
"Mel ingat kamu itu istri gue sekarang, jangan lah kamu terlalu biarkan orang lain menyentuh kamu se enaknya." Ucap Rizki ketika mereka telah memasuki Life.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa kita bersikap biasa saja seperti sebelum menikah, dan tak perlu mengurusi urusan hubungan masing masing." Ucap Melodi tak percaya.
"Yah, aku memang yang bilang begitu. Tapi setidaknya menghargai sedikit saja status kita. bahkan kamu bisa-bisanya mesra-mesraan di depan aku Mel." Ucap Rizki bersamaan dengan terbukanya pintu life.
"Ki, aku saja yang melihat kamu di peluk-peluk sama Larisa saja aku nggak mempermasalahkan hal itu. Lalu kenapa kamu malah mempermasalahkan aku sama Anzas ki. Ayolah ki ini pernikahan bukan maunya kita kan." Ucap Melodi sambil berjalan mengikuti Riski yang sudah keluar dari life.
"Ini nggak sehat Mel." Ucap Rizki sambil berhenti berjalan dan menatap lekat Melodi.
"Tapi semua ini kamu sendiri yang sudah ambil keputusan itu ki, tapi kenapa kamu yang marah sekarang." Ucap Melodi Yang membuat Rizki terdiam.
"Kalian berdua kenapa nggak masuk?" Ucap Tante Mia yang baru saja keluar dari apartemen.
"Eh tan, mau kemana malam-malam begini?" Ucap Melodi saat melihat tantenya itu.
"Mau keluar sebentar, ada perlu. Kalian masuk aja, tante tinggal yah." Ucap Tante Mia kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Rizki dan Melodi pun tak membahas masalah mereka lagi dan memilih untuk masuk ke apartemen itu.
"Malam Mi Pi. Ucap Melodi kemudian di ikuti juga oleh Rizki.
Mereka berdua pun ikut duduk bergabung dengan Mami dan pipi yang sedang duduk menonton.
"Mel, buatkan minuman buat suami kamu sayang." Ucap Sang Mami dan Melodi langsung berdiri untuk membuat minuman sesuai perintah sang Mami.
"Besok Mami sama Papi berangkat jam berapa?" Tanya Rizki mengikis kesunyian.
"Jam 7 Ki jadwal keberangkatannya kita, dan kita keluar dari sini setengah lima gitu ki." Ucap sang Papi mertua.
"Kenapa pagi sekali Pi?" Taya Rizki.
__ADS_1
"Papi ada kerjaan pagi, makanya ngambil jam segitu."
"Kalian berdua gimana ki, kapan mau ke tempat Papi Mami?" Tanya Papi Darma lagi.
"Iya ki, Setiap minggu ajak Melodi pulang yah. Soalnya Melodi jarang untuk pulang semenjak dia kuliah ki." Tambah Mami.
"Iya Mi Pi nanti aku usahakan ajak Melodi tiap minggu ke tempat Mami sama Papi." Tak berselang ucapan Rizki selesai, Melodi pun datang membawa tiga cangkir minuman. dua teh hangat untuk Mami Papi dan satu kopi untuk Rizki.
Melodi pun meletakan minuman itu di depan pemiliknya masing-masing.
"Kamu nggak minum?" Tanya Mami.
"Nggak Mi Melodi mau langsung tidur aja, ngantuk soalnya. Melodi ke kamar duluan yah." Ucap Melodi pamit.
"Ya udah sayang, Ki kamu ikut Melodi istirahat aja kalau gitu. Mel bawa kopi suami kamu." Ucap sang Mami.
"Tapi Tante Mia tidur dimana Kalau Iki tidur sama aku Mi?" Ucap Melodi beralasan, pasalnya dia masih tak mau berdebat soal itu dengan Rizki. Atau lebih tepatnya tak mau menanggapi sikap aneh Rizki menurutnya.
"Tante Mia tidur sama Mami, soalnya papi kamu mau tidur disini." Ucap Mami.
"Ide bagus ki, Ayok temani Papi saja kalau gitu." Ucap Papi Darma semangat.
Setelahnya Melodi meninggalkan Mereka dan berlalu ke kamarnya yang kini telah di tempati tante Mia itu.
Sedikit perbincangan antara Rizki dan mertuanya kemudian tak lama Pintu apartemen pun terbuka. Tante Mia memasuki ruangan dan bergabung dengan mereka.
"Eh, Melodi di mana kak?" Tanya tante Mia pada Mami Darma.
"Di kamarmu, katanya ngantuk mau istirahat." Ucap Mami Darma.
"Kalau gitu kakak juga istirahat, besok kan mau berangkat pagi." Ucap Tante Mia pada Kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Iya, Kakak tidur dengan kalian yah. Mas Darma mau tidur sama iki di sini soalnya." Ucap Mami Darma.
"Ya udah Ayo kak. Ki, Bang kami istirahat duluan." Ucap Tante Mia dan kemudian berlalu pergi dengan Mami Darma meninggalkan kedua lelaki itu.
Setelah kepergian kedua wanita itu Papi Darma pun bersuara.
"Ki, Papi mau ngomong sama Kamu." Ucap Papi Darma serius.
"Iya Pi silahkan." Ucap Rizki ikut serius.
"Tolong kamu jaga dengan baik putri Papi. Jika dia salah tegur dia. Jika dia tak mendengarkan kamu, marahi dia dengan cara yang baik. Jika dia tak melayani kamu dengan baik, katakan padanya dengan tutur kata yang baik agar dia mendengarkan kamu. Sekarang Melodi adalah sepenuhnya milik kamu, kamu berhak atas dirinya. Tapi tolong ingat ini ki, tolong jangan pernah membuat dia menangis. Dia satu satunya putri kesayangan Papi, dan semoga kamu juga akan menjadikan dia satu satunya istri kesayangan kamu. Dan papi percayakan sepenuhnya hidup putri Papi sama kamu ki." Ucap Papi Darma sambil menatap sang menantu dengan tatapan penuh harap.
Ucapan Mertuanya seakan membuat Rizki tersindir, dia jadi memikirkan perannya sebagai suami yang sudah mengambil keputusan yang salah. Dia salah telah mempermainkan pernikahan yang sakral dan adanya kesepakatan bodoh yang dia buat sendiri.
"Iya Pi, Iki janji akan selalu mengingat pesan Papi. Tolong doakan yang baik Pi untuk pernikahan kami ini." Ucap Rizki.
"Tak perlu kamu minta pun Papi akan selalu mendoakan kebaikan untuk kalian." Ucap Papi Darma jujur.
"Kamu tahu ki, Papi percaya sama kamu dan Melodi. Papi percaya kalian berdua anak yang baik tak mungkin berbuat sesuatu yang di larang sebelum menikah, karena Papi mempercayai penuh putri Papi."
"Kalau Papi percaya sama Melodi lantas kenapa Papi tetap memaksa aku untuk menikahinya Pi." Ucap Rizki yang kemudian dia mengutuk mulut lancangnya itu, sungguh dia sangat menyesali ucapannya itu.
"Kamu menyesal Menikahi Anak Papi Rizki?" Tanya Papi Darma kecewa akan ucapan menantunya itu.
Rizki yang mulai panik pun berusaha untuk menguasai kepanikannya itu. Sungguh dia tak bermaksud seperti itu. Dia sangat me-rutuki kebodohan akan ucapannya itu.
"Bu- bu- bukan maksud aku begitu Pi...."
"Lalu Maksud kamu seperti bagaimana, Tolong jelaskan sama Papi." Ucap Papi Darma sambil menatap tajam menantunya itu, sungguh dia begitu kecewa dengan ucapan pria muda itu.
"Jelaskan Rizki!!" Ucap Papi Darma lagi karena melihat Rizki seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak Rizki pun mengeluarkan semua isi hatinya pada sang mertua dengan jujur.
"Aku tak pernah menyesal menikahi Melodi Pi. Papi tahu aku sangat bersyukur atas pernikahan ini. Aku sangat bersyukur akan ke salah pahaman yang terjadi dan mengakibatkan berujung pada pernikahan ini. Aku bersyukur bahkan berterima kasih atas keputusan sepihak Papi untuk terjadinya pernikahan ini. Aku bersyukur Pi, aku sangat bersyukur untuk itu. Papi tahu menantu Papi ini adalah pria pengecut pi, sangat pengecut."