
Dua bulan telah berlalu setelah pertemuan Melodi dengan sang Abang Bima. Selama itu pun Larissa tak pernah membiarkan Melodi mendekati Bima, ada saja alasannya yang membuat kedua kakak beradik itu tak bisa saling bertemu kalau tanpa dirinya.
Hingga dimana kini Melodi ingin mencoba sekali lagi keberuntungannya untuk menemui sang Abang, dimana kini Larissa sedang ada urusan lain dan Abangnya juga sedang sibuk di cafe barunya di daerah mereka. Hingga dia memutuskan untuk bertemu Bima sekarang.
"Apa segitu cintanya Bang Bima hingga dia rela membuka cabang cafe baru di sini." Batin Melodi sambil melangkah masuk ke sebuah cafe baru yang masih dalam tahap pembangunan.
"Permisi pak." Ucap Melodi pada seorang tukang di sana.
"Iya non." Balas sang bapak yang Melodi sapa.
"Pak Bima nya ada? aku ada janji sama beliau." Ucap Melodi.
"Oh iya non, beliau sedang meninjau di lantai dua. di sana tangganya."
"Terima kasih Pak." Setelah mengucapkan itu Melodi langsung melangkahkan kakinya menuju tangga yang di tunjukan bapak tadi. Dengan berdoa memudahkan pertemuannya kali ini dengan sang Abang, Melodi melangkah penuh dengan senyum dan semangat ke lantai dua. Di mana Bima berada kini.
"Abang." Sapa Melodi saat melihat Bima sedang berbincang dengan seseorang, yang dia perkirakan itu adalah seorang arsitek gedung Cafe ini.
"Hay sayang, kenapa nggak telfon aja biar abang yang kebawah. Di sini banyak debunya, ayo turun." Ucap Bima.
"Pak, nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Bima pada seseorang yang tadi berbincang dengannya.
Setelah itu dia langsung mengajak Melodi untuk turun ke bawah.
"Kamu sendiri sayang?" Tanya Bima.
"Iya Bang, kita duduk situ yuk. Cuman turun naik tangga se cuil itu saja kok capek yah." Ucap Melodi sambil menunjuk tempat duduk di depan bangunan. Dengan mengatur nafasnya yang turun naik. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya selalu saja kelelahan walau hanya melakukan aktifitas-aktifitas kecil.
"Kamu nggak papa Mel." Tanya Bima meyakinkan keadaan sang adik
"Nggak papa Bang. Oh iya, larissa nggak ikut ke sini bang?" Tanya Melodi memastikan si biang kerok tak akan mengganggunya lagi.
"Nggak sayang, pernah sekali kesini tapi katanya banyak debunya. Makanya nggak kesini lagi, katanya tunggu beres dulu baru dia kesini." Jelas Bima sambil duduk mengikuti Melodi.
__ADS_1
"Ah manja banget tu ceweknya Abang." Ucap Melodi dan Bima hanya tersenyum menanggapinya.
"Oh iya Bang aku mau nanya dong, Larissa pernah jelasin nggak kenapa dia putus dengan suamiku Bang?" Tanya Melodi bukan tanpa alasan, dia hanya bingung saja saat waktu di mana mereka bertemu pertama kalinya dengan Larissa di apartemen mereka. Rizki pernah meminta Bima bertanya pada Larissa sendiri tentang berakhirnya hubungan mereka.
"Sudah sayang, itu hari yang Rizki minta Abang nanya alasannya pada Larissa. Pulang dari situ Risa langsung jelasin semuanya sama Abang." Ucap Bima dan Melodi hanya mendengar, dia tak mau memotong ucapannya Bima sakin penasarannya.
"Risa nya baik yah, dia mau menerima pernikahan kalian setelah Rizki menjelaskan telah menikah denganmu sayang. Di mana lagi Abang bisa temukan perempuan sebaik dia. Dia bahkan tak mempersoalkan itu, dan tak pernah sedikitpun dia menjelekan kamu di hadapan Abang sayang." Sambung Bima lagi, namun mendengar penuturan Bima tiba-tiba saja Melodi merasakan mual yang teramat hebat, hingga Bima pun langsung di buat panik akan hal itu.
"Mel sayang, kamu kenapa?" Tanya Bima sambil memijit halus leher belakang Melodi.
"Bang tolong air di tas Melodi." Ucap Melodi setelah lega memuntahkan semua isi perutnya di sana.
"Ini sayang." Ucap Bima lagi sambil memberikan botol air Melodi dan setelah itu dia mengambil pasir dan menutupi bekas muntah adiknya itu.
"Kamu sakit?" Tanya Bima sambil meraba kening Melodi, namun Melodi hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita ke rumah sakit yah." Bujuk Bima tak tega melihat keadaan sang adik.
"Nggak Bang, istirahat bentar juga nanti hilang ko mual nya." Ucap Melodi jujur, karena itu yang dia rasakan beberapa hari belakangan ini.
