria yang tak pernah menyakiti hatinya selalu memperlakukan dia bagaikan ratunya. Pria yang sempat dia bayangkan akan menjadi pasangan masa depannya, namun sekarang dia harus menguburkan semua bayangannya itu.
"Apakah Rizki mencintaimu, bukanya dia juga memiliki pasangan?" Tanya Anzas.
__ADS_1
"Aku tak tahu, tapi mereka baru saja mengakhiri hubungan mereka." Ucap Melodi jujur karena itu yang dia tahu.
"Kalian sudah berhubungan?" Tanya Anzas sambil manahan sakit dan air matanya agar tak lagi menetes.
"Maksudnya berhubungan?" Tanya Melodi balik.
"Suami istri?" Tanya Anzas berusaha menutupi ketakutannya, takut jika gadis yang dia sudah jaga sejak lama untuk tak menyentuh gadis itu sebelum mereka menikah, namun kini dia tak bisa membayangkan jika orang yang sudah dia jaga... ah tidak dia tak mau membayangkan itu.
"Belum." Ucap Melodi seketika setelah paham maksud Anzas.
Usai Melodi mengatakan itu, seketika saja terdengar hembusan nafas kelegaan yang meluncur dari Anzas.
"Kenapa?"
"Aku belum siap."
"Baiklah, aku sudah memutuskan..." Anzas menghentikan ucapannya sejenak demi melihat ekspresi Melodi.
"Hah, apa secepat itu kamu menerimanya Be." Batin Melodi yang entah kenapa dia merasa sakit memikirkan Anzas yang dengan begitu saja melepas dirinya.
Yah bodoh memang, tapi begitu lah hati. Sulit untuk di tebak bahkan di kontrol. Mulut berkata lain tapi tidak dengan hati.
"Kamu menerima keputusanku Be." Ucap Melodi seketika dengan raut sedih yang tak mampu dia sembunyikan.
"Apa aku tadi ada mengatakan itu?" Tanya Anzas dengan sedikit menarik sudut bibirnya. Pria itu dapat membaca kesedihan di wajah wanitanya itu, dia tahu Melodi terpaksa melakukan ini padanya.
"Jadi?" Ucap Melodi bingung.
"Ayo sekarang antar aku temui suamimu itu." Ucap Anzas seketika membuat Melodi panik.
"A a-pa? U u-ntuk Apa Be?"
__ADS_1