Tak berselang lama Rizki tiba dengan membawa kepanikannya hingga tanpa sadar dia berkata dengan suara tinggi pada Melodi.
"Sayang." Ucap Rizki dengan paniknya menghampiri Melodi sampai tak menghiraukan keberadaan Bima di sana.
"Kamu keluarnya nggak pake izin Mel." Ucap Rizki lagi dengan nada tinggi dan membuat Melodi langsung berkaca-kaca. Dia kesal karena tadi, dia hanya izin sebentar ke cafenya namun Bima malah menelfon dan mengabarinya jika istrinya sedang sakit dan berada bersamanya. Tentu saja dia marah akan hal itu.
Bima yang mendengar itu, dia sedikit terkejut namun berikutnya dia mengerti apa yang Rizki rasakan. Dia tahu suami adiknya itu begitu mengkhawatirkan Melodi. Apalagi jika mendengar kabar Melodi tadi, tentu saja dia pasti di landa kekhawatiran yang begitu besar.
"Maaf sayang, Abang hanya khawatir." Ucap Rizki setelah sadar telah bernada tinggi pada Melodi saat gadis itu meneteskan air mata tanpa tahu jika itu efek dari rasa mualnya.
"Jangan pengan Melodi By, menjauh lah." Ucap Melodi membuat Rizki makin mendekatinya.
"Yang, Abang kan udah minta maaf. Abang nggak sengaja tadi, Abang khawatir sama kamu." Ucap Rizki tambah mendekati Melodi.
__ADS_1
"Huek...huek.. Menjauh lah By huek, Melodi nggak sanggup nyium bau Abang. Abang nggak mandi yah." Ucap Melodi sambil menutup hidungnya karena Rizki masih di dekatnya.
"Mana ada bau yang, harum begini." Ucap Rizki sambil mencium bau tubuhnya sendiri.
"Bang aku bau yah?" Tanya Rizki beralih pada Bima yang sedari tadi hanya menyaksikan keduanya.
"Nggak." Ucap Bima singkat.
"Tuh yang, Bang Bima aja bilang nggak bau." Ucap Rizki sambil kembali mendekati Melodi.
"Stop jangan mendekat." Kata Melodi membuat Rizki membulatkan matanya bingung dengan sikap istrinya itu.
"Udah ikutin aja Ki." Ucap Bima sedikit prihatin dengan Rizki.
"Ya udah. Ayo balik kalau gitu." Ucap Rizki pada akhirnya.
"Ayok By." Kata Melodi sambil berdiri, namun sebelum mereka pergi. Melodi sempat mengingat tujuan kedatangannya di kesini.
"Bang Melodi sampai lupa kedatangan Melodi kesini." Ucap Melodi sambil kembali menduduki dirinya di tempat semula.
"Yah Abang juga. Duduk dulu ki, tapi kamu nggak papa dek?." Ucap Bima terkekeh kecil melihat kelakuan Melodi yang seperti baik-baik saja, padahal barusan dia begitu lemah saat muntah tadi.
"Iya nggak papa Bang." Ucap Melodi mulai santai.
Rizki langsung mengambil tempat duduk di sebelah Bima, karena Melodi sendiri yang menunjuk tempat itu.
"Bang, Jangan Marah sama Melodi yah. Melodi sayang sama Abang. Melodi mau Abang bahagia kedepannya. Sekarang Melodi nggak mau menjelekan siapapun atau mau menjatuhkan siapapun, hanya satu yang Melodi minta. Abang tolong kenali lebih jauh latar belakang pacar Abang, bagaimana kehidupannya masa lalunya. Biar kedepannya tak ada masalah serius dengan hubungan kalian. Melodi tahu, Melodi tak pantas menggurui abang karena Abang tentu lebih tahu dari Melodi. Abang Pasti paham kan apa yang Melodi maksud." Ucap Melodi panjang lebar sebelum akhirnya mual kembali menderanya dan mereka memutuskan untuk pulang.
Perkataan Melodi tadi membuat Bima berpikir keras maksud dari Perkataan sang adik. Dia tahu pasti ada yang tidak beres sampai sang adik berkata begitu kepadanya, hingga dia pun memutuskan untuk mencari tahu sendiri nanti.
Sementara Rizki dan Melodi kini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena tadi Melodi kembali merasakan mual hebat setelah habis berbicara dengan Bima, dan Rizki pun memutuskan untuk membawa istrinya ke rumah sakit walau Melodi tak mau.
Sepanjang perjalanan Rizki terlihat sedikit kesal karena kini Melodi lebih memilih duduk di kursi belakang di bandingkan duduk di sebelahnya mengemudi, karena beralasan tak sanggup mencium bau badan dirinya.
__ADS_1
"Apa Aku se bau itu. Gerutu Rizki namun tak di hiraukan Melodi.
"Ini juga si Anzas ngapain hubungi aku terus." Ucap Rizki pelan setelah melihat sekilas Ponselnya yang berkedip menandakan panggilan masuk dari orang yang sedang dia jauhkan dari Melodi sebulan ini karena sikap nekat pria itu